Wajah Baru Tanah Abang

 Image

Mulai Minggu 11 Agustus 2013 Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melakukan aksi penertiban di Pusat Grosir Tanah Abang. Gerakan itu dilakukan untuk menegakkan dan mengimplementasikan amanat Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Perda ini melarang warga berjualan di badan jalan yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Jalan-jalan dan trotoar—milik dan hak publik pembayar pajak– yang telah puluhan tahun dikuasai lapak-lapak PKL melalui kelompok-kelompok yang disebut ‘anak wilayah’ untuk kepentingan dan keuntungan sendiri dibersihkan dari jalanan. Seluruh jalan dan trotoar di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder, Jl. Aiptu K.S Tubun Petamburan, Jl. H. Fachruddin, Jl. K.H Wahid Hasyim, Jl. K.H. Mas Mansyur dibersihkan dari lapak-lapak PKL dan parkir liar tanpa pengecualian.

 

Sekitar 1.000 PKL yang tadinya berjualan di jalan dengan membayar Rp 2,5 juta  – Rp 5 juta sebulan kepada ‘anak wilayah’ dipindah ke Blok G. Blok G yang sebenarnya pernah direhab dan ditempati PKL pada tahun 2004, tapi kemudian ditnggalkan karena kondisinya tidak kondusif, terutama dari segi keamanan dan kenyamaan. Banyak preman dan PSK (Pekerja Seks Komersial) beraktivitas di sana. Akibatnya calon pembeli enggan berbelanja ke Blok G, mereka memilih ke Pasar Tasik di depan Stasiun Tanah Abang, atau ke kios-kios di 15 ruas Jl. Jati Baru yang bercabang-cabang seperti ular dalam wilayah beberapa RW di Kelurahan Kampung Bali, atau tepatnya di sisi barat Blok F, atau ke Blok F 1 dan F2, atau malah ke Blok B dan Blok A sekalian, sehingga para pedagang di Blok G tak kebagian pembeli. Ini membuat mereka turun lagi ke jalan dan difasilitasi sepenuhnya oleh anak-anak wilayah, yang menyediakan space lapak tempat berdagang untuk mereka, sekaligus membuat titik-titik parkir liar di semua tempat lowong yang tersedia.

 

Sebenarnyalah sejak  9 tahun terakhir Blok G telah berubah menjadi sarang penyamun. Para pedagang dan warga Tanah Abang lainnya di empat kelurahan, yakni Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali, dan Petamburan di Pusat Grosir Tanah Abang menyebutnya ‘kampung buronan’. Sebutan ini tak mengada-ada, karena entah bagaimana ceritanya preman yang menjadikan Lantai 4 Blok G sebagai markas atas basecamp mengukuhkan diri mereka sebagai tuan rumah bagi para preman buronan dari mana saja.

 Image

Para pelaku kejahatan dari Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Bali, Lombok, NTT, NTB, Kalbar, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulut, Ambon sampai Papua yang lari dari kejaran aparat yang berwenang di daerah tempat dia melanggar hukum, menjadikan Blok G sebagai tempat persembunyian sementara. Mereka dijamu oleh teman-teman preman di Tanah Abang sebelum menghilang lagi ke tempat persembunyian baru.

 

Preman Tanah Abang yang menguasai Blok G sendiri menurut Bang Uci (70), warga Jl. Lontar, Kebun Melati, kebanyakan berasal dari Kebon Melati dan Rawa Belong.

 

Di Blok G mereka bukan hanya menjadikan kios-kios yang kosong sebagai tempat tidur dan beristirahat, tetapi juga sebagai bilik asmara untuk para PSK Bongkaran yang berada di bawah kekuasaannya dengan uang sewa antara Rp 20.000 – Rp 50.000 sekali pakai. 

 Image

PSK Bongkaran sendiri wilayah operasinya memang di sekitar Blok G, yakni di jembatan penyeberangan arah Jl. K.S. Tubun atau  Jembatan Kembar Kanal Barat yang disebut juga Jembatan Kembar Kali Baru, di trotoar di sisi selatan Blok G atau di seberang Jl. Jati Bunder dekat pangkalan truk,, dan di bawah jembatan kembar Kali Baru di sepanjang rel kereta api jurusna Tanah Abang – Manggarai.

 

Merajalelanya preman dan PSK di Lantai 4 Blok G itu membuat para pedagang dan calon pembeli risih, pembeli enggan ke Blok G dan pedagang tak berjual-beli, belum lagi tingkah polah mereka—preman–yang seenaknya, seperti mengambil rokok atau minuman tanpa bayar, makan minum gratis, minta rokok atau uang tiap sebentar, mencopet atau bahkan menodong, juga para PSK yang mandi dan berdandan di kios-kios kosong tanpa mempedulikan situasi dan kondisi di sekitarnya, akibatnya para pedagang satu-persatu kembali lagi ke jalan. Blok G pun makin lama makin menjadi suram dan kumuh, sampai-sampai digelari blok mati.

 Image

Beberapa gubernur sebelum Joko Widodo (Jokowi) – Basuki Tjahya Purnama (Ahok) terkesan tak berdaya menghadapi mubazirnya asset Pemda DKI ini. Mereka juga sepertinya kewalahan dengan para PKL dan preman yang menjadikan jalanan dan trotoar milik negara sebagai sumber penghasilan, tanpa mempedulikan hak-hak publik,  

 

Adanya upaya memodernkan Pusat Grosir Tanah Abang juga menjadi tumpul gara-gara ulah PKL dan preman ini. Keberadaan Blok A, Blok B, Blok F dan PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) tak membawa pengaruh yang signifikan kepada image negatif Tanah Abang sebagai pusat grosir yang sumpek, kumuh, macet, tidak aman, tidak nyaman dan penuh pungutan liar.

 

Namun di era Jokowi – Ahok Pusat Grosir  Tanah Abang berubah total.  PKL bisa dibujuk masuk  ke Blok G, fungsi jalan dan trotoar dikembalikan lagi sebagaimana mestinya sebagai jalan raya dan tempat berjalan kaki bagi warga, parkir dan lapak liar yang menjadikan jalan raya dan trotoar sebagai sumber penghasilan ilegal dilenyapkan, keamanan dan rasa aman masyarakat dipulihkan. Tidak heran kalau banyak yang mengapresiasi gebrakan Jokowi – Ahok ini, salah satunya tergambar dari ungkapan puas beberapa penumpang mikrolet 09, “Enak ye sekarang, suasananye kembali seperti  tahun 1970-an.” Menurut ibu-ibu yang ngobrol itu tahun 1970-an, ketika Ali Sadikin jadi Gubernur DKI, Pusat Grosir Tanah Abang juga senyaman sekarang.

 Image

Supir mikrolet 09 juga senang, biasanya mereka menghabiskan 1 – 2 jam sendiri untuk melewati Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder. “Bayangkan aja Bang, dari Jembatan Kali Baru yang ini, ke stasiun, Kolong, balik lagi ke Blok G, terus ke Jati Bunder, dan sampai ke Jembatan Kali Baru yang ono yang jaraknya tak sampai 2 kilometer saya bisa ngesot sampai 2 jam, makan trip,” keluhnya. Belum lagi pugutannya. Menurut para supir itu ada 4 titik pungutan di jalur mikrolet M 09,  M 09A, M 11, M  08, M 10 itu. “Jumlahnya bervariasi, ada yang Rp 2.000 ada yang Rp 3.000, pokoknya paling nggak Rp 10.000 harus keluar setiap kali melewati Pasar Tanah Abang, ada aja namanya uang triplah, uang kelancaranlah, jatahlah,” ungkap mereka. Kini mereka senang karena jalanan berubah lancar dan pungutan liar menghilang.

 

Sayangnya kini mereka pula yang menyebabkan kemacetan, karena suka ngetem di pertigaan Jl, Jati Bunder dan di pintu keluar Stasiun Tanah  Abang Jl. Jati Baru atau kawasan yang disebut Kolong. Mikrolet M 09 dan M 11 ngetem di pertigaan Jati Bunder, M 08 mecetkan jalan dengan membuat terminal bayangan di Kolong. Pihak Dishub dan polisi terkesan membiarkan saja ulah mereka itu. Para Satpol P juga lebih suka duduk-duduk, merokok dan ngopi. Mereka baru bergerak jika Jokowi dan para atasan mereka muncul menyidak.

 

Para PKL tak kalah gembira. Walau masih kuatir membayangkan masa depan jual belinya, mereka umumnya senang karena tak berada di bawah bayang-bayang preman lagi. “Dulu saya harus bayar Rp 4 juta sebulan, ada transaksi atau tidak,” ujar Junaedi (36), pedagang busana muslim dan perlengkapan shalat di pertigaan Jl. Jati Bunder, Jl Kebon Jati. “Itupun masih digetok lagi sampai 20 kali sehari, yang rokoklah, yang teh  botollah, atau langsung minta Rp 5.000 – Rp 10.000, pokoknya macam-macamlah, tau-tau hasilnya gini, tetap aja digusur,” katanya.

 

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jokowi dan Ahok memang sudah berkomitmen menertibkan Jakarta. Mengatasi kemacetan lalu-lintas dan banjir memang merupakan janji kampanye mereka dalam pemilihan kepala daerah DII tahun 2012.  Penertiban Pasar Tanah Abang hanyalah bagian dari penertiban ibukota keseluruhan. Pasar Minggu, Jatinegara, Pluit, Kramat Pulo, Pasar Gembrong sudah disentuh gebrakan pasangan pemimpin DKI ini sejak mulai memimpin. Dari rumah susun yang salah urus, sampai pemukiman di bantaran kali mereka urus, juga gorong-gorong dan waduk tertimbun serta sampah di 14 kali yang melewati Jakarta.

 

Namun Jokowi – Ahok tak berhenti sebatas penertiban saja, mereka juga memberikan solusi agar warga tetap mendapatkan penghasilan tanpa melanggar hak-hak publik.  Pasangan pemimpin ibukota ini punya mimpi sendiri di Tanah Abang. “Kita akan ubah Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil dan garmen yang layak dan prestisius di Asia,” kata Jokowi. 

 

Bukan itu saja harapan dan konsep Jokowi tentang Pusat Grosir Tanah Abang ke depan. Dia ingin kawasan tersebut juga menjadi sentra primer usaha kecil menengah serta usaha rumah tangga di semua penjuru daerah Indonesia. “Kita ingin semuanya ada. Busana muslim, batik, handycraft. Pokoknya jadi sentra usaha mikro,” ujarnya pada media.

Menurut Jokowi,  mimpi itu takkan bisa terwujud kalau pengelolaan Pasar Tanah Abang masih terpisah-pisah, karena itu dia berkomitmen akan menyatukan pengelolaan blok-blok di Pasar Tanah Abang, tentunya di bawah Pemerintah Provinsi Jakarta.

Jika pengelolaannya terpadu dan terpimpin, Jokowi yakin Pasar Tanah Abang memiliki prospek pengembangan usaha dari hanya sebagai pusat grosir dan wisata belanja, menjadi komoditas ekspor ke belahan dunia lain. “Segmennya berbeda-beda. Misalnya yang murah kita ekspor ke Afrika. Yang menengah ke Australia. Pasti ada caranya entah gimana,” katanya.

Khusus di Blok G, Jokowi akan menggelar musik rakyat agar pengunjung tertarik membeli di tempat relokasi PKL.  “Intinya usaha kecil, rumah tangga, perlu ruang pamer. Mereka perlu ruang memasarkan produk, perlu adanya fasilitas yang mendukung,” jelasnya, dan Jokowi melihat atraksi meriah dan akrab seperti musik rakyat akan membuat orang mau meringankan langkahnya ke Blok G.

