Situs-situs Penting di Tanah Abang: Bongkaran

 

Image

Bongkaran merupakan situs kontroversial di Tanah Abang. Diakui malu, karena Bongkaran dianggap sebagai aib yang terpaksa diterima Tanah Abang. Tidak diakui dia nyata ada di Tanah Abang. Bongkaran jadi masalah karena dia adalah lokalisasi liar untuk konsumsi masyarakat kelas bawah di kawasan Tanah Abang dan sekitarnya.

Tak ada yang tahu pasti kapan Bongkaran berdiri, bahkan nama Bongkaran itu sendiri mengundang banyak penafsiran. Tokoh masyarakat Betawi di Tanah Abang H. Sanusi Saleh atau Bang Uci (69) mengatakan, waktu dia kecil Bongkaran dan aktivitas prostitusinya sudah ada juga.

Ada beberapa konotasi yang bis dikaitkan dengan asal usul nama Bongkaran, kata Bang Uci. Satu banyaknya gudang arang dan aktivitas bongkar muat arang dari kereta api ke gudang-gudang arang tersebut yang lokasinya menurut Bang Uci berderet di lokasi Pasar Tasik Jatibaru atau di depan Stasiun Tanah Abang sekarang. “Gudangnya banyak, sampai ke Lontar sini, dulu ada jaringan rel sampai ke Lontar sehingga ada wilayah kecil di sini yang disebut Sepuran, itu dari kata sepur yang sering mondar-mandir di sana,” katanya.

Kemungkinan lain karena Tanah Abang jadi pusat sumber sayur mayur yang didistribusikan ke berbagai kawasan lain di Jakarta, seperti Senen, Kota, Jatinegara dan sekitarnya. Sebaliknya berbagai jenis buah-buahan masuk ke Tanah Abang dari berbagai kampung di Jawa Barat seperti Parung, Bogor Serpong dan Merak. Aktivitas bongkar muatnya bisa memunculkan nama Bongkaran. “Kalau mau makan duren sampai perut meletus di stasiunlah tempatnya, saking banyaknya duren masuk Tanah Abang dari Parung dan sekitarnya,” kenang Bang Uci. Dia menambahkan bukan hanya duren yang melimpah dan dibongkar para kuli di stasiun, buah-buahan lain seperti manggis, papaya, pisang dan mangga juga banyak.

Kemungkinan ketiga banyaknya aktivitas bongkar muat oleh armada truk yang mendistribuksikan produk tekstil dan garmen dari Pusat Grosir Tanah Abang ke berbagai kota di Jawa, Sumatera dan Bali. Dan sebaliknya produk tekstil dan garmen dari pabrik-pabrik tekstil di Jawa Barat,  Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dibongkar di Jakarta untuk dijual di Pusat Grosir Tanah Abang. “Saya tak bisabpastikan yang mana yang menjadi asal usul nama Bongkaran, mungkin juga masih ada lagi asal namanya sebelum saya lahir,” kata Bang Uci lagi.

Tak masalah, dari manapun asal namanya, Bogkaran telah menjadi aikon yang melekat dengan Tanah Abang.Aikon yang berkonotasi negatif tapi tak dapat dielakkan, seperti kanker yang sudah terlanjur menjalar dalam tubuh.Image

Bongkaran berlokasi di 5 titik, yaitu sepanjang rel kereta api, di bawah jembatan kembar Jati Baru, sepanjang Jl. Jati Baru di deretan stasiun dan Pasar Tasik Jati Baru, di jembatan penyeberangan Blok G, di sepanjang Jl. Jati Bunder dekat pangkalan truk Jati Bunder dan di Jembatan Kali Baru.

