Porter Bergaji Rp 500.000 per Hari

ImageRamadhan tiba, Ramadhan tiba, lebaran menjelang,  itulah saat-saat yang paling ditunggu oleh para porter atau buruh angkat di Blok A, Blok B, Blok F, Blok AURI Alfa dan PGMTA. Soalnya pada waktu itu eskalasi aktivitas meningkat drastis di pusat grosir tekstil dan garmen Tanah Abang itu.Intensitasnya gila-gilaan, bisa mencapai 100 persen.

Belum pernah ada hitungan akurat tapi otoritas Pasar Tanah Abang memperkirakan jumlah pengunjung Pusat Grosir Tanah Abang setiap hari mencapai 85.000 orang.Itu di hari-hari biasa, Selama Ramadhan dan jelang hari raya Idul Fitri jumlahnya meningkat sampai mencapai 200.000 orang per hari.

Fantastis, itu berarti rezeki bagi semua orang, terutama pedagang, pengemis, pencopet , tukang parkir, porter dan banyak lagi. 

Porter di Pusat Grosir Tanah Abang bukan sembarang porter. Mereka terdaftar resmi di blok tempat mereka bekerja dan punya identitas lengkap sampai ke alamat rumah. Mereka juga berseragam dan seragamnya wajib beli dengan harga @ Rp 400.000.  Seragam ini berbeda untuk setiap blok. Porter Blok A mempunyai 4 jenis seragam, masing-masing warna merah, hijau, kuning dan biru, lengkap dengan tulisan porter blok mananya dan nomor punggung. Porter Blok B punya dua macam seragam yakni warna  hijau terang dan orange, juga dengan nomor punggung dan identitas blok. Porter PGMTA seragamnya kuning terang, ditambah tulisan porter PGMTA dan nomor porter.

Para porter ini bukan penyedia jasa yang masih harus kelimpungan mencari pelanggan karena umumnya sudah terikat perjanjian kerja dengan toko-toko tertentu. Misalnya Rudi Hartono (29). Porter yang bekerja untuk Gotcini Kidswear di Blok A. Memang, selain melayani barang-barang Gotcini, Rudi juga boleh melayani barang dari pembeli, terutama kalau aktivitas di Gotcini agak sepi.

Para porter ini tak cuma bertugas mengangkat barang—seperti Rudi yang bisa mengangkut 140 kilogram barang—tetapi juga mengepak barang dalam karung dan menjahitnya.Dan mereka sangat bertanggungjawab. “Sebutkan saja alamat pengiriman barang Anda, kami akan kirim ke alamat tanpa kurang sepotongpun,“ ujar Rudi. Pengunjung tinggal mengingat nama, porter blok mana, nomor porter dan alamat toko di mana dia berbelanja, lalu membayar ongkos porter yang berkisar Rp 20.000 – Rp 50.000 sekali angkut, Rp 100.000 – Rp 200.000 kalau sampai harus mengantar ke alamat di berbagai tempat dalam Kota Jakarta.

Setiap hari porter seperti Rudi bisa mengumpulkan uang sampai Rp 200.000.Itu hari-hari biasa, selama bulan Ramadhan dan jelang hari raya Idul Fitri penghasilan mereka bisa mencapai Rp 400.000 – Rp 500.000 per hari, saking banyaknya order.

Namun tak semua porter beruntung, ada juga yang cuma mendapat Rp 100.000 per hari.Itu karena kurang gesit dan malas mencari pelanggan. Menurut Suhanda  (41), porter di Blok B, jumlah porter di Tanah Abang mungkin ada sekitar 1.000 orang. Mereka dikoordinir oleh para mandor.“Setahu saya ada 5 mandor dan setiap mandor membawahi 200 porter,” kata pria asal Rangkasbitung ini.

Memang mereka tak sampai rebut atau berkelahi berebut pelanggan, karena pembagian kerjanya sudah diatur mandor, tapi tetap saja ada yang malas-malasan dan menyerahkan porsinya ke teman dengan berbagai alasan. “Nanti dia minta persenan aja sama kita, tanpa perlu ikut mengangkat,” ujar Suhanda lagi.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s