 

Ahok punya mimpi yang hampir sama. “Tanah Abang harus menjadi destinasi wisata belanja yang unik dan mensejahterakan warga di sekitarnya, untuk itu Tanah Abang harus tampil resik, cantik, asri dan aman, “ ujar Ahok yang berencana menghidupkan semacam pasar malam di Tanah Abang, sehingga kawasan yang mati di malam hari ini bias hidup dan bergairah kembali.

 

Sebenarnya rencana modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang sudah termaktub dalam rencana dua pengembang besar di ibukota, yakni Djan Faridz dengan group Priamanayanya dan Tommy Winata dengan group Artha Grahanya.

 

Di mata Djan Faridz yang sekarang menjabat Menteri Perumahan Rakyat Tanah Abang bisa menjadi pusat grosir  yang terbesar, terlengkap  dan termewah di Asia Tenggara, sehingga nilainya akan selalu naik setiap waktu. Tommy Winata memiliki persepsi dan konsep serupa, bahkan taipan ini memiliki bayangan tentang pusat perbelanjaan grosir terpadu di mana Pusat Grosir Tanah Abang dilengkapi dengan keberadaan apartment mewah, hotel berbintang, pusat rekreasi, dan pedestrian yang mengular ke setiap sudutnya.

 

Di samping itu semua unsur pendukung lancarnya dinamika sebuah pasar grosir juga tersedia dan siap action, yakni perusahaan-perusahaan ekspedisi, jaringan telepon dan internet, sumber daya listrik tak terbatas dan anti byar pet, lembaga-lembaga keuangan dan perbankan, kantor-kantor pengacara dagang, money changer, sampai bermacam resto, unit pemadam kebakaran, rumah sakit mini, dan peralatan keamanan. Semua sudah jelas dilengkapi pula dengan AC, CCTV, escalator, eskavator, sarana transportasi di dalam dan di luar gedung, para porter berseragam dan ratusan tenaga security.

 Image

Di mata kedua orang ini Pusat Grosir Tanah Abang tampaknya akan mencakup seluruh lahan yang kini menjadi komplek Pasar Tanah Abang keseluruhan yang membentang dari Jl. Jati Baru di barat, Jl. H. Fachruddin atau Tanah Abang Bukit di utara, Jl. Jati Bunder dan Jl, K.H. Mas Mansyur di selatan dan Jl. K.H. Wahid Hasyim di timur. Komplek yang sangat luas karena sudah memasukkan seluruh elemen Pasar Tanah Abang ke dalamnya, dari Tanah Abang Bukit atau Blok AURI di utara, pertokoan Jati Baru, Blok F, F1, F2, F3 di barat, Blok G dan Blok C di selatan. Blok A, Blok B dan PGMTA di timur.

 

Namun ide modernisasi semacam ini mentisakan kegalauan di baliknya, karena konsep pusat grosir seperti itu dikuatirkan justru akan menghilangkan tempat bagi pedagang bermodal menengah ke bawah, karena kemewahan dan kelengkapan yang serba super itu akan berefek ke biaya produksi. Harga sewa dan jual toko pastilah akan membubung naik, begitupun biaya listrik, pajak  dan jasa-jasa lainnya. Ide modernisasi seperti ini dikuatirkan akan membuat para pedagang bermodal tanggung tersingkir dari Pusat Grosir Tanah Abang dan bisa-bisa malah akan mengundang masuknya para pemilik kapital besar dari berbagai belahan dunia seperti China, AS, Eropa, Timur Tengah, Jepang, Korea dan seterusnya, sehingga tak ada tempat lagi untuk pedagang lokal.

 

Selain itu sekelompok pedagang yang telah meraup sukses di Pasar Tanah Abang juga punya ide Pusat Grosir Tanah Abang modern. Mereka menamakan idenya Koperbin (Koperasi Penerus Perjhuangan Bangsa Indonesia),  sepertinya para penggagas Koperbin mendambakan sebuah pasar grosir yang berorientasi kepada kesejahteraan para pedagang. Modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang di mata para penggagas Koperbin adalah pusat grosir yang bisa menampung sebanyak mungkin pedagang bermodal kecil dan sedang, sehingga mereka bisa tetap bertahan dan terus eksis menghadapi gelombang persaingan yang makin sengit di era perdagangan bebas.

 

Kawasan yang mereka impikan untuk dijadikan sentra bisnis adalah 2,1 hektare lahan di depan Stasiun Tanah Abang. Komplek tersebut akan dilengkapi hotel, apartement, pusat grosir dan taman rekreasi juga. Izin prinsip sudah mereka pegang sejak era pemerintahan Gubernur Sutiyoso tahun 2004, namun belum diketahui respon Jokowi selaku Gubernur DKI yang baru.

 

Masa depan lain yang akan mengimbangi dan mendukung  perkembangan pesat Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil dan garmen kelas dunia adalah pembangunan besar-besaran Stasiun Tanah Abang. Dalam master plan yang ada di PT KAI Tanah Abang akan menjadi stasiun utama untuk di Jakarta, yang akan menghubungkan Pusat Grosir Tanah Abang dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Soekarno Hatta dan Pelabuhan Penyeberangan Merak – Bakauheni. Inti idenya adalah menjadi media dan sarana penghubung dan pendistribusian produk tekstil dan garmen dari Pusat Grosir Tanah Abang ke seluruh daerah di Nusantara dan  mancanegara.

 Image

China Datang Tasik Menantang

 

ImageBersamaan dengan berubahnya penampilan Pasar Tanah Abang, berubah pulalah trend perdagangan. Kebakaran besar Februari 2003 membuat banyak pelanggan mancanegara Tanah Abang lari ke China. Pengakuan H. Aris (70) menggambarkan hal itu. Pedagang asal Pariaman, Sumbar ini dulu punya 4 kios di Tanah Abang dan 1 kios di Senen, tapi kini tinggal 2 saja yang dipakainya–dua-duanya di Blok A, tiga lagi disewakan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Itu karena pelanggannya orang-orang Nigeria pindah ke Guang Zhao, RRC. China mengisi kekosongan aktivitas di Pusat Grosir Tanah Abang itu dengan baik.

Sementara pedagang lokal, terutama yang berada di Indonesia Timur seperti Bali, Lombok, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasih, Pontianak, Palangkaraya, Makassar, Mataram, Manado, Ambon dan Papua berpaling ke Pasar Turi, Surabaya yang juga merupakan pusat grosir produk tekstil dan garmen di Jawa Timur.  Kekosongan selama 4 tahun itu—2003 – 2007—sangat memukul eksistensi Pusat Grosir Tanah Abang.

Kondisi itu diperburuk oleh agresivitas dan peluang bisnis yang muncul karena regulasi perdagangan regional seperti Asean China Free Trade Agreement (AC FTA) yang meski baru resmi berlaku 1 Januari 2010, tapi sudah dimanfaatkan  China dengan sebaik-baiknya.  Desember 2009 saja, menurut catatan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) produk tekstil dan garmen asing dari China, Korea,  Sri Lanka, Banglades, Makao, Hongkong, Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Singapura sudah merajai 75 persen pangsa pasar di Pusat Grosir Tanah Abang. Dari yang 75 persen itu, 80 persennya adalah produk tekstil dan garmen China.

 Image

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) sebenarnya sudah teriak sejak tahun 2004, ketika mereka menemukan indikasi lonjakan impor produk tekstil dan garmen asal China ke Pusat Grosir Tanah Abang. Liputan Kompas 28 Februari 2006 menyebutkan keluhan APPSI tentang rusaknya jaringan tekstil nasional. Menurut APPSI mata rantai produk tekstil dan garmen nasional dibangun dengan sistem konsinyasi,  mulai dari hulu dan terikat berdasarkan asas kepercayaan sejak puluhan tahun.

 

”Jaringan tekstil nasional sangat istimewa karena pedagang bisa melakukan bisnis tanpa modal, cukup dengan kepercayaan. Semua perdagangan tekstil di hilir dibiayai oleh industri tekstil dengan memberikan konsinyasi selama empat bulan,” ujar Hasan Basri, Ketua Umum APPSI.

 

Ia menambahkan, dahulu pengusaha tekstil memberikan bahan kepada  produsen garmen dengan waktu pembayaran empat bulan. Kemudian, pengusaha garmen menyerahkan barang ke Pasar Tanah Abang dengan jangka waktu pembayaran dua bulan. Barang mengalir ke pasar di daerah dengan pembayaran dalam jangka waktu satu bulan.

 

Jadi, jaringan industri tekstil di Indonesia sangat kuat tanpa memerlukan dana segar. Akan tetapi, begitu tekstil China masuk, mulai berlaku hukum rimba sehingga hanya pedagang bermodal kuat yang bisa bertahan.

 

Menurut Hasan Basri kepada Kompas jaringan bisnis impor dari China dilakukan dengan pola pembayaran tunai. Saat ini pedagang yang tetap bertahan di jalur garmen lokal lebih karena ketiadaan modal. Nilai bisnisnya pun dari tahun ke tahun terus menurun. Sebagai gambaran, pada tahun 2002 Hasan Basri masih mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 50 juta per hari. Saat itu—tahun 2006–omzetnya tinggal Rp 3 juta per hari.

 

Mayulis, pedagang garmen lokal lainnya di Blok G, Pasar Tanah Abang, memperkuat fakta itu. Dulu sebelum produk China masuk ke Tanah Abang, omzetnya bisa mencapai Rp 6 juta-Rp 8 juta per hari. Tahun 2006 itu Mayulis hanya meraup omzet Rp 700.000 per hari.

 Image

Contoh lainnya yg tumbang dilindas produk China adalah PT Sarasa Nugraha. Perusahaan ini dahulu adalah produsen garmen lokal. Kini dua pabriknya ditutup dan banting setir ke bisnis agrokimia. Presiden Direktur PT Sarasa Nugraha Budhi Moeljono menngatakan pada Februari 2004 perseroan menghentikan produksi pakaian jadi di pabrik Balaraja, Tangerang, dan sekitar 1.200 karyawannya diberhentikan. Selanjutnya, pada Februari 2005 PT Sarasa menghentikan produksi pabrik di Cibodas, Jawa Barat, dengan merumahkan sekitar 1.700 karyawan. Sejak 4 Oktober 2005 perusahaannya mengubah bisnis intinya setelah merger dengan  PT Indo Acidatama Chemical Industry.

 

Pengusaha konveksi pakaian anak, Chairuddin, mengatakan, selain murah, produk China juga unggul dalam desain. Setelan baju tidur (anak perempuan), misalnya, kalau produk China dijual seharga Rp 350.000 per kodi (20 pasang atau Rp 17.500 per pasang). Produk lokal yg sejenis harganya lebih dari Rp 400.000 per kodi

atau Rp 20.000 per pasang. Setelan pakaian anak-anak yg terdiri dari celana, rompi, dan kaus diperdagangkan hanya Rp 40.000 per pasang. Sementara itu, (hanya) celana anak- anak produk dalam negeri dijual dengan harga Rp 30.000 per potong.

 

”Dari dulu desain mereka unggul, tetapi dulu hanya produk Hongkong yang masuk dan harganya relatif lebih mahal dari produk dalam negeri. Sekarang produk China yang non -Hongkong pun masuk, itu yang dijual sangat murah,” ujar pengusaha konveksi di sentra garmen Buncit Raya Jakarta ini.

 

Murahnya harga produk garmen dari China, lanjut Chairuddin, karena harga bahan bakunya relatif lebih murah daripada tekstil dan perlengkapan konfeksi produk Indonesia. ”Kalau upah tukang jahit, kita sudah sangat murah. Baju tidur, setelan celana dan baju, ongkos jahitnya cuma Rp 400 per potong. Bahan baku nya yang mahal, apalagi setelah kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak),” katanya.

