Tanggal Merah, Tanah Abang Rame

English: Jakarta town view from Shangli-la hot...

English: Jakarta town view from Shangli-la hotel 日本語: シャングリラホテルから見たジャカルタ、インドネシア (Photo credit: Wikipedia)

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

English: Cyclists, Tanah Abang, Batavia Nederl...

English: Cyclists, Tanah Abang, Batavia Nederlands: Negatief. Fietsers, Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang–Hari ini tanggal merah, 9 Mei 2013 tercatat sebagai hari kebangkitan Isa Almasih dan ditetapkan negara sebagai hari libur nasional.  Pusat Grosir Tanah Abang pun dibanjiri orang dari berbagai pelosok, terutama dari pinggiran Jakarta, seperti Depok, Bogor, Cimanggis, Ciracas, Ciputat, Tangerang, Cileduk, Kali Deres, Kota Bumi, Pamulang, Bintaro, Serpong, bahkan Cikampek dan Purwakarta.

Sejak pukul 07.00 WIB sampai tengah hari semua akses jalan menuju Tanah Abang macet total. Jl. Wahid Hasyim padat merayap sejak dari perempatan Sarinah, Jl. K.H Mas Mansyur macet tak bergerak sejak dari perempatan Karet dan Pejompongan, Jl. K S Tubun Petamburan macet sejak dari depan Hotel Santika sampai ke Jl. Kebon Jati dan Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang, JL. Jati Bunder macet bertambah dengan kehadiran pasar Tasik yang sudah buka sejak jam 05.00 subuh. Begitu pun Jl. Kebon Sirih, Jl. Fachruddin, dan Tanah Abang Bukit padat tak bergerak. Semua orang sepertinya ingin ke Pusat Grosir Tanah Abang hari ini.

Misalnya keluarga Rohimah dari Ciputat, mereka memenuhi hampir seluruh bangku di bis kota Koantas Bima 102, dari mak-mak sampai bocah balita ikut ke Tanah Abang. “Kami 17 orang, mumpung libur ya ke Tanah Abang aja, siapa tahu ada yang kebeli hari ini,” kata Rohimah sambil berusaha mendiamkan tangis anaknya yang gerah karena macet tak bergerak di depan RS Pelni Petamburan.

Kata Rohimah mereka memang belum pasti belanja, “Cuma liat-liat aja dulu, ntar mau puasa baru belanja, tapi kalau ada yang cocok ya mungkin kebeli juga,” katanya lagi.

Apa nggak cape ke Tanah Abang? “Cape tentu iya, gerah lagi, tapi kalau udah nyampe ka enak, ada AC-nya, bersih lagi,” katanya santai.

Bahwa Pusat Grosir Tanah Abang sekarang enak dikunjungi dibenarkan Muslihat dari Kranji, Bekasi, Jawa Barat. “Kalau dulu waaah, nggak mau saya ke Tanah Abang, bau kambing, panas, sumpek, sempit, pokoknya serba menderitalah,” kata wanita  60 tahunan  yang berbelanja ditemani dua anak perempuannya ini.

Bau kambing? “Iya bau kambing, dulu yang namanya Blok F itu kan di atas orang jualan kambing, baunya maaak, naik sampai ke lantai 4, nggak tahan saya,” kata ibu-ibu yang saya temui dalam lift saat turun dari Lantai 8 Blok A.

Sekarang Muslihat mengaku senang, Pusat Grosir Tanah Abang sudah modern. “AC-nya sukup terasa, bersih, aman, tidak berdesakan, banyak lift dan eskalator, security di mana-mana dan yang penting harga barang-barang tetap yang termuraaaah,” ungkapnya tertawa. “Dan kalau lapar atau haus cukup pergi ke Lantai 8, ke Tenabang Food Court,” tambah salah satu anak gadisnya yang mengaku bernama Mela.

Meski pengunjung meningkat beberapa kali lipat, para pedagang ternyata tak begitu gembira. “Pengunjung memang banyak, tapi mereka hanya lihat-lihat, tidak membeli,” kata Hamdan, pedagang di Lantai 2 Los DKS, Blok F1.  “Maklum ini baru ramai karena liburan, orang ke sini jalan-jalan, bukan membeli, nanti kalau sudah awal Juni baru tuh pedagang dari daerah berdatangan berbelanja,” kaya Santi, pedagang lainnya di Blok F1.

