Parkir Di Sana Rp 2.000, Di Sini Rp 10.000

ImagePKL, parkir liar, mikrolet ngetem, gerobak barang, bajay, sepeda motor adalah biang macet Pusat Grosir Tanah Abang di masa lalu. Kini semuanya sudah ditertibkan, jalan-jalan di Tanah Abang sudah bisa dilewati laiknya jalan-jalan raya yang normal.

Ihwal parkir liar sebagai salah satu penyebab macet dibenarkan Sutan Kayo (56) salah satu pedagang di kawasan Pasar Tasik Jati Baru. “Mereka membuat lapak parkir di mana saja, ada sedikit lahan terluang langsung dijadikan lahan parkir, tak peduli hal itu akan menyebabkan kemacetan, yang penting duit masuk,” katanya saat berbincang sambil menonton pelaksanaan penertiban oleh tim terpadu Satpol PP, TNI dan POLRI yang sedang berlangsung di Jl. Kebon Jati 18 Agustus 2013 silam.

Anel (17) warga RW 01 Jati Baru membenarkan.Mereka, anak-anak wilayah, katanya, memang harus jeli dan bereaksi cepat bila melihat lahan kosong.“Soalnya duit masuk tu Pak,” katanya.  “Kalau nggak kita ambil segera, pasti yang lain yang ambil,” katanya lagi. Lagipula menurut Anel, tindakan mereka sudah diketahui RW masing-masing, karena sebagian hasil parkir liar tersebut disetorkan untuk kas RW.

Hasil dari titik-titik parkir itu sangat lumayan. Salah seorang anak wilayah yang ditangkap Polsek Metro Tanah Abang mengaku bisa mendapatkan Rp 1,6 juta dalam setengah hari saja dari perparkiran yang dikelolanya. Anel membenarkan.“Bisa jadi Pak, apalagi kalau sedang ramai dan lahan parkirnya agak legaan, kalau saya kan kecil aja, cuma bisa menampung 30 biji motor,” katanya. Menurut Anel dalam sehari dia bisa mengumpulkan  Rp 600.000 – Rp 900.000. “Tergantung rame tidaknya,” katanya.

Kok bisa sebanyak itu ya?Ternyata tarif parkir di kawasan Pusat Grosir Tanah Abang tidak mengikuti tarif parkir yang telah ditetapkan oleh Pemda DKI.“Tarifnya sekali parkir Rp 10.000 Bang,” kata seorang ibu yang baru keluar dari lahan parkir di Jl. K.H Mas Masyur.Ibu-ibu dari Matraman itu sengaja ke Tanah Abang untuk membeli kurma yang banyak dijual di Pasar Seng dekat Blok C atau JTTC Jl. K.H Mas Mansyur tersebut.

Lho kok dibayar juga? “Masa nggak dibayar saya udah parkir gitu, cari masalah ama preman sini apa?” katanya polos. “Tadi saya sempat protes, tapi abang parkirnya bilang parkir di sana ya Rp 2.000 di sini Rp 10.000,” dia menambahkan. Di sana mana? “Itu di underpass Jl. Fachruddin, mana ada yang parkir di situ!” tambah dia jengkel-jengkel geli.

Sebenarnya kalau mau parkir sesuai tariff yang berlaku para pengendara mobil atau motor bisa masuk ke gedung parkir di  Blok A, B dan F. Di situ tersedia lebih dari 8.000 space parkir untuk sepeda motor. Di Blok B saja sampai Agustus 2013 masih tersedia 2.300 space parkir untuk sepeda motor, tarifnya juga hanya Rp 2.000 per 1 jam pertama dan tambah Rp 1.000 untuk 1 jam berikutnya.

Tapi itulah, kebanyakan pemilik kendaraan juga malas parkir dalam blok karena takut terjebak macet saat keluar, padahal sama saja karena jalan-jalan raya di Tanah Abang itu betul yang sudah kronis macetnya. Sebagian pengendara mobil malah lebih suka memarkir mobilnya di Sarinah lalu naik Kopaja, bajay atau ojek ke Tanah Abang.

Kini parkir bertarif edan itu sudah lenyap dari Tanah Abang, semoga untuk selamanya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s