Di China pengusaha tak dibebani segala tetek bengek pungutan oleh negara. Kebijakan Pemerintah China untuk mensupport pengusaha tekstilnya  antara lain: dengan menerapkan bea masuk impor nol persen sesuai dengan tuntutan perdagangan bebas (ACFTA); mematok mata uang China, Yuan,  dengan kurs tetap; menurunkan suku bunga pinjaman bank–kata H. Aris yang pernah beberapa kali ke Guang Zhao, bank-bank pemerintah di China memberlakukan bunga pinjaman yang sangat rendah kepada perusahaan tekstil dan garmen yang memiliki buruh lebih dari 150 orang; Pemerintah China juga memberi pinjaman lunak berbunga rendah kepada importir dari Indonesia atau Nigeria dengan tempo pengembalian yang lebih lama; mereka juga membangun infrastruktur transportasi besar-besaran seperti jalan raya, rel kereta api dan pelabuhan untuk menurunkan biaya angkut logistik. Selain itu birokrasi sangat efektif dan efisien, tidak seperti di Indonesia yang banyak sekali ‘meja’ lengkap dengan pungutan liarnya.

Yang lebih hebat adalah layanan  super cepat mereka. Beberapa pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang mengatakan kalau memesan mukena, jilbab atau gamis ke Guang Zhao, datangnya lebih cepat dibanding memesan ke Tasikmalaya. Ini kenyataan yang tak bisa dibantah. Kondisi barang juga dipastikan baik-baik saja, kalau ada yang cacat bisa direject tanpa banyak prosedur.

Fakta ini cukup mendebarkan, apalagi produk tekstil dan garmen China yang menyerbu Pusat grosir Tanah Abang tersebut termasuk batik. Meski cuma batik printing dan bukan batik tangan, kenyataan ini bisa mengguncang sentra batik Indonesia seperti Pekalongan, Solo, Ypgjakarta dan Jepara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2012 tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari China ke Indonesia dengan nilai USD 30 juta atau sekitar Rp 294 miliar. 

Namun segala kelebihan produk tekstil dan garmen asal China ini tak membuat semua produsen lokal patah semangat. Masih banyak produsen lokal yang tetap bertahan meski dengan susah payah. Sebagian pedagang juga masih memperlihatkan optimisme untuk kebangkitan produk tekstil dan garmen Indonesia. “Asal pemerintah mau membantu seperti apa yang dilakukan pemerintah China terhadap pengusaha dan pedagangnya, saya yakin produk tekstildan garmen lokal akan kembali Berjaya, masalahnya kualitasnya jauh lebih bagus menurut saya,” ujar Jidah Nazwa Naiya (50), seorang pedagang di Blok B Lantai B1 Pusat Grosir Tanah Abang.

 

Alasan Jidah sederhana saja, produk China adalah produk massal yang berskala super besar, sementara produk lokal agak terbatas, bahkan banyak yang sengaja membatasi produknya menjadi produk ekslusif. “Orang Indonesia itu suka berbeda dari yang lain, dia bangga kalau pakaiannya tidak sama dengan teman atau tetangganya,” katanya.

 

Indikasi bahwa optimisme itu ada terlihat pada masih maraknya transaksi di Pasar Tasik. Sampai minggu kedua bulan Ramadhan tahun ini, Pusat Grosir Tanah Abang masih dipadati sekitar 150 mobil toko dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Seperti biasa setiap Senin dan Kamis mereka membuka lapak temporer di sepanjang Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder dengan membayar Rp 100.000 per mobil ke ‘anak wilayah’ atau preman setempat. Selain itu mereka juga membuka lapak di lahan parkir Lantai  5 Blok F1 yang telah dikontrak Rp 5 juta – Rp 10 juta per tahun dan dipakai juga pada hari Senin dan Kamis. Mereka juga buka lapak mobil di halaman parkir Yayasan Said Naum Jl. H. Mas Mansyur.

 

Pasar Tasik permanen terdapat di kawasan pertokoan Jl. Jati Baru, depan Stasiun Tanah Abang dan Lantai 5 Thamrin City. Paling tidak ada sekitar 3.000 pengusaha tekstil dan garmen asal Tasik Malaya dan sekitarnya yang tetap mencoba bertahan menghadapi gempuran produk China. Semangat serupa juga muncul dari para penguasaha batik di Pekalongan, Solo, Yogyakarta  dan Jepara. Tapi ya itu tadi, tanpa uluran tangan pemerintah dalam bentuk keringanan pajak, efisiensi regulasi, tarif  listrik, harga BBM dan pemberantasan hantu pungli dalam birokrasi perizinan, serta premanisme,  semangat juang mereka akan padam sia-sia.Image

Pasar Modern yang Tradisional

 

ImagePasar Tanah Abang terus  berkembang. Begitu pun daerah di sekitarnya. Penduduknya bertambah banyak dan aktivitas sosial meningkat. Langgar Al Makmur yang dibangun tahun 1704 di sisi selatan pasar makin ramai, begitu pula Kelenteng Hok Tek Tjengsin atau yang disebut warga Tanah Abang Toapekong Kebon Dalem yang dibangun di sisi utara pasar Tanah Abang sebagai tempat ibadah warga keturunan Tionghoa yang memang banyak di Tanah Abang.

Lima tahun setelah Pasar Tanah Abang berdiri terjadi pembantaian (Chinezenmoord) terhadap etnis Tionghoa. Kisah kelam ini berawal dari masalah memanasnya hubungan antara permintah VOC dengan imigran Tionghoa yang ada di Jakarta waktu itu. Imigran itu sendiri sengaja didatangkan Belanda pada awalnya karena mereka butuh tenaga untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak sudi mereka lakukan.

Kemunduran VOC dalam bidang perdagangan akibat kalah bersaing dengan Maskapai Perdagangan Inggris, The Britisch East India Company yang berpusat di Callcuta, India dalam perebutan hegemoni perdagangan bangsa-bangsa Eropa (1602-1799) menimbulkan tekanan besar terhadap seluruh wilayah jajahan VOC, termasuk Hindia Belanda.

Guna mengatasi hal tersebut Heeren XVII (Kamar dagang VOC) menekan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia saat itu agar dapat memaksimalkan pendapatan dan aliran dana segar ke kas VOC.

Sementara di sisi lain, besarnya pengeluaran angkatan perang VOC akibat pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan kolonial di Nusantara serta terus meningkatnya jumlah imigran Tionghoa yang berhasil dalam bidang perdagangan di Batavia yang jika dibiarkan akan menyebabkan ancaman serius bagi kelangsungan dagang VOC di negeri ini, membuat bingung penguasa VOC di Batavia.

Untuk memecahkan masalah tersebut secara bersamaan, Dewan Hindia Belanda dan Gubernur Jendralnya–saat itu dijabat Valckeneir–sepakat melakukan jalan pintas dengan menggalakkan program tanam paksa bagi warga bumiputera. Sementara bagi para etnis keturunan dan para imigran Tionghoa yang terkenal lebih berhasil, upaya-upaya pemerasan terselubung mulai dilakukan. Pemberlakuan program Surat Ijin Tinggal adalah salah satunya.Image

Seluruh etnis Tionghoa yang ada di dalam tembok maupun di luar tembok Batavia diwajibkan memiliki Surat Ijin Tinggal yang dikeluarkan pemerintah VOC dengan masa berlaku terbatas. Aturan program ini sangat keras. Apabila ditemukan imigran Tionghoa yang tidak memiliki Surat Ijin Tinggal dikenakan hukuman berupa denda atau hukuman penjara. Bahkan yang lebih buruk pengusiran mereka dari seluruh wilayah Hindia Belanda.

Pemerintah VOC beralasan bahwa pemberlakuan program ini adalah agar wilayah Batavia dan sekitarnya bersih dari para pendatang ilegal yang selalu mengganggu ketertiban. Harus diakui bahwa alasan tersebut tidak sepenuhnya salah. Kondisi Batavia yang saat itu dipenuhi para imigran–terutama Tionghoa–menjadi tidak teratur. Tempat perjudian dan hiburan tumbuh bak jamur di musim hujan.

Tercatat sebanyak 7.550 jiwa imigran Tionghoa menetap di Batavia tahun 1719. Angka ini meningkat pesat hingga tahun 1739. Sebanyak 10.574 jiwa imigran Tionghoa ditemukan berada dan tinggal di dalam tembok Batavia dan sekitarnya.

25 Juli 1740, penguasa Batavia semakin mempertegas pemberlakuan program ini dengan dikeluarkannya resolusi yang isinya “penguasa VOC memiliki hak untuk menangkap dan memenjarakan seluruh warga Tionghoa yang tidak memiliki izin tinggal diwilayah Batavia”.

Resolusi sangat memukul etnis Tionghoa yang dijadikan korban. Di sisi lain pemberlakuan resolusi ini menciptakan peluang korupsi baru bagi kalangan petugas pemerintah.

Sementara bagi pemerintahan Batavia dan kalangan Dewan sendiri, pemberlakuan program ini dianggap sangat baik karena selain dapat menambah penghasilan dari sisi pajak, juga dapat dijadikan alat kontrol bagi semua aktivitas perdagangan etnis Tionghoa. Sebaliknya, bagi etnis Tionghoa pemberlakuan Surat Ijin Tinggal dan berbagai macam pungutan liar ini menyebabkan krisis kepuasan. Tingkat kesejahteraan mereka terus merosot dari hari ke hari, bahkan banyak pedagang Tionghoa yang terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar akibat kebangkrutan.

Ketidakpuasan-ketidakpuasan inilah yang kemudian menimbulkan perlawanan etnis Tionghoa terhadap pemerintah Batavia. Tercatat sejak September 1740 berbagai kerusuhan kecil terjadi di luar tembok Batavia. Peristiwa ini mencapai puncaknya pada 7 Oktober 1740. Saat itu, lebih dari 500 orang Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul guna melakukan penyerangan ke dalam tembok Batavia setelah sebelumnya menghancurkan pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang secara bersamaan.

8 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di semua pintu masuk Benteng Batavia. Ratusan etnis Tionghoa yang berusaha masuk dihadang pasukan VOC dibawah pimpinan Van Imhoff.

9 Oktober 1740, dibantu altileri berat pasukan VOC berhasil menguasai keadaan dan menyelamatkan Batavia dari kerusuhan. Pasukan kaveleri VOC kemudian mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Tionghoa yang berada di sekitar Batavia digeledah dan dibakar, penghuninya yang pria langsung dibunuh, yang wanita diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh, harta bendanya dijarah, termasuk rumah Kapiten Tionghoa Nie Hoe Kong yang dianggap sebagai aktor intelektual kerusuhan.Image

Ribuan warga Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu dan dibunuh tanpa perduli terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut, termasuk yang sedang dirawat di rumah sakit. Anak-anak, bayi dan orang tua tidak luput dari pembantaian.  Banyak yang dibiarkan lari ke arah kali sebelum akhirnya dibantai oleh para prajurit yang telah menunggu kedatangan mereka. Beberapa sumber menyatakan bahwa kali yang menjadi lokasi pembantaian adalah Kali Angke, hingga peristiwa pembantaian ini diabadikan dengan nama Tragedi Angke. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pembantaian sebenarnya tidak terjadi di Kali Angke melainkan di Kali Besar, karena letaknya lebih dekat ke Tembok Batavia. Kali Angke hanyalah merupakan titik akhir lokasi penemuan ribuan mayat korban pembantaian yang dihanyutkan air.

Malam tanggal 9 Oktober 1740, prajurit VOC kembali melakukan penyisiran guna mencari sisa-sisa etnis Tionghoa yang bersembunyi di rumah atau bangunan lain di seputar Batavia. Pembantaian kali ini lebih sadis karena melibatkan budak dan warga bumiputera yang sengaja dibakar amarahnya. Bahkan menurut cerita Gubernur Jendral Valckeneir sempat menjanjikan hadiah sebesar 2 dukat per kepala etnis Tionghoa yang berhasil dipancung

10 Oktober 1740, setelah peristiwa pemberontakan mereda, Gubernur Jendral Valckeneir kembali memerintahkan prajuritnya guna mengumpulkan seluruh warga Tionghoa yang tersisa termasuk yang terbaring di rumah sakit maupun di penjara. Mereka dikumpulkan di depan Stadhuis/ Gedung Balaikota (sekarang Muesum Fatahillah) untuk menjalani eksekusi hukum gantung. .

