Melting Pot

 

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

ImagePerkembangan dan pertumbuhan pesat Pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen di Jakarta Pusat telah mendorong arus urbanisasi gila-gilaan. Mereka berdatangan ke Tanah Abang dari seluruh pelosok Nusantara dan mancanegara,  berusaha menanam benih usaha dan berharap bisa menikmati  panen besar di masa mendatang. Mereka datang membawa keahlian dan budaya masing-masing.

Dari Sumatera Utara orang-orang Batak datang, awalnya cuma tambal ban dan berjualan minuman ringan kecil-kecilan, atau menjadi supir dan kenek bis kota, lama-lama spirit of inang-inang-nya menguat, merekapun  terjun ke perdagangan besar produk tekstil dan garmen. Dan karena kesadaran pendidikannya tinggi, orang Batak dengan cepat terserap ke instansi-instansi pemerintahan serta institusi hukum, menjadi pejabat di pemerintahan DKI Jakarta, termasuk di PD Pasar Jaya, BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yang mengelola semua pasar di ibukota dan PPD yang melayani kebutuhan warga ibukota akan bermacam jenis sarana transportasi umum. Mereka juga menjadi lawyer sambil terus  menjaga agar jaringan interaksi antar sesama mereka kuat tetap terjalin kuat melalui berbagai ritual budaya seperti perkawinan dan kematian atau aktivitas keagamaan karena mayoritas etnis Batak di Tanah Abang beragama Kristen Protestan.

Dari Sumatera Barat, para lelaki yang tak punya apa-apa di kampung mencium harumnya uang di Tanah Abang. Mereka yang memang berbakat dagang sejak alam terkembang makin banyak berdatangan ke pusat grosir ini, menyusul para senior yang sudah lebih dulu berada di Tanah Jawa.  Di Tanah Abang mereka bergabung menjadi jaringan PKL (pedagang kaki lima) yang kemudian tumbuh menjadi pemilik kios di blok-blok perdagangan yang ada di Pusat Grosir Tanah Abang, sampai ada yang memiliki kios sampai 100 pintu yang harga satu kiosnya lebih dari Rp 1 miliar.

Yang lain melihat peluang berbeda, mereka tahu para pedagang kain dan pakaian jadi itu juga perlu makan, maka mereka membuka warung makanan dan minuman yang kemudian tumbuh menjadi rumah makan-rumah makan Padang ternama di Tanah Abang dan sekitarnya.

Mereka juga membentuk jaringan, termasuk dengan para kerabat di kampung yang memiliki keahlian menjahit , menyulam, menenun dan membordir. Berbagai produk busana muslim dan perlengkapan ibadah umroh dan haji pun mengalir dari ranah Minang ke Tanah Abang, sampai-sampai ada yang mendirikan pabrik sarung di Silungkang, Sawahlunto.

Tak cukup dengan itu mereka membuka usaha konveksi di berbagai pelosok  daerah pinggiran ibu kota, memperkerjakan dan memberdayakan banyak orang melalui usaha home industry tersebut. Dari busana muslim dan perlengkapan ibadah shallat, umroh dan haji mereka juga mulai memproduksi pakaian seragam sekolah dari SD sampai SMA, jenis komoditi yang selalu menjadi primadona setiap musim tahun ajaran baru tiba.

Yang lain yang tak punya modal cukup atau baru mulai berusaha menerjunkan diri menjadi pengantau, yakni orang-orang yang mendapatkan barang untuk dijual berdasarkan kepercayaan saja. Mereka direkomendasikan oleh pedagang asal kampungnya ke pemilik barang yang umumnya juga berasal dari kampungnya untuk menjualkan barang di kaki lima atau emperan toko. Barang-barang itu bisa dibawa dulu tanpa harus membeli atau menjaminkan agunan.“Jika sudah laku baru kita setor uangnya,” ujar Hendra (35) pengantau asal Surian, Kabupaten Solok, Sumatera Barat yang berjualan di sisi eskalator Lantai 2 Blok F1.

