Pengemis Mengeluh Kalau Dapat Rp 250.000 per Hari

Sosok lain yang ikut mengais dan menikmati limpahan rezeki dari Pusat Grosir Tanah Abang adalah pengemis.

Ada ratusan pengemis yang beroperasi di pusat grosir produk tekstil dan garmen terbesar dan termurah se Asia Tenggara ini, terutama di Blok F, Blok AURI Alfa, dan Pasar Tasik Jati Baru, karena di Blok A, Blok B dan PGMTA mereka memang dilarang beroperasi, sementara Blok C masih sepi dan Blok G belum mulai beraktivitas.

Sebelum penertiban 11 Agustus 2011 mereka juga bisa ditemukan di tengah Jl. Kebon Jati yang padat lalu-lintas, berbaring di semacam papan beroda dari pagi sampai sore.Ada pula yang di tepi Jl. H. Fachruddin, membiarkan panas terik membakar tubuhnya yang sudah legam menghitam.

Di Blok F mereka bisa ditemukan di Blok F1 dan Blok F2, mulai dari pintu masuk darurat yang di sebelah markas pemadam kebakaran, sampai ke parkiran di Lantai 4 dan 5 blok tersebut. Di Pintu Barat Blok A dan Blok B ada juga, tapi hanya  di pelataran tempat lalu-lintas barang, kalau mencoba masuk blok security akan langsung mengusirnya.

Setiap hari mereka menyusuri lantai per lantai, kios per kios di Blok F1 dan Blok F2, tak bosan-bosannya. Ada yang bergaya orang buta dan dituntun temannya, ada yang seperti korban perang berkaki buntung dengan darah yang masih segar potogan celana bekas buntungan itu, ada yang menggendong balita, ada pula yang hanya tampil kumal biasa dengan wajah menghiba dan memelas luar biasa.

Tapi jangan mudah terpancing oleh penampilan mereka, karena bagi pengemis di Pusat Grosir Tanah Abang, mengemis adalah profesi, pekerjaan. Mereka menjual simpati dan rasa iba, lalu memanfaatkan dahaga orang akan pahala. “Tak ada yang salah, kami kan tidak berbuat jahat,” kata Nurdin (48) yang biasa berkeliling di Blok F1.

Pengemis yang mengaku berasal dari Jawa Barat ini sudah 10 tahun mengemis di Tanah Abang.“Hasilnya lumayan, bisa buat bangun rumah dan menguliahkan anak.” katanya enteng.Dalam setiap aksinya Nurdin tak berkostum macam-macam, cukup berjalan sangat lambat lalu memasang wajah seperti orang merintih menahan sakit.“Ulu hati saya memang sering sakit, jadi gampang saja membuat mimik wajah saya seperti sedang menahan sakit,” tambah dia.

Nurdin juga tak malu-malu menyebutkan penghasilan.Ketika salah seotang pedagang di Lantai 1 Los DKS menyapanya dan menanyakan apakah sudah dapat cukup banyak hari ini, dengan lesu Nurdin menjawab, “Baru dapat Rp 250 ribu Pak Haji, susaaaah,” katanya.

Menurut Nurdin apa yang dikatakan orang-orang bahwa penghasilan mereka besar itu tidak salah. “Saya pernah mendapat Rp 900. 000 per hari,  tapi kan tidak selalu, selama Ramadhan dan lebaran saja, hari-hari biasa ya segini Rp 200.000 – Rp 300.000,” katanya.

Dan dia tetap tak merasa bersalah.“Orang-orang itu kan bersedekah, mencari ridho Allah, kami hanya menjadi perantara bagi pahala yang akan mereka dapat, jangan mengganggu aliran rezeki kamilah,” tegas dia.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s