Melting Pot

 

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

ImagePerkembangan dan pertumbuhan pesat Pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen di Jakarta Pusat telah mendorong arus urbanisasi gila-gilaan. Mereka berdatangan ke Tanah Abang dari seluruh pelosok Nusantara dan mancanegara,  berusaha menanam benih usaha dan berharap bisa menikmati  panen besar di masa mendatang. Mereka datang membawa keahlian dan budaya masing-masing.

Dari Sumatera Utara orang-orang Batak datang, awalnya cuma tambal ban dan berjualan minuman ringan kecil-kecilan, atau menjadi supir dan kenek bis kota, lama-lama spirit of inang-inang-nya menguat, merekapun  terjun ke perdagangan besar produk tekstil dan garmen. Dan karena kesadaran pendidikannya tinggi, orang Batak dengan cepat terserap ke instansi-instansi pemerintahan serta institusi hukum, menjadi pejabat di pemerintahan DKI Jakarta, termasuk di PD Pasar Jaya, BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yang mengelola semua pasar di ibukota dan PPD yang melayani kebutuhan warga ibukota akan bermacam jenis sarana transportasi umum. Mereka juga menjadi lawyer sambil terus  menjaga agar jaringan interaksi antar sesama mereka kuat tetap terjalin kuat melalui berbagai ritual budaya seperti perkawinan dan kematian atau aktivitas keagamaan karena mayoritas etnis Batak di Tanah Abang beragama Kristen Protestan.

Dari Sumatera Barat, para lelaki yang tak punya apa-apa di kampung mencium harumnya uang di Tanah Abang. Mereka yang memang berbakat dagang sejak alam terkembang makin banyak berdatangan ke pusat grosir ini, menyusul para senior yang sudah lebih dulu berada di Tanah Jawa.  Di Tanah Abang mereka bergabung menjadi jaringan PKL (pedagang kaki lima) yang kemudian tumbuh menjadi pemilik kios di blok-blok perdagangan yang ada di Pusat Grosir Tanah Abang, sampai ada yang memiliki kios sampai 100 pintu yang harga satu kiosnya lebih dari Rp 1 miliar.

Yang lain melihat peluang berbeda, mereka tahu para pedagang kain dan pakaian jadi itu juga perlu makan, maka mereka membuka warung makanan dan minuman yang kemudian tumbuh menjadi rumah makan-rumah makan Padang ternama di Tanah Abang dan sekitarnya.

Mereka juga membentuk jaringan, termasuk dengan para kerabat di kampung yang memiliki keahlian menjahit , menyulam, menenun dan membordir. Berbagai produk busana muslim dan perlengkapan ibadah umroh dan haji pun mengalir dari ranah Minang ke Tanah Abang, sampai-sampai ada yang mendirikan pabrik sarung di Silungkang, Sawahlunto.

Tak cukup dengan itu mereka membuka usaha konveksi di berbagai pelosok  daerah pinggiran ibu kota, memperkerjakan dan memberdayakan banyak orang melalui usaha home industry tersebut. Dari busana muslim dan perlengkapan ibadah shallat, umroh dan haji mereka juga mulai memproduksi pakaian seragam sekolah dari SD sampai SMA, jenis komoditi yang selalu menjadi primadona setiap musim tahun ajaran baru tiba.

Yang lain yang tak punya modal cukup atau baru mulai berusaha menerjunkan diri menjadi pengantau, yakni orang-orang yang mendapatkan barang untuk dijual berdasarkan kepercayaan saja. Mereka direkomendasikan oleh pedagang asal kampungnya ke pemilik barang yang umumnya juga berasal dari kampungnya untuk menjualkan barang di kaki lima atau emperan toko. Barang-barang itu bisa dibawa dulu tanpa harus membeli atau menjaminkan agunan.“Jika sudah laku baru kita setor uangnya,” ujar Hendra (35) pengantau asal Surian, Kabupaten Solok, Sumatera Barat yang berjualan di sisi eskalator Lantai 2 Blok F1.

Hal yang sama terjadi di Tasikmalaya, Rangkasbitung (Jawa Barat) dan Pekalongan, Solo (Jawa Tengah). Para pengrajin bordir dan produsen batik  yang tadinya hanya dijadikan mitra pemasok oleh para pedagang lama di Pusat Grosir Tanah Abang tergerak untuk menerjuni bisnis itu sendiri. Mereka pun berdatangan ke Tanah Abang menumbuhkan pasar khas mereka sendiri, sambil tetap memasok mitra mereka yang membuka kios di blok-blok perdagangan yang ada di pasar itu.Para pedagang Tasik ini terkenal dengan Pasar Tasiknya dan memberi warna tersendiri pada pusat grosir produk tekstil dan garmen Tanah Abang.

Dari Pekalongan dan Solo para pengrajin batik yang sudah tumbuh menjadi pengusaha-pengusaha  batik juga memanfaatkan peluang. Sambil tetap menjalin kerjasama dengan mitra-mitra bisnis mereka yang lama, yakni para pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang, mereka juga mulai membuka lapak dan kios sendiri di Tanah Abang, dan seperti produk busana muslim dari Sumatera Barat dan Tasikmalaya batikpun lambat laun menjadi warna yang kuat di Pusat Grosir Tanah Abang. 

Orang-orang Rangkasbitung banyak mengisi ceruk lain yang tersedia di Pusat grosir Tanah Abang. Mereka melihat jasa porter, karyawan toko, pengepakan dan cleaning service sebagai peluang dan gerbong kereta api dari Rangkasbitung makin banyak diisi anak-anak muda yang membawa mimpinya ke Tanah Abang.

Dan seperti tadi telah disinggung melalui kenangan Bang Uci, orang-orang dari Jawa Timur juga sudah banyak datang, mereka memproduksi tempe dan tahu di bantaran Kali Krukut.  Para penyedia jasa makanan dan minuman untuk pendatang dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur inipun tumbuh menjamur melalui berbagai kios makanan dan minuman khas daerah-daerah tersebut.