Hal yang sama terjadi di Tasikmalaya, Rangkasbitung (Jawa Barat) dan Pekalongan, Solo (Jawa Tengah). Para pengrajin bordir dan produsen batik  yang tadinya hanya dijadikan mitra pemasok oleh para pedagang lama di Pusat Grosir Tanah Abang tergerak untuk menerjuni bisnis itu sendiri. Mereka pun berdatangan ke Tanah Abang menumbuhkan pasar khas mereka sendiri, sambil tetap memasok mitra mereka yang membuka kios di blok-blok perdagangan yang ada di pasar itu.Para pedagang Tasik ini terkenal dengan Pasar Tasiknya dan memberi warna tersendiri pada pusat grosir produk tekstil dan garmen Tanah Abang.

Dari Pekalongan dan Solo para pengrajin batik yang sudah tumbuh menjadi pengusaha-pengusaha  batik juga memanfaatkan peluang. Sambil tetap menjalin kerjasama dengan mitra-mitra bisnis mereka yang lama, yakni para pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang, mereka juga mulai membuka lapak dan kios sendiri di Tanah Abang, dan seperti produk busana muslim dari Sumatera Barat dan Tasikmalaya batikpun lambat laun menjadi warna yang kuat di Pusat Grosir Tanah Abang. 

Orang-orang Rangkasbitung banyak mengisi ceruk lain yang tersedia di Pusat grosir Tanah Abang. Mereka melihat jasa porter, karyawan toko, pengepakan dan cleaning service sebagai peluang dan gerbong kereta api dari Rangkasbitung makin banyak diisi anak-anak muda yang membawa mimpinya ke Tanah Abang.

Dan seperti tadi telah disinggung melalui kenangan Bang Uci, orang-orang dari Jawa Timur juga sudah banyak datang, mereka memproduksi tempe dan tahu di bantaran Kali Krukut.  Para penyedia jasa makanan dan minuman untuk pendatang dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur inipun tumbuh menjamur melalui berbagai kios makanan dan minuman khas daerah-daerah tersebut.

Kedatangan orang Madura kemudian menambah komplit keberadaan komunitas etnis di Tanah Abang. Mereka mulai sebagai pemulung barang bekas, pedagang besi tua, pedagang sate dan soto Madura.

Orang Betawi sendiri, kata Bang Uci, memanfaatkan saja kebutuhan para pendatang tersebut.Maka rumah-rumah pun diubah menjadi kost-kostan. Pedagang soto Betawi dan nasi uduk bermunculan. Pedagang kambing main eksis apalagi setelah orang Arab juga berdatangan ke Tanah Abang pada akhir abad ke-19.Pedagang kurma dan tekstil ini ikut meramaikan aktivitas bisnis di Pusat Grosir Tanah Abang, selain bisnis lainnya di Pasar Baru.Mereka yang sangat suka makan daging kambing menjadi konsumen utama para pedagang kambing di Tanah Abang.

“Saya masih ingat orang-orang Arab itu, mereka melarang wanitanya menikah dengan orang yang bukan Arab, akibatnya banyak yang jadi perawan tua, sangat berbeda dengan orang Cina, mereka bisa kawin campur dan berbaur dengan kita orang Betawi,” ungkap Bang Uci.

Orang Arab datang karena mencium bau uang dari para pedagang Tanah Abang yang naik haji ke Mekkah. Mereka melihat peluang melalui oleh-oleh haji seperti kurma, kacang Arab, coklat Arab, air zam-zam, tasbih, sajadah, permadani, peci dan mukena. Saking berminatnya tahun 1920 jumlah orang Arab di Tanah Abang pernah tercatat sampai 13.000 jiwa.Namun entah mengapa kini mereka menghilang dari Tanah Abang.Perannya digantikan oleh pedagang Betawi, Padang dan Tasik di Pasar Seng, Jl. K.H. Mas Mansyur, Tanah Abang.

