Tak Ada Preman di Tanah Abang

ImageTerkait soal aksi premanisme di Tanah Abang para PKL punya cerita beragam. Seorang PKL yang mangkal di dekat Blok F1 mengaku dia dimintai Rp 4 juta sebulan, padahal dagangannya cuma cendol beras. “Berapalah penghasilan saya sehari, tapi mereka tak mau tahu, kalau tak mau bayar segitu saya disuruh pindah dan tak boleh dagang di situ lagi,” kata pedagang yang mengaku bernama Juanda (33) itu.   

Rp 4 juta itu berarti sekitar Rp 133.000 per bulan. Yossi (35) mantan PKL di Jl. Kebon Jati mengatakan iuran segitu masuk akal, karena menurut dia PKL di Jl. Jati Baru dan Jl. Kebon Jati rata-rata dipungut Rp 100.000 per hari  atau Rp 3 juta sebulan. “Ada teman saya yang cuma jualan macam-macam kerupuk  dimintai Rp 70.000 sehari, entah berapa yang bisa dia bawa pulang,” kata Yossi.   

Soal pungutan itu para pedagang yang membuka kios di sepanjang Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, l. K.H Mas Mansyur, Jl. K.H Wahid Hasyim membenarkan. Menurut mereka pungutan itu mau tak mau harus dibayar kalau memang ingin berjualan di Tanah Abang. Kalau tidak ya tidak boleh buka lapak. Kalau nekad juga buka atau menyempil di lapak kawan pasti bakal ketauan juga oleh ‘anak-anak wilayah’ sebutan untuk preman setempat yang melakukan pungutan ke lapak-lapak mereka. Dan para PKL—terutama yang berjualan pakaian–tak mempermasalahkannya. Mereka beralasan penghasilan mereka masih bisa menutupi pungutan liar tersebut, karena transaksi mereka dalam sehari Rp 200.000 – Rp 500.000. 

“Mereka terpaksa bayar karena ingin dapat lokasi untuk berdagang, karena menyewa kios di Blok F, Blok B, atau Blok A tidak mungkin, sewa termurah saja di Blok F1 sudah Rp 36 juta per meter2, itu berarti untuk kios berukuran 2 X 2 saja sudah Rp 144 juta, mana sanggup mereka,” kata Darman (52) pedagang yang mengaku sudah berdagang di Tanah Abang sejak tahun 1996.

Darman menambahkan saat-saat menjelang lebaran dan sesudah lebaran adalah saat panen para preman. “Kantong mereka penuh duit tuh sekarang,” katanya saat ditemui di kawasan Pasar Tasik Jati Baru 14 Agustus 2013.  Soalnya saat itulah para preman memungut THR yang berbeda lagi dengan uang sewa lokasi lapak. Besarannya kata Darman Rp1,5 juta sebelum lebaran dan Rp 1,5 juta sesudah lebaran. “Bisa dibayangkan berapa kerugian mereka pada lebaran tahun ini,” ujar pedagang jeans di Blok F1 ini lagi.

Yang parahnya, selain membayar Rp 100.000 per hari atau langsung Rp 3 juta sebulan, para PKL masih digetok lagi berupa uang rokok, uang sampah, uang teh botol  oleh banyak preman berbeda. “Kelompoknya banyak, pusing kita menghadapinya,” kata Darman.“Dalam sehari bisa sampai 20 kali mereka datang,” ujar Darman menirukan keluhan para PKL yang pernah curhat kepadanya.   “Ada yang minta Rp 1.000, Rp. 2.000, Rp 5.000, dan Rp. 10.000, uang pencarian adik-adik itu habis untuk membayar para preman saja,” katanya.

Namun dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo 19 Agustus 2013 H. Abraham Lunggana atau H Lulung,  tokoh masyarakat Tanah Abang yang juga Wakil Ketua DPRD DKI  dan pembina kelompok seni Sikumbang Tenabang, mengatakan tidak ada preman di Tanah Abang. “Yang ada itu ‘anak-anak wilayah’ dan mereka tidak memaksa, pungutan diberikan secara sukarela,” tegasnya. Menurut H. Lulung para PKL butuh tempat berdagang, ‘anak-anak wilayah’ menyediakannya dengan tarif tertentu. “Rp 1 juta, Rp 2 juta, Rp 500.000 tergantung kesepakatan, lalu ada iuran kebersihan, keamanan dan seterusnya, tak ada paksaan sama sekali,” katanya. Yang tak disebut H. Lulung lahan lapak yang dikomersialkan oleh ‘anak-anak wilayah’ tersebut merupaka lahan publik atau area umum yang tentu saja tidak boleh dikuasai atau dikomersialkan oleh unsur publik pula secara semena-mena.

H. Lulung menambahkan, dia memang mengatur pendapatan sekitar 7.000 ‘anak wilayah’ di Tanah Abang. “Saya berkoordinasi dengan Ketua RW setempat, masing-masing RW mengirim beberapa remaja putus sekolah atau pemuda pengangguran, mereka lalu membentuk titik parkir dan mengatur pungutan di lapak-lapak, uangnya ya untuk mereka dan RW setempat, pandai mereka mengaturlah, saya nggak ikut-ikut,” katanya. Lulung berkilah caranya itu merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah pengangguran di Tanah Abang.

H. Lulung disebut juga memikirkan nasib para PKL yang tak mendapat kios di Blok G. Banyak dari mereka yang kocar-kacir tak tertampung karena alasan administratif kependudukan atau karena  memang merupakan pedagang lama yang dulu menelantarkan kiosnya di Blok G. Sebagian mereka pindah menjadi PKL di Pasar Malam Monas, sebagian lagi keliling tak tentu arah sampai ke Cideng, Pesing atau mencari-cari kesempatan berdagang malam di berbagai tempat di kawasan Tanah Abang.

“Bang Haji menaruh perhatian akan nasib mereka, jadi beliau membuat lapak-lapak baru dalam kawasan Jati Baru dan menyewakannya pada para PKL, “ ujar Dayat (42).  Lapak-lapak tersebut misalnya terlihat di Jl. Jati Baru X, kawasan yang termasuk daerah binaan warga Jati Baru. H. Lulung, kata Dayat,  bekerjasama dengan RT dan RW melibatkan ‘anak-anak wilayah’ setempat, H. Lulung berinisiatif membuatkan lapak-lapak berupa lantai kayu tanpa dinding di atas selokan dan menyewakannya Rp 7 juta per meter per bulan, atau Rp 84 juta per tahun. “Uangnya dikoordinir RT, RW dan ‘anak-anak wilayah’ dan digunakan untuk keperluan wilayah,” kata Dayat lebih jauh.

Namun beberapa pedagang di Jl. Jati Baru X mengatakan untuk membangun lapak-lapak tersebut para pedagang dipungut Rp 100.000 – Rp 200.000 per kios. “Memang tak ada paksaan, sukarela nyumbanglah, demi kebaikan dan keamanan bersama, ” ujar Yunus (56) salah satu pedagang. Cuma dia menguatirkan selokan yang ditutup tanpa dibersihkan lebih dahulu. “”Kalau hujan banjir Pak, tapi biasanya bisa diatasi dengan menggali atau mengangkat sampah yang menumpuk,  sekarang selokannya ditutup, bisa dibayangkan bagaimana nanti jadinya,” katanya sambil angkat bahu.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s