Aditawarman (40), pedagang di baju anak-anak di Plaza Sukaramai, Pekanbaru, Riau membenarkan. “Saya biasa belanja ke PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) sebulan menjelang Ramadhan, saat itu Tanah Abang sudah seperti tsunami, padat berdesakan,” katanya via FB.

Advertisements

Obral Batik di Al Hadi dan Kencana Ungu

English: Batik Lasem is batik originated from ...

English: Batik Lasem is batik originated from Lasem, a northern coastal town in Central Java. It is well known for its typical bright red color called “abang getih pithik” (Javanese: chicken blood red). Lasem Batik is one of the most beautiful batik art in Indonesia and also displaying the inter-marriage of two cultures: Javanese and Chinese. (Photo credit: Wikipedia)

Indonesian batik men shirt Central Javanese Su...

Indonesian batik men shirt Central Javanese Surakarta (Solo) style in earthy sogan (deep yellow and brown) color with lereng motif and cabut tulis technique (combination of copper-block print and hand drawn). Batik Putra Laweyan, from Laweyan distric, traditional Batik production village in Surakarta, Central Java, Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

English: Batik Display at Indonesian National ...

English: Batik Display at Indonesian National Museum, Jakarta. Batik is traditional Indonesian textile artform indigenous to island of Java. (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang–Toko batik Al Hadi dan Kencana Ungu yang menempati Lantai SLG (semi lower ground) Blok B Pusat Grosir Tanah Abang menggelar obral batik besar-besaran sejak awal April lalu. Harga yang ditawarkan kedua toko yang berlokasi di di Los D No. 163 dan Los C No. 001 (Al Hadi),  Los D No. 6-7 dan Lo

Batik cloth (purchased in Yogyakarta) - Gebati...

Batik cloth (purchased in Yogyakarta) – Gebatikte stof (gekocht in Yogyakarta) (Photo credit: Wikipedia)

s E No. 156-157 (Kencana Ungu) tersebut berkisar Rp 10.000 -Rp 20.000 per potong untuk kemeja batik, hem, blus dan daster.

Namun jangan buru-buru memborong, karena harga itu hanya berlaku untuk pembelian minimal 3 pieces. “Kalau beli satu potong harganya Rp 15.000 – Rp 25.000,” ujar karyawan yang melayani pembeli yang saya lupa tanya namanya. “Pilih aja, semua ukuran tersedia kok, dari S sampai XL,” kata dia lagi.

Peminat obral batik ini ternyata cukup banyak, pengamatan saya sejak seminggu terakhir bulan April, kedua toko tersebut selalu ramai dikerubungi pembeli yang sibuk memilih-milih batik kesukaannya. Tapi tak semuanya asyik, ada juga yang terpana saja menatap berbagai pilihan produk batik tersebut. “Bingung, nggak tahu mau milih yang mana, banyak banget sih,” ujar Lilis, calon pembeli dari Bekasi, Jawa Barat.

Toko Batik Al Hadi cukup terkenal di Pusat Grosir Tanah Abang. Rukonya ada di Jl. K.H Mas Mansyur No. 24 Tanah Abang. Kiosnya juga ada di Blok A yakni di Lantai B1 Los C No. 03, sementara di Blok B selain yang telah dituliskan di atas, Toko Batik Al Hadi juga ada di Lantai SLG Los A No. 126, 127, 128; Los A No. 149; Los A No. 117; Los B No. 127, 128 dan Lantai B1 Los G No. 128 . Pusat grosir dan retail batik sutera ini juga bisa diakses di http://www.batikalhadi.co.id dengan email info@batikalhadi.co.id

Toko batik Kencana Ungun tak kurang ngetopnya, karena juga memiliki banyak kios di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang, tapi saya belum sempat nanya-nanya dan mencarinya, habis rame banget sih. Sabaar yaaa…

Kenali Blok B Pusat Grosir Tanah Abang

Tanah Abang—19 Februari 2003 sebanyak 2.400 unit dari total 7.638 kios di Blok A, Blok B, Blok C, Blok D Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat terbakar habis. Pusat grosir yang waktu itu beromzet Rp 15 triliun per tahun dan memiliki  perputaran uang Rp 200 miliar sehari tersebut dibangun kembali oleh PT Priamanaya Djan International Oktober 2004 dengan investasi Rp 800 miliar. Kini Pusat Grosir Tanah Abang telah menjelma menjadi pasar grosir modern, tidak lagi sumpek dan kumuh seperti dulu.