Lokalisasinya memang tidak berupa komplek tertutup, melainkan terpisah-pisah secara segmentif. Masing-masing membentuk lapak berupa kedai-kedai minuman beratap tenda plastik atau terpal berukuran 2 meter X 2 meter, 3 meter X 4 meter atau 4 X 6 meter tergantung kekuatan modal finansial pemiliknya. Di dalamnya terdapat meja dan bangku panjang, di ats meja disusun beberapa botol bir dan kacang-kacangan. Birnya ada yang merek Bintang, Anker, Guiness, atau bir oplosan yang mereka sebut Ciu dan bir pletok. Dulu katanya ada juga minuman keras merek TKW, Kambing Putih (kamput).Ada pula Scott, Mansion, Brandy, Wishky dan Vodka.Tapi nama-nama terakhir ini mungkin cuma botolnya saja, isinya entahlah. Soalnya bagi mereka  jenis dan merek minumannya sudah campur aduk saja.

Di bangku panjang itu duduklah para PSK berpakaian minim tapi berdandan maksimum, berusia  25 – 40 tahun. Sebagai penarik pemilik lapak memutar lagu-lagu berirama dangdut dari loudspeaker murahan sekeras mungkin. Hingar bingar jadinya karena tidak jelas lagi mana yang mau didengar, Agar para hidung belang makin tertarik maka menjelang tengah malam lampu-lampu di tenda dimatikan, diganti dengan lampu diskotek yang berpendar warna-warni. Pendar cahayanya bias dilihat dari Jl. Jati Bunder VII, mewarnai langit malam.  Pengunjung dan PSK pun mulai duduk merapat atau berdiri untuk berjoget, ada pula yang berkaraoke seadanya menirukan lagu dangdut yang mendayu-dayu, meski suara mereka sering tak terdengar kalah dengan hingar-bingarnya musik sejenis dari puluhan loudspeaker dari diskotek tenda tetangganya. Kemudian pasangan itu menghilang satu persatu ke gerbong-gerbong kosong di belakang tenda atau di bilik-bilik kecil di samping tenda.

Bilik-bilik  itu hanya diterangi lampu 5 watt dan ada ranjang kayu beralaskan kasur tipis dengan seprai lusuh. Di ranjang reot itulah hasrat seksual dilampiaskan.Tentu saja tanpa kondom atau alat pengaman lainnya, karena harga kondom saja Rp 15.000 – Rp 25.000.  Para pelanggan lebih suka membeli rokok atau minuman, atau main lagi dengan PSK lainnya daripada membuang untuk kondom, karena tarif rata-rata sekali kencan di sana hanya Rp 50.000.Tidak jarang Rp 20.000 juga diterima karena kepepet. Maklum para PSK di sini umumnya menjadi tulang punggung ekonomi untuk keluarga mereka di kampung dan mereka sering tidak tahan dengan rengekan anak atau orang tuanya yang minta biaya sekolah, biaya dapur dan sebagainya.

Dulu di sini dikenal pula gerobak sorong yakni gerobak yang bisa jalan di rel dan digunakan untuk alas main.Selesai digunakan gerobak itu dikembalikan ke tempatnya di belakang diskotik atau karaoke tenda tadi.

Di atas atau di sepanjang Jl. Jati Bunder yang menyambung ke Jembatan Jati Baru, lain lagi modelnya. Lapak-lapaknya lebih kecil, makanan ringan dan minumannya masih sama—karena pemasoknya juga sama, bangku-bangku tidak banyak, para PSK duduk di pagar alumunium pembatas trotoar dengan jalan. Mereka duduk berjejer sampai 6 orang, dengan paha tersingkap dan baju berleher rendah.

Pola transaksi di pinggir jalan ini agak lebih cepat, karena tempat duduk dan ngobrolnya tidak nyaman. Musik juga tidak ada, bilik-bilik kenikmatan apa lagi. Kalau ada kecocokan harga pasangan akan menghilang ke truk-truk yang ada di pangkalan. Lalu dengan menggunakan karus-kardus atau kertas koran sebagai alas berlangsunglah aksi tukar-menukar jasa tersebut. Bisa di kolong truk, bisa di atas truk, terserah karena pelanggan umumnya juga supir atau kenek truk tersebut.Ada juga yang ke hotel-hotel di sepanjang Jl. Jati Baru. Banyak hotel bertarif Rp 50.000 – Rp 100.000, tapi ini jarang dilakukan, karena diangap mahal dan tak perlu.