Saat Tragedi Angke benar-benar berakhir tercatat etnis Tionghoa yang selamat sebanyak 3.441 jiwa. Terdiri dari 1.442 pedagang, 935 orang petani, 728 orang pekerja perkebunan, dan 336 orang pekerja kasar (Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke, Hembing Wijaya Kusumah 2005).

Tanah Abang yang merupakan salah satu pusat konsentrasi masyarakat Tionghoa di lur tembok kota tidak luput dari pembantaian, penjarahan dan pembakaran. Pasar Tanah Abang porak-poranda, bangunan dan seluruh dagangan di dalamnya luluh-lantak dibakar dan dijarah. Pedagang Tionghoa yang masih hidup bertebaran menyelamatkan diri ke pinggiran Batavia. Sebagian sampai ke Kerajaan Mataram, bergabung dengan Soeltan Agung melawan VOC dan pemerintah kolonial Belanda.

Tak diketahui bagaimana nasib Phoa Beng Gam setelah kerusuhan itu karena tak ada catatan sejarah tentang tokoh yang berjasa bagi perkembangan pembangunan Kota Batavia ini.

Setelah pembantaian, aktivitas Pasar Tanah Abang terhenti dan baru dibuka lagi tahun 1881. Pasar Tanah Abang yang baru itu dibangun dengan kayu, papan, bilik bambu dan atap genteng. Tercatat ada 220 kios dari kayu dan papan dan 139 kios gedeg. Hari pasarpun ditingkatkan menjadi Rabu dan Sabtu.

Tahun 1913 ada renovasi ringan tapi tak signifikan, Baru tahun 1926 dilakukan perbaikan total yakni dengan membangun 3 los memanjang berupa kios semi permanen dengan fondasi semen, dinding papan dan atap genteng. Lantai los dan kios di pesar itu juga diratakan dan dipercantik dengan adukan semen. Pasar ini dilengkapi kantor pengelola yang mengurus segala sesuatu di pasar tersebut, letaknya di lantai dua bangunan pasar.

Tak ada catatan tentang kereta api, tapi tahun 1910 dikatakan Tanah Abang sudah memiliki stasiun kereta api. Stasiun itu dibangun di sisi timur saluran Banjir Kanal Barat  sekarang. Saluran itu sendiri dulunya merupakan hasil karya Phoa Beng Gam yang pada tahun 1965 diperlebar dan diperpanjang sampai ke Pintu Air Karet guna keperluan kelistrikan. Walaupun sudah memiliki kereta api yang waktu itu lebih banyak digunakan utuk angkutan kayu, arang, sayuran dan buah-buahan dari kawasan Serpong dan Bogor, transportasi di Pasar Tanah Abang masih didominasi delman dan gerobak yang ditarik kuda. Pengelola pasar menyediakan tempat parkir delman dan gerobak, sekaligus kolam tempat minum kuda di halaman pasar dan membuka toko dedak untuk makanan kuda di seberang pasar. Tak jauh dari toko dedak itu terdapat gang dan sebuah surga untuk para pemadat, di mana para pecandu mengisap candu atau madat dengan bebasnya. Gang itu disebut Gang Madat, tapi di mana pastinya tak ada yang bisa menunjukkan lagi.

Ketika Jepang masuk Batavia, Pasar Tanah Abang kembali lumpuh dan menjadi sarang gelandangan. Menurut J.J. Rizal, sejarawan Jakarta, tekstil tidak laku karena orang hanya mampu membeli pakaian yang terbuat dari karung goni. Tiarap selama 20 tahun lebih, pasar ini baru menggeliat lagi tahun 1970-an ketika Ali Sadikin jadi Gubernur DKI. Tahun 1975 di Pasar Tanah Abang tercatat ada 4.351 kios dengan 3.061 pedagang.

Tahun 1978 dan 1979 Pasar Tanah Abang dilanda kebakaran. Kebakaran 30 Desember menghanguskan Lantai 3 Blok A. sedangkan kebakaran 13 Agustus 1979 menghanguskan Blok B. Tanggal 19 Februari 2003 Pasar Tanah Abang kembali dilalap api. Ini kebakaran terbesar karena menghanguskan 5.700 kios di Blok A, B, C, D dan E dengan total kerugian hampir Rp 3 triliun, berupa bangunan dan jutaan kodi produk tekstil dan garmen dagangan. Api baru bisa dijinakkan sehari kemudian, karena 24 hidran yang ada tak berfungsi sama sekali gara-gara tak pernah dirawat sehingga rusak dimakan karat.

Selanjutnya Pasar Tanah Abang memasuki era baru, era modernisasi.

Jumat 1 Juli 2005 Pusat Grosir Blok A yang memiliki 19  lantai dengan 7.995 kios diresmikan. Peresmian gedung baru Blok A yang dibangun di bekas Blok A, B, C, D dan E pasar lama Tanah Abang tersebut menandai dimulainya era modernisasi di Pasar Tanah Abang.

Blok A ini menghapus semua kesan kusam Pasar Tanah Abang lama yang ditandai dengan kesumpekan, di mana pedagang dan pembeli sama saja tak beraturannya meskipun sudah berinteraksi dalam gedung. Kesumpekan itu ditandai dengan barang dagangan yang luber sampai ke luar kios yang menjadi haknya dan para pembeli yang seenaknya saja tawar-menawar dan memilih-milih busana yang diminatinya tanpa mempedulikan apakah orang yang di belakang atau di depannya bisa lewat atau tidak.

Selain itu kondisi pasar yang bak ruang sauna, saking panasnya karena tak ada AC yang dipasang dalam gedung, membuat para pedagang dan pembeli selalu berkuah keringat. Belum lagi tak tersedianya eskalator atau lift dalam bangunan pasar yang waktu itu memang baru terdiri dari 4 lantai, tapi tetap saja menguras tenaga dan memeras keringat menjelajahinya. Kesumpekan masih ditambah oleh padatnya manusia yang beraktivitas di dalam bangunan pasar, lengkap dengan copet, penodong, jambret, pengemis dan pengamennya.

Semua itu diubah total oleh gedung Blok A baru. Pusat grosir yang dibangun di atas lahan seluas 13.000 meter2 dengan total luas bangunan 168.000 meter2 ini dilengkapi 149 unit eskalator, 4 unit passenger lift capsule, 4 unit lift (elevator) penumpang biasa, 8 unit lift barang (kapasitas 1 – 2 ton), AC sentral, CCTV, areal parkir yang bisa menampung 2.000 mobil dan 2.500 sepeda motor, ratusan tenaga security yang aktif berpatroli, serta sprinkler anti kebakaran yang masih dilengkapi lagi dengan ratusan tabung pemadam api dan akses internet tak terbatas. Untuk pelepas penat, lapar dan dahaga pengelola menyediakan Tenabang Foodcourt di Lantai 8 dengan aneka makanan dan minuman yang lumayan lengkap. Sedangkan untuk ibadah, di Lantai Atap dibangun sebuah masjid yang bisa menampung 2.000 jemaah.

Keseluruhan lantai Blok A terdiri dari Lantai B2, B1, SLG (semi lower ground), LG (lower ground), G (ground) 1, 2, 3, 3A, 4, 5, 7, 5, 9, 10, 11, 12, 12A, Atap.

Semua fasilitas itu membuat pedagang dan pengunjung bisa bertransaksi dengan aman dan nyaman. Tapi semua itu tentu dibarengi harga sewa kios yang juga lumayan, berkisar antara Rp 36 juta per meter persegi – 250 juta per meter persegi per tahun, sehingga tidak heran kalau pedagang di Blok A ini mengaku bisa menghabiskan Rp 1 – Rp 1,5 miliar untuk sewa kios saja.

Kamis 12 Agustus 2010 Blok B menambah lengkap modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang. Blok B sebenarnya adalah sayap tambahan Blok A. Karena bangunan sayap, di beberapa lantai Blok B tetap terhubung dengan BlokA, misalnya di Lantai LG, yang sekaligus merupakan atrium intercourt yang menghubungkan Blok B dengan Blok A dan Blok F. Atrium ini berupa selasar selebar 8 meter untuk lalu utama barang dan orang. Karena lebarnya di sini pengelola Blok B sering menyelenggarakan aneka ragam hiburan seperti life music dengan mendatangkan artis-artis penyanyi ternama nasional, bazaar, pameran, bahkan fashion show mini.

Terdiri dari 17 lantai ditambah lantai atap yakni Lantai 11,10, 9, 8, 7, 6, 5, 3A (karena angka 4 dianggap tidak hoki), 3, 2, 1, G, LG,SLG, B1, B2, B3. Lantai 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan B3 digunakan untuk lahan parkir.Lantai 5, 3A, 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2 adalah pusat grosir berbagai produk tektil dan aksesoris. Informasi di situs Blok B Tanah Abang, 10 lantai digunakan untuk area perdagangan. Sisanya untuk parkir dan kantor. Blok B dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektare dan dilengkapi dengan 22 lift dan 163 eskalator.

Lahan parkirnya yang 7 lantai  mampu menampung 1.500 mobil dan 2.300 motor. Di beberapa lantai area parkir Blok A dan Blok B saling terhubung sehingga konsumen bisa memilih mau parkir di blok yang mana. Keamanannya ketat, STNK adalah syarat utama untuk bisa parkir di lahan parkir ini, tanpa STNK jangan harap bisa parkir di sini.

Tak diketahui berapa jumlah anggota security keseluruhan,tapi semua tenaga security Blok B terdaftar dan menjadi anggota di Polda DKI Jakarta. Mereka juga bukan sembarang security karena direkrut dari pensiunan aparat kepolisian atau TNI dan mantan preman di kawasan Tanah Abang, jadi mereka sangat terlatih dan berakar di Tanah Abang.

Ada tiga jenis security di Pusat Grosir Tanah Abang yakni security patrol, security guard dan security customer. Mereka bertugas 24jam mengawasi keamanan gedung, pengelola dan konsumen di kawasan Blok B Pusat Grosir Tanah Abang. Dalam pelaksanaan tugasnya mereka dibantu perangkat CCTV dan MATV yang dipasang di sudut-sudut strategis untuk memperpanjang dan memperluas area pengawasan mereka di gedung yang memiliki 3.821 kios atau toko ini.

Untuk kenyamanan konsumen Blok B memiliki koridor  lebar yakni 2.8 meter antar kios atau toko,koridor utama lebarnya malah 3 meter, namun koridor selebar itu tetap saja terasa sempit terutama di Lantai LG, SLG, G dan 1 yang ramai transaksi.

Untuk kemudahan finansial, di samping eskalator di lokasitertentu tersedia ATM Bank Mandiri. Namun gerai bank mini juga ada seperti yang dibuka oleh Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI,  Bank Panin, Bank Danamon, Bank BRI lengkap dengan ATM di depan atau di sampingnya. Tersedia juga Bank Bumi Arta (sekuritas) untuk kemudahan, kemanan dan kenyamanan bertransaksi.

Seperti di Blok A, di Blok B juga tersedia tempat melepas lelah, lapar dan dahaga, tempatnya di Lantai 6 namun ukurannya jauh lebih kecil dibanding Foodcourt Tenabang di Lantai 8 Blok A.