Tampilan bak mall itu memang baru terlihat di Blok A dan Blok B, Blok F, F1 dan F2 yang dikelola oleh PD Pasar Jaya masih beragaya konvensional, meskipun ada lift dan eskalator serta—katanya dulu— AC juga.  Tapi kita hanya akan membahas Blok B kali ini.

Blok B sebenarnya adalah sayap tambahan Blok A yang sudah selesai dibangun tahun 2004. Secara resmi Blok B dioperasionalisasikan Juni 2010. Karena bangunan sayap, di beberapa lantai Blok B tetap terhubung dengan Blok A, misalnya di Lantai LG, yang sekaligus merupakan atrium intercourt yang menghubungkan Blok B dengan Blok A dan Blok F. Atrium ini berupa selasar selebar 8 meter untuk lalu lintas utama barang dan orang. Karena lebarnya di sini pengelola Blok B sering menyelenggarakan aneka ragam hiburan seperti music life dengan mendatangkan artis-artis ternama nasional, bazaar, pameran, bahkan fashion show mini. Baru-baru ini mereka juga menyelenggarakan aksi donor darah (25/4) yang diikuti berbagai kalangan, dan menerima tamu dari Kementerian Perdagangan Malaysia.

Terdiri dari 17 lantai ditambah lantai atap yakni Lantai 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 3A (karena angka 4 dianggap tidak hoki), 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2, B3. Lantai 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan B3 digunakan untuk lahan parkir. Lantai 5, 3A, 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2 adalah pusat grosir berbagai produk tektil dan aksesoris. Informasi di situs Blok B Tanah Abang, 10 lantai digunakan untuk area perdagangan. Sisanya untuk parkir dan kantor.

Detail zoning per lantai adalah sebagai berikut Lantai atap mesjid, Lantai 6-11 dan B3 area parkir, Lantai 5 grosir busana muslim dan perbankan, Lantai 3A butik dan grosir aksesoris Lantai 3 baju sport dan kaos, Lantai 2 kaos dan kemeja pria, Lantai 1 fashion ABG dan baju, Lantai G fashion wanita dewasa, ABG dan baju anak, Lantai LG fashion wanita dewasa, Lantai SLG fashion busana muslim, Lantai B1 grosir tekstil, bed cover dan gordyn fashion busana muslim, dan Lantai B2 grosir tekstil.

Zoning ini sebetulnya sudah tak ketat lagi, karena di beberapa lantai terlihat komoditas dagangan telah bercampur. Menurut Jidah Najwa Naiya, pedagang perlengkapan shallat di Lantai B1, Los D No. 71 hal itu disebabkan karena pedagang yang menyewa atau membeli kios mengubah sendiri dagangannya dengan alasan dagangan yang sebelumnya kurang laku. “Pedagang mngubah dagangannya karena alasan kurang laku kalau menjual barang yang sama dengan toko sebelah,” katanya.

Belum diketahui berapa jumlah escalator di Blok B, tapi lift disediakan 22 unit. Lahan parkirnya yang 7 lantai  mampu menampung 1.500 mobil dan 2.300 motor. Di beberapa lantai area parkir Blok A dan Blok B saling terhubung sehingga konsumen bisa memilih mau parkir di blok yang mana. Keamanannya ketat, STNK adalah syarat utama untuk bisa parkir di lahan parkir ini, tanpa STNK jangan harap bisa parkir di sini.

Belum diketahui berapa jumlah anggota security keseluruhan, tapi semua tenaga security Blok B terdaftar dan menjadi anggota di Polda DKI Jakarta. Mereka juga bukan sembarang security karena direkrut dari pensiunan aparat kepolisian atau TNI dan mantan preman di kawasan Tanah Abang, jadi mereka berakar di Tanah Abang.

Ada tiga jenis security di Pusat Grosir Tanah Abang yakni security patrol, security guard dan security customer. Belum diketahui apa saja spesifik tugas masing-masing security ini, yang jelas mereka bertugas 24 jam mengawasi keamanan gedung, pengelola dan konsumen di kawasan Blok B Kawasan Grosir Tanah Abang. Dalam pelaksanaan tugasnya mereka dibantu perangkat CCTV dan MATV yang dipasang di sudut-sudut strategis untuk memperpanjang dan memperluas area pengawasan mereka di gedung yang juga belum diketahui memiliki berapa kios atau toko ini.

