Sekarang Serba Itung-itungan

ImageImageMeski tak hilang, kebudayaan Betawi di Tanah Abang berubah jauh dari aslinya. Di Tanah Abang makin susah kita temui kebersamaan yang tulus, gotong royong, keramahan tanpa pamrih dan syakwasangka, toleransi tinggi, dan sikap saling menghargai. Semua nilai-nilai positif  Budaya Betawi ini tergerus kebudayaan baru akibat pergumulannya yang instan dengan kebudayaan para pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang yang telah berlangsung selama 278 tahun, sejak Pasar Tanah Abang pertama kali dibuka.

Tokoh masyarakat Betawi Tanah Abang H. Sanusi Saleh atau Bang Uci (69) mengatakan indikasi pergeseran itu terlihat nyata dalam sikap hidup sehari-hari. “Sekarang semuanya dilihat dari sisi keuntungannya, ada uangnya nggak , untungnya apa buat gue, kalau cuma kumpul-kumpul nggak tau juntrungannye dan nggak ada duitnye males ah,” katanya menirukan fakta yang sering ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Abang.

Menurut Bang Uci, dulu kalau orang Betawi di Tanah Abang mau hajatan—kawinan, sunatan, naik haji–semua kerabat dan anggota keluarga besar akan menyumbangkan apa saja dengan senang hati, sekarang mulai banyak yang hanya numpang lewat. “Kalaupun membantu pasti nitip aja lewat yang lain, tak mau lagi terganggu waktunya dengan datang bersilahturahmi,” ujar dia.

Anak-anak dan remaja juga mulai enggan jika diajak bersilahturahmi ke rumah famili. “Yang masih di SD aja udah ogah sekarang diajak silaturahmi, apalagi yang remaja, udah sibuk di luaran dengan teman-teman sebaya atau di kamar aja main game atau BBM-an, dan orang tua sekarang juga tak bisa memaksa, karena mereka juga mulai males kumpul-kumpul, padahal dulu yang Betawi itu ya itu kumpul-kumpul, saling mengenalin saudara dan kerabat, sekarang apa coba? Banyak yang nggak kenal ncang, ncing, atau sebaliknya nggak tau lagi mana yang ponakan mana yang cucu, kalau udah berentem baru ketauan masih saudara, prihatin saya,” katanya.

Sekarang, menurut Bang Uci, apa-apa uang.‘Mau ngapain aja diliat dulu untung ruginya, bisa jadi uang nggak, kalau nggak ya tak usah aja, nggak tua nggak muda nggak perempuan nggak laki begitu semua pikirannya, ngeri saya,” katanya. Bang Uci mengatakan bukannya dia tidak mengerti tuntutan zaman, tapi uang tak seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam setiap urusan. “Nenek moyang kita dulu sudah menunjukkan bahwa kekeluargaan dan kebersamaan jauh lebih berharga dibanding uang, meski uang itu juga perlu,” tegas dia.

Bang Uci mengaku sedih melihat anak, cucu dan keponakannya sekarang seperti memelihara jarak dan tenggelam dalam kehidupan  masing-masing. Tak ada lagi kemanisan hidup seperti dulu, ketika orang Betawi di Tanah Abang suka berkumpul dan minum kopi di rumah-rumah kerabat, sambil bercerita dan bercanda ngalor ngidul. “Apalagi sekarang sudah banyak yang pindah karena menjual tanah dan rumah, makin sepi aja kita,” katanya.

Egoisme juga meningkat, kata Bang Uci, apalagi kalau sudah menyangkut tanah dan rumah.“Bisa bunuh-bunuhan sekarang, maklum harga tanah di sini udah mahal, Rp 35 juta per meter2, nah makin banyak konflik jadinya,” ujar dia lebih jauh.

Perubahan sikap budaya Orang Betawi di Tanah Abang juga mulai berbentuk pengabaian rasa penghargaan pada orang lain, misalnya pemalakan dan sikap tak peduli pada masalah orang lain. Peristiwa ‘anak-anak wilayah’ yang sampai membaret mobil orang, melemparkan dagangan orang ke comberan, atau mengancam akan membunuh PKL yang tidak mau membayar  uang buka lapak, iuran keamanan dan sebagainya, menurut Bang Uci sangat tak Betawi. “Itu pasti bukan Anak Betawi, tak ada Orang Betawi yang kaya gitu,” katanya tegas.

Meskipun bergeser, Kebudayaan Betawi di Tanah Abang diyakini takkan hilang.  Antropolog Universitas Indonesia dan Pakar Kebudayaan Betawi Prof Dr Yasmine Z Shahab mengatakan, Kebudayaan Betawi tidak akan punah karena saat ini orang Betawi sudah sangat sadar akan identitasnya.

Kepada Kompas.com Prof Yasmine mengatakan Budaya Betawi pasti berubah, tapi takkan punah. Kebudayaan Betawi di berubah lebih cepat dari yang lain, karena etnis ini berada di jantung ibukota negara, di mana masyarakatnya sudah sangat multi etnis, apalagi Kebudayaan Betawi sangat dinamis. Selain orang Betawi mulai sadar dengan identitasnya, menurut Yasmine, budaya Betawi banyak yang dijadikan komoditas dan saat ini diuntungkan lagi dengan adanya politik etnik.

“Jadi tidak usah takut Budaya Betawi akan hilang, yang akan ada adalah berubah.Kalau Orang Betawi khawatir berubahnya terlalu jauh, mereka harus berperan melestarikan budaya yang asli,” kata Yasmine.Yasmine yakin perubahan Budaya Betawi itu hanya di sektor publik, sementara di sektor privat atau domestik mereka masih mempertahankan budaya asli.

Semoga keyakinan ini juga dimiliki oleh Bang Uci dan para sesepuh etnis Betawi di Tanah Abang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s