Orang  Betawi yang aslinya bukan pedagang mulai terpengaruh, sebagian kecil ikut berdagang tekstil dan garmen di Pusat Grosir Tanah Abang, ketika terjadi kebakaran besar tahun 2003, ratusan kios pedagang Betawi ikut ludes, tapi Djans Faridz, pemilik grup pengembang Priamana International yang membangun dan mengelola Blok A baru bersama PD Pasar Jaya  memprioritaskan mereka untuk mendapatkan kios di Blok A. Namun sayang, kesempatan itu tak dimanfaatkan dengan baik, banyak yang menjual atau menyewakan lagi kios yang mereka dapat. “Kini pedagang Betawi di Blok A dan Blok B bisa dihitung dengan jari atau mungkin udah nggak ada sama sekali,” kata Bang Uci.

Tahun 2003 perputaran uang sehari di Pusat Grosir Tanah Abang sudah mencapai Rp200 miliar. Tahun 2013 menurut data Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta putarannya sudah mencapai Rp 30 triliun setahun atau Rp 700 miliar sehari. Tak heran kalau premanisme pun ikut tumbuh subur, terutama yang menyangkut lahan-lahan basah di titik-titik ilegal.Keinginan para PKL untuk mendapatkan tempat berdagang di jalan dan trotoar–karena tidak sanggup membayar sewa kios dalam blok-blok yang ada–disambut baik oleh ‘anak-anak wilayah’. Anak-anak wilayah adalah sebutan untuk para remaja dan pemuda asli Tanah Abang yang tinggal di 4 kelurahan utama tadi yaitu Kampung Bali, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan.

Menurut penuturan H. Abraham Lunggana atau H. Lulung kepada Tempo.co, para PKL meminta izin mendirikan lapak di jalan-jalan, trotoar atau sudut-sudut yang kosong di emperan toko yang ada di seputaran Pusat Grosir Tanah Abang. Izin dikeluarkan otoritas setempat–yang menurut pengakuan H. Lulung dilakukan atas perintahnya–selanjutnya berdirilah lapak-lapak itu dan  PKL mulai berjualan, agar lapaknya tak terganggu razia pedagang membayar sejumlah uang keamanan kepada otoritas wilayah melalui anak-anak wilayah tadi. Jumlahnya bervariasi dari Rp 250.000 per  bulan sampai Rp 10 juta per bulan, tergantung luas, komoditi yang dijual dan lokasi lapaknya. Uang yang didapat sebagian disetor pada Ketua RW setempat untuk pembangunan kampung, katanya, karena kenyataannya para RW membantah telah menerima uang tersebut.“Habis di tangan anak-anak itu aja kok,” ujar salah seorang RW di Jati Baru, Kampung Bali.

Lapak PKL ini memungkinkan munculnya titik-titik parkir liar. Karena pembeli juga malas memarkir kendaraannya di area parkir dalam gedung, sama seperti malasnya mereka berbelanja ke dalam blok-blok perdagangan yang ada. Mereka tak peduli walaupun tarif parkir di jalan itu dipatok sampai Rp 10.000 sekali parkir.“Biarlah bayar Rp 10.000 asal gampang keluar masuk, soalnya saya harus bolak-balik bawa dagangan ke Condet,” ujar salah seorang pengguna jasa parkir.

Adanya uang mudah ini melahirkan kelompok-kelompok preman yang mengikuti permainan anak-anak wilayah, maka bermunculanlah Kelompok Ambon, Kelompok Palembang, Kelompok Timor , Kelompok Madura, Kelompok Jawa Timur atau Kelompok Arek, Kelompok Makassar dan lain-lain. Masing-masing mengklaim wilayah.Tidak jarang mereka bentrok untuk merebut atau mempertahankan wilayah masing-masing.

