Para pejuang Terjengkang Berulang-ulang

Sebelum penertiban 11 Agustus 2013 Tanah Abang adalah kawasan horor. Orang akan mengerinyitkan dahi setiap kali diajak belanja ke Tanah Abang. Bayangan kemacetan parah di jalan-jalannya dan kekasaran premannya membuat orang yang tak punya kepentingan langsung berpikir panjang.“Udah macet, banyak copet, panas lagi,” begitu rata-rata keluhan mereka.

Pedagang-pedagang produk tekstil dan garmen yang tinggal di seputaran Tanah Abang, pinggiran Jakarta dan luar Jakarta seperti di wilayah Jakarta Selatan, Timur, Barat dan Utara serta di kawasan Bogor, Parung, Rangkasbitung, Tangerang, Serpong, Bekasi, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, NTT, NTB, Ambon dan Papua  bisa disebut ‘pejuang’ yang harus berjuang berkali-kali untuk berbelanja dagangannya ke Pusat Grosir Tanah Abang.

Betapa tidak untuk mencapai Tanah Abang saja dengan segala moda transportasi yang ada mereka harus setengah mati berusaha. Bagi yang naik bis kota  Mayasari Bhakti, Kopaja atau Metromini siksaan sudah terasa saat mengalami macet di mana-mana. “Dari Pulogadung ke Tanah Abang bisa makan waktu berjam-jam, karena macet di mana-mana, tapi gimana lagi, usaha saya di situ,” ujar Karim (35) PKL di depan Terminal Pulo Gadung. Dia biasa naik Mayasari Bhakti R 507 dari Pulogadung.

Rita (45) dari Depok tak kalah letih. Meski bisa naik kereta api Commuter Line dari Stasiun Depok Baru ke Stasiun Tanah Abang capenya bukan main. “Apalagi setelah tarif progresif diberlakukan 1 Juli 2013 lalu, makin susah saya, karena penumpang tambah banyak dan di Commuter Line nggak boleh bawa barang banyak,” katanya.

Rita biasa belanja sampai Rp20 juta. Belanjaannya harus dikemas dalam karung  besar yang harus dibawa dengan ojek menembus rimba kemacetan Pasar Tanah Abang.  Untuk mengangkatnya dia juga butuh bantuan porter. Bisa dibayangkan susahnya. Tapi dulu masih lumayan enak karena dia bisa menggunakan jasa kereta api ekonomi yang tarifnya Rp 1.500.  Kini Rita terpaksa bolak balik belanja atau membawa teman ke Tanah Abang, agar bisa membawa belanjaan agak banyak.Toko pakaiannya yang mulai dilirik banyak peminat di kawasan Cipedak, Tanah Baru, membuatnya tak mau berhenti berjuang belanja ke Tanah Abang. “Tak masalah susah payahnya, untungnya jelas kok,” ujarnya saat ditemui di peron Stasiun Tanah Abang.

Adita Warman (46) lain lagi. Pedagang di Plaza Sukaramai, Pekanbaru, Riau ini mengaku hanya kadang-kadang saja belanja ke Tanah Abang, “Saya belanja di PGMTA, Metro, Bang, enak belanja di situ, selain lebih murah, gedungnya juga tertata rapi dan AC-nya sejuk,” katanya via FB.“Saya biasa makan di Foodcourt Tenabang di Lantai 8 Blok A dan nginap di Hotel Jati Baru,” tambah dia.

Namun kalau belanja jelang lebaran Adit mengaku kapok.“Padatnya minta ampun, jalan kaki aja susah,” ujar bapak tiga anak yang punya dua toko di Plaza Sukaramai, Pasar Pusat, Pekanbaru ini. “Proses pengiriman juga sulit, karena banyak yang antre di perusahaan-perusahaan ekspedisi,” katanya lagi.

Tahun ini, misalnya, Adit tidak belanja dagangan ke Tanah Abang.“Belanja di Pekanbaru ajalah, dekat Pasar Pusat juga ada grosiran dari Tanah Abang, nggak kuaaaaat,” tulisnya di inbox.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s