Riwayat Panjang Tanah Abang

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tana...

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tanah Abang (Photo credit: Wikipedia)

ImageSuatu siang di bulan Februari 2013. Udara panas dan kemacetan parah menghambat perjalanan saya di ujung Jembatan Banjir Kanal Barat atau yang oleh warga Tanah Abang disebut Jembatan Kali Baru, tepatnya di pertigaan Jl. Aiptu K.S. Tubun, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder, atau  di sisi barat Blok G yang mulai Agustus 2013 dibenahi Pemda DKI Jakarta.

Belasan Mikrolet 09 (jurusan Kebayoran Lama – Tanah Abang), 09 A (Meruya– Tanah Abang), dan 11 (Kebon Jeruk – Tanah Abang), satu dua bus Mayasari Bhakti  R 507 (rute Pulo Gadung – Tanah Abang), P14 (rute Tanjung Priok – Tanah Abang) beringsut sesenti demi sesenti –nyaris tak bergerak–bersama puluhan mobil pribadi, sepeda motor dari tiga arah jalan dan ratusan pejalan kaki yang rata-rata menjunjung atau menenteng tas belanjaan besar di ujung jembatan Kali Baru tersebut.

“Selamat datang di Tanah Abang,” kata supir M 09 yang saya tumpangi dengan suara pasrah, sambil mengelap lehernya yang berdaki dengan handuk yang tak kalah dekilnya. Sebelum dia menghembuskan asap rokoknya sekali lagi saya buru-buru turun dan membayar Rp 2.000, tarif terendah untuk jarak terdekat yang berlaku di mikrolet pada waktu itu (sekarang setelah harga BBM naik tarif terendah itu menjadi Rp 2.500), maklum saya tadi turun di depan Hotel Kalisma, tempat di mana Koantas Bima 102 (trayek Ciputat – Tanah Abang) berputar dan menambah beban ongkos penumpang yang terpaksa harus naik mikrolet atau ojek lagi kalau ingin masuk Pasar Tanah Abang, padahal trayeknya seharusnya sampai ke dalam Pasar Tanah Abang, tapi karena tidak kuat melawan macetnya supir Koantas Bima itu mengambil jalan aman. Aman untuk dia, beban untuk penumpang.

Turun di sisi kiri trotoar di ujung jembatan yang penuh dengan kios PKL  penjual kaos, handuk, celana sport, obat-obatan dan barang-barang loak, saya disambut belasan tukang ojek yang dengan bernafsu menawarkan jasa, saya menggeleng karena melihat ada jembatan penyeberangan yang tampaknya menuju bangunan ruko di seberangnya (Blok G). Jembatan itu tampak rapuh tak terawat–karat mengelupas terlihat di mana-mana—dan di kiri kanan anak tangganya banyak duduk wanita berdandan menor, berbusana minor.  Kebanyakan sudah ‘mak mak’ atau STW (setengah tua), meski ada juga yang kelihatannya masih muda. Beberapa lelaki bertampang sangar duduk mengawasi di samping mereka. Saya masih belum ‘ngeh’ dan permisi saja lewat ke atas.Image

Jembatan itu memang bersambung ke Blok G lantai 3, tapi saat itu pintu penghubungnya yang berupa teralis digembok. “Nggak bisa lewat sekarang Bang, ntar sore bisa,” ujar seorang wanita bercelana panjang coklat terang dengan kaos kuning berbelahan dada rendah. Tumbuhnya gempal dan dandanannya tak kalah menor dengan para wanita yang duduk berjejer di kaki jembatan tadi. Saya mengucapkan terima kasih dan berbalik hendak turun. Eh, tiba-tiba wanita 30 tahunan itu itu merayu. “Ngewek kita Bang?” sambil memamerkan senyum.

Buseeet, baru saya sadar sedang ada di mana. Ini kan masih bagian dari Bongkaran, kawasan prostitusi kelas bawah untuk para hidung belang berkantong tipis di Jakarta Pusat! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sambil balas tersenyum juga. “Waduuh makasi Mbak, lagi buru-buru nih.”

Dia tampak kecewa. “Murah kok Bang,” bujuknya, tapi saya sudah buru-buru turun.  Di kaki tangga para wanita temannya menyapa, “Kok nggak jadi Mas? Ditanggung puas lho.” Sementara teman pria mereka menatap saya garang. Saya tersenyum lagi dan cepat-cepat masuk ke kerumunan.

Hanya dalam hitungan detik saya sudah langsung bertemu dengan 5 aikon Tanah Abang, yakni tak ada peraturan, kemacetan, PKL, prostitusi dan preman.

Bedesakan lagi melawan arus lalu lintas yang tampaknya diatur dengan hukum rimba karena tak ada rambu lalu lintas yang dipatuhi, saya sampai dengan badan penuh keringat di pertigaan Jl Aiptu K.S. Tubun dari arah Petamburan, Jl. Jati Baru yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dan Jl. Kebon Jati yang menuju jantung Pusat Grosir Tanah Abang atau yang oleh warga setempat disebut Bunderan Jati Baru. 

