Perubahan Budaya di Tanah Abang

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

H. Sanusi Saleh (69) tercenung ketika ditanya masa kecilnya di Tanah Abang. Pria berperawakan tinggi dengan hidung mancung mirip warga negara Turki Osmani yang sehari-hari dipanggil Bang Uci oleh sanak kerabatnya di Jl. Lontar Bawah, Kebon Melati itu lalu menceritakan tentang Kali Krukut saat masih berair jernih. “Kami sering mandi-mandi dan bermain getek di kali itu, airnya jernih dan sejuk,” kenangnya.

Kali Krukut? Yang lewat dalam Blok F dan Ruko AURI itu? Masa sih? Itu kali kan butek amat, mana busuknya Allahurabbi dan banyak sampah lagi?

“Hmmm dulu Kali Krukut nggak butek dan bau, airnya jernih dan di pinggirannya berpasir dengan kerang-kerang kecil, persis pantai,” kata ‘ncang’ (paman)-nya Muhammad Yusuf  Muhi atau Bang Ucu Kambing, jawara Tanah Abang itu, kalem saat diwawancara di rumah kerabat istrinya di Gang Lurah, Petamburan.

Lalu berdatanganlah pendatang yang tertarik dengan manisnya gula Pusat Grosir Tanah Abang.“Tahun 1970-an, bermunculanlah pembuat tempe di sepanjang Kali Krukut, mereka membuang limbah ke Kali Krukut dan kali yang cantik itu mulai berubah.Kemudian PLN di Karet Tengsin, dekat pintu air, juga membuang solar bekasnya ke Kali Krukut, kondisi kali makin parah.Terakhir bangunan-bangunan baru bertumbuhan di sepanjang bantaran kali,” paparnya lebih jauh.

Kemudian usaha pembatikan menambah beban Kali Krukut. Batik yang banyak dibuat oleh keluarga-keluarga keturunan Tionghoa di Karet Tengsin, Pejompongan dan Bendungan Hilir itu setelah proses pencantingan dan penjemuran,  direndam lagi dalam Kali Krukut, akibatnya limbah pewarnaannya menyebabkan air Kali Krukut tercemar tambah parah.

“Saya masih ingat usaha pembatikan itu dibuat di rumah-rumah keluarga Tionghoa yang bagian belakangnya mengarah ke Kali Krukut, air kali itu jadi berwarna-warni pekat, tercemar pokoknya, sampai-sampai buaya yang dulu banyak berjemur di pinggir Kali Krukut ikut menghilang entah ke mana, nggak tahan dengan bau zat pewarna batik itu mungkin,” kata Irwan Syafei (80), warga Karet Gusuran, Setiabudi yang mengaku waktu SD-nya pada tahun 1930-an sering dihabiskan dengan teman-teman sekolahnya di pinggiran Kali Krukut. Irwan menambahkan, meski demikian usaha pembatikan di pinggiran Kali Krukut itu baru menghilang tahun 1980-an.

Makin lama makin banyak saja bangunan berdiri di kawasan Tanah Abang. Makin rapat dan makin padat, juga sumpek karena semua berdempetan menyisakan gang senggol yang untuk berpapasan dua orangpun tidak cukup dan Kali Krukut yang mewarnai masa kecil Bang Uci serta Irwan Syafei bersama teman-temannya lenyap sudah, berganti dengan  sepenggal kali berair kelabu, penuh sampah dan sangat bau. Kali Krukut memang mengalir sampai jauh, tapi dia tak cantik lagi. Melihatnya warga hanya ingin meludah dan membuang sampah, tak ada lagi yang ingin merendam tubuh dan bermain dengan airnya seperti dulu.Masa indah itu telah berlalu.

Pertumbuhan pesat komplek pertokongan, pergudangan dan perumahan untuk kost-kostan baru di Tanah Abang pada gilirannya ikut membuat rawa-rawa berisi tanaman kangkung, kebun rambutan, kebun sirih  dan lapangan bola bertanah merah menghilang pula. “Jl. K.H. Mas Mansyur, Thamin City sampai belakang HI itu dulu penuh kangkung,” kata Bang Uci. “Dari Tanah Abang Pinggir dan Petamburan sampai ke Pintu Air di Karet Tengsin sepanjang Banjir Kanal Barat itu kangkung saja sejauh mata memandang,” timpal istri Bang Uci, Mpok Nonon yang asli Petamburan.“Dan setiap halaman rumah warga di sini dulu selalu ada paling tidak dua batang rambutan,” kata Bang Uci lagi.

Tanah Abang sendiri kini menjadi salah satu dari 8 kecamatan yang ada di Jakarta Pusat. Terdiri dari 7 kelurahan yakni Bendungan Hilir, Karet Tengsin, Gelora, Kampung Bali, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan dengan luas 9,30 kilometer2 dan penduduk 31.1465 KK atau sekitar 150.000 jiwa (data Kecamatan Tanah Abang dalam Angka 2010 jumlah penduduk Kecamatan Tanah Abang 120.537 jiwa).

Dari 7 kelurahan yang ada, hanya 4 kelurahan yang langsung bersentuhan dengan Pusat Grosir Tanah Abang yaitu Kelurahan Kebon Kacang, Kampung Bali, Kebon Melati dan Petamburan. Total penduduk di 4 kelurahan ini 82.600 jiwa (Kecamatan Tanah Abang dalam Angka 2010).

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s