Untuk kenyamanan konsumen Blok B memiliki koridor  lebar yakni 2.8 meter antar kios atau toko, koridor utama lebarnya malah 3 meter, namun koridor selebar itu tetap saja terasa sempit terutama di Lantai LG, SLG, G dan 1 yang ramai transaksi.

Untuk kemudahan finansial, di samping escalator di lokasi tertentu tersedia ATM Bank Mandiri. Namun gerai bank mini juga ada seperti yang dibuka oleh Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI,  Bank Panin, Bank Danamon, Bank BRI lengkap dengan ATM di depan atau di sampingnya. Tersedia juga Bank Bumi Arta (sekuritas) untuk kemudahan, kemanan dan kenyamanan bertransaksi.

Dan yang tidak boleh dilupakan, Blok juga punya mini food court di Lantai 6. Naiknya dari lift di atrium intercourt, lalu di Lantai meneyebrangi area parkir. Sesuai namanya mini food court Blok B benar-benar mini dan hawanya agak panas, ada RM Simpang Raya di situ, juga aneka makanan Cina (Chinesse food) seperti kwee tiau, macam-macam olahan mie, aalalu soto-sotoan dari Jaswa, nasi goreng, bebek dan ayam kremes, sop tangkar dan banyak lagi. Minumannya juga beragam, tapi pelayanannya agak jelek. Kalau pesanan kita tak banyak, pelayannya langsung cuek dan lebih melayani pembeli yang pesanannya banyak. Misalnya pelayan tanah abang (28)RM  Bebek Ke.

Tapi urusannyalah dengan konsumen, kalau terus-teruysan begitu., lama-lama tentu ditinggal orang dan Blok B pasti punya banyak nominator penggantinya.

 

 

Bertahan di Kali Bau

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Foto. Album beslaat souvenir foto'...

Nederlands: Foto. Album beslaat souvenir foto’s van Java. Brug over de Tanah Abang rivier in Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Foto. Album beslaat souvenir foto'...

Nederlands: Foto. Album beslaat souvenir foto’s van Java. gezicht op Tanah Abang in Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Foto. De wijk Tanah-Abang gelegen ...

Nederlands: Foto. De wijk Tanah-Abang gelegen ten westen van het Bisschopsplein. (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang—Pedagang di Blok F, Pasar Grosir Tanah Abang, terutama yang di sisi barat, baik yang di lantai bawah maupun lantai atas, tergolong memiliki organ pernafasan yang prima. Kenapa? Karena mereka mampu bertahan berdagang selama kurang lebih 12 jam dalam aroma busuk kali butek yang melewati bagian dalam pasar tersebut.

Kali yang selalu tampak gelap karena berada dalam naungan bangunan pasar tersebut adalah kali Krukut, yang mengalir dari Jawa Barat menuju Teluk Jakarta. Menurut Amiruddin alias Tatang, warga Jl. Lontar, Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, dulu Kali Krukut itu sangat bersih dan jernih, arusnya juga lancar. “Saya masih ingat mandi-mandi di sana dengan teman-teman, kami bikin rakit batang pisang dan menghilir mengikuti arus sungai, kini menyentuh airnya aja jijik,” katanya mengenang

Kini Kali Kurukut tu hampir sama kondisinya dengan Kali Sunter, meski sedikit lebih rendah levelnya, karena airnya di bagian yang terang masih kelihatan abu-abu, sementara Kali Sunter kan hitam legam, tapi keduanya sama saja, tak mengalir, disesaki sampah dan mengumbar aroma yang sangat busuk. Saat mencoba lewat di situ perut saya langsung mual dan seluruh isinya meronta minta keluar. Apalagi bagian yang di seberang Jl. Kebon Jati, lebih parah lagi baunya, tapi toh ada orang yang tinggal di bawah jembatan di bantaran kali tersebut.

Dan pedagang dan pembeli seperti tak merasakannya, mereka terus saja beraktivitas, transaksi jual beli tetap saja berlangsung seolah-olah tak ada gangguan apa-apa, bahkan saat jam makan siang, para pedagang, porter dan pengunjung santai saja makan minum dan merokok. Begitupun pembeli dan pengunjung yang mengaso di pelataran Pintu Barat Blok B, yang lokasinya di seberang kali tersebut. Mungkin hidung mereka dipasangi saringan, atau mereka bernafas lewat anus? Tak tahulah, yang jelas kondisi itu benar-benar ajaib rasanya.