Kedua blok ini menjual berbagai macam produk tekstil dan garmen seperti busana muslim pria dan wanita segala usia dengan segala kelengkapannya; aneka produk fashion wanita dan wanita segala usia lengkap dengan aksesorisnya, bahkan sudah ada pula yang menjual tas, sepatu, sandal, dompet, komoditas yang oleh sementara pedagang di Tanah Abang dianggap menyalahi konsep asli Pusat Grosir Tanah Abang. Selain itu di sini juga bisa ditemukan pedagang seprai dan sarung bantal, bedcover, selimut, gordyn, perlengkapan mandi (handuk dan piama) dan bahan kain.

Pasar Tanah  Abang modern juga terlihat pada penampilan PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) yang resmi digunakan tahun 2007. Bangunan berlantai 12 ini berlokasi di timur Blok A, sebuah jembatan menghubungkan Blok A dengan Metro di Lantai 1.  Jembatan ini dipenuhi pedagang pakaian anak-anak, dan melintasi Jl. H. Fakhruddin. Metro sendiri berada di tepi Jl. K.H. Wahid Hasyim.  Metro Tanah Abang terkenal dengan produk tekstil dari China dan Korea.

ImageCiri kemodernan Pusat Grosir Tanah Abang memang cuma diwakili Blok A, Blok B, dan Metro Tanah Abang, tapi meski tak semodern ketiga blok ini, Blok F1 yang terletak di sisi barat Blok A dan Blok B serta beroperasi tahun 2000 sebenarnya juga sudah lebih modern dibanding Blok F lama, karena lantai gedung yang terdiri dari 7 lantai  telah dikeramik semua. Di Blok F1 yang memiliki 563 kios juga tersedia eskalator, lift dan AC, tapi kondisinya tak sebagus kenyataannya, karena menurut pengakuan pedagang di sana AC hanya sempat nyala selama 6 bulan pertama dan tak pernah hidup lagi sampai sekarang, bahkan setelah tarif sewa kios naik drastis menjadi Rp 35 juta – Rp 65 juta per meter persegi per tahun dari Rp 10 juta per meter persegi per tahun, AC itu tetap saja ‘meninggal’.

Menurut H. Yoe Sanusi (50), pemilik Toko Baaligo di Lantai 1 Blok F 1, dulu waktu baru-baru setiap pedagang harus mengenakan jacket tebal karena dinginnya AC, tapi sekarang setiap kios harus ditambah kipas angin agar terasa sejuk,” katanya.

“Dulu merokok juga tak diperkenankan, kini asap rokok was wis wus di tiap sudut,” katanya Yoe lagi.

Eskalator hanya segelintir yang berfungsi, selebihnya mati total mengumpulkan daki debu di anak tangganya, malah ada yang sudah dicopot dari dudukannya dan digeletakkan begitu saja di atas Kali Krukut yang membelah bagian dalam blok ini. Liftnya menakutkan, karena sudah beberapa kali jatuh, meski tak memakan korban jiwa, tetap saja bikin jantungan.

Modernisasi fisik itu ternyata tak mengubah pola interaksi dan transaksi di Pusat Grosir Tanah Abang. Pembeli dan pedagang tetap bisa bertukar cerita, informasi dan tawar-menawar sambil bersenda gurau. Mereka bahkan tidak jarang saling undang ke pernikahan kerabat atau wisuda anak. Kematian apalagi, pembeli dan pedagang saling mengucapkan simpati meski keduanya berada di kota yang berlainan karena kebanyakan pembeli di Pusat Grosir Tanah Abang berasal dari luar Jakarta. SMS, BBM, email, Facebook dan Twitter menjadi sarana yang sudah akrab dengan kedua belah pihak untuk terus menjalin dan menjaga hubungan.

Saking akrabnya kadang-kadang pembeli dan pedagang yang sudah saling kenal lama ini ngobrol sesukanya di selasar di depan toko, sehingga arus lalu-lintas orang dan barang jadi tersendat. Mereka tak peduli pergerakan orang atau porter terhambat karenanya dan bersikap seharusnya orang-orang itulah yang memahami mereka.

Kesan tradisional dan konvensional tersebut  bukan hanya terlihat dalam hal itu, ketika bertransaksi pun mereka seperti saudara atau teman lama. Kepercayaan dan kejujuran menjadi tolok ukur semuanya. Yoe Sanusi (50), pedagang di Blok F1 mengatakan dia masuk Tanah Abang dulu hanya dengan modal Rp 15 juta. Itu modal yang tak masuk akal di Tanah Abang, katanya, karena orang biasanya memulai usaha di Tanah Abang dengan modal ratusan juta rupiah. Yoe bisa eksis sejak 1986 sampai sekarang hanya karena menerapkan filosofi dasar Pusat Grosir Tanah Abang, yakni menjaga kepercayaan dan menjalankan kejujuran. Makanya walau hanya punya modal untuk menyewa kios ukuran 2 X 2 meter, Yoe mendapat kepercayaan untuk menjualkan barang pedagang lain di kiosnya, sampai akhirnya bisa membeli kios sendiri seharga Rp 800 juta dan memiliki konveksi sendiri.

Soal kepercayaan dan kejujuran ini sangat sensitif di Pusat Grosir Tanah Abang. Ada daftar panjang tentang buyers yang sudah tak layak dipercaya karena cacat integritas, atau sebaliknya orang yang pantas direkomendasikan karena kejujurannya yang beredar luas di kalangan pedagang. Ada pula catatan serupa tentang karyawan yang layak dan tidak layak pakai, porter jujur dan porter penipu, ekspedisi culas dan ekspedisi bermutu, dan seterusnya. Istilahnya jangan macam-macam karena antena dan radar terus tegak berdiri dan mengawasi, sementara CCTV merekam track record Anda!

Meminjam atau meminjamkan uang ratusan juta sampai miliaran juga bukan hal yang aneh di Pusat Grosir Tanah Abang, begitu pula mengambil atau menyerahkan barang dengan nilai yang sama pada rekanan, tak peduli orangnya di mana barang dagangan senilai sampai ratusan juta dan miliaran akan dikirim tanpa keraguan, kalau kredibilitas orang tersebut sudah teruji.  Sebaliknya, sekali kepercayaan rusak , sekali pinjaman disalahgunakan, sekali giro dimainkan orang yang melanggar code of conduct itu pun dicoret dari daftar, dia takkan dapat tempat lagi di manapun di Pusat Grosir Tanah Abang. Begitu sebaliknya, orang yang dipercaya akan mendapatkan kejayaan dengan mudah di Tanah Abang.

Selain Blok A, Blok B, Blok F dan PGMTA Pusat Grosir Tanah Abang masih memiliki Blok C, Blok G, Blok F2, Blok F3, Blok AURI Alfa dan Pasar Tasik permanen diJati Baru.

Blok C atau Jembatan Tanah Abang Trade Centre (JTTC)  saat ini lebih menyerupai blok terlantar karena banyaknya kios yang kosong dan digembok karena tak laku dijual atau disewakan. Padahal fasilitasnya cukup baik, berlantai keramik dan full AC, tapi sejak kebakaran 2003 dan selesainya pembangunan Blok A tahun 2005 dan Blok B tahun 2010, Blok C atau JTTC seperti ditinggalkan.

Terdiri dari Lantai Dasar, Lantai 1 dan Lantai 2 JTTC kini lebih banyak digunakan untuk tempat para pedagang dan pengunjung makan siang, karena ada tempat makan yang cukup memadai di Lantai Dasar dan Lantai 1. Sedangkan bangunan utama Blok C terdiri dari 5 lantai, namun kebanyakan diisi kios kosong, meski Lantai Dasar di pintu utamanya yang menghadap ke Pintu Selatan Blok B atau pas di tepi Jl. Kebon Jati  cukup ramai aktivitas jual beli.

Sebagian gedung Blok C terlihat sedang menjalani proses rehabilitasi, tapi progress rehabilitasi blok yang dikelola PD Pasar Jaya ini terlihat sangat lambat, sehingga Blok yang lahannya mencakup komplek Pasar Seng atau komplek kios penjualan kurma dan oleh-oleh haji di Jl, K. H. Mas Mansyur ini lebih tampak seperti bangunan kosong, meski di Lantai Dasar dan dekat pintu masuk utamanya di sisi utara , kios-kios perlengkapan shallat yang menjual aneka sajadah, sarung dan mukena tetap memajang dagangannya, dan kedai-kedai makanan di sebelahnya yang selalu penuh pengunjung.

Blok F 2 terletak di sisi barat Blok F1. Keduanya dipisahkan area parkir dan Kali Krukut yang mengalir membelah dua bangunan blok yang dulu dikenal sebagai Blok F saja itu. Blok F2 juga terdiri dari 7 lantai. Komoditas grosirnya sama juga, yakni busana muslim, celana dan baju berbahan jeans, bermacam kaos dan T shirt, perlengkapan shallat, umroh dan haji, kemeja lelaki dewasa, pakaian anak-anak lelaki perempuan, pakaian remaja, handuk, seprai, sarung bantal, sarung, taplak meja, dan lain-lain.

Blok F3 adalah blok yang baru dibangun. Kondisinya masih 80 persen, saat ini proses pembangunannya tak bisa dilanjutkan karena ada persoalan IMB yang belum diurus pengelola. Blok F3 terletak di sisi barat Blok F2, atau di wilayah Jati Baru.

Blok G Pusat Grosir Tanah Abang sebenarnya sudah berusia  cukup lama yakni sekitar tahun 1996-an, tapi setelah kebakaran besar melanda Blok A, B, C, D, dan E Februari 2003, Blok G ikut direnovasi tahun 2004.  Seribuan PKL kemudian mengisi Lantai 1 sampai 4, sedangkan Lantai Dasar dipenuhi pedagang kambing dan sapi yang sekaligus melakukan aktivitas pemotongan hewan-hewan tersebut di sana. Para pedagang dan jagal kambing ini merupakan pindahan dari Lantai Dasar Blok F.

Karena risih dengan merajalelanya preman dan PSK, yang beroperasi seenaknya di Lantai 4, yang pada gilirannya juga membuat para pembeli enggan berbelanja ke Blok G, sehingga Blok G itu menjadi mati suri, para PKL itupun meninggalkan kios yang telah disewa atau dibelinya dan kembali membuka lapak di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder dan Jl. K.H. Mas Mansyur yang difasilitasi dengan baik oleh komunitas preman lainnya yang menyebut diri mereka anak wilayah, alias para pemuda yang bermukim di seputaran kawasan Pusat Grosir Tanah Abang, terutama dari 4 kelurahan yaitu Kelurahan Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali dan Peramburan.

11 Agustus 2013 pasangan pemimpin Dki Jakarta, Jokowi – Ahok, melakukan penertiban dan penataan di kawasan Tanah Abang. Blok G dibersihkan dari para preman dan PSK, kios-kios berukuran 1,5 meter X 1,5 meter dirapikan, gedungnya dicat dan pedagang kambing serta rumah pemotongan hewan (RPH) mini dipindahkan ke Pasar Kambing Jl. Sabeni, Kebon Melati. Setelah bersih para PKL yang memadati dan menjadi sumber kemacetan di Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder digiring masuk Blok G.

Senin 2 September Blok G diresmikan pemakaiannya.  Sebanyak  941 PKL menempati kios yang tersedia di Lantai 1 sampai Lantai 4. Namun fasilitas di Blok G masih minim. AC dan eskalator tidak ada. Lift juga tak dianggap perlu karena blok ini hanya terdiri dari 5 lantai.

Blok AURI atau juga dikenal dengan sebutan Ruko AURI Alfa adalah komplek pertokoan grosir yang berlokasi di sisi utara Blok A. Ruko AURI berlokasi di pinggir Jl Fakhruddin dan melebar ke Tanah Abang Bukit di utara. Di sebelah barat Blok Ruko Auri berhubungan dengan Blok F2 dan Blok F3.