Kedatangan orang Madura kemudian menambah komplit keberadaan komunitas etnis di Tanah Abang. Mereka mulai sebagai pemulung barang bekas, pedagang besi tua, pedagang sate dan soto Madura.

Orang Betawi sendiri, kata Bang Uci, memanfaatkan saja kebutuhan para pendatang tersebut.Maka rumah-rumah pun diubah menjadi kost-kostan. Pedagang soto Betawi dan nasi uduk bermunculan. Pedagang kambing main eksis apalagi setelah orang Arab juga berdatangan ke Tanah Abang pada akhir abad ke-19.Pedagang kurma dan tekstil ini ikut meramaikan aktivitas bisnis di Pusat Grosir Tanah Abang, selain bisnis lainnya di Pasar Baru.Mereka yang sangat suka makan daging kambing menjadi konsumen utama para pedagang kambing di Tanah Abang.

“Saya masih ingat orang-orang Arab itu, mereka melarang wanitanya menikah dengan orang yang bukan Arab, akibatnya banyak yang jadi perawan tua, sangat berbeda dengan orang Cina, mereka bisa kawin campur dan berbaur dengan kita orang Betawi,” ungkap Bang Uci.

Orang Arab datang karena mencium bau uang dari para pedagang Tanah Abang yang naik haji ke Mekkah. Mereka melihat peluang melalui oleh-oleh haji seperti kurma, kacang Arab, coklat Arab, air zam-zam, tasbih, sajadah, permadani, peci dan mukena. Saking berminatnya tahun 1920 jumlah orang Arab di Tanah Abang pernah tercatat sampai 13.000 jiwa.Namun entah mengapa kini mereka menghilang dari Tanah Abang.Perannya digantikan oleh pedagang Betawi, Padang dan Tasik di Pasar Seng, Jl. K.H. Mas Mansyur, Tanah Abang.

Orang  Betawi yang aslinya bukan pedagang mulai terpengaruh, sebagian kecil ikut berdagang tekstil dan garmen di Pusat Grosir Tanah Abang, ketika terjadi kebakaran besar tahun 2003, ratusan kios pedagang Betawi ikut ludes, tapi Djans Faridz, pemilik grup pengembang Priamana International yang membangun dan mengelola Blok A baru bersama PD Pasar Jaya  memprioritaskan mereka untuk mendapatkan kios di Blok A. Namun sayang, kesempatan itu tak dimanfaatkan dengan baik, banyak yang menjual atau menyewakan lagi kios yang mereka dapat. “Kini pedagang Betawi di Blok A dan Blok B bisa dihitung dengan jari atau mungkin udah nggak ada sama sekali,” kata Bang Uci.

Tahun 2003 perputaran uang sehari di Pusat Grosir Tanah Abang sudah mencapai Rp200 miliar. Tahun 2013 menurut data Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta putarannya sudah mencapai Rp 30 triliun setahun atau Rp 700 miliar sehari. Tak heran kalau premanisme pun ikut tumbuh subur, terutama yang menyangkut lahan-lahan basah di titik-titik ilegal.Keinginan para PKL untuk mendapatkan tempat berdagang di jalan dan trotoar–karena tidak sanggup membayar sewa kios dalam blok-blok yang ada–disambut baik oleh ‘anak-anak wilayah’. Anak-anak wilayah adalah sebutan untuk para remaja dan pemuda asli Tanah Abang yang tinggal di 4 kelurahan utama tadi yaitu Kampung Bali, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan.

Menurut penuturan H. Abraham Lunggana atau H. Lulung kepada Tempo.co, para PKL meminta izin mendirikan lapak di jalan-jalan, trotoar atau sudut-sudut yang kosong di emperan toko yang ada di seputaran Pusat Grosir Tanah Abang. Izin dikeluarkan otoritas setempat–yang menurut pengakuan H. Lulung dilakukan atas perintahnya–selanjutnya berdirilah lapak-lapak itu dan  PKL mulai berjualan, agar lapaknya tak terganggu razia pedagang membayar sejumlah uang keamanan kepada otoritas wilayah melalui anak-anak wilayah tadi. Jumlahnya bervariasi dari Rp 250.000 per  bulan sampai Rp 10 juta per bulan, tergantung luas, komoditi yang dijual dan lokasi lapaknya. Uang yang didapat sebagian disetor pada Ketua RW setempat untuk pembangunan kampung, katanya, karena kenyataannya para RW membantah telah menerima uang tersebut.“Habis di tangan anak-anak itu aja kok,” ujar salah seorang RW di Jati Baru, Kampung Bali.

Lapak PKL ini memungkinkan munculnya titik-titik parkir liar. Karena pembeli juga malas memarkir kendaraannya di area parkir dalam gedung, sama seperti malasnya mereka berbelanja ke dalam blok-blok perdagangan yang ada. Mereka tak peduli walaupun tarif parkir di jalan itu dipatok sampai Rp 10.000 sekali parkir.“Biarlah bayar Rp 10.000 asal gampang keluar masuk, soalnya saya harus bolak-balik bawa dagangan ke Condet,” ujar salah seorang pengguna jasa parkir.

Adanya uang mudah ini melahirkan kelompok-kelompok preman yang mengikuti permainan anak-anak wilayah, maka bermunculanlah Kelompok Ambon, Kelompok Palembang, Kelompok Timor , Kelompok Madura, Kelompok Jawa Timur atau Kelompok Arek, Kelompok Makassar dan lain-lain. Masing-masing mengklaim wilayah.Tidak jarang mereka bentrok untuk merebut atau mempertahankan wilayah masing-masing.