Kelompok-kelompok ini membuat kantong-kantong hunian sendiri di kawasan Tanah Abang dan membangun perimeternya masing-masing.Setiap wilayah ‘panas’ untuk kelompok lainnya.Salah-salah masuk bisa dianggap invasi dan dapat menyebabkan tawuran yang tidak jarang menyebabkan jatuhnya korban luka atau meninggal.

“Dulu Bang Midun dan Bang Juki sempat menyatukan kekuasaan di Tanah Abang, Hercules juga, sampai Ucu Kambing mengusirnya,” ungkap Bang Uci pula.Midun adalah preman asal Rawabelong dan Bang Juki asal Gang Lontar, Kebon Melati.Sesudah era hengkangnya Hercules seluruh kelompok preman berlatar belakang etnis dan daerah asal menghilang, perannya kini digantikan oleh anak-anak wilayah.

Orang-orang Palembang sebenarnya lebih terkonsentrasi pada bisnis ekspedisi. Ketika Pusat Grosir Tanah Abang tumbuh pesat di tahun 1990-an orang-orang Palembang di Jakarta yang telah sukses dengan bisnis ekspedisi dan distribusinya tertarik dengan manisnya uang Tanah Abang, Mereka pun mendirikan perusahaan ekspedisi antar pulau di Jl. K.H Mas Mansyur, Jl. H. Fachruddin, Jl. K.H. Wahid Hasyim dan Jl. Jati Baru. Mereka melayani pengiriman barang dari Tanah Abang ke berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, karena pedagang produk tekstil dan garmen di daerah-daerah tersebut juga makin intensif memesan barang dari Tanah Abang.Armada truk pun makin banyak keluar masuk Tanah Abang, sebagian langsung menyeberang ke Sumatera, Bali, Lombok dan NTT, NTB. Sebagian lain ke Tanjung Priok dulu sebelum berlayar dengan kontainer ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua.

Ramainya aktivitas ekspedisi ini membuat para ekspeditor kewalahan, maka rekrutmen dari kampung pun dijalankan, ratusan tenaga segar berdatangan dari pelosok Sumatera Selatan, bergabung dengan para patronnya di Tanah Abang. Jumlahnya semakin banyak ketika perusahaan ekspedisi mulai melayani permintaan dari mancanegara. Seperti Singapore, Malaysia, Brunei Darussalam, India, Nigeria, Dubai dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang kesemsem dengan busana muslim dari Tanah Abang.

Lain lagi ceritanya dengan orang-orang Nigeria.Mereka mulai berdatangan ke Tanah Abang tahun 1996.Negara kaya minyak ini termasuk negara dengan warga yang menyukai produk fashion dari Tanah Abang. Busana muslim Indonesia yang banyak dijual di Tanah Abang sangat disukai oleh warga Nigeria. Ini mendorong sebagian warganya datang ke Tanah Abang untuk memperdagangkan sendiri produk tekstil dan garmen dari Tanah Abang itu ke negaranya, tidak lagi lewat eksportir lokal yang banyak mangkal di Tanah Abang.

Maka makin banyak saja orang-orang Nigeria yang datang ke Tanah Abang. Mereka menyewa rumah dan kamar-kamar hotel di kawasan Petamburan seperti di Jl. Aiptu K.S Tubun dan Jl. Harlan, Jl. Rawa Bambu, Jl. K.H. Mas Mansyur, Jl. K.H. Wahid Hasyim, Jl. Kebon Kacang, Jl, Kampung Bali, Jl. Jaksa, Jl.Kebon Sirih dan lain-lain. Banyak yang menikah dengan wanita setempat.Aktivitas perdagangan mereka bukan hanya sebatas produk tekstil dan garmen, tetapi juga spa, rumah makan, hotel, toko grosir pakaian jadi, ekspor-impor, laundry, obat-obat herbal, money changer dan ekspedisi antar negara.