Produk tekstil dalam bentuk bahan lebih mendominasi di sini seperti bahan kaos, bahan batik, bahan jeans dan sebagainya. Semua dalam skala besar karena berhubungan langsung dengan pabrik. Di Blok ruko AURI toko grosir aksesorisnya juga melayani pesanan dalam partai besar.

Pasar Tasik awalnya memang bermula di Jl. Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang. Dalam perkembangan selanjutnya pasar ini berkembang ke Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder di sisi selatan Blok F dalam bentuk moko (mobil toko).  Dari sini Pasar Tasik berkembang sampai ke Lantai 5 Thamrin City Jl. H. Mas Mansyur dan  lapangan parkir Yayasan Haji Naum di jalan yang sama, serta di lahan parkir Lantai 6 Blok F1.

Namun yang bermula di Jl. Jati Baru berkembang juga ke dalam ke wilayah RW 01 Jati Baru, Kelurahan Kampung Bali. Mereka memilih menyewa kios-kios yang dibangun penduduk setempat Rp 23 juta per meter persegi per tahun. Apa yang dimulai tahun 1990-an itu berkembang terus sampai akhirnya menjadi kumpulan pertokoan yang lumayan banyak, sampai memenuhi 15 ruas jalan yang ada di Jati Baru. Kios-kios di 15 ruas jalan ini mengular ke mana-mana, ada yang keluar di Jl. Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang, ada yang di Jl. Kebon Jati depan Blok G, ada pula yang di Blok F dan ke Kolong, bawah jembatan laying ke Kemanggisan, Jakarta Barat.

Sesudah penertiban 11 Agustus 2013, Pasar Tasik Jati baru ikut mengalami perubahan, tapi tidak banyak dan lebih bersifat reaksi saja terhadap penertiban di jalan-jalan protokol Tanah Abang. Mislanya, armada mobil toko (moko) pedagang Tasik dari Tasikmalaya kini juga dibuka di lahan parkir Lantai 5. 6, 7 Blok F1. Mereka buka dari pukul 04.00 sampai pukul 12.00 WIB. 

Di Jl. Jati Baru X misalnya, di depan Gereja Bethel Injil Sepenuhnya (GBSI) semua selokan ditinggikan dan ditutup dengan papan berukuran 7 X 2 meter, 5 X 2 meter atau 3 X 2 meter, lalu disewakan Rp 7 juta per meter persegi  per bulan atau Rp 84 juta setahun untuk menampung para PKL yang tak kebagian kios di Blok G atau memang sengaja membandel karena tak yakin dagangannya laris terjual di Blok G.

Jelang lebaran jangan coba-coba nekad ke sini, karena macetnya gila-gilaan, 15 ruas jalan yang hanya dilewati pejaan kaki itu stag di mana-mana, benar-benar tidak bergerak. Tapi karena namanya Pasar Tasik, calon pembeli sudah tahu kalau harga produk garmen di sana—yang umumnya didominasi busana muslim untuk kelas menengah ke bawah—sangatlah miring, akibatnya pengunjungnya tetap saja membludak. Mereka datang dari mana saja, terutama dari kawasan pinggir Jakarta, termasuk dari kota-kota satelit ibukota seperti Bogor, Bekasi dan Tangerang. Ada juga yang dari Cilegon, Serang dan Merak.Image

Dari Tempat Plesir ke Pasar Tekstil

Image

Jauh sebelum dikenal sebagai pasar grosir tekstil dan garmen kawasan Tanah Abang dahulu kala merupakan daerah rawa dan perbukitan. Di sini mengalir Kali Krukut yang berair jernih dan sering digunakan sebagai tempat plesir dan mandi-mandi, baik oleh warga pribumi dari seputaran Jakarta maupun warga Belanda yang membangun rumah-rumah peristirahatan di sini meski bertempat tinggal di kawasan Menteng.

Tanah Abang sendiri mulai disebut-sebut  tahun 1628, ketika tentara Mataram di bawah pimpinan Soeltan Agung menyerbu Batavia. Mereka mendirikan pangkalan dan dapur umum di lahan itu. Tahun 1648, Phoa Beng Gam atau Phoa Bing Gam seorang kapitan Tionghoa yang prihatin dengan kondisi kesehatan di Batavia karena banyaknya korban yang meninggal gara-gara penyakit malaria, tiphus, disentri dan kolera, menggali kanal dari de Voorstaft (Kota) ke Harmoni. Tujuannya untuk mengalirkan air rawa supaya tidak lagi tergenang dan menjadi sarang nyamuk malaria dan kotoran lainnya. Sebelum membuat kanal Beng Gam bersama sekretarisnya membuat peta kawasan itu.

Kanal yang digalinya itu dikenal sebagai Kanal  Molenvliet (1661) karena di kanan kirinya banyak kincir penggilingan gula tebu  atau molenvliet milik penduduk. Kedua sisinya kemudian menjadi jalan penghubung kawasan Kota dengan Harmoni yaitu  Jl. Molenvliet Oost  (Jl. Gajah Mada) dan Jl. Molenvliet West (Jl Hayam Wuruk).

Pembangunan kanal selanjutnya diteruskan ke arah tenggara melalui samping Rijswijkstraat (JI. Majapahit), Jl. Tanah Abang Timur, terus ke Kali Krukut. Terusan ini dibangun untuk kepentingan umum, guna membuka keterisolasian daerah di  selatan Batavia. Dengan demikian kanal ini berfungsi sebagai sarana kesehatan dan angkutan sungai untuk lalu-lintas barang dan orang, termasuk hasil pertanian dan perkebunan yang mulai banyak keluar dari Tanah Abang.

ImageKanal karya Phoa Beng Gam ini dengan sendirinya telah berperan mempercepat  perkembangan dan pemekaran Kota Batavia ke selatan, terutama karena fungsinya sebagai sarana pengangkut kayu dari hutan di selatan Batavia untuk membuat kapal dan bangunan di utara kota, sekaligus pembawa kebutuhan pabrik gula dan mesiu di Lindeteves dan mengantisipasi terjangan banjir dari Jawa Barat yang telah menjadi masalah juga bagi Jakarta waktu itu.

Karena jasanya ini Phoa Beng Gam dihadiahi tanah yang sangat luas di kawasan Tanah Abang.  Tanah Abang sendiri saat itu sudah menjadi kawasan pertanian yang subur. Banyak orang Belanda membangun saung, villa atau rumah peristirahatan di sana, sementara orang Tionghoa lebih suka bercocok tanam. Mereka membuka kebun sayur dan palawija seperti bayam, kangkung, tomat, cabe,  jahe, kacang, serai (sereh) dan sirih yang sudah menjadi tanaman tradisional dan wajib bagi setiap rumah etnis Betawi di sana, karena daun sirih dibutuhkan untuk menjadi teman kapur sirih yang fungsinya sama seperti permen karet bagi orang Amerika atau rokok bagi para perokok di mana saja, karena sirih membawa efek menenangkan ampuh untuk mengisi waktu luang atau saat-saat menunggu.

Ada juga yang menanam pala dan jati putih juga melati. Sampai sekarang jejak pertanian dan perkebunan tersebut masih ada karena diabadikan oleh Pemda DKI sebagai nama jalan di wilayah Kecamatan Tanah Abang, seperti Jl, Kebon Jati, Jl. Jati Baru, Jl, Jati Bunder,  Jl, Kebon Sirih (sebenarnya sereh), Jl. Kebon Pala, Jl. Kebon Jahe , Kebon Melati, Kebon Kacang dan sebagainya. Image

Pesta rumahan sering diselenggarakan orang Belanda di Tanah Abang. Tahun 1793 Lord George Mac Cartney yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugasnya sebagai Duta Besar Inggris untuk China sempat singgah di Batavia. Di Batavia dia dijamu Wiegerman, salah satu anggota Dewan Belanda di villanya di Tanah Abang.  Mac Cartney mencatat dalam jurnalnya–yang kemudian ditulis ulang oleh Junus Nur Arif dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe–tentang mewahnya jamuan itu. Anggur Madera (Madeira)—anggur terkenal dari Portugis tak henti dituang ke gelasnya, suasana pesta tambah meriah dengan pertunjukan wayang China dan atraksi kembang api, serta tentu saja dansa-dansi sampai pagi. Mac Cartney yang datang dengan Kapal Lion tak henti-hentinya memuji perjamuan tersebut, dia menulis bagaimana dia disambut meriah oleh pejabat Belanda dan pengusaha Tionghoa sejak kapalnya merapat di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Makin banyaknya sayur dan palawija yang keluar dari Tanah Abang mendorong Justinus Vinks, anggota Dewan Belanda dan salah satu tuan tanah di Tanah Abang yang  telah sukses membangun Veltervreden (Pasar Senen) untuk membangun pasar pula di Tanah Abang. Dia minta izin ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang waktu itu dijabat Abraham Patras (1635 – 1637). Patras mengizinkannya tapi pasar itu hanya boleh dibuka pada hari Sabtu  sehingga kemudian dikenal dengan nama Pasar Sabtu. Syarat lainnya dari gubernur jenderal kelahiran Perancis ini pasar tersebut hanya boleh memperjualbelikan barang-barang kelontong dan produk tekstil. Pasar ini sangat sederhana hanya berupa dinding dari anyaman bambu (gedeg, bilik)  terbuka beratap rumbia atau nipah.

Pasar mingguan itu berkembang baik, peranan Kali Krukut pun bertambah, tidak lagi menjadi sekedar tempat mandi-mandi warga Batavia, tetapi juga mulai padat dengan lalu-lintas perdagangan sayur-mayur, palawija, barang-barang kelontong dan produk tekstil dari dan keluar Tanah Abang. Pemukim baru pun mulai meramaikan kawasan ini, baik sebagai buruh tani di lahan pertanian dan perkebunan maupun sebagai pedagang atau orang yang mencari peluang usaha baru. Image

Pada perkembangan selanjutnya dibangun jalan yang menghubungkan Pasar Senen dengan Pasar Tanah Abang, jalan itu kini dikenal sebagai Jl. K.H. Wahid Hasyim, yang memanjang dari timur ke barat, dari Blok A Pusat Grosir Tanah Abang melewati Tugu Tani di depan gedung Lembaga Manajemen PPM, Menteng dan berakhir di depan Bioskop Mulia Agung, Senen.

Tentang nama Tanah Abang sendiri ada tiga versi yang masih diperdebatkan hingga kini. Versi pertama muncul karena pasukan  Kerajaan Mataram yang bermarkas di sini saat menyerbu Batavia tahun 1628 menyebutnya begitu. Tanah Abang atau Tanah Merah, mengingat tanah perbukitan di kawasan itu berwarna merah. Sampai tahun 1970-an tanah merah tersebut masih bisa ditemukan dalam bentuk lapangan bola di sekitar Thamrin City sekarang.

Versi kedua nama Tanah Abang berasal dari banyaknya pohon nabang, sejenis pohon berbuah kecil yang saripatinya sering digunakan untuk campuran sambal atau ulekan bumbu masakan. Orang Belanda menyebutnya De Nabang, namun lidah Betawi setempat mengubahnya jadi Tenabang. Sampai tahun 1960-an masih ada oplet yang memajang tulisan Tenabang di kaca atau bodynya.

Terakhir, nama Tanah Abang diduga berasal dari kisah kebaikan hati seorang abang pada adiknya. Si Abang memberi adiknya yang miskin sebidang tanah yang kemudian berkembang menjadi kawasan Tanah Abang sekarang. Mana yang benar, Wallahua

Nederlands: Foto. Album beslaat souvenir foto'...

Nederlands: Foto. Album beslaat souvenir foto’s van Java. Brug over de Tanah Abang rivier in Batavia (Photo credit: Wikipedia)

lam.Image

Riwayat Panjang Tanah Abang

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tana...