Kelompok-kelompok ini membuat kantong-kantong hunian sendiri di kawasan Tanah Abang dan membangun perimeternya masing-masing.Setiap wilayah ‘panas’ untuk kelompok lainnya.Salah-salah masuk bisa dianggap invasi dan dapat menyebabkan tawuran yang tidak jarang menyebabkan jatuhnya korban luka atau meninggal.

“Dulu Bang Midun dan Bang Juki sempat menyatukan kekuasaan di Tanah Abang, Hercules juga, sampai Ucu Kambing mengusirnya,” ungkap Bang Uci pula.Midun adalah preman asal Rawabelong dan Bang Juki asal Gang Lontar, Kebon Melati.Sesudah era hengkangnya Hercules seluruh kelompok preman berlatar belakang etnis dan daerah asal menghilang, perannya kini digantikan oleh anak-anak wilayah.

Orang-orang Palembang sebenarnya lebih terkonsentrasi pada bisnis ekspedisi. Ketika Pusat Grosir Tanah Abang tumbuh pesat di tahun 1990-an orang-orang Palembang di Jakarta yang telah sukses dengan bisnis ekspedisi dan distribusinya tertarik dengan manisnya uang Tanah Abang, Mereka pun mendirikan perusahaan ekspedisi antar pulau di Jl. K.H Mas Mansyur, Jl. H. Fachruddin, Jl. K.H. Wahid Hasyim dan Jl. Jati Baru. Mereka melayani pengiriman barang dari Tanah Abang ke berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, karena pedagang produk tekstil dan garmen di daerah-daerah tersebut juga makin intensif memesan barang dari Tanah Abang.Armada truk pun makin banyak keluar masuk Tanah Abang, sebagian langsung menyeberang ke Sumatera, Bali, Lombok dan NTT, NTB. Sebagian lain ke Tanjung Priok dulu sebelum berlayar dengan kontainer ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua.

Ramainya aktivitas ekspedisi ini membuat para ekspeditor kewalahan, maka rekrutmen dari kampung pun dijalankan, ratusan tenaga segar berdatangan dari pelosok Sumatera Selatan, bergabung dengan para patronnya di Tanah Abang. Jumlahnya semakin banyak ketika perusahaan ekspedisi mulai melayani permintaan dari mancanegara. Seperti Singapore, Malaysia, Brunei Darussalam, India, Nigeria, Dubai dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang kesemsem dengan busana muslim dari Tanah Abang.

Lain lagi ceritanya dengan orang-orang Nigeria.Mereka mulai berdatangan ke Tanah Abang tahun 1996.Negara kaya minyak ini termasuk negara dengan warga yang menyukai produk fashion dari Tanah Abang. Busana muslim Indonesia yang banyak dijual di Tanah Abang sangat disukai oleh warga Nigeria. Ini mendorong sebagian warganya datang ke Tanah Abang untuk memperdagangkan sendiri produk tekstil dan garmen dari Tanah Abang itu ke negaranya, tidak lagi lewat eksportir lokal yang banyak mangkal di Tanah Abang.

Maka makin banyak saja orang-orang Nigeria yang datang ke Tanah Abang. Mereka menyewa rumah dan kamar-kamar hotel di kawasan Petamburan seperti di Jl. Aiptu K.S Tubun dan Jl. Harlan, Jl. Rawa Bambu, Jl. K.H. Mas Mansyur, Jl. K.H. Wahid Hasyim, Jl. Kebon Kacang, Jl, Kampung Bali, Jl. Jaksa, Jl.Kebon Sirih dan lain-lain. Banyak yang menikah dengan wanita setempat.Aktivitas perdagangan mereka bukan hanya sebatas produk tekstil dan garmen, tetapi juga spa, rumah makan, hotel, toko grosir pakaian jadi, ekspor-impor, laundry, obat-obat herbal, money changer dan ekspedisi antar negara.

Sayangnya usaha yang bagus itu dirusak oleh segelintir petualang Nigeria sendiri.Mereka memasok dan mengedarkan narkoba, menyelundupkan produk tekstil dan garmen ke Nigeria dan aneka kejahatan lainnya, akibatnya para penguasa dan pedagang Nigeria tercemar semua dan itu berdampak pada eksistensi mereka di Tanah Abang.Satu per satu mereka kembali ke negaranya, sebagian besar memindahkan aktivitas bisnisnya ke China yang lebih kondusif dalam segalanya.  Padahal kiprah mereka di Tanah Abang sudah cukup mengakar, terbukti dengan dibentuknya Asia Africa Trade Center  (AATC) yang berkantor di Jl. Aiptu K.S Tubun Petamburan.

Orang-orang keturunan Tionghoa juga tak bisa dilepaskan dari Tanah Abang, Merekalah yang membuka kawasan ini pertama kali, mereka juga yang mengolah tanahnya menjadi komersial dan Tanah Abang merupakan kawasan favorit bagi orang-orang Tionghoa untuk berkumpul dan kongkow-kongkow. Ketika VOC dan pemerintah Belanda serta orang-orang lokal yang terhasut agitasi Belanda membantai orang-orang Tionghoa tahun 1740, mereka sempat lumpuh, kehilangan sanak saudara dan harta benda.Namun orang-orang Tionghoa ini terbukti tangguh, mereka bangkit kembali dengan kepala tegak dan membangun lagi keberhasilan demi keberhasilan lewat upaya yang gigih, penuh air mata dan rasa sakit.

Satu persatu kembali masuk Pusat Grosir Tanah Abang, lewat pabrik tekstil, toko, jaringan  perbankan, properti, ekspedisi, ritel dan aneka jenis usaha serta jasa. Di Blok Ruko AURI rata-rata mereka pemainnya. Menggelontorkan berbal-bal produk tekstil dan garmen dari pabrik-pabrik mereka yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Setelah Blok A, Blok B, dan PGMTA beroperasi dan produk tekstil serta  garmen membanjiri Pusat Grosir Tanah Abang makin banyak warga keturunan Tionghoa menyewa dan membeli kios di blok-blok tersebut. Sebentar saja mereka sudah memimpin, meski masih bermain di produk pakaian jadi anak dan remaja.Tapi kemajuan bisnis mereka signifikan.

