Omzet Turun, Pedagang Mengeluh

Tanah Abang, Jakarta

Tanah Abang, Jakarta (Photo credit: zulrosle)

Tanah Abang—Omzet perdagangan di Pusat Grosir Tanah  Abang dirasakan merosot oleh sementara pedagang di Blok A, B dan F. Mereka menilai masa keemasan Pusat Grosir Tanah Abang adalah tahun 2007 ke bawah, tahun 2007 ke atas perdagangan dianggap lesu.

Hal ini misalnya diutarakan H. Aris  (70) yang punya kios di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang. “Dulu saya punya 4 kios di Tanah Abang dan satu kios di Senen, kini tinggal 2 saja, yang lainnya saya sewakan atau kontrakkan,” katanya.

Hal itu dilakukan, kata H. Aris, karena jual beli menurun drastis. “Tak seperti tahun 2007 ke bawah, sekarang jauh merosot,” katanya.

“Dulu berapapun banyaknya produksi konveksi saya, selalu habis diborong pedagang dari Nigeria, sekarang tampak pun tidak puncak hidung mereka di Tanah Abang, kalau pun ada cuma satu dua, itupun pemain baru dan belanjanya sedikit, mayoritas sudah pindah ke China,” kata pedagang yang masuk ke Tanah Abang tahun 1976 ini.

Menurut H Aris penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang adalah makin agresifnya produsen tekstil dan garmen di RRC (Republik Rakyat China), banyaknya keringanan yang didapat pengusaha di sana dan makin banyaknya sentra grosir di Jakarta.

Di China, kata H Aris, pengusaha dan pembeli dari luar sangat dimanjakan. Pajak rendah, pungutan ekspor tak banyak, tarif listrik dan upah buruh murah. “Pedagang yang mengekspor ke Nigeria, misalnya, tak dikenai biaya tinggi, bahkan prosedurnya dipermudah, akibatnya mereka bisa menjual lebih murah. Di sini–menurut orang Nigeria mantan pelanggan saya–terlalu banyak meja, terlalu banyak perizinan dan pungutannya,” katanya.

Kalangan pengusaha di China, menurut H Aris,  juga dipermudah. “Bahkan kalau yang punya buruh di atas 150 orang, bunga bank sangat rendah, 0,0 sekian persen, di sini? Apa yang tidak tinggi?” sergahnya.

“Saya bayar listrik di konveksi sampai Rp 6 juta sebulan. Bayar buruh Rp 150 juta sebulan. Sewa kios di Blok A saja Rp 1,4 M per tahun untuk kios seluas 6 meter,” katanya lagi sambil menambahkan bahwa banyak temannya sesama pedagang yang mengeluh. Karyawan juga makin tegas menuntut kesejahteraannya. “Anak jahit saya misalnya, enak saja bergurau Pak Haji nasi di warteg tak bisa lagi dibeli dengan uang Rp 3.000 atau Rp 4.000, rata-rata udah Rp 6.000 – Rp 8.000 Pak Haji, itupun pake telor doang, tampaknya harus naik gaji nii Pak Haji,” paparnya.

Makin banyaknya sentra grosir di luar Tanah Abang juga dikatakan H Aris sebagai salah satu penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang. “Dulu semuanya berpunca di Tanah Abang, sekarang di mana-mana ada, Senen, Mangga Dua, Cempaka Mas, Jatinegara, Cililitan, Pasar Minggu, Depok,  di mana-mana,” ujarnya.

“Dulu pedagang Senen atau Jatinegara mohon-mohon agar kita tak menjual eceran, karena orang pasti ke Tanah Abang semua, kini kita yang terpaksa jual eceran dan mereka tutup mata saja,” tambah pedagang asal Pariaman, Sumatera Barat ini.

Dia juga mengatakan Tanah Abang telah jauh berubah. “Dulu dagangan di sini tekstil dan garmen semua, kini grosir sepatu, sandal, tas, dompet, koper makin banyak masuk,” ungkapnya lebih jauh. Apa artinya itu ya? Apa H. Aris mau bilang bahwa posisi Tanah Abang sebagai pusat grosir mulai tergeser dan fasilitas yang ada sekarang kebanyakan? Dia tak melanjutkan pembicaraan.

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s