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tanah Abang (Photo credit: Wikipedia)

ImageSuatu siang di bulan Februari 2013. Udara panas dan kemacetan parah menghambat perjalanan saya di ujung Jembatan Banjir Kanal Barat atau yang oleh warga Tanah Abang disebut Jembatan Kali Baru, tepatnya di pertigaan Jl. Aiptu K.S. Tubun, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder, atau  di sisi barat Blok G yang mulai Agustus 2013 dibenahi Pemda DKI Jakarta.

Belasan Mikrolet 09 (jurusan Kebayoran Lama – Tanah Abang), 09 A (Meruya– Tanah Abang), dan 11 (Kebon Jeruk – Tanah Abang), satu dua bus Mayasari Bhakti  R 507 (rute Pulo Gadung – Tanah Abang), P14 (rute Tanjung Priok – Tanah Abang) beringsut sesenti demi sesenti –nyaris tak bergerak–bersama puluhan mobil pribadi, sepeda motor dari tiga arah jalan dan ratusan pejalan kaki yang rata-rata menjunjung atau menenteng tas belanjaan besar di ujung jembatan Kali Baru tersebut.

“Selamat datang di Tanah Abang,” kata supir M 09 yang saya tumpangi dengan suara pasrah, sambil mengelap lehernya yang berdaki dengan handuk yang tak kalah dekilnya. Sebelum dia menghembuskan asap rokoknya sekali lagi saya buru-buru turun dan membayar Rp 2.000, tarif terendah untuk jarak terdekat yang berlaku di mikrolet pada waktu itu (sekarang setelah harga BBM naik tarif terendah itu menjadi Rp 2.500), maklum saya tadi turun di depan Hotel Kalisma, tempat di mana Koantas Bima 102 (trayek Ciputat – Tanah Abang) berputar dan menambah beban ongkos penumpang yang terpaksa harus naik mikrolet atau ojek lagi kalau ingin masuk Pasar Tanah Abang, padahal trayeknya seharusnya sampai ke dalam Pasar Tanah Abang, tapi karena tidak kuat melawan macetnya supir Koantas Bima itu mengambil jalan aman. Aman untuk dia, beban untuk penumpang.

Turun di sisi kiri trotoar di ujung jembatan yang penuh dengan kios PKL  penjual kaos, handuk, celana sport, obat-obatan dan barang-barang loak, saya disambut belasan tukang ojek yang dengan bernafsu menawarkan jasa, saya menggeleng karena melihat ada jembatan penyeberangan yang tampaknya menuju bangunan ruko di seberangnya (Blok G). Jembatan itu tampak rapuh tak terawat–karat mengelupas terlihat di mana-mana—dan di kiri kanan anak tangganya banyak duduk wanita berdandan menor, berbusana minor.  Kebanyakan sudah ‘mak mak’ atau STW (setengah tua), meski ada juga yang kelihatannya masih muda. Beberapa lelaki bertampang sangar duduk mengawasi di samping mereka. Saya masih belum ‘ngeh’ dan permisi saja lewat ke atas.Image

Jembatan itu memang bersambung ke Blok G lantai 3, tapi saat itu pintu penghubungnya yang berupa teralis digembok. “Nggak bisa lewat sekarang Bang, ntar sore bisa,” ujar seorang wanita bercelana panjang coklat terang dengan kaos kuning berbelahan dada rendah. Tumbuhnya gempal dan dandanannya tak kalah menor dengan para wanita yang duduk berjejer di kaki jembatan tadi. Saya mengucapkan terima kasih dan berbalik hendak turun. Eh, tiba-tiba wanita 30 tahunan itu itu merayu. “Ngewek kita Bang?” sambil memamerkan senyum.

Buseeet, baru saya sadar sedang ada di mana. Ini kan masih bagian dari Bongkaran, kawasan prostitusi kelas bawah untuk para hidung belang berkantong tipis di Jakarta Pusat! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sambil balas tersenyum juga. “Waduuh makasi Mbak, lagi buru-buru nih.”

Dia tampak kecewa. “Murah kok Bang,” bujuknya, tapi saya sudah buru-buru turun.  Di kaki tangga para wanita temannya menyapa, “Kok nggak jadi Mas? Ditanggung puas lho.” Sementara teman pria mereka menatap saya garang. Saya tersenyum lagi dan cepat-cepat masuk ke kerumunan.

Hanya dalam hitungan detik saya sudah langsung bertemu dengan 5 aikon Tanah Abang, yakni tak ada peraturan, kemacetan, PKL, prostitusi dan preman.

Bedesakan lagi melawan arus lalu lintas yang tampaknya diatur dengan hukum rimba karena tak ada rambu lalu lintas yang dipatuhi, saya sampai dengan badan penuh keringat di pertigaan Jl Aiptu K.S. Tubun dari arah Petamburan, Jl. Jati Baru yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dan Jl. Kebon Jati yang menuju jantung Pusat Grosir Tanah Abang atau yang oleh warga setempat disebut Bunderan Jati Baru. 

Dari arah Jl. Jati Baru atau Jl Kebon Jati sebenarnya veerboden, kendaraan harus masuk ke Jl. Kebon Jati dulu, lalu belok kanan atau ke selatan ke Jl. Jati Bunder, keluar di Bongkaran dan masuk ke Jembatan Banjir Kanal Barat atau Jembatan Kali Baru bagian selatan yang bersebelahan dengan Jembatan Banjir Kanal atau Jembatan Kali Baru bagian utara. Tapi kebanyakan pengendara sepeda motor lebih suka memotong dan melawan arus—sekaligus melanggar veerboden—dengan memaksa masuk ke Jl. Aiptu K.S. Tubun di Jembatan Kali Baru utara. Akibatnya kemacetan parah terjadi karena arus kendaraan saling bertumbukan. Kondisinya bertambah parah karena terdapat beberapa titik parkir yang sepertinya menempati di mana saja titik jalan yang kosong. Hasilnya, Alhamdulilah: kemacetan luar biasa!

Saya menyempil, memiringkan tubuh sebisanya asal bisa lewat di antara sepeda motor, mikrolet dan arus orang serta barang dari arah berlawanan. Jalan yang seharusnya lebar itu dipadati lapak PKL, ada yang menjual buah-buahan, makanan dan minuman—mereka membuka rumah makan di jalan—dan aneka pakaian, juga mainan anak.  Hanya ada 2 jalur—dari 6 jalur–yang dibatasi pembatas jalan yang dibiarkan koosng agar arus lalu lintas bisa beringsut lewat. Image

Di Jl. Kebon Jati itu kepadatan bertambah dengan mikrolet M 10 (jurusan Jembatan Lima – Tanah Abang) dan M 08 (rute Kota – Tanah Abang), juga ada truk sampah, mobil box milik pedagang, kendaraan pribadi yang mungkin nyasar atau nekad dan para pengemis yang seenaknya berbaring di tengah jalan dengan akting super memelas dan tampilan super joroknya. Tentu saja kepadatan itu masih dilengkapi puluhan sepeda motor, ratusan pejalan kaki seperti saya dan belasan gerobak dorong milik para porter pengangkut barang dengan barang yang besar-besar dan lebar nyaris selebar body mobil yang diangkutnya, di samping bajay dengan asapnya yang sangat menyiksa itu dan lagi-lagi parkir liar!

Jl. Kebon Jati yang lebih banyak digunakan adalah sisi utara, karena sisi selatannya selalu tergenang air setinggi lutut orang dewasa berwarna hitam penuh lumpur dan aromanya sangat busuk. Supir mikrolet mengaku takut lewat di situ, kuatir kendaraannya mogok dan terperangkap di genangan.

Jejeran lapak PKL juga lapis tiga. Dua di badan jalan, satu di trotoar menutup rapat toko-toko di belakangnya. Jajaran lapak ini tersusun padat sejak dari kawasan Kolong—di bawah Jembatan Layang Jati Baru—di sisi utara Jl. Jati Baru, berbelok ke arah Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. H. Fachruddin di sisi timur Jl. Kebon Jati. Saya mencoba jalan di trotoar, tapi trotoar itu sendiri hanya tinggal 50 sentimeter yang bisa diarungi. Ya diarungi, karena kita seperti berenang dalam kerumunan orang dan barang-barang dagangan. Tak bisa melangkah dengan santai, karena harus waspada dengan tubuh orang yang ada di depan atau datang dari arah depan dan belakang kita, serta barang-barang dagangan yang bergelantungan sesukanya sehingga sering menghantam hidung atau kepala kalau tidak hati-hati.

Saya tak perlu mengingatkan tentang copet, itu aikon Tanah Abang yang sudah sangat dikenal sejak lama. Di kepadatan kaki lima Tanah Abang mereka bisa berupa siapa saja. Salesman berkemeja rapi dengan celana kasual trendy dan tas Echolac terbaru, atau seperti mahasiswa dengan kaos dan kemeja dengan ransel di punggung, atau bapak-bapak yang ramah atau ibu-ibu dan wanita berjilbab. Mereka berkamuflase dengan baik, dengan simbol-simbol kesopanan dan peradaban terbaik, lalu dengan aman memainkan jemari atau siletnya di kantong-kantong, tas atau dompet mangsa yang merasa aman di dekatnya.

Rasanya lama sekali pengarungan di lautan kepadatan itu. Keringat telah membanjir, membasahi punggung, leher dan wajah sebelum akhirnya saya sampai di markas brandweer atau pemadam kebakaran Tanah Abang.  Markas yang terjepit ketat oleh lapak PKL itu tampak tak kalah sengsara. Anggotanya yang terlihat pasrah terpaksa duduk-duduk saja dengan para PKL dan preman yang mangkal di depan markasnya. Kesiagaan mereka sudah tergerus sikap tak peduli dan mau memang sendiri para PKL dan preman yang menguasai akses jalan di depannya. Sampai di situ tiba-tiba bau sengit kambing merebak.

Saya kaget. Kok ada bau kambing yang sangat menyengat di kerumunan pedagang pakaian dan aneka rupa produk kain ini? Ternyata menjelang sampai ke pintu barat dan selatan Blok B—bangunan baru Pusat Grosir Tanah Abang yang berarsitektur modern—ada sebuah lapak pedagang kambing. Baunya, alamaaak! Kok bisa pedagang kambing dibiarkan bercampur dengan pedagang kain dan makanan? Saya tak mau memikirkannya, langsung saja naik tangga di samping markas pemadam kebakaran dan menghilang ke Lantai 1 Blok F1.

Itu sekilas potret Tanah Abang sebelum Jokowi dan Ahok—Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta—menertibkannya mulai 11 Agustus lalu, namun sebenarnya riwayat Tanah Abang sudah berlangsung lama, karena pasar yang kini terkenal sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen terbesar serta termurah di Asia Tenggara ini resminya sudah berusia 278 tahun!Image

Situs-situs Penting di Tanah Abang: Bongkaran

 

Image

Bongkaran merupakan situs kontroversial di Tanah Abang. Diakui malu, karena Bongkaran dianggap sebagai aib yang terpaksa diterima Tanah Abang. Tidak diakui dia nyata ada di Tanah Abang. Bongkaran jadi masalah karena dia adalah lokalisasi liar untuk konsumsi masyarakat kelas bawah di kawasan Tanah Abang dan sekitarnya.

Tak ada yang tahu pasti kapan Bongkaran berdiri, bahkan nama Bongkaran itu sendiri mengundang banyak penafsiran. Tokoh masyarakat Betawi di Tanah Abang H. Sanusi Saleh atau Bang Uci (69) mengatakan, waktu dia kecil Bongkaran dan aktivitas prostitusinya sudah ada juga.