Berbagai komunitas etnik ini berbaur dan berinteraksi di Pusat Grosir Tanah Abang, lengkap dengan budaya asal dan kebiasaan hidup sendiri-sendiri.Mereka juga saling menikah dan berbesanan.Menjadi darah campuran dalam harmoni Tanah Abang. Anak-anak dan remajanya juga tumbuh bersama semua komunitas etnis itu dan menghasilkan bentuk kebudayaan baru: kebudayaan Tanah Abang. Kebudayaan baru ini hidup dan eksis membentuk masyarakat baru meski tidak semuanya bedomisili di Tanah Abang.

Apa ciri-ciri kebudayaan baru Tanah Abang tersebut? Bang Uci menyebutkan beberapa hal antara lain makin kentalnya budaya pedagang. Menurut Bang Uci warga Betawi Tanah Abang dulunya adalah petani, mereka bersawah dan berladang, meskipun tak setelaten dan seintens petani Jawa, tetap saja mereka berkultur petani. Gelombang besar pedagang yang masuk Tanah Abang sejak awal abad ke-17, perlahan-lahan mengubah semua itu.“Mereka kini menjadi masyarakat yang melek dagang, apa aja didagangin,” kata H. Uci.

Mulai dengan berdagang sayuran dan buah-buah dalam skala kecil, sampai berdagang  kain, kelontong, makanan, tanah, kambing dan sebagainya. “Banyak juga yang sempat memiliki kios di Blok A, meski satu persatu kemudian dijual lagi untuk naik haji, kawin lagi atau mengawinkan anak,” katanya lebih jauh.

Budaya dagang ini kemudian—sesuai dengan perkembangan permintaan dan perubahan situasi kondisi di Tanah Abang—meningkat menjadi dagang jasa, seperti jasa kost, kontrakan, laundry, parkir, perantara jual beli mobil, jual beli tanah, jual beli kios, jasa keamanan dan seterusnya. “Mana ada Betawi lain yang seperti di Tanah Abang ini di Jakarta, ada sedikit mungkin di Mangga Dua, tapi nggak sesemarak di sini,” katanya lagi.

Dalam kebudayaan seperti ini uang menjadi penggerak dan pemotivasi segalanya. Nilai-nilai kebersamaan dan  gotong royong memudar. Semua kini dihitung dengan uang, imbalan materi dan semacam itu.“Dulu kalau mau ngawinin anak semua saudara urunan membantu, kini boro-boro. Dulu kalau mau naik haji pasti diramein, sekarang terbatas pada keluarga dekat aja.Dulu mau bangun rumah atau nyari modal usaha gampang, banyak yang bisa dimintai tolong, sekarang semua ngotot mau ngurus keluarga sendiri lebih dulu, kecuali ada imbalannya, uang,” ungkap Bang Uci menggambarkan pergeseran kultural yang dialaminya.

Yang lebih parah menurut tokoh masyarakat Betawi Tanah Abang ini adalah makin tipisnya sentimen kekerabatan dan kekeluargaan.Silaturahmi tak dianggap penting lagi. Sanak saudara tak saling memperkenalkan anak-anak cucu mereka, anak-anak tak kenal lagi ncang dan ncing mereka, anak SD saja tak mau lagi diajak ke rumah sanak saudara ayah ibunya, apalagi yang remaja, dan orang tua tak tega memaksa. Akibatnya kunjungan antar keluarga makin jarang, kerukunan berkurang.Jika hari besar tiba seperti lebaran memang masih ada kumpul-kumpul sebentar di rumah kerabat tertua, namun selanjutnya daya tarik mall dan tempat-tempat rekreasi lebih kuat.Sanak keluarga juga lebih suka berlama-lama dengan relasi bisnis mereka daripada makan ketupat bersama kerabat.

“Ini parah.Saya sering diminta meredam konflik di Tanah Abang sini, sampai mau bunuh-bunuhan segala, tapi usut punya usut tenyata mereka pada bersaudara, cuma tidak saling kenal. Gila nggak tuh?: sergahnya.

Yang lebih gawat konflik karena harta warisan makin sering terjadi, apalagi jika mengingat NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) kawasan seputaran Tanah Abang sudah mencapai Rp 30  juta – Rp 35 juta per meter2. Hal yang sama terjadi dalam konflik bersaudara dalam memperebutkan hak-hak kepengurusan rumah-rumah kost. “Sesuatu yang tak terbayang akan pernah terjadi dulu, sekarang terjadi setiap saat, semua karena uang telah menjadi pegangan segalanya, orang hanya memikirkan dirinya sendiri,  tak lagi peduli sanak saudara dan kerabat,” keluh Bang Uci,

Menguatnya individualisme di kalangan warga Betawi di Tanah Abang  sebenarnya juga mulai terasa di kawasan-kawasan lain yang rata-rata memang sudah tersentuh program-program pembangunan di ibukota, tapi kadarnya belumlah separah yang terjadi di Tanah Abang. Di Jagakarsa atau Kebagusan misalnya masih banyak dijumpai warga Betawi yang menampakkan budaya aslinya sebagai etnis yang terbuka, ramah tamah, apa adanya, memiliki semangat kebersamaan tinggi, sangat menghormati orang yang lebih tua, menempatkan sentimen kekeluargaan di atas segalanya dan nilai-nilai luhur normatif lainnya, tapi di Tanah Abang semua itu tampaknya sudah tergerus dan suatu saat akan hilang selamanya.

Perubahan Budaya di Tanah Abang

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

H. Sanusi Saleh (69) tercenung ketika ditanya masa kecilnya di Tanah Abang. Pria berperawakan tinggi dengan hidung mancung mirip warga negara Turki Osmani yang sehari-hari dipanggil Bang Uci oleh sanak kerabatnya di Jl. Lontar Bawah, Kebon Melati itu lalu menceritakan tentang Kali Krukut saat masih berair jernih. “Kami sering mandi-mandi dan bermain getek di kali itu, airnya jernih dan sejuk,” kenangnya.

Kali Krukut? Yang lewat dalam Blok F dan Ruko AURI itu? Masa sih? Itu kali kan butek amat, mana busuknya Allahurabbi dan banyak sampah lagi?

“Hmmm dulu Kali Krukut nggak butek dan bau, airnya jernih dan di pinggirannya berpasir dengan kerang-kerang kecil, persis pantai,” kata ‘ncang’ (paman)-nya Muhammad Yusuf  Muhi atau Bang Ucu Kambing, jawara Tanah Abang itu, kalem saat diwawancara di rumah kerabat istrinya di Gang Lurah, Petamburan.

Lalu berdatanganlah pendatang yang tertarik dengan manisnya gula Pusat Grosir Tanah Abang.“Tahun 1970-an, bermunculanlah pembuat tempe di sepanjang Kali Krukut, mereka membuang limbah ke Kali Krukut dan kali yang cantik itu mulai berubah.Kemudian PLN di Karet Tengsin, dekat pintu air, juga membuang solar bekasnya ke Kali Krukut, kondisi kali makin parah.Terakhir bangunan-bangunan baru bertumbuhan di sepanjang bantaran kali,” paparnya lebih jauh.

Kemudian usaha pembatikan menambah beban Kali Krukut. Batik yang banyak dibuat oleh keluarga-keluarga keturunan Tionghoa di Karet Tengsin, Pejompongan dan Bendungan Hilir itu setelah proses pencantingan dan penjemuran,  direndam lagi dalam Kali Krukut, akibatnya limbah pewarnaannya menyebabkan air Kali Krukut tercemar tambah parah.

“Saya masih ingat usaha pembatikan itu dibuat di rumah-rumah keluarga Tionghoa yang bagian belakangnya mengarah ke Kali Krukut, air kali itu jadi berwarna-warni pekat, tercemar pokoknya, sampai-sampai buaya yang dulu banyak berjemur di pinggir Kali Krukut ikut menghilang entah ke mana, nggak tahan dengan bau zat pewarna batik itu mungkin,” kata Irwan Syafei (80), warga Karet Gusuran, Setiabudi yang mengaku waktu SD-nya pada tahun 1930-an sering dihabiskan dengan teman-teman sekolahnya di pinggiran Kali Krukut. Irwan menambahkan, meski demikian usaha pembatikan di pinggiran Kali Krukut itu baru menghilang tahun 1980-an.

Makin lama makin banyak saja bangunan berdiri di kawasan Tanah Abang. Makin rapat dan makin padat, juga sumpek karena semua berdempetan menyisakan gang senggol yang untuk berpapasan dua orangpun tidak cukup dan Kali Krukut yang mewarnai masa kecil Bang Uci serta Irwan Syafei bersama teman-temannya lenyap sudah, berganti dengan  sepenggal kali berair kelabu, penuh sampah dan sangat bau. Kali Krukut memang mengalir sampai jauh, tapi dia tak cantik lagi. Melihatnya warga hanya ingin meludah dan membuang sampah, tak ada lagi yang ingin merendam tubuh dan bermain dengan airnya seperti dulu.Masa indah itu telah berlalu.

Pertumbuhan pesat komplek pertokongan, pergudangan dan perumahan untuk kost-kostan baru di Tanah Abang pada gilirannya ikut membuat rawa-rawa berisi tanaman kangkung, kebun rambutan, kebun sirih  dan lapangan bola bertanah merah menghilang pula. “Jl. K.H. Mas Mansyur, Thamin City sampai belakang HI itu dulu penuh kangkung,” kata Bang Uci. “Dari Tanah Abang Pinggir dan Petamburan sampai ke Pintu Air di Karet Tengsin sepanjang Banjir Kanal Barat itu kangkung saja sejauh mata memandang,” timpal istri Bang Uci, Mpok Nonon yang asli Petamburan.“Dan setiap halaman rumah warga di sini dulu selalu ada paling tidak dua batang rambutan,” kata Bang Uci lagi.

Tanah Abang sendiri kini menjadi salah satu dari 8 kecamatan yang ada di Jakarta Pusat. Terdiri dari 7 kelurahan yakni Bendungan Hilir, Karet Tengsin, Gelora, Kampung Bali, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan dengan luas 9,30 kilometer2 dan penduduk 31.1465 KK atau sekitar 150.000 jiwa (data Kecamatan Tanah Abang dalam Angka 2010 jumlah penduduk Kecamatan Tanah Abang 120.537 jiwa).

Dari 7 kelurahan yang ada, hanya 4 kelurahan yang langsung bersentuhan dengan Pusat Grosir Tanah Abang yaitu Kelurahan Kebon Kacang, Kampung Bali, Kebon Melati dan Petamburan. Total penduduk di 4 kelurahan ini 82.600 jiwa (Kecamatan Tanah Abang dalam Angka 2010).

PKL Pindah Pedagang Blok Senang

ImageImageKembalinya para PKL ke Blok G disambut baik oleh para pedagang di Blok F, Blok A dan Blok B. Bukan hanya karena akses ke toko-toko dan kios-kios mereka kini lebih lancar dan calon pelanggan baru bermunculan karena tak ada lagi hambatan kemacetan dan perparkiran di kawasan tersebut, tetapi juga karena kini para PKL tidak lagi ‘merebut’ calon pembeli dagangan mereka.

