Pasar Modern yang Tradisional

 

ImagePasar Tanah Abang terus  berkembang. Begitu pun daerah di sekitarnya. Penduduknya bertambah banyak dan aktivitas sosial meningkat. Langgar Al Makmur yang dibangun tahun 1704 di sