Rumah Boleh Sempit, Hati Harus Lapang

Kantong-kantong pemukiman di 4 kelurahan utama di sekitar Pusat Grosir Tanah Abang adalah kawasan Jl. Lontar, Jl. Lontar Atas, Jl. Lontar Bawah, Jl, Sabeni, Gg Bahaswan, Gg, Kubur, Pasar Kambing, Pasar Inpres, Jl. Jati Bunder  (7 ruas), Jl. Kebon Kacang (ada 41 ruas Jl. Kebon Kacang), Jl. Kebon Pala (3 ruas), Jl. Kebon Jahe Kober, Jl. Jati Baru (ada 15 Jl. Jati Baru), Jl. Kampung Bali (33 ruas), Tanah Abang Pinggir, Petamburan dan lain-lain.

Kawasan Jl. Lontar, Bahaswan, Kebon Pala adalah kawasan yang sangat kental Betawinya. Dari sinilah keluarga tokoh masyarakat Betawi Tanah Abang Bang H. Uci dan Bang Ucu Kambing berasal. Mereka keturunan jawara Tanah Abang Sabeni.Mereka memiliki pandam pekuburan atau komplek makam keluarga besar sendiri yaitu di Gang Kubur dan Karet Bivak.

Selain keluarga Betawi di kawasan ini banyak tinggal pedagang asal Padang, Makassar,  dan Tasikmalaya yang umumnya kost di rumah-rumah penduduk asli. Dulu, kata Bang Uci, banyak juga orang Arab yang tinggal di situ. Meski perumahannya padat, sempit dan banyak gang senggol—gang selebar 40 – 50 sentimeter yang tak bisa dilewati dua orang berpapasan tanpa saling senggolan badan—kehidupan di kawasan ini terkesan akrab dan harmonis. Jalan-jalan itu sendiri dilengkapi selokan selebar 20 – 30 sentimeter dan rata-rata sudah diaspal atau disemenisasi. Rumah-rumahnya sudah berupa rumah petak, tapi dengan dua atau tiga ruangan tanpa teras dan halaman dan rata-rata berlantai keramik.Kecuali rumah keluarga elitenya seperti Bang H. Uci yang rumahnya luas dan panjang dengan teras dan halaman, banyak kamar dan ruangan.Semua berlantai keramik.

Di Kampung Bali dan Kebon Kacang malah lebih lega lagi.Gang-gangnya tidak terlalu sempit, masih bisa dilewati sepeda motor berpapasan, dan banyak rumah masih punya halaman, meski kecil dan sempit. Kawasan Petamburan sama. Jalan rata-rata sudah disemen atau diaspal.Rumah-rumahnya banyak yang disewakan dan umumnya sudah permanen.

Kondisi kebalikannya terdapat di kawasan Jati Bunder.Sejak dari belakang Blok C Pusat Grosir Tanah Abang sampai ke Bongkaran di Jembatan Tinggi rumahnya rata-rata terbuat dari kayu, papan tipis dan triplek bekas.Rumah-rumah itu sempit dan padat, berderet memanjang dari utara ke selatan dan dari barat ke timur, saling menempel seperti permen karet.Ada yang bertingkat dua sampai empat.Rata-rata dihuni oleh lebih dari satu keluarga inti, bahkan ada yang dihuni oleh 5 keluarga sekaligus.Mereka hidup dan berinteraksi bersama di rumah satu lantai seluas 2 X 3 meter yang ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, dapur, ruang belajar, ruang santai keluarga semua di situ.Itupun kadang-kadang masih ditambah dengan kedan kopi dan warung indomie di teras rumah. Kamar mandi dan WC rata-rata  milik umum, penghuni harus membayar Rp 500 – Rp 1.000 untuk mandi, cuci dan kakus.  Jemuran jangan ditanya, menutup pemandangan di mana-mana.

Jalan di beberapa ruas pemukiman tak diaspal dan tampaknya pernah dikeraskan dengan semen meski tak maksimal, karena sudah terkelupas dan berganti tanah di beberapa bagian.Selokan tidak terlihat karena rata-rata sudah ditutup bangunan, tapi baunya ada.  Warganya bercampur, ada Jawa Timur, Jawa Tengah, Rangkas, Tasik, Palembang, Padang, Madura, Batak, dan Lampung. Mereka tak punya pekerjaan tetap alias pasukan serabutan.  Bulan puasa dan jelang lebaran adalah hari kerja mereka, karena Pusat Grosir Tanah Abang overload, kelebihan beban dan kekurangan tenaga porter. Saat itulah mereka panen menjadi tenaga porter cadangan atau supir tembak.

Yang lain hidup sebagai pedagang bakso, sate ayam, soto Madura, sop dan soto Betawi, somay, mie ayam, bubur ayam, gorengan, satpam, pegawai rumah makan Padang, pecel lele, ayam bakar, gado-gado, indomie rebus, mie goreng, toge goreng, cimol, bakso panggang, roti bakar, es krim, kerupuk, balon dan mainan anak, nasi goreng, lontong sayur, ketoprak, bubur kacang ijo, pemulung, warung kelontong, jual petasan dan kembang api, pengusaha toilet dan kamar mandi umum, atau diskotek mini.

Pengusaha diskotek mini ini mengambil ide dari warung remang-remang atau karaoke tenda di sepanjang rel kereta api Bongkaran. Kawan prostitusi murah meriah itu menarik tamunya dengan dentuman musik berirama dangdut dan permainan cahaya lampu.Seorang warga RT XVI, Jati Bunder mengubah salah satu rumahnya menjadi diskotek mini seperti itu dan mendapatkan penghasilan dari penjualan minuman dan makanan ringan.Minuman yang dijual adalah bir Bintang, Anker atau Guiness. Ada juga bir oplosan yang disebut Ciu atau Pletok yang konon bisa membuat peminumnya klenger sampai dirawat di rumah sakit karena tak ada pertimbangan kesehatan dalam proses pengoplosannya.