Bukan rahasia lagi, kalau saat ini pedagang grosir di ketiga blok besar itu juga sudah menyerah dan mulai mau berjualan secara eceran, karena menurut mereka suhu perdagangan saat ini lesu, tidak lagi seseksi dulu, sehingga kalau bertahan dengan aturan ketat perdagangan grosir mereka bisa gigit jari dan menghabiskan modal untuk membiayai kios saja.

“Dulu tak ada cerita menjual eceran, yang beli per 3 atau 6 potong pun kita tolak, kita hanya terima pembelian kodian atau lusinan, kini yang beli satu potong pun kita layani,” ujar Kurnia (43), pedagang busana muslim di Blok F2.

Namun selama PKL bebas berjualan di jalan yang mengitari Blok A, Blok B dan Blok F, ‘rezeki’ pedagang di blok-blok ini agak terhambat, karena pembeli malas masuk blok dan lebih suka berbelanja di lapak-lapak PKL saja. “Padahal harga di sana sudah dinaikkan sampai 30 persen, karena mereka belanjanya juga di sini atau di Metro,” tambah Kurnia yang asal Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu lagi.

Jidah Najwa Naiya (51) , penyewa kios di Lantai B1 Blok B membenarkan sinyalemen Kurnia. Dikatakannya para PKL memang lebih berjual beli dibanding mereka yang berjualan di dalam blok, terutama yang kiosnya terletak di lokasi-lokasi non strategis. “Mereka mengambil peluang dan calon pembeli kita, tanpa harus membayar sewa dan overhead kios yang mahal dalam blok, karena pembeli lebih suka berbelanja ke tempat mereka yang sudah langsung bisa diakses begitu turun dari sepeda motor, mobil atau angkutan umum,” ujar Jidah.

 

Copet Berjilbab di Pasar Tasik

ImageJangan mudah percaya pada penampilan, karena penampilan bisa menipu. Jilbab atau kerudung atau hijab adalah pakaian wanita muslim yang mengindikasikan bahwa pemakainnya adalah seorang muslimah yang tentunya diasumsikan bertabiat dan berakhlak baik, namun di Pusat Grosir Tanah Abang para pencopet menggunakan atribut ini justru untuk leluasa melakukan aksinya.

“Ya, siapa yang akan curiga pada wanita berjilbab,” kata Santi (25), pegawai Toko Baaligo di Blok F1 Lantai 2 Los DKS.  Jadi ketika serombongan wanita berjilbab merubungi tokonya untuk melihat-lihat dan menawar busana muslim yang dijualnya, Santi melayani dengan senang hati. Setelah sekian lama tawar-menawar transaksi tidak terjadi, karena harga gamis fashion di toko itu yang ditawarkan Rp 3,6 juta per kodi atau Rp 180.000 per potong dianggap kemahalan. Mereka pun pergi.Santipun kembali ke Blackberry Bold 9900 Dakota yang baru dibelinya dengan uang gaji pertama, yang tadi diletakkannya di rak bagian dalam.Tapi BB kesayangannya itu sudah raib bersama hilangnya rombongan wanita berjilbab yang cerewet menawar dan menanya ini itu di tokonya tadi.

Pengalaman saya pribadi di Pasar Tasik Jl. Jati Bunder hampir sama. Cuma yang ini tidak berombongan. Setiap Senin, waktu itu, Jl. Jati Bunder, Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. Jati Baru di depan Stasiun Tanah Abang sarat dengan moko (mobil toko) ratusan pedagang busana muslim dari Tasikmalaya dan sekitarnya. Mobil toko itu diparkir berjejer di kanan kiri jalan dan selalu dipenuhi para pembeli sehingga sepenggal ruas jalan yang tersisa sangat parah macetnya. Berjalan pun susah, tidak bergerak maju sama sekali, bahkan mundur juga tak bisa..

Nah, saya mencangklong tas di pundak. Karena tak  menyimpan barang berharga di ransel, hanya HP Nokia Rp 200 .000 dan notes berisi catatan data Tanah Abang,  saya tak menaruh was-was, dompet dan HP Samsung Galaxy saya taruh di kantong depan celana seperti biasa. Saat langkah tersendat dikepung macet, saya menoleh juga ke belakang untuk berjaga-jaga, Cuma ada beberapa wanita berjilbab di belakang saya.Hmm, amanlah. Eh tahu-tahu setelah akhirnya saya sampai di Blok B 30 menit kemudian saya lihat riszleting tas terbuka dan HP serta notes telah lenyap. Setelah hilang baru saya sadar bahwa di Nokia murah itu tersimpan semua nomor kontak saya yang penting dan notes itu sendiri berisi catatan observasi dan wawancara saya selama 2 bulan di Tanah Abang. Artinya, kedua barang tersebut ternyata berharga sekali!  Dasar copet sialan!

Ternyata copet di Pusat Grosir Tanah Abang beragam polahnya, seperti diungkap Hj. Yuliwirda yang sudah sejak tahun 1980-an berdagang di Tanah Abang.  Mereka sering  berpakaian rapi, persis mahasiswa atau pegawai kantoran, atau berbusana muslim, dan beroperasi dalam kelompok. Sebagian mengalihkan perhjatian kita, sebagian merogoh atau menyilet kantong atau tas kita, katanya.

Jadi?“Di Tanah Abang jangan pernah percaya penampilan, penampilan bisa menipu dan menyesatkan,” tegasnya.

Susu Kambing Obat Kanker Paru

ImageKambing dan Tanah Abang tak dapat dipisahkan, keduanya seperti dua sisi pada satu mata uang yang sama. Seperti dikatakan oleh Muhamad Yusuf Muhi atau Bang Ucu kambing (65) tokoh masyarakat Tanah Abang.“Sejak awal Pasar Tanah Abang ada, kambing juga sudah ada di sini,” katanya dalam sebuah perbincangan di rumah istri tuanya di Jl. Kebon Pala III, Kebon Melati, Tanah Abang.