Sayangnya usaha yang bagus itu dirusak oleh segelintir petualang Nigeria sendiri.Mereka memasok dan mengedarkan narkoba, menyelundupkan produk tekstil dan garmen ke Nigeria dan aneka kejahatan lainnya, akibatnya para penguasa dan pedagang Nigeria tercemar semua dan itu berdampak pada eksistensi mereka di Tanah Abang.Satu per satu mereka kembali ke negaranya, sebagian besar memindahkan aktivitas bisnisnya ke China yang lebih kondusif dalam segalanya.  Padahal kiprah mereka di Tanah Abang sudah cukup mengakar, terbukti dengan dibentuknya Asia Africa Trade Center  (AATC) yang berkantor di Jl. Aiptu K.S Tubun Petamburan.

Orang-orang keturunan Tionghoa juga tak bisa dilepaskan dari Tanah Abang, Merekalah yang membuka kawasan ini pertama kali, mereka juga yang mengolah tanahnya menjadi komersial dan Tanah Abang merupakan kawasan favorit bagi orang-orang Tionghoa untuk berkumpul dan kongkow-kongkow. Ketika VOC dan pemerintah Belanda serta orang-orang lokal yang terhasut agitasi Belanda membantai orang-orang Tionghoa tahun 1740, mereka sempat lumpuh, kehilangan sanak saudara dan harta benda.Namun orang-orang Tionghoa ini terbukti tangguh, mereka bangkit kembali dengan kepala tegak dan membangun lagi keberhasilan demi keberhasilan lewat upaya yang gigih, penuh air mata dan rasa sakit.

Satu persatu kembali masuk Pusat Grosir Tanah Abang, lewat pabrik tekstil, toko, jaringan  perbankan, properti, ekspedisi, ritel dan aneka jenis usaha serta jasa. Di Blok Ruko AURI rata-rata mereka pemainnya. Menggelontorkan berbal-bal produk tekstil dan garmen dari pabrik-pabrik mereka yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Setelah Blok A, Blok B, dan PGMTA beroperasi dan produk tekstil serta  garmen membanjiri Pusat Grosir Tanah Abang makin banyak warga keturunan Tionghoa menyewa dan membeli kios di blok-blok tersebut. Sebentar saja mereka sudah memimpin, meski masih bermain di produk pakaian jadi anak dan remaja.Tapi kemajuan bisnis mereka signifikan.

Berbagai komunitas etnik ini berbaur dan berinteraksi di Pusat Grosir Tanah Abang, lengkap dengan budaya asal dan kebiasaan hidup sendiri-sendiri.Mereka juga saling menikah dan berbesanan.Menjadi darah campuran dalam harmoni Tanah Abang. Anak-anak dan remajanya juga tumbuh bersama semua komunitas etnis itu dan menghasilkan bentuk kebudayaan baru: kebudayaan Tanah Abang. Kebudayaan baru ini hidup dan eksis membentuk masyarakat baru meski tidak semuanya bedomisili di Tanah Abang.

Apa ciri-ciri kebudayaan baru Tanah Abang tersebut? Bang Uci menyebutkan beberapa hal antara lain makin kentalnya budaya pedagang. Menurut Bang Uci warga Betawi Tanah Abang dulunya adalah petani, mereka bersawah dan berladang, meskipun tak setelaten dan seintens petani Jawa, tetap saja mereka berkultur petani. Gelombang besar pedagang yang masuk Tanah Abang sejak awal abad ke-17, perlahan-lahan mengubah semua itu.“Mereka kini menjadi masyarakat yang melek dagang, apa aja didagangin,” kata H. Uci.

Mulai dengan berdagang sayuran dan buah-buah dalam skala kecil, sampai berdagang  kain, kelontong, makanan, tanah, kambing dan sebagainya. “Banyak juga yang sempat memiliki kios di Blok A, meski satu persatu kemudian dijual lagi untuk naik haji, kawin lagi atau mengawinkan anak,” katanya lebih jauh.

