“Silakan Buu, Mari Kakaaak, Boleeeeh Belanjaaaa…”

Nederlands: Foto. De Tanah Abang in Batavia, W...

Nederlands: Foto. De Tanah Abang in Batavia, West-Java. (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Foto. De wijk Tanah-Abang gelegen ...

Nederlands: Foto. De wijk Tanah-Abang gelegen ten westen van het Bisschopsplein. (Photo credit: Wikipedia)

Kalau Anda ke Tanah Abang sekarang Anda akan temukan satu sapaan baru, yang bukan hanya berlaku di Blok A dan Blok B yang nyaman suasananya, tetapi juga di kaki 5 yang sumpek, macet dan berdebu, sejak Anda mulai masuk area Pusat Grosir Tanah Abang dari sudut mana saja. Dari Stasiun Tanah Abang di sisi barat, Jl Kebon Jati dan Jati Bunder di sisi selatan, Jl. K.H Mas Mansyur, K H Wahid Hasyim, Kampung Bali, dan Jl.  Fahcruddin di sisi timur, sampai ke Blok E, ruko Alfa dan ruko AURI Tanah Abang Bukit di sisi barat.

“Silakan Buu, silakan Paak, mari Kakaaak…boleeeeh belanjaaa…,” sangat sopan dan ramah sekali. Sungguh berbeda dengan sapaan pedagang ala awal tahun 1980 dan 1990-an yang rata-rata kasar dan vulgar. “Ayo ayo siapa lagi, siapa lagi, tiga sepuluh ribu, beli satu dapat dua, ayoo ibu-ibu yang cepat dia yang dapat,  dipiliiiih  dipiliiiiih, ayoooo,” dan lain-lain semacam itu, sambil berteriak-teriak di atas meja menggunakan pengeras suara seperti koordinator lapangan aksi unjuk rasa saja, ditambah dengan gaya mengepung dan menggiring calon konsumen ke arah dagangan yang dijualnya. Benar-benar horor karena calon pembeli merasa diteror. Sangat tak nyaman dan jauh dari menyenangkan.

Kini—seperti yang dikatakan tadi–bahkan di kaki 5 Pasar Grosir Tanah Abang tak terdengar lagi sapaan mendesak itu, berganti dengan sapaan santun, ”Silakan Buu, silakan Paak, mariiii Kakaaaaak,   boleeeeh belanjaa,” sungguh nyaman di telinga.

Tak ada yang tahu sejak kapan gaya sapaan pedagang di Pasar Grosir Tanah Abang berubah. Beberapa pedagang yang ditanya mengaku tidak tahu fenomena tersebut. “Kalau saya memang malas teriak-teriak itu Bang, cepat haus, panas sekali kan di sini,” ujar Dodi, pedagang celana pendek di tepi Jl. Kebon Jati. “Nggak teriak orang juga datang, kan mereka lewat sini,” tambah dia santai.

Santi, pedagang di Blok F1 Lantai 2 lain lagi. “Calon pembeli kan memang harus ditarik perhatian dan minatnya, kalau tidak kita nggak keliatan dong, karena kios dan dagangan begitu banyak di sini,” kata warga Tiga Raksa, Jawa Barat ini. Menurut Santi perhatian dan minat itu harus ditimbulkan, caranya ya dengan sapaan yang sopan dan lembut. “Kalau diteriak-teriakin malah ngacir nanti,” tambah dia sambil tertawa. Santi juga tidak tahu sejak kapan sapaan itu muncul. “Sejak pertama masuk Tanah Abang tahun 2006 rasanya sapaan seperti itu sudah ada tuu,” katanya.

Hendra, pedagang kantauan asal Surian mengatakan hal yang sama. “Kalau tidak kita sapa calon pembeli itu sering tidak melihat dagangan kita, apalagi embel-embel penarik yang kita tulis,” ungkapnya. Itu disebabkan, menurut Hendra, karena calon pembeli sudah berada dalam kepungan aneka dagangan, sehingga kadang-kadang mereka pusing sendiri dan bingung mau memilih barang yang akan dibelinya. “Sering kejadian mereka malah lupa mau membeli apa dan membeli barang yang berbeda dengan tujuan semula karena ketemu barang yang lebih menarik perhatiannya,” katanya lebih jauh.

Hendra yang memasang tulisan ’1 ptg Rp35.000, 3 pt Rp100.000’ di atas dagangannya mengaku juga tetap menyapa calon pembeli yang lewat dengan sapaan khas itu. “Silakan Ibuu, boleeeh belanjaaa…’ sambil mengumbar senyumnya yang termanis. “Kalau tidak ramah dan sopan orang nggak mau mampir dan membeli dagangan kita Bang,” katanya.

Namun Black di Blob B Lantai B1 lain lagi. Dia mengaku tak pernah membujuk atau memanggil calon pembeli. Dia memilih menata letak dagangannya saja. “Kalau tata letak barang kita bagus, orang akan datang juga menghampiri,” kata pedagang khusus perlengkapan shallat ini. Black tak merasa perlu menarik perhatian dan minat calon pembelinya dengan sapaan santun ‘Silakaan Buu, silakaan Paak, mari Kakaaaak…boleeeeeh belanjaaa..boleeeeh.’ “Nggak bisa saya, risih,” katanya. Image

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s