Ada beberapa konotasi yang bis dikaitkan dengan asal usul nama Bongkaran, kata Bang Uci. Satu banyaknya gudang arang dan aktivitas bongkar muat arang dari kereta api ke gudang-gudang arang tersebut yang lokasinya menurut Bang Uci berderet di lokasi Pasar Tasik Jatibaru atau di depan Stasiun Tanah Abang sekarang. “Gudangnya banyak, sampai ke Lontar sini, dulu ada jaringan rel sampai ke Lontar sehingga ada wilayah kecil di sini yang disebut Sepuran, itu dari kata sepur yang sering mondar-mandir di sana,” katanya.

Kemungkinan lain karena Tanah Abang jadi pusat sumber sayur mayur yang didistribusikan ke berbagai kawasan lain di Jakarta, seperti Senen, Kota, Jatinegara dan sekitarnya. Sebaliknya berbagai jenis buah-buahan masuk ke Tanah Abang dari berbagai kampung di Jawa Barat seperti Parung, Bogor Serpong dan Merak. Aktivitas bongkar muatnya bisa memunculkan nama Bongkaran. “Kalau mau makan duren sampai perut meletus di stasiunlah tempatnya, saking banyaknya duren masuk Tanah Abang dari Parung dan sekitarnya,” kenang Bang Uci. Dia menambahkan bukan hanya duren yang melimpah dan dibongkar para kuli di stasiun, buah-buahan lain seperti manggis, papaya, pisang dan mangga juga banyak.

Kemungkinan ketiga banyaknya aktivitas bongkar muat oleh armada truk yang mendistribuksikan produk tekstil dan garmen dari Pusat Grosir Tanah Abang ke berbagai kota di Jawa, Sumatera dan Bali. Dan sebaliknya produk tekstil dan garmen dari pabrik-pabrik tekstil di Jawa Barat,  Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dibongkar di Jakarta untuk dijual di Pusat Grosir Tanah Abang. “Saya tak bisabpastikan yang mana yang menjadi asal usul nama Bongkaran, mungkin juga masih ada lagi asal namanya sebelum saya lahir,” kata Bang Uci lagi.

Tak masalah, dari manapun asal namanya, Bogkaran telah menjadi aikon yang melekat dengan Tanah Abang.Aikon yang berkonotasi negatif tapi tak dapat dielakkan, seperti kanker yang sudah terlanjur menjalar dalam tubuh.Image

Bongkaran berlokasi di 5 titik, yaitu sepanjang rel kereta api, di bawah jembatan kembar Jati Baru, sepanjang Jl. Jati Baru di deretan stasiun dan Pasar Tasik Jati Baru, di jembatan penyeberangan Blok G, di sepanjang Jl. Jati Bunder dekat pangkalan truk Jati Bunder dan di Jembatan Kali Baru.

Lokalisasinya memang tidak berupa komplek tertutup, melainkan terpisah-pisah secara segmentif. Masing-masing membentuk lapak berupa kedai-kedai minuman beratap tenda plastik atau terpal berukuran 2 meter X 2 meter, 3 meter X 4 meter atau 4 X 6 meter tergantung kekuatan modal finansial pemiliknya. Di dalamnya terdapat meja dan bangku panjang, di ats meja disusun beberapa botol bir dan kacang-kacangan. Birnya ada yang merek Bintang, Anker, Guiness, atau bir oplosan yang mereka sebut Ciu dan bir pletok. Dulu katanya ada juga minuman keras merek TKW, Kambing Putih (kamput).Ada pula Scott, Mansion, Brandy, Wishky dan Vodka.Tapi nama-nama terakhir ini mungkin cuma botolnya saja, isinya entahlah. Soalnya bagi mereka  jenis dan merek minumannya sudah campur aduk saja.

Di bangku panjang itu duduklah para PSK berpakaian minim tapi berdandan maksimum, berusia  25 – 40 tahun. Sebagai penarik pemilik lapak memutar lagu-lagu berirama dangdut dari loudspeaker murahan sekeras mungkin. Hingar bingar jadinya karena tidak jelas lagi mana yang mau didengar, Agar para hidung belang makin tertarik maka menjelang tengah malam lampu-lampu di tenda dimatikan, diganti dengan lampu diskotek yang berpendar warna-warni. Pendar cahayanya bias dilihat dari Jl. Jati Bunder VII, mewarnai langit malam.  Pengunjung dan PSK pun mulai duduk merapat atau berdiri untuk berjoget, ada pula yang berkaraoke seadanya menirukan lagu dangdut yang mendayu-dayu, meski suara mereka sering tak terdengar kalah dengan hingar-bingarnya musik sejenis dari puluhan loudspeaker dari diskotek tenda tetangganya. Kemudian pasangan itu menghilang satu persatu ke gerbong-gerbong kosong di belakang tenda atau di bilik-bilik kecil di samping tenda.

Bilik-bilik  itu hanya diterangi lampu 5 watt dan ada ranjang kayu beralaskan kasur tipis dengan seprai lusuh. Di ranjang reot itulah hasrat seksual dilampiaskan.Tentu saja tanpa kondom atau alat pengaman lainnya, karena harga kondom saja Rp 15.000 – Rp 25.000.  Para pelanggan lebih suka membeli rokok atau minuman, atau main lagi dengan PSK lainnya daripada membuang untuk kondom, karena tarif rata-rata sekali kencan di sana hanya Rp 50.000.Tidak jarang Rp 20.000 juga diterima karena kepepet. Maklum para PSK di sini umumnya menjadi tulang punggung ekonomi untuk keluarga mereka di kampung dan mereka sering tidak tahan dengan rengekan anak atau orang tuanya yang minta biaya sekolah, biaya dapur dan sebagainya.

Dulu di sini dikenal pula gerobak sorong yakni gerobak yang bisa jalan di rel dan digunakan untuk alas main.Selesai digunakan gerobak itu dikembalikan ke tempatnya di belakang diskotik atau karaoke tenda tadi.

Di atas atau di sepanjang Jl. Jati Bunder yang menyambung ke Jembatan Jati Baru, lain lagi modelnya. Lapak-lapaknya lebih kecil, makanan ringan dan minumannya masih sama—karena pemasoknya juga sama, bangku-bangku tidak banyak, para PSK duduk di pagar alumunium pembatas trotoar dengan jalan. Mereka duduk berjejer sampai 6 orang, dengan paha tersingkap dan baju berleher rendah.

Pola transaksi di pinggir jalan ini agak lebih cepat, karena tempat duduk dan ngobrolnya tidak nyaman. Musik juga tidak ada, bilik-bilik kenikmatan apa lagi. Kalau ada kecocokan harga pasangan akan menghilang ke truk-truk yang ada di pangkalan. Lalu dengan menggunakan karus-kardus atau kertas koran sebagai alas berlangsunglah aksi tukar-menukar jasa tersebut. Bisa di kolong truk, bisa di atas truk, terserah karena pelanggan umumnya juga supir atau kenek truk tersebut.Ada juga yang ke hotel-hotel di sepanjang Jl. Jati Baru. Banyak hotel bertarif Rp 50.000 – Rp 100.000, tapi ini jarang dilakukan, karena diangap mahal dan tak perlu.

Yang di Jembatan Kali Baru beda lagi, Modelnya lesehan. Pengunjung dan PSK duduk melingkari tumpukan minuman dan makanan ringan di atas tikar atau karpet plastik atau duduk berdampingan di trotoar jembatan.Transaksinya cepat juga karena keadaan. Eksekusi bisa di truk atau di toilet bawah jembatan penyeberangan ke Blok G. Toilet itu kini telah dirobohkan oleh satpol PP karena pengaduan masyarakat.

Yang di jembatan penyeberangan  transaksi berlangsung di tangga jembatan. Eksekusinya ke toilet di bawah jembatan juga atau ke kios-kios berukuran 1,5 meter X 1,5 meter di Lantai 4 Blok G. Tapi itu dulu, sekarang tak bisa lagi, karena Blok G sudah dibersihkan Pemda DKI.

Yang di panjang trotoar Jl. Jati Baru polanya sama dengan yang di Jl. Jati Bunder. Yang di sini katanya terpaksa main di hotel, karena tak ada tempat yang kondusif untuk urusan yang satu itu. Bedanya PSK Bongkaran Jati Baru bisa mengusahakan tarif khusus untuk para tamunya, sehingga tak terlalu berat dengan harga kamar hotel yang sebenarnya juga berfasilitas seadanya.

Minggu 1 September 2013 Satpol PP menggusur semua karaoke atau diskotik tenda di sepanjang rel kereta api, akibatnya para PSK Bongkaran kini menumpuk di atas, di trotoar dan di jembatan, sedangkan pedagang makanan dan minuman mitranya kini menggunakan peti-peti beroda yang berfungsi ganda, sebagai meja atau sebagai peti tempat menyimpan semua makanan dan minuman dagangannya saat Satpol PP datang merazia.

Intensitas razia yang meningkat ini ditambah dengan telah dibersihkannya semua lokasi eksekusi transaksi seksual yang biasa mereka gunakan, membuat pola rayuan para PSK juga berubah. Kalau sebelumnya mereka dengan santainya merayu dan mengajak calon pengguna jasanya dengan kata-kata yang langsung seperti .”Ngewek yuu Bang,” atau “Ngentot yuu Bang,” atau ‘Main yuu Bang,”, kini ajakn itu berubah menjadi ‘Ngamar yuu Bang,” karena kini mereka terpaksa melakukannya di kamar-kamar hotel atau penginapan di seputaran Tanah Abang, sehingga pelanggan harus diberi tahu implikasinya berupa pengeluaran lebih untuk bayar kamar hotel.

Ajakan-ajakan seperti ini disampaikan tanpa jengah sedikitpun, karena bagi mereka itu hanya pekerjaan, sama saja dengan jenis-jenis pekerjaan lainnya. Kepada siapa saja yang lewat di lokasi mereka, mereka akan ajukan ajakan itu, karena itulah sumber penghasilan mereka. Namun mucikari di pintu keluar Stasiun Tanah Abang punya cara yang lebih halus dalam menawarkan anak-anak asuhannya. Mucikari yang berjualan aneka makanan dan minuman kemasan dan rokok ini akan mengajak pembeli di kiosnya ngobrol. Obrolan berkutat seputar masalah beratnya beban kehidupan saat ini dan tingginya biaya pendidikan.

Jika diladeni dia akan bercerita tentang dua anak gadisnya yang sedang kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Biaya kuliahnya mahal, saudaranya memang sudah bekerja tapi hanya sebagai pelayan toko yang gajinya pas-pasan, maklum hanya tamatan SMA,” dan seterusnya. Kalau pembeli makin merespon dia akan masuk ke tahap penawaran. “Saya nggak masalah kalau anak saya memberikan pelayanan seks  asal bisa membiayai kuliahnya sampai selesai , nanti kalau sudah tamat dia kan bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik dan meninggalkan dunia hitam.” Begitulah.Image

 

Situs-situs Penting di Tanah Abang: Kelenteng Hok Tek Tengsin

Image

Letaknya menyempil antara Blok A dan Blok F Pusat Grosir Tanah Abang. Dari pintu utara  Blok A yang berbatasan dengan tembok belakang Blok Ruko AURI Alfa beloklah ke selatan menuju Blok F. Dari situ sebelah pintu gerbang Kelenteng Hok Tek Tengsin atau oleh warga RW 01, Jati Baru, Kampung Bali disebut juga Toapekong Kebon Dalem karena berlokasi di Gang Kebon Dalem. Nama lainnya adalah Vihara Amurva Bhumi Bhudisattya.

Vihara ini didirikan tahun 1808 dan ramai dikunjungi jemaatnya pada setiap tahun baru Cina dari imle, cap go meh, cap it, cap it gwee, cengbeng dan seterusnya.  Meski terletak di Pusat grosir Tanah Abang jemaatnya bukan etnis keturunan Tionghoa beragama Budha atau Kong Hu Cu yang beraktivitas di Pusat Grosir Tanah Abang saja, ada juga jemaat yang datang dari Pluit atau Kota.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 976 other followers