Situs-situs Penting di Tanah Abang–Pasar Kurma

Tanah Abang bukan cuma pasar yang menjadi pusat grosir tekstil dan garmen terbesar dan termurah di Asia Tenggara, atau sentra busana muslim terbesar yang bahkan mengalahkan negara-negara muslim lainnya di dunia, Tanah Abang juga merupakan kawasan yang memiliki banyak situs yang erat kaitannya dengan sejarah perkembangan dan pertumbuhan Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia.  Berikut beberapa situs penting yang perlu dikenali di Tanah Abang.

Pasar KurmaImage

Tanah Abang dikenal sebagai pusat penjualan kurma terbesar di Indonesia. Kurma, palem-paleman yang banyak tumbuh di Timur Tengah memiliki buah yang erat hubungannya dengan nilai-nilai tradisi keislaman. Umat Islam menjadikannya makanan pembuka utama saat berbuka puasa di bulan Ramadhan, sebuah penafsiran dan contoh teladan dari sunnah Nabi Besar Muhammad SAW yang salah satunya berbunyi, “Berbukalah dengan yang manis.”

Tak ada yang tahu kapan persisnya pasar kurma ini dimulai, tapi ceritanya hampir seragam. Diinspirasi oleh kebiasaan rombongan haji yang pulang dari menunaikan ibadah haji di Mekkah membawa oleh-oleh khas tanah suci seperti kurma dan air zam-zam untuk sanak kerabatnya yang menunggu di tanah air, beberapa jemaah haji yang berdagang di Tanah Abang mulai mengimpor kurma dari Mekkah dan Madinah. Sumber lain mengatakan kurma pertama kali diperkenalkan pedagang Arab sendiri di Tanah Abang, itu mungkin juga, karena pedagang Arab sudah biasa melakukan perdagangan internasional sejak zaman Nabi Isa, jauh sebelum Agama Islam dikenal.

Yang jelas kini Tanah Abang menjadi pusat penjualan kurma dan oleh-oleh haji terbesar di Indonesia.Semua pedagang kurma dari Sabang sampai Merauke membeli kurma dari Tanah Abang. Mereka biasa memesannya dua bulan sebelum Ramadhan dan dua pekan menjelang bulan puasa kurma yang dipesan sudah sampai ke pemesannya di berbagai daerah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, NTT, NTB, Ambon, Papua dan seterusnya.

Lokasi penjualan kurma diTanah Abang terdapat di sudut prapatan Jl. Kebon Jati, Jl. K.H. Mas Mansyur dan Jl. H. Fachruddin. Menempati bedeng-bedeng milik JTTC (Jembatan Tanah Abang Trade Centre) atau Blok C Pusat Grosir Tanah Abang yang disewa Rp 5 juta per bulan, pusat penjualan kurma ini memanjang dari utara ke selatan, sampai ke jembatan penyeberangan Yayasan Said Naum dan Mesjid Al Makmur. 

Sebelum penertiban 11 Agustus 2013, pusat penjualan kurma serta oleh-oleh umroh dan haji ini bercampur aduk dengan tenda-tenda penjual makanan dan minuman seperti soto Betawi, nasi uduk, mie ayam, sate Padang, ketoprak, es campur dan lain-lain, selain itu juga diselang-selingi area parkir liar yang memenuhi badan jalan. Pengunjung yang mencari kurma atau oleh-oleh lain seperti kacang Arab, coklat Arab, teko-teko kecil berwarna keemasan dan keperakan, tasbih, mukena, sajadah, minyak wangi, dan peci khas Arab harus berjalan tersuruk-suruk di gang yang kiri kanannya dipenuhi kios para pedagang. Gang itu sendiri sebenarnya trotoar karena kios-kios itu sudah luber sampai ke jalan sampai beberapa lapis. Kini kios-kios penjual kurma berjejer rapi di tepi trotoar.

Berbagai jenis kurma dijual di sini ada kurma Tunisia atau Palmfruit yang harganya per box Rp 15.000 – Rp 20.000, atau Rp 60.000 – Rp 70.000 per kilogram, kurma Madinah atau kurma Lulu Alsaad Rp 35.000 per kilogram, kurma Palestina Rp 160.000 per kilogram, kurma nabi super atau kurma Ajwa Rp 350.000 – Rp 400.000 per kilogram, kurma nabi biasa Rp 300.000 per kilogram, kurma Mesir atau kurma madu Rp 25.000 – Rp 35.000 per kilogram, dan kurma Medjool atau kurma California Rp 200.000 per kilogram. Ada pula kurma premium yang harganya rata-rata di atas Rp 300.000 dan dikategorikan setara rasa dan khasiatnya dengan kurma nabi yang dipercaya baik untuk kesehatan.

Sesuai fungsinya sebagai makanan untuk berbuka puasa, perdagangan kurma marak setiap akan memasuki bulan suci tersebut. Bahkan para pedagang pakaian akan beralih profesi menjadi pedagang kurma. “Karena untungnya besar Bang,” ujar Karim (33) salah satu pedagang. Menurut dia omzet perdagangan kurma jelang bulan puasa bisa mencapai Rp 10 juta per hari, sedangkan pada hari-hari biasa hanya berkisar Rp 3 juta per hari. Karena keuntungan yang besar ini pedagang tidak segan-segan menimbun stok kurma sampai 400 persen dari hari biasa. Lagipula mereka berdalih, kurma itu bisa tahan sampai setahun.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s