Antara Mesjid, Vihara dan Bongkaran

ImageKawasan Jati Bunder, Lontar, Jembatan Tinggi sangat dekat dengan lokalisasi ilegal Bongkaran. Tidak heran kalau di Jati Bunder dan Jembatan Tinggi banyak kamar  yang disewa oleh PSK atau mantan PSK yang buka praktek di Bongkaran. Meski pekerjaannya dianggap melanggar norma-norma agama dan kesopanan, para PSK dan mantan PSK bisa hidup berdampingan dengan warga yang non PSK di rumah.Warga hanya terganggu kalau anggota keluarga mereka yang perempuan disalahsangkai sebagai PSK juga, tapi hal itu jarang terjadi.

Agus yang punya anak perempuan mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta mengatakan biasanya orang bisa membedakan mana yang PSK mana yang bukan.“Jadi hal itu tak pernah menjadi masalah di sini, tapi memang iya sih, kadang-kadang kita risih juga kalau ada yang tahu Jati Bunder itu di mana dan melanjutkan pertanyaan dengan kalimat dekat Bongkaran yang itu?”

PSK itu tidak selalu tinggal sendiri atau berkelompok dua sampai 5 orang di satu kamar, ada juga yang tinggal dengan suaminya.Suaminya bertindak sekaligus sebagai germo dan tukang ojek yang mengatur tarif dan mengantar jemput istrinya saat bertugas.Bagi mereka hal itu hanya pekerjaan, tidak lebih.“Mereka yang suka mencaci atau menilai kami, toh juga tidak bisa mencarikan usaha untuk kami.Mereka juga tak menolong ketika kami sakit atau saat anak kami butuh biaya.Jadi kenapa harus ribut kalau kami jadi seperti ini,” gugat Marjono (42). Pria asal Majalengka ini mengaku tak pernah ambil pusing dengan omongan orang saat dia mengantarkan istrinya Yati (32) ke diskotek tenda di pinggiran rel kereta api bawah Jembatan Kanal Banjir Barat. “Tapi omongan atau sindiran semacam itu tak pernah saya dengar, hubungan kami dengan warga lainnya juga baik-baik saja,” tambah dia.

Dan sepertinya memang tak ada masalah. Pada malam-malam tertentu, malam Jumat atau hari-hari besar agama Islam seperti Maulid Nabi, Nuzulul  Qur’an atau Isra’ Mi’raj ceramah-ceramah di masjid-mesjid yang ada di seputaran kawasan Jati Bunder dan Lontar Raya selalu menyebut warga Bongkaran sebagai warga biasa seperti juga warga lainnya. “Kalau sudah masuk ke mesjid ini, tak ada lagi warga Bongkaran atau lainnya, semua sama, sama-sama warga ingin mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan ridhonya,” begitu bunyi khotbah dan ceramah agama yang sering disampaikan oleh ustadz-ustadz setempat yang bisa didengarkan semua orang di kawasan itu karena disebarluaskan melalui sound system pengeras suara yang berada di menara atau atap masjid.

Di saat yang bersamaan,  dentuman musik dangdut dan pendaran cahaya lampu-lampu diskotek tenda di pinggir rel kereta api terus berkumandang. Gelas demi gelas minuman terus dituang, asap rokok juga terus mengepul dari para lelaki dan perempuan, sementara geliat genit para PSK terus membangkitkan gairah sejumlah  lelaki calon pelanggannya di bangku-bangku kayu yang tersedia.

Tak ada yang berbenturan, kecuali menjelang Ramadhan.Jelang bulan puasa itu biasanya kelompok-kelompok ormas keagamaan beramai-ramai mendatangi Bongkaran dan memberi nasihat kepada para germo dan PSK untuk tidak terlalu vulgar menjajakan diri. Mereka juga minta agar Bongkaran buka lebih lambat dan tutup lebih cepat. “Paling tidak buka sesudah tarawih dan tutup sekitar jam 01.00 dinihari, biasanya mereka kan buka sejak Magrib sampai pukul 03.00 dinihari,” ujar Bang Uci yang juga sering dilapori kegiatan ormas-ormas keagamaan tersebut.  “Biasanya himbauan itu dipatuhi oleh orang-orang Bongkaran,” kata Bang Uci yang mengklaim tidak ada anak kemenakannya orang Betawi yang bergabung di Bongkaran, kecuali sebagai keamanan.

Hubungan dengan pemeluk agama lain seperti Nasrani  (Katolik dan Protestan), Budha dan Kong Hu Cu juga terjalin baik. Dalam Pasar Tasik Jati Baru ada Gereja Bethel Injil Sepenuh. Setiap hari Minggu sampai Senin, dengan pengecualian hari Kamis, jemaatnya mengadakan misa dan kebaktian di sana. Di sisi utara Blok A arah ke barat atau di barat Blok AURI Alfa berbatasan dengan Blok F1 ada Kelenteng Hok Tek Tjengsin yang oleh masyarakat Tanah Abang disebut Toapekong Kebon Dalem, karena terletak di Gang Kebon Dalem, RW 01, Jati Baru, Kelurahan Kampung Bali. 

Di kelenteng yang usianya hampir sama  dengan Pasar Tanah Abang ini,warga yang beragama Budha atau Kong Hu Cu rutin beribadah, terutama pada event-event perayaan ritual Cina seperti Imlek (hari pertama tahun baru), Cap Gomeh (hari ke-15), Ceng Beng (hari ke-60, Peh Cun (hari ke-100), dan Cit Gwee (bulan ke-7. 

Yang datang beribadah ke Kelenteng atau Vihara Hok Tek Tjengsin bukan hanya umat Budha atau Kong Hu Cu—umumnya etnis Tionghoa–yang tinggal di seputaran Tanah Abang, tetapi ada juga yang datang dari kawasan Cideng, Roxy, Pasar Baru, bahkan Pluit. Mereka bisa beribadah dengan tenang tanpa diusik umat agama lain.

Soal kerukunan ini sudah terkenal sejak dulu. Menurut  Muhammad Yusuf Muhi atau Ucu Kambing (65) dalam sebuah sesi wawancara di rumahnya di Kebon Pala III Maret 2013 ketika kerusuhan Mei 1998 melanda Jakarta dan banyak pusat perdagangan hangus dibakar massa, Pusat Grosir Tanah Abang selamat dari penjarahan. “Itu karena semua bergaul dengan baik, saling menghargai satu sama lain, dan sadar bahwa mereka mendapatkan penghasilan dari sumber yang sama,” kata Ucu.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s