Setelah berdisko atau berjoget diiringi musik di ruangan triplek berukuran 3 X 6 meter itu, pengunjung duduk di teras depan bersama PSK berpakaian minim dan bermake up maksimum yang mendampinginya. Mereka ngobrol dan bercanda sambil  minum bir, merokok dan makan kacang-kacangan. Menjelang tengah malam pasangan-pasangan itu menghilang.Ada yang ke kebun kosong di timur diskotek, ada juga yang ke area parkir truk di barat.Yang punya uang biasanya ke hotel-hotel murah yang banyak bertebaran di Jl. Jati Baru. Namun hingar bingar musik dan pendaran lampu masih terus hingga jam 03.00 dinihari.

Ada juga yang kaya yaitu warga yang hidup dari usaha jual beli barang-barang bekas. Hampir semua botol bekas air minum dalam kemasan, kardus, kertas, karung, kuningan, alumunium, besi dari Jati Bunder I sampai Jati Bunder VII  ditampungnya. Yang lain membuat rumah kontrakan. Ada yang punya sampai 18 bilik kayu berukuran 2 X 3 meter bertingkat dua yang disewakan Rp 500 ribu per bulan, tapi tetap laris karena dekat ke Pusat Grosir Tanah Abang, tidak sampai 10 menit berjalan kaki. Umumnya yang menyewa para pegawai toko di Blok A, B dan F.

Bagi yang tinggal berdesakan di rumah sempit ada dua pola yang mereka terapkan.Pola pertama melakukan aktivitas secara bergantian.Misalnya yang tinggal bersama dengan 4 keluarga.Mereka membagi aktivitas menjadi dua shift.Sebagian dari pagi sampai sore.Sebagian lagi dari sore sampai malam.Begitu bergantian.Aktivitas intim suami istri entah bagaimana mengaturnya. Mereka cuma senyam-senyum saat ditanya, tapi umumnya setuju bahwa untuk aktivitas tersebut  mereka risih karena ada anak-anak dan orang lain, tapi mau bagaimana lagi, kalau hasrat sudah membludak kepedulian dan rasa malupun terpaksa dimatikan.

“Habis mau di mana? Saya nggak maulah di bak atau di kolong truk,” kata salah satu pasangan menyebutkan cara yang biasa digunakan oleh para PSK di Bongkaran dengan pelanggannya yang tak mampu atau tak mau menyewa kamar hotel. . “Ke hotel juga tak mungkin, mahal,” kata yang lain. Kiat mereka melakukannya tanpa suara dan di balik selimut.Anak-anak, para ipar atau orang tua yang tinggal bersama umumnya sudah maklum saja dan tak pernah membahasnya.

Pola kedua adalah tak ada pola. Beraktivitas sajalah seperti tak ada orang lain di rumah. Semua saudara, jadi tak ada rahasia.Apapun yang terjadi tak perlu dipersoalkan, anggap kejadian biasa saja.Yang penting hati saja diperlapang dan semuanya dijadikan bahan candaan. “Hidup di tempat seperti ini dan dalam keadaan  seperti ini harus mau berlapang dada,” ujar Triyono (48), Ketua RT XVII, Jati Bunder. “Biarlah rumahnya sempit asal hati diperlapang,” katanya lagi.Semua biang persoalan yang dapat berubah menjadi konflik dibuang cepat-cepat dan sejauh mungkin.“Kalau tidak bisa begitu wah berabe Bang,” kata Pak RT yang tinggal bersama istri, tiga anak, satu ipar dan satu mertuanya di rumah semi permanen berukuran 3 X 4 meter.

Kawasan Jati Bunder merupakan pemukiman ilegal.Mereka membangun rumah di atas tanah PT KAI dengan membayar kepada oknum perusahaan tersebut. Meski tampak tenang dan hidup seperti biasa, sebenarnya mereka dag dig dug menunggu penggusuran. “Kami tahu tinggal di tanah ilegal, tapi kalau mau digusur ya harus gusur semua jangan sebagian-sebagian,” kata Agus Saleh (50), warga  Madura yang sudah sejak 1986 tinggal di Jati Bunder.  Mantan pemulung dan pedagang sate ayam yang memiliki 18 bilik kontrakan ini mengaku resah juga, tapi keresahan itu tak ditampakkannya. “Bagaimana nanti saja, yang penting kita tak dirugikan karena terus-terang uang yang saya keluarkan sudah cukup banyak untuk membangun rumah di sini,” katanya.

Agus mengaku kabar tentang akan dibangunnya Stasiun Tanah Abang menjadi stasiun terbesar di Jakarta belum didengarnya, padahal hal ini telah disosialisasikan sejak zaman pemerintahan Gubernur Fauzi Bowo atau Foke. Warga Jl. Lontar umumnya sudah mendengar rencana tersebut. “Kita dikumpulkan di kantor Lurah Kebon Kacang ketika gubernur memberi pengarahan,” ujar Amiruddin (50). Keponakan Bang Ucu Kambing yang biasa dipanggil Bang Tatang dan bekerja sebagai security di Blok F1 ini mengatakan sosialisasi soal pembangunan stasiun itu cukup gencar dilakukan di Kelurahan Kebon Kacang dan Kebon Melati, tentunya termasuk di Jati Bunder.Tapi Agus mengaku belum pernah dengar. Mungkin dia memang tak ingin mendengar karena kalau benar pembangunan stasiun itu jadi direalisasikan dia dan keluarganya–termasuk semua asetnya—akan lenyap dalam sekejap.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s