Maka saya  jadi tergerak untuk bertanya. Jawabnya: “Ya mau gimana lagi Bang? Saya dapat lapak buat dagangnya di sini sih, di depan lebih mahal,” kata Suardi, pedagang kantauan aneka kaos. “Terpaksa diitahan saja, awalnya dulu juga nggak tahan, tapi sekarang udah nggak tercium tuuu,” tambah pemuda asal  Surian, Solok Selatan ini santai.

Pemilik rumah makan di seberang Blok F atau dekat pertigaan Kebon jati – Jati Bunder  yang lokasi rumah makannya agak dekat ke kali butek itu juga terkesan tak tergangggu. “Kalau dipermasalahkan ya masalah Bang, tapi kalau dijalani saja takkan terganggu lagi tuh, habis mau apa lagi? Pemda sepertinya juga tak peduli,” katanya cuek.

Pihak Kecamatan Tanah Abang dan Kelurahan Kebon Melati belum sempat saya tanyai, tapi sepertinya tak mungkin mereka cuek beibeh, karena Tanah Abang adalah asset DKI yang sangat bernilai, tak mungkin dibiarkan membusuk begitu rupa, karena yang datang ke Tanah abang bukan hanya pembeli, tetapi juga wisatawan dari berbagai negara. Tak mungkin mereka suka kali bau itu dan Pemda setempat juga takkan mungkin suka menyajikannya untuk tamu-tamu itu!

Tapi itulah, faktanya ‘kali yang kau tahu yang mana itu’ alias Kali Krukut, tetap saja menjadi cacat permanen di Pasar Grosir Tanah Abang. Aromanya yang amat busuk sangat mengganggu mata, hidung dan pencernaan! Tak seharusnya dibiarkan seperti itu, karena sungguh melecehkan kemanusiaan kita.

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de ...

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de vliet van Tanah Abang in Weltevreden, Java (Photo credit: Wikipedia)

Omzet Turun, Pedagang Mengeluh

Tanah Abang, Jakarta

Tanah Abang, Jakarta (Photo credit: zulrosle)

Tanah Abang—Omzet perdagangan di Pusat Grosir Tanah  Abang dirasakan merosot oleh sementara pedagang di Blok A, B dan F. Mereka menilai masa keemasan Pusat Grosir Tanah Abang adalah tahun 2007 ke bawah, tahun 2007 ke atas perdagangan dianggap lesu.

Hal ini misalnya diutarakan H. Aris  (70) yang punya kios di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang. “Dulu saya punya 4 kios di Tanah Abang dan satu kios di Senen, kini tinggal 2 saja, yang lainnya saya sewakan atau kontrakkan,” katanya.

Hal itu dilakukan, kata H. Aris, karena jual beli menurun drastis. “Tak seperti tahun 2007 ke bawah, sekarang jauh merosot,” katanya.

“Dulu berapapun banyaknya produksi konveksi saya, selalu habis diborong pedagang dari Nigeria, sekarang tampak pun tidak puncak hidung mereka di Tanah Abang, kalau pun ada cuma satu dua, itupun pemain baru dan belanjanya sedikit, mayoritas sudah pindah ke China,” kata pedagang yang masuk ke Tanah Abang tahun 1976 ini.

Menurut H Aris penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang adalah makin agresifnya produsen tekstil dan garmen di RRC (Republik Rakyat China), banyaknya keringanan yang didapat pengusaha di sana dan makin banyaknya sentra grosir di Jakarta.

Di China, kata H Aris, pengusaha dan pembeli dari luar sangat dimanjakan. Pajak rendah, pungutan ekspor tak banyak, tarif listrik dan upah buruh murah. “Pedagang yang mengekspor ke Nigeria, misalnya, tak dikenai biaya tinggi, bahkan prosedurnya dipermudah, akibatnya mereka bisa menjual lebih murah. Di sini–menurut orang Nigeria mantan pelanggan saya–terlalu banyak meja, terlalu banyak perizinan dan pungutannya,” katanya.

Kalangan pengusaha di China, menurut H Aris,  juga dipermudah. “Bahkan kalau yang punya buruh di atas 150 orang, bunga bank sangat rendah, 0,0 sekian persen, di sini? Apa yang tidak tinggi?” sergahnya.