Yang di Jembatan Kali Baru beda lagi, Modelnya lesehan. Pengunjung dan PSK duduk melingkari tumpukan minuman dan makanan ringan di atas tikar atau karpet plastik atau duduk berdampingan di trotoar jembatan.Transaksinya cepat juga karena keadaan. Eksekusi bisa di truk atau di toilet bawah jembatan penyeberangan ke Blok G. Toilet itu kini telah dirobohkan oleh satpol PP karena pengaduan masyarakat.

Yang di jembatan penyeberangan  transaksi berlangsung di tangga jembatan. Eksekusinya ke toilet di bawah jembatan juga atau ke kios-kios berukuran 1,5 meter X 1,5 meter di Lantai 4 Blok G. Tapi itu dulu, sekarang tak bisa lagi, karena Blok G sudah dibersihkan Pemda DKI.

Yang di panjang trotoar Jl. Jati Baru polanya sama dengan yang di Jl. Jati Bunder. Yang di sini katanya terpaksa main di hotel, karena tak ada tempat yang kondusif untuk urusan yang satu itu. Bedanya PSK Bongkaran Jati Baru bisa mengusahakan tarif khusus untuk para tamunya, sehingga tak terlalu berat dengan harga kamar hotel yang sebenarnya juga berfasilitas seadanya.

Minggu 1 September 2013 Satpol PP menggusur semua karaoke atau diskotik tenda di sepanjang rel kereta api, akibatnya para PSK Bongkaran kini menumpuk di atas, di trotoar dan di jembatan, sedangkan pedagang makanan dan minuman mitranya kini menggunakan peti-peti beroda yang berfungsi ganda, sebagai meja atau sebagai peti tempat menyimpan semua makanan dan minuman dagangannya saat Satpol PP datang merazia.

Intensitas razia yang meningkat ini ditambah dengan telah dibersihkannya semua lokasi eksekusi transaksi seksual yang biasa mereka gunakan, membuat pola rayuan para PSK juga berubah. Kalau sebelumnya mereka dengan santainya merayu dan mengajak calon pengguna jasanya dengan kata-kata yang langsung seperti .”Ngewek yuu Bang,” atau “Ngentot yuu Bang,” atau ‘Main yuu Bang,”, kini ajakn itu berubah menjadi ‘Ngamar yuu Bang,” karena kini mereka terpaksa melakukannya di kamar-kamar hotel atau penginapan di seputaran Tanah Abang, sehingga pelanggan harus diberi tahu implikasinya berupa pengeluaran lebih untuk bayar kamar hotel.

Ajakan-ajakan seperti ini disampaikan tanpa jengah sedikitpun, karena bagi mereka itu hanya pekerjaan, sama saja dengan jenis-jenis pekerjaan lainnya. Kepada siapa saja yang lewat di lokasi mereka, mereka akan ajukan ajakan itu, karena itulah sumber penghasilan mereka. Namun mucikari di pintu keluar Stasiun Tanah Abang punya cara yang lebih halus dalam menawarkan anak-anak asuhannya. Mucikari yang berjualan aneka makanan dan minuman kemasan dan rokok ini akan mengajak pembeli di kiosnya ngobrol. Obrolan berkutat seputar masalah beratnya beban kehidupan saat ini dan tingginya biaya pendidikan.

Jika diladeni dia akan bercerita tentang dua anak gadisnya yang sedang kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Biaya kuliahnya mahal, saudaranya memang sudah bekerja tapi hanya sebagai pelayan toko yang gajinya pas-pasan, maklum hanya tamatan SMA,” dan seterusnya. Kalau pembeli makin merespon dia akan masuk ke tahap penawaran. “Saya nggak masalah kalau anak saya memberikan pelayanan seks  asal bisa membiayai kuliahnya sampai selesai , nanti kalau sudah tamat dia kan bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik dan meninggalkan dunia hitam.” Begitulah.Image

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s