Permainan Anak Juga Berubah

ImageImagePerubahan kultural yang terjadi di Tanah Abang bukan hanya menyangkut perubahan gaya hidup, perubahan pola pikir, perubahan kecenderungan orientasi, dan perubahan sikap dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan, tetapi juga menyentuh kehidupan anak-anak dan remaja. Salah satunya bisa dilihat dalam perubahan permainan anak-anak.

Menurut H Sanusi Saleh atau Bang Uci (69), permainan anak di Tanah Abang banyak macamnya.“Mungkin ada sekitar 40 macam permainan, dan anak-anak perempuan memiliki lebih banyak ragam permainan,” katanya.

Bang Uci sendiri mengingat 3 permainan yang sering dimainkannya bersama teman-teman saat kecil dulu, yakni engrang, gangsing dan pletokan. “Saya suka main bola atau gundu dan layangan juga, tapi tiga permainan itu masih bisa dijumpai sampai sekarang, sedangkan engrang, gangsing dan pletokan udah jarang,” katanya.

Engrang adalah permainan menggunakan dua tongkat bambu sebagai perpanjangan kaki.Di bagian bawah batangan bambu, sekitar 50 sentimeter dari tanah, ada pijakan untuk tempat meletakkan kaki.Pemain engrang harus pandai menjaga keseimbangan badan saat melangkahkah kaki engrangnya, agar tak terjatuh. “Dulu kalau banjir kami sering mondar-mandir dari Bahaswan ke Gang Kubur atau Pasar Kambing, enak sekali di atasnya, kita menjadi jauh lebih tinggi dibanding orang-orang,” kata  Bang Uci mengenang.

Permainan gangsing, kata Bang Uci, juga seru. Gangsingnya terbuat dari bambu atau dari kayu. Putarannya ada yang diukir ada yang polos. Begitu juga tempat pakunya di mana gangsing itu bertumpu memutar setelah dilemparkan dengan tali atau benangnya ke tanah.“Kami bermain lima sampai enam orang.Bertanding siapa yang gangsingnya paling lama berputar,” katanya.

Sedangkan pletokan adalah permainan dengan dua batang bambu panjang dan pendek. Bambu yang pendek diletakkan di lubang yang dibuat di tanah dan dipukul menjauh dengan bambu yang  panjang. Bambu pendek itu harus ditangkap oleh lawan main. Setiap tangkapan akan bernilai angka yang nantinya akan menentukan siapa yang menang atau kalah.

Kini, menurut Bang Uci, tak ada lagi anak-anak yang bermain gangsing atau pletokan di Tanah Abang, karena selain sudah digantikan oleh berbagai permainan modern, anak-anak juga tak bisa lagi memainkannya karena tempat bermain tidak ada.“Bermain gangsing butuh lapangan tanah keras yang luas, dulu di sini banyak pohon rambutan dengan tanah lempung atau tanah merah yang keras, kami bisa bermain gangsing sepuasnya, sekarang mana bisa? Udah rumah semua,” katanya.Main pletokan begitu pula, butuh tempat lapang dan lega, yang sekarang juga tidak mungkin lagi dimainkan di Tanah Abang yang padat dan sumpek.

Bagi Sara (41), warga Gang Lurah, Petamburan, permainan yang paling disukainya saat kanak-kanak adalah main congklak, bekel, petak umpet dan wak wak gung. Main congklak dan bekel menurutnya masih bisa bertahan dan kadang-kadang masih ada anak-anak yang memainkan karena bisa dilakukan di teras rumah atau ruang tamu.Masalahnya anak-anak itu betul yang sekarang sudah tidak tertarik, karena sibuk dengan mainan barunya yang ada di HP (handphone), BB (blackberry) atau laptop dan tablet.“Anak saya, misalnya, lebih suka BBM-an, Facebook-an atau main PS dan game online di warnet,” katanya.

Main congklak dilakukan di atas papan panjang berlobang dan dilakukan oleh dua orang.Main bekel bisa dilakukan sendiri atau berdua, berupa permainan kecekatan tangan dengan bola dan biji-bijian.Hanya main wak wak gung yang sekarang jarang sekali dimainkan.Menurut Sara itu karena permainan ini butuh tempat yang lapang.

Permainan wak wak gung dimainkan oleh beberapa anak.Bisa sampai 10 orang.Caranya, dua anak berdiri berpenggangan tangan di atas kepala membuat lorong. Anak-anak yang lain berjalan memutari keduanya dengan membentuk barisan seperti ular. Mereka kemudian memasuki lorong satu persatu.Anak yang berada di barisan paling belakang biasanya ditangkap dan dikurung dalam kungkungan lengan dua anak tadi, begitu seterusnya.

Permainan ini ada nyanyiannya:
wak-wak gung, nasinye nasi jagung,
lalapnye lalap utan,
sarang gaok di pu’un jagung, gang-ging-gung!
pit-alaipit, kuda lari kejepit… sipit!

yang disambung dengan:
tamtam buku, seleret daon delime,
pate lembing, pate paku, tarik belimbing, tangkep Satu
kosong-kosong-kosong! Isi-isi-isi….!

“Pokoknya seru dan gembira,” ujar Sara.Dia menambahkan mereka sering memainkan permainan itu di halaman rumah saat malam bulan purnama, karena bermain di bawah cahaya bulan selalu menyenangkan, “Terang dan para orang tua juga sering duduk-duduk menemani anak-anaknya bermain di teras,” kata Sara.

Sekarang semua permainan itu makin jarang ditemukan. Anak-anak di Tanah Abang kekurangan lahan bermain karena semua lahan telah dijadikan unit usaha. Ada yang membangun rumah kost, ruko-ruko, kedai, gudang, kios.“Bahkan teraspun kini banyak yang tak punya, udah dijadikan mesin uang semua,” kata Bang Uci.

Ada memang lahan pengganti seperti lapangan bulu tangkis dan futsal, tapi semua itu hanya untuk para pemuda dan orang dewasa.Itupun tidak gratis, ada uang pangkal sebagai member dan iuran bulanan. “Anak-anak mana punya duit dan boleh main di sana?” sergah Bang Uci.

Namun yang tak bisa dilawan adalah pengaruh teknologi telekomunikasi dan informasi seperti internet dan jejaring sosial.‘Anak-anak Tanah Abang sekarang sibuk dengan dunia barunya, kaya orang idiot dengan earphone selalu di kuping, angguk-angguk geleng-geleng atau senyam-senyum sendiri, udah nggak bisa lagi diajak ngomong,” ujar Bang Uci lucu.

Dia juga menyebut kuatnya pengaruh PS (playstation) dan game online. “Ni orang sebelah tiap hari ngadepin anaknya yang melolong-lolong minta duit untuk main PS atau game online, kuping sampai pengang dengerinnya,” katanya  sambil menutup kedua kupingnya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s