Karena itu pembicaraan tentang kambing di Tanah Abang tergolong pembicaraan elite dan eksklusif.Ketika Pemda DKI memutuskan menggusur para pedagang kambing dan RPH (rumah potong hewan) dari Blok G, Ucu pun ribut. “Langkahi dulu mayat gua kalau pedagang kambing digusur dari Blok G,” katanya lantang di media massa saat rencana Pemda DKI itu sampai ke telinga tokoh yang berperan sentral saat mengusir Hercules dari Tanah Abang ini. 

Untunglah Pemda DKI tak harus melangkahi mayat Ucu, karena setelah diberitahu baik-baik Ucu bisa mengerti dan menerima ketika Pemda merelokasi RPH ke Pasar Kambing di Pasar Inpres Tanah Abang.“Gua setuju PKL dipindah ke Blok G dan pemalakan dihentikan di Tanah Abang, siapa yang masih berani malak PKL gua sikat,” katanya jumawa. Tapi jangan pindahkan RPH ke luarTanah Abang, bisa susah anak, pona’an dan cucu gua nyari makan,” katanya tegas.

Entah bagaimana hasil negosiasi Pemda DKI dengan Ucu Kambing mengenai persoalan RPH dan kambing-kambing ini, yang jelas Perda DKi tak mengizinkan RPH berlokasi dalam kota. Tapi itu soal nanti, inti cerita ini adalah khasiat susu kambing sebagai obat kanker paru dan narasumbernya Bang H. Uci, atau H. Sanusi Saleh (69), ncang atau paman Ucu Kambing.

Sebagai pedagang kambing di Pasar Kambing Tanah Abang, Bang Uci punya banyak cerita seputar kambing. Dari cara jual belinya yang berdasarkan kepercayaan saja, alias kambingnya bisa diambil dulu tanpa bayar dari para pedagang kambing di Wonosobo, Jawa Timur sampai aneka khasiat susu dan empedu kambing. Ternyata, kata Bang Uci, susu kambing segar bisa mengobati kanker paru-paru. Awalnya saya juga kagak tau, tapi setelah beberapa kali orang datang ke saya minta dicariin susu kambing segar untuk obat kanker paru, baru saya tau, tapi saya sudah minum susu kambing segar sejak dulu meski nggak tau ada khasiatnya bagi kesehatan badan, papar Bang Uci panjang lebar saat berbincang di rumahnya di Jl. Lontar Bawah.

Menurut Bang Uci susu kambing untuk obat kanker itu harus diminum sebelum dimasak, kalau perlu langsung dari kambingnya. Susu kambing terbaik adalah dari induk yang baru melahirkan. “Rasanya segar dan manis, kalau yang lain agak sepet dan sedikit pahit,” katanya.

Dia juga membenarkan mitos soal khasiat empedu kambing. Menurut Bang Uci, empedu kambing memang berkhasiat untuk kesegaran dan daya tahan tubuh. “Biasakanlah menelan empedu kambing sekali seminggu, badan pasti segar dan bugar, imbangi dengan jalan kaki,” kata pria yang masih tampak bugar dalam usia menjelang 70 tahun itu.

Bang Uci juga meyarankan agar jangan minum es teh manis, durian, ketan dan lain-lain sesaat setelah makan sate, sop atau gulai kambing. “Bahaya, sebaiknya minum teh tawar atau air putih hangat saja,” katanya.

Cina Penipu Anak Buah TW

 

ImagePenampilannya rapi, tubuhnya sedikit gemuk berisi, wajahnya klimis dan pembawaannya sok akrab. Itulah Alex, seorang keturunan Tionghoa. Tapi tak seperti etnis Tionghoa lazimnya, Alex sangat banyak omong, terutama kalau menyangkut TW, Tommy Winata, taipan pemilik jaringan Bank Artha Graha dan konon sebagian saham di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang.

Jadi berceritalah Alex di bangku-bangku depan warung Agus di Jati Bunder VII. “Saya ini anak buah kesayangan Boss TW, saya kalau ke Bank Artha Graha di Tanah Abang selalu langsung dipersilakan masuk ke ruang kepala cabang lalu santai mendengarkan musik selama saya mau,” katanya.

Selain terus berucap tentang TW dia juga menraktir siapa saja yang nimbrung minum teh botol atau coffemix atau makan kacang plocos. “Ambil saja saya yang bayar,” katanya.

Ketika tahu saya sedang mengumpulkan data tentang Tanah Abang untuk disusun menjadi buku, dia langsung menawarkan.“Minta bantuan Boss TW aja, ini jalan kampung juga bisa disemen boss, minta aja nanti saya antar,” katanya sambil terus nyerocos.

Bukan cuma itu, Alex juga menaksir semua barang elektronik dalam  rumah Agus. “Itu TV udah lama, radiotapenya juga udah ketinggalan, laptop si Mumun udah model lama, tapi BB-nya bagus, lima jutaan ya harganya?” selidiknya sambil mengeluarkan tablet miliknya. Selagi istri Agus terlongong-longong mendengar ucapannya yang terus saja mengalir seperti air Kali Krukut saat banjir, dia menambahkan, “Ganti saja semua, saya punya toko elektronik di Glodok, tinggal telpon besok barang diantar,” ujar dia langsung menelpon seseorang.

“Iyaa, ntar lu siapin TV Samsung 29 inch dan tapedeck Polytron terbaru, mau gua tukar tambah dengan teman baru gua di Tanah Abang, nanti gua kasi tau alamatnya, lu antar besok ya,” katanya tanpa menunggu persetujuan yang punya barang terlebih dulu.

