Situs-situs Penting di Tanah Abang–Museum Tekstil

ImageDi sisi barat Kanal Banjir Barat atau yang oleh warga Tanah Abang sering disebut Kali Baru, karena memang lebih baru—dibangun tahun 1965 untuk kepentingan kelistrikan dan antisipasi banjir–dari Kali Krukut yang juga mengaliri kawasan ini, tepatnya di tepi Jl. Aiptu K.S. Tubun  terdapat sebuah bangunan tua yang sangat terawat baik, terutama jika dibandingkan dengan bangunan tua di sebelah dan di seberang depannya, di sisi selatan Jl. Aiptu K.S. Tubun, yang telah kosong dan ditinggalkan.

Itu bukan sembarang bangunan, tapi merupakan bangunan penyelamat koleksi tekstil negara kita. Lebih dari 1.900-an koleksi kain disimpan di sini, dari ulos, songket khas Sumatera dan Kalimantan, tenun ikat dari Sumba, Flores, Maluku, atau tenun krinsing Bali, macam-macam batik dari Jawa, sampai aneka kain tradisional dari Jepang, Malaysia, Mesir, India dan Sri Lanka.

Indra Riawan, Kepala Museum Tekstil mengatakan museum ini rutin menyelenggarakan pameran, seminar dan workhop setiap tahun. “Utusan kedubes atau malah Dubes Jepang, Jerman, Inggeris, Amerika, Australia menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan yang kita selenggarakan,” katanya. Kegiatan paling mutakhir Museum Tekstil adalah pameran tenun ikat dari Timor Leste yang digelar mulai 19 September 2013.

Batik mendapat tempat khusus di museum ini, mungkin karena batik adalah kain unggulan Indonesia atau karena jauh lebih mudah mengumpulkannya dari kain jenis lain, yang jelas di museum ini selain disimpan berbagai macam batik dari seluruh penjuru tanah air.

Di bagian belakang juga terdapat pendopo di mana pengunjung yang berminat bisa merasakan bagaimana asyiknya membatik. Di pendopo ini disediakan peralatan membatik dan instruktur yang akan mengajari pengunjung membatik.

Tamu dari mancanegara sangat suka menikmati pelayanan ini. Mereka bisa membatik berjam-jam dengan ketekunan yang sama dengan para pembatik tradisional di Pekalongan, Lasem, Semarang, Batavia, Surakarta, Wonogiri, Madura, Kudus, Kedunguni, Pacitan, Ponorogo, Banyumas, Garut, Tasikmalaya, Tegal, Batang, Solo, Cirebon, Yogyakarta atau Jepara.

ImagePengunjung bisa belajar apa saja yang menyangkut batik di sini. Dengan membayar sedikit lebih, Rp 40.000 per orang,  mereka bisa diajari membatik, mulai dari proses menjiplak pola atau gambar, mencanting, mencelup, sampai mewarnai.

Di taman dekat pendopo ini ditanam berbagai macam tanaman yang kulit, daun atau akarnya digunakan para pengrajin kain zaman dahulu untuk mewarnai kain buatan mereka.

Keberadaan Museum Tekstil di dekat Pusat Grosir Tanah Abang makin menguatkan posisi Tanah Abang sebagai sentra pemasaran produk tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara. Sayangnya tak ada koleksi yang menggambarkan  pertumbuhan bisnis tekstil di Pusat Grosir Tanah Abang di sana, baik berupa foto, diorama ataupun contoh-contoh kain yang pertama kali dipasarkan di Tanah Abang, mungkin karena pedagangnya sibuk berdagang untuk memperkaya diri masing-masing saja sehingga lupa berbuat sesuatu untuk mengenang sejarah mereka sendiri, termasuk para pendiri dan pemilik industri raksasa  tekstil dan garmen yang produksinya sudah membanjiri Pusat grosir Tanah Abang sejak 278 tahun silam.

Bangunan Museum Tekstil sendiri awalnya adalah kediaman seorang bangsawan Perancis yang membangun rumah tersebut awal abad ke-19. Rumah itu dibeli seorang pedagang Cina, kemudian dijual pada dan digunakan sebagai kediaman seorang Konsul dari Turki, Abdul Azis Almussawi Al Katiri. Selanjutnya rumah tersebut dijual kepada Dr. Karel Christian Cruq.Tahun 1942 dipakai sebagai markas BKR (Barisan Keamanan Rakyat) sebelum menjadi rumah tinggal Lie Sion Pin. Tahun 1952 bangunan ini dibeli oleh Departemen Sosial, lalu 25 Oktober 1975 dialihkan ke bawah penanganan Pemda DKI Jaya. Ny.Tien Soeharto, selaku ibu Negara pada waktu itu, meresmikannya sebagai Museum Tekstil pada tanggal 28 Juni 1976.

Sebelum penertiban kawasan Tanah Abang 11 Agustus 2011, Museum Tekstil pernah mengalami nasib seperti permata dalam lumpur, karena keberadaannya tertutup kemacetan lalu lintas yang amat parah di Jl. Aiptu K.S. Tubun di depannya, juga oleh para PKL yang berdagang barang-barang loak di trotoarnya, bahkan selama bulan puasa atau Ramadhan halamannya yang luas sempat pula dikomersilkan menjadi lahan parkir.Image

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s