Dari arah Jl. Jati Baru atau Jl Kebon Jati sebenarnya veerboden, kendaraan harus masuk ke Jl. Kebon Jati dulu, lalu belok kanan atau ke selatan ke Jl. Jati Bunder, keluar di Bongkaran dan masuk ke Jembatan Banjir Kanal Barat atau Jembatan Kali Baru bagian selatan yang bersebelahan dengan Jembatan Banjir Kanal atau Jembatan Kali Baru bagian utara. Tapi kebanyakan pengendara sepeda motor lebih suka memotong dan melawan arus—sekaligus melanggar veerboden—dengan memaksa masuk ke Jl. Aiptu K.S. Tubun di Jembatan Kali Baru utara. Akibatnya kemacetan parah terjadi karena arus kendaraan saling bertumbukan. Kondisinya bertambah parah karena terdapat beberapa titik parkir yang sepertinya menempati di mana saja titik jalan yang kosong. Hasilnya, Alhamdulilah: kemacetan luar biasa!

Saya menyempil, memiringkan tubuh sebisanya asal bisa lewat di antara sepeda motor, mikrolet dan arus orang serta barang dari arah berlawanan. Jalan yang seharusnya lebar itu dipadati lapak PKL, ada yang menjual buah-buahan, makanan dan minuman—mereka membuka rumah makan di jalan—dan aneka pakaian, juga mainan anak.  Hanya ada 2 jalur—dari 6 jalur–yang dibatasi pembatas jalan yang dibiarkan koosng agar arus lalu lintas bisa beringsut lewat. Image

Di Jl. Kebon Jati itu kepadatan bertambah dengan mikrolet M 10 (jurusan Jembatan Lima – Tanah Abang) dan M 08 (rute Kota – Tanah Abang), juga ada truk sampah, mobil box milik pedagang, kendaraan pribadi yang mungkin nyasar atau nekad dan para pengemis yang seenaknya berbaring di tengah jalan dengan akting super memelas dan tampilan super joroknya. Tentu saja kepadatan itu masih dilengkapi puluhan sepeda motor, ratusan pejalan kaki seperti saya dan belasan gerobak dorong milik para porter pengangkut barang dengan barang yang besar-besar dan lebar nyaris selebar body mobil yang diangkutnya, di samping bajay dengan asapnya yang sangat menyiksa itu dan lagi-lagi parkir liar!

Jl. Kebon Jati yang lebih banyak digunakan adalah sisi utara, karena sisi selatannya selalu tergenang air setinggi lutut orang dewasa berwarna hitam penuh lumpur dan aromanya sangat busuk. Supir mikrolet mengaku takut lewat di situ, kuatir kendaraannya mogok dan terperangkap di genangan.

Jejeran lapak PKL juga lapis tiga. Dua di badan jalan, satu di trotoar menutup rapat toko-toko di belakangnya. Jajaran lapak ini tersusun padat sejak dari kawasan Kolong—di bawah Jembatan Layang Jati Baru—di sisi utara Jl. Jati Baru, berbelok ke arah Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. H. Fachruddin di sisi timur Jl. Kebon Jati. Saya mencoba jalan di trotoar, tapi trotoar itu sendiri hanya tinggal 50 sentimeter yang bisa diarungi. Ya diarungi, karena kita seperti berenang dalam kerumunan orang dan barang-barang dagangan. Tak bisa melangkah dengan santai, karena harus waspada dengan tubuh orang yang ada di depan atau datang dari arah depan dan belakang kita, serta barang-barang dagangan yang bergelantungan sesukanya sehingga sering menghantam hidung atau kepala kalau tidak hati-hati.

Saya tak perlu mengingatkan tentang copet, itu aikon Tanah Abang yang sudah sangat dikenal sejak lama. Di kepadatan kaki lima Tanah Abang mereka bisa berupa siapa saja. Salesman berkemeja rapi dengan celana kasual trendy dan tas Echolac terbaru, atau seperti mahasiswa dengan kaos dan kemeja dengan ransel di punggung, atau bapak-bapak yang ramah atau ibu-ibu dan wanita berjilbab. Mereka berkamuflase dengan baik, dengan simbol-simbol kesopanan dan peradaban terbaik, lalu dengan aman memainkan jemari atau siletnya di kantong-kantong, tas atau dompet mangsa yang merasa aman di dekatnya.

Rasanya lama sekali pengarungan di lautan kepadatan itu. Keringat telah membanjir, membasahi punggung, leher dan wajah sebelum akhirnya saya sampai di markas brandweer atau pemadam kebakaran Tanah Abang.  Markas yang terjepit ketat oleh lapak PKL itu tampak tak kalah sengsara. Anggotanya yang terlihat pasrah terpaksa duduk-duduk saja dengan para PKL dan preman yang mangkal di depan markasnya. Kesiagaan mereka sudah tergerus sikap tak peduli dan mau memang sendiri para PKL dan preman yang menguasai akses jalan di depannya. Sampai di situ tiba-tiba bau sengit kambing merebak.

Saya kaget. Kok ada bau kambing yang sangat menyengat di kerumunan pedagang pakaian dan aneka rupa produk kain ini? Ternyata menjelang sampai ke pintu barat dan selatan Blok B—bangunan baru Pusat Grosir Tanah Abang yang berarsitektur modern—ada sebuah lapak pedagang kambing. Baunya, alamaaak! Kok bisa pedagang kambing dibiarkan bercampur dengan pedagang kain dan makanan? Saya tak mau memikirkannya, langsung saja naik tangga di samping markas pemadam kebakaran dan menghilang ke Lantai 1 Blok F1.

Itu sekilas potret Tanah Abang sebelum Jokowi dan Ahok—Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta—menertibkannya mulai 11 Agustus lalu, namun sebenarnya riwayat Tanah Abang sudah berlangsung lama, karena pasar yang kini terkenal sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen terbesar serta termurah di Asia Tenggara ini resminya sudah berusia 278 tahun!Image

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s