“Saya bayar listrik di konveksi sampai Rp 6 juta sebulan. Bayar buruh Rp 150 juta sebulan. Sewa kios di Blok A saja Rp 1,4 M per tahun untuk kios seluas 6 meter,” katanya lagi sambil menambahkan bahwa banyak temannya sesama pedagang yang mengeluh. Karyawan juga makin tegas menuntut kesejahteraannya. “Anak jahit saya misalnya, enak saja bergurau Pak Haji nasi di warteg tak bisa lagi dibeli dengan uang Rp 3.000 atau Rp 4.000, rata-rata udah Rp 6.000 – Rp 8.000 Pak Haji, itupun pake telor doang, tampaknya harus naik gaji nii Pak Haji,” paparnya.

Makin banyaknya sentra grosir di luar Tanah Abang juga dikatakan H Aris sebagai salah satu penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang. “Dulu semuanya berpunca di Tanah Abang, sekarang di mana-mana ada, Senen, Mangga Dua, Cempaka Mas, Jatinegara, Cililitan, Pasar Minggu, Depok,  di mana-mana,” ujarnya.

“Dulu pedagang Senen atau Jatinegara mohon-mohon agar kita tak menjual eceran, karena orang pasti ke Tanah Abang semua, kini kita yang terpaksa jual eceran dan mereka tutup mata saja,” tambah pedagang asal Pariaman, Sumatera Barat ini.

Dia juga mengatakan Tanah Abang telah jauh berubah. “Dulu dagangan di sini tekstil dan garmen semua, kini grosir sepatu, sandal, tas, dompet, koper makin banyak masuk,” ungkapnya lebih jauh. Apa artinya itu ya? Apa H. Aris mau bilang bahwa posisi Tanah Abang sebagai pusat grosir mulai tergeser dan fasilitas yang ada sekarang kebanyakan? Dia tak melanjutkan pembicaraan.

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

Minggu, Pusat Grosir Tanah Abang Sepi

Nederlands: negatief. Tuin achter het huis van...

Nederlands: negatief. Tuin achter het huis van J.H. Ritman op Tanah Abang Barat 36 in Djakarta (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de ...

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de vliet van Tanah Abang in Weltevreden, Java (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang—Meski masih banyak orang berkunjung ke Pusat Grosir Tanah Abang Minggu (21/4), tapi untuk ukuran Tanah Abang keramaian tersebut tak ada artinya, karena jumlah pengunjung jauh berkurang.

Di Blok B misalnya, seluruh toko di dari lantai LG ke atas—sampai lantai 11—tutup. Lantai LG yang biasanya ramai sepi mati, pintu penghubung dengan Blok A dari Lantai LG juga ditutup. Hanya Blok A yang tetap buka seluruh lantai, termasuk Tenabang Food Court di Lantai 8, meski toko-toko banyak yang tidak buka.

Blok F, F1 dan F2 tetap buka, tapi banyak juga toko yang tutup dan pengunjungnya tak seramai biasa. Pintu di belakang markas Pemadam Kebakaran Tanah Abang dari sisi Jl. Kebon Jati yang tembus ke Lantai 1 Blok F1, juga tidak dibuka seperti di hari-hari biasa.

Yang makin ramai justru para pengantau (pedagang yang tak punya lapak atau kios), mereka kini bebas berjualan di depan toko-toko yang tutup. “Saya memang tetap jualan hari Minggu Bang, kalau nggak bisa nggak makan saya, berapalah untungnya dagang beginian,” ujar Hendra yang biasa berdagang di depan eskalator Lantai 2 Los DKS Blok F1. Bedanya hari Minggu Hendra, yang kost di Jati Bunder bersama 2 teman lainnya, berjualan di Blok F2.

Hendra mengaku tak bisa ikut berjualan di Blok A. “Nggak berani Bang, belum tahu kiatnya, salah-salah barang jualan saya bisa disita security, mereka tak kenal basa-basi, tegas dan tega, kecuali kita sudah ada komunikasi dengan mereka,” kata Hendra lebih jauh.

Suasana di Blok A memang tidak langsung berubah drastis seperti suasana K-5 di Jl. Kebon Jati, karena walaupun diizinkan berdagang di dekat-dekat elevator tiap lantai, para pengantau itu tetap berdagang dengan tertib. Barang jualannya ditata rapi dan mereka menyapa calon pembeli dengan sopan. “Ayolah Ibuuu, hanya Rp 45.000, muraah….”

Pedagang Libur

Amiruddin, security yang bertugas di Blok F1 mengatakan hari Minggu umumnya pedagang memang memilih libur. “Kalau buka terus kapan lagi hari untuk keluarga Pak, mereka kan juga ingin menikmati suasana bersama anak cucu,” katanya.

