Bang Haji Boleh Diskon

Bongkaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pusat Grosir Tanah Abang. Selain memang terletak di kawasan yang sama dengan pusat perbelanjaan grosir produk tekstil dan garmen terbesar dan termurah di Asia Tenggara itu, Bongkaran juga merupakan muara pelepasan bagi dahaga seksual banyak stake holder Tanah Abang, sebutlah para supir mikrolet, bis kota atau truk ekspedisi, buruh angkut, porter, pengemis, tukang ojek, supir bajay, pedagang asongan, PKL, security, oknum polisi, oknum tentara dan banyak lagi, karena Bongkaran adalah penyedia jasa seks komersial untuk kelas menengah ke bawah.

Berlokasi di sekitar Jembatan Kali Baru atau Jembatan Banjir Kanal Barat, di ujung Jl. Jati Bunder, di pangkalan truk Jati Bunder, di jembatan penyeberangan Blok G, di Lantai 4 Blok G sebelum ditertibkan 11 Agustus 2013, di trotoar samping Stasiun Tanah Abang atau Jl. Jati Baru dan di sepanjang rel di bawah Jembatan Kali Baru,  kawasan ini sudah hadir sejak lama. Tidak ada catatan yang bisa dipedomani untuk menentukan kapan pastinya lokalisasi tak resmi ini hadir di Tanah Abang.

“Waktu saya kecil Bongkaran juga sudah ada,” kata Bang H. Uci atau H. Sanusi Saleh (69), tokoh masyarakat Tanah Abang.

Interaksi antara warga Tanah Abang dengan warga Bongkaran terbilang intensif dan kohesif, karena banyak juga PSK yang tinggal mengontrak di rumah-rumah warga sekitar. Mereka saling berbaur dan berkomunikasi dengan cukup baik.

Dalam menjalani profesinya para PSK biasanya duduk berjejer di depan warung tenda sepanjang Jl. Jati Bunder Ujung arah ke Jembatan Kali Baru atau Jembatan Banjir Kanal Barat. Tiga titik etalase lainnya adalah di jembatan penyeberangan dari Jl. Aiptu K.S Tubun Ujung ke Blok G, di sepanjang rel kereta api di bawah jembatan kembar Kali Baru atau jembatan kembar Banjir Kanal Barat dan di sepanjang trotoar Jl. Jati Baru yang bersisian dengan tembok pagar Stasiun Tanah Abang.

Dengan make up yang serba menor dan busana minim mereka menjajakan diri di depan warung-warung kopi atau diskotek tenda tersebut, sambil menyapa dan merayu para lelaki yang lewat.

Bang Uci sering lewat di situ kalau hendak berkunjung ke rumah mertuanya di Gang Lurah, Petamburan. “Nah udah deh tu, beliau sering dirayu dan ditarik-tarik tangannya oleh jablai-jablai itu, mereka bilang Bang Haji boleh diskon, Bang Haji boleh diskon,” ujar Mpok Nonon (55), istri Bang Uci,  saat berbincang di rumahnya di Jl. Lontar Bawah, Kebon Melati, membuat suaminya yang digoda senyum-senyum mesem.

Tentu saja para PSK itu hanya bercanda, karena mereka tahu Bang Uci adalah tokoh masyarakat yang disegani di Tanah Abang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s