Budaya dagang ini kemudian—sesuai dengan perkembangan permintaan dan perubahan situasi kondisi di Tanah Abang—meningkat menjadi dagang jasa, seperti jasa kost, kontrakan, laundry, parkir, perantara jual beli mobil, jual beli tanah, jual beli kios, jasa keamanan dan seterusnya. “Mana ada Betawi lain yang seperti di Tanah Abang ini di Jakarta, ada sedikit mungkin di Mangga Dua, tapi nggak sesemarak di sini,” katanya lagi.

Dalam kebudayaan seperti ini uang menjadi penggerak dan pemotivasi segalanya. Nilai-nilai kebersamaan dan  gotong royong memudar. Semua kini dihitung dengan uang, imbalan materi dan semacam itu.“Dulu kalau mau ngawinin anak semua saudara urunan membantu, kini boro-boro. Dulu kalau mau naik haji pasti diramein, sekarang terbatas pada keluarga dekat aja.Dulu mau bangun rumah atau nyari modal usaha gampang, banyak yang bisa dimintai tolong, sekarang semua ngotot mau ngurus keluarga sendiri lebih dulu, kecuali ada imbalannya, uang,” ungkap Bang Uci menggambarkan pergeseran kultural yang dialaminya.

Yang lebih parah menurut tokoh masyarakat Betawi Tanah Abang ini adalah makin tipisnya sentimen kekerabatan dan kekeluargaan.Silaturahmi tak dianggap penting lagi. Sanak saudara tak saling memperkenalkan anak-anak cucu mereka, anak-anak tak kenal lagi ncang dan ncing mereka, anak SD saja tak mau lagi diajak ke rumah sanak saudara ayah ibunya, apalagi yang remaja, dan orang tua tak tega memaksa. Akibatnya kunjungan antar keluarga makin jarang, kerukunan berkurang.Jika hari besar tiba seperti lebaran memang masih ada kumpul-kumpul sebentar di rumah kerabat tertua, namun selanjutnya daya tarik mall dan tempat-tempat rekreasi lebih kuat.Sanak keluarga juga lebih suka berlama-lama dengan relasi bisnis mereka daripada makan ketupat bersama kerabat.

“Ini parah.Saya sering diminta meredam konflik di Tanah Abang sini, sampai mau bunuh-bunuhan segala, tapi usut punya usut tenyata mereka pada bersaudara, cuma tidak saling kenal. Gila nggak tuh?: sergahnya.

Yang lebih gawat konflik karena harta warisan makin sering terjadi, apalagi jika mengingat NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) kawasan seputaran Tanah Abang sudah mencapai Rp 30  juta – Rp 35 juta per meter2. Hal yang sama terjadi dalam konflik bersaudara dalam memperebutkan hak-hak kepengurusan rumah-rumah kost. “Sesuatu yang tak terbayang akan pernah terjadi dulu, sekarang terjadi setiap saat, semua karena uang telah menjadi pegangan segalanya, orang hanya memikirkan dirinya sendiri,  tak lagi peduli sanak saudara dan kerabat,” keluh Bang Uci,

Menguatnya individualisme di kalangan warga Betawi di Tanah Abang  sebenarnya juga mulai terasa di kawasan-kawasan lain yang rata-rata memang sudah tersentuh program-program pembangunan di ibukota, tapi kadarnya belumlah separah yang terjadi di Tanah Abang. Di Jagakarsa atau Kebagusan misalnya masih banyak dijumpai warga Betawi yang menampakkan budaya aslinya sebagai etnis yang terbuka, ramah tamah, apa adanya, memiliki semangat kebersamaan tinggi, sangat menghormati orang yang lebih tua, menempatkan sentimen kekeluargaan di atas segalanya dan nilai-nilai luhur normatif lainnya, tapi di Tanah Abang semua itu tampaknya sudah tergerus dan suatu saat akan hilang selamanya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s