Security yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan tokoh masyarakat Tanah Abang Bang H. Ucu Kambing dan juga H. Lulung ini menambahkan, “Yang buka hari Minggu biasanya karyawan toko saja, itupun tidak selalu, karena karyawan kan juga butuh libur.”

Sonya, salah satu pedagang yang buka di Lantai SLG Blok B mengatakan biasanya dia juga tutup hari Minggu, tapi karena ada orderan yang harus dikejarkan terpaksa dia buka juga hari Minggu. “Kalau pengiriman tak bermasalah kemarin, hari ini saya nggak buka tuh,” katanya sambil terus mengecek barang-barang pesanan kliennya dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ada informasi bahwa Lantai LG ke atas di Blok B memang sengaja tidak dibuka hari Minggu untuk penghematan. “Kalaupun pedagang ingin buka hari Minggu tetap saja tidak bisa karena listrik dimatikan pengelola, itu yang saya dengar,” kata Hendra. Saya sudah mencoba konfirmasi ke pengelola gedung, tapi building management PT Prima Kelola Sukses belum menjawab pesan saya  di inbox FB-nya.

Danny, pengunjung dari Jambi mengaku kecele saat datang ke Tanah Abang hari Minggu itu. “Saya kira hari ini tambah ramai, ternyata malah banyak yang libur, besoklah saya ke sini lagi, sekalian melihat-lihat Pasar Tasik,” katanya agak kecewa.

Namun demikian, sesepi-sepinya Pusat Grosir Tanah Abang, tetap saja akan lebih ramai dari pasar manapun di tanah air, karena Tanah Abang memang punya magnit yang kuat sebagai pusat grosir tekstil dan garmen. “Terutama harganya yang masih saja tetap lebih murah dibanding pusat-pusat grosir lainnya di Jakarta,” ujar Ariadi, pedagang dari Bekasi, Jawa Barat, yang sekali dua minggu pasti ke Tanah Abang berbelanja untuk tokonya di Pondok Timur Indah, Bekasi.

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tana...

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tanah Abang (Photo credit: Wikipedia)

 

Los Lambuang Nusantara Blok F Lantai 5

Nederlands: Foto. Chinese graven op Tanah Aban...

Nederlands: Foto. Chinese graven op Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Tanahabang—Kalau Blok A punya Tenabang Food Court, maka Blok F Pusat Grosir Tanah Abang punya Los Lambuang Nusantara.

Namanya sebetulnya bukan itu, tapi karena mayoritas pedagang dan yang makan di situ orang Padang–pedagang yang berjualan di Blok F atau pembeli yang berbelanja di Blok F—maka nama itu pas-pas saja kedengarannya, karena suasananya ya seperti di Padang atau Bukittinggi, di mana-mana orang bicara bahasa Padang, hanya kadang-kadang terdengar orang bicara dalam bahasa Sunda atau bahasa Jakarta dialek Betawi.

Los lambuang artinya los makanan. Kita juga mengenalnya sebagai pujasera (pusat jajan serba ada) atau yang lazim di mall-mall food court alias tempat makan, tempat para pedagang makanan berjualan makanan dan minuman dan tempat pembeli berbelanja makanan dan minuman.

Berbeda dengan Tenabang Food Court yang terletak di lantai 8 Blok A, Los Lambuang Nusantara berlokasi di lantai 5 Blok F. Kondisinya juga beda jauh. Los Lambuang Nusantara berlantai semen kasar bukan keramik halus seperti Tenabang Food Court, maklum sebelumnya berfungsi sebagai area parkir, bahkan sampai sekarang di saat orang-orang menyantap makanan dan minumannya mobil dan sepeda motor dari lantai 6 lewat perlahan keluar dari pelataran parkir menuju lantai 4, 3 dan seterusnya.

“Enaknya di sini makanannya beragam, dan hampir semua makanan kampung dari Sumatera Barat ada di sini,” ujar Yoe Sanusi, pemilik toko Baaligo di lantai 2 Blok F1 yang mengaku selalu makan di situ kalau sedang berada di Tanah Abang. “Kalau di Food Court Blok A Tanah Abang kan cuma Prazmanan, Simpang Raya dan Sate Mak Syukur, di sini banyak sampai kalio jariang (gulai jengkol) dan uok patai (ulam petai) ada, yang dijual oleh lebih dari 20-an rumah makan Padang,” tambah Yoe.

“Dan yang paling utama,” kata Aldi, pedagang dari lantai 1 Blok F, “di sini boleh merokok, di Blok A mana boleh,” katanya sambil menghembuskan asap Jie Sam Soenya.

Mereka tak peduli lantai kasar Los Lambuang Nusantara itu, atau udaranya yang panas karena tak ada AC atau kipas angin. Sirkulasi udara yang mulai tersendat karena bengkalai pekerjaan PD Pasar Jaya membuat ruang terbuka di salah satu sisi lantai parkir tersebut tertutup terpal sehingga angin tak leluasa masuk, juga tak mereka permasalahkan. Begitupun para pengamen, pengemis dan pedagang asongan yang setiap saat menyodorkan dagangannya atau tangan ke depan hidung pun tak mengganggu mereka.

“Kalau sudah makan ikan salai rutiang dari Pasisie (ikan salai dari Pesisir Selatan, salah satu kabupaten di Sumatera Barat), segala yang buruk-buruk dan keluhan hilang dari ingatan,” kata Yoe menggambarkan saat makan bersama di RM Pesisir Selatan.

Dari nama-nama kedai makanan dan menu yang disediakan terlihat sekali nuansa Minang atau Padangnya, misalnya saja Sop Datuak Dendeng Batokok, Soto Padang Si Das, Lapau Nasi Buana Raya, RM Di Bao Untuang, RM Makan Pincuran Tujuah, RM Ranah Balingka, RM Pesisir Selatan, Nasi Uwan, Sate Padang Sahabat, RM Buyuang Kuriak, RM Makmeh Talua Dadar Angek dan lain-lain.

Namun sesuai namanya, Los Lambuang Nusantara tak hanya diisi makanan Padang, makanan Sunda juga ada seperti RM Simpati, RM Ibu Mimin, RM Panglaris Bumbu Desa, RM Barokah, RM Reformasi dengan aneka masakan Sunda dan Betawinya seperti soto Betawi, sop buntut, sop iga, pecel lele, pecel ayam , rawon, sayur asem, sayur lodeh, ikan dan ayam bakar, lalapan, pepes dan banyak lagi.

Memang makanan Manado, Banjarmasin, Makassar, Madura, Batak dan Aceh tak ada di sini, tapi itu karena mayoritas pedagang dan pembeli di Los Lambuang Nusantara memang kedua etnis ini, meski etnis Batak juga sudah mulai merajai jual beli di Pusat Grosir Tanah Abang, tapi belum ada yang tampak membuka gerai makanan. Mungkin tak lama lagi akan muncul lapo tuak di situ, siapa tahu. Yang pasti kedai BP (Babi Panggang) memang takkan bisa buka di situ.

Kenyang Digusur

Menurut Dasril, pemilik RM Soto Padang, pedagang yang dituakan di sana, karena telah berkiprah sebagai  pedagang makanan sejak 1976 di Tanah Abang, Los Lambuang Nusantara ini tadinya berlokasi di lantai 3 Blok B lama.”Di situ tahun 1978 tapi hanya 6 bulan karena Blok B terbakar habis tahun itu, kami pedagang makanan diberi tempat penampungan untuk berjualan di depan Blok A lama samping Blok C yang kini menjadi Blok B baru,” katanya.

Menurut Dasril, tempat makan itu sudah kenyang digusur, saking seringnya dia mengaku lupa telah  berapa kali. “Dari depan Blok A lama kami digusur lagi ke lantai 2 Blok F lama di atas jembatan, lalu digusur lagi ke lantai 7 Blok A, trus ke lantai 4 Blok F  lama, trus ke lantai 4 Blok F2, tahun 2003 Blok A, B, C dan D terbakar habis lagi, kami dioper-oper lagi sampai akhirnya tahun 2012 ditempatkan di sini, lantai 5 Blok F lama,” paparnya.

Tapi tahun 2013 ini mereka akan digusur pula, namun masih di lantai yang sama alias hanya digeser. Sebanyak 29 rumah makan yang terdaftar di PD Pasar Jaya sudah disediakan tempat di seberang tempat mereka berdagang sekarang, artinya belasan pedagang baru yang kini berjualan di situ harus pindah karena mereka baru dan digolongkan PKL.

“PD Pasar Jaya sudah membuatkan puluhan kios di lantai bawah untuk pedagang makanan, tapi belum ada kecocokan,” kata Dasril lebih jauh sembari bergegas membuatkan lagi soto Padang dan teh talua (teh telor) pesanan pelanggannya.

Blok A

Blok A (Photo credit: saifulmuhajir)