Begitulah sampai jauh malam dia ngoceh terus, dari pentolan orang Madura di Kelapa Gading yang memotong leher preman Tanjung Priok dan kini jadi temannya sampai film-film bokep yang dibintangi Eva Arnas dan Grace Simon. Saya mulai berpikir pembual ini orang.Agus juga mulai gelisah. Ujung-ujungnya malam itu Alex numpang nginap semalam karena besok dia janji sama Agus untuk melihat rumah kontrakan Agus di Kemayoran. Dia mau ngontrak selama tiga tahun langsung untuk adik temannya yang sedang diburu-buru masalah utang-piutang.

Esok paginya Alex dan Agus berangkat ke Kemayoran, sorenya saat saya pulang istri Agus berbisik, “Pak Imran itu Cina penipu ternyata.”Ceritanya saat berangkat bareng Agus pagi-pagi dia minta turun di Jl. Jati Bunder dengan alasan mau menunggu anak buahnya yang mengantar TV dan tapedeck.Agus disuruh duluan ke Kemayoran, nanti dia susul. Terus dia kembali ke rumah Agus dan pinjam uang Rp 250.000 ke istri Agus dengan alasan kartu ATM-nya rusak, Dia berjanji akan mengganti dua kali lipat nanti saat melihat rumah dan membayar uang kontrakan di Kemayoran.  Nyatanya sampai tengah hari dia tak muncul-muncul di Kemayoran, juga sorenya.Dan dia ternyata juga tak membayar semua makanan dan minuman traktirannya tadi malam.

“Anak huah TW sialan, kalau ketemu lagi aku kampak kepalanya,” kata Agus jengkel saat pulang malam harinya.Tapi akhirnya dia ketawa mesem.“Sungguh saya tak pernah kepikiran ada orang Cina yang pekerjaannya menipu seperti dia, recehan lagi!” dengus Agus separo dongkol separo geli.

Parkir Di Sana Rp 2.000, Di Sini Rp 10.000

ImagePKL, parkir liar, mikrolet ngetem, gerobak barang, bajay, sepeda motor adalah biang macet Pusat Grosir Tanah Abang di masa lalu. Kini semuanya sudah ditertibkan, jalan-jalan di Tanah Abang sudah bisa dilewati laiknya jalan-jalan raya yang normal.

Ihwal parkir liar sebagai salah satu penyebab macet dibenarkan Sutan Kayo (56) salah satu pedagang di kawasan Pasar Tasik Jati Baru. “Mereka membuat lapak parkir di mana saja, ada sedikit lahan terluang langsung dijadikan lahan parkir, tak peduli hal itu akan menyebabkan kemacetan, yang penting duit masuk,” katanya saat berbincang sambil menonton pelaksanaan penertiban oleh tim terpadu Satpol PP, TNI dan POLRI yang sedang berlangsung di Jl. Kebon Jati 18 Agustus 2013 silam.

Anel (17) warga RW 01 Jati Baru membenarkan.Mereka, anak-anak wilayah, katanya, memang harus jeli dan bereaksi cepat bila melihat lahan kosong.“Soalnya duit masuk tu Pak,” katanya.  “Kalau nggak kita ambil segera, pasti yang lain yang ambil,” katanya lagi. Lagipula menurut Anel, tindakan mereka sudah diketahui RW masing-masing, karena sebagian hasil parkir liar tersebut disetorkan untuk kas RW.

Hasil dari titik-titik parkir itu sangat lumayan. Salah seorang anak wilayah yang ditangkap Polsek Metro Tanah Abang mengaku bisa mendapatkan Rp 1,6 juta dalam setengah hari saja dari perparkiran yang dikelolanya. Anel membenarkan.“Bisa jadi Pak, apalagi kalau sedang ramai dan lahan parkirnya agak legaan, kalau saya kan kecil aja, cuma bisa menampung 30 biji motor,” katanya. Menurut Anel dalam sehari dia bisa mengumpulkan  Rp 600.000 – Rp 900.000. “Tergantung rame tidaknya,” katanya.

Kok bisa sebanyak itu ya?Ternyata tarif parkir di kawasan Pusat Grosir Tanah Abang tidak mengikuti tarif parkir yang telah ditetapkan oleh Pemda DKI.“Tarifnya sekali parkir Rp 10.000 Bang,” kata seorang ibu yang baru keluar dari lahan parkir di Jl. K.H Mas Masyur.Ibu-ibu dari Matraman itu sengaja ke Tanah Abang untuk membeli kurma yang banyak dijual di Pasar Seng dekat Blok C atau JTTC Jl. K.H Mas Mansyur tersebut.

Lho kok dibayar juga? “Masa nggak dibayar saya udah parkir gitu, cari masalah ama preman sini apa?” katanya polos. “Tadi saya sempat protes, tapi abang parkirnya bilang parkir di sana ya Rp 2.000 di sini Rp 10.000,” dia menambahkan. Di sana mana? “Itu di underpass Jl. Fachruddin, mana ada yang parkir di situ!” tambah dia jengkel-jengkel geli.

Sebenarnya kalau mau parkir sesuai tariff yang berlaku para pengendara mobil atau motor bisa masuk ke gedung parkir di  Blok A, B dan F. Di situ tersedia lebih dari 8.000 space parkir untuk sepeda motor. Di Blok B saja sampai Agustus 2013 masih tersedia 2.300 space parkir untuk sepeda motor, tarifnya juga hanya Rp 2.000 per 1 jam pertama dan tambah Rp 1.000 untuk 1 jam berikutnya.

Tapi itulah, kebanyakan pemilik kendaraan juga malas parkir dalam blok karena takut terjebak macet saat keluar, padahal sama saja karena jalan-jalan raya di Tanah Abang itu betul yang sudah kronis macetnya. Sebagian pengendara mobil malah lebih suka memarkir mobilnya di Sarinah lalu naik Kopaja, bajay atau ojek ke Tanah Abang.

Kini parkir bertarif edan itu sudah lenyap dari Tanah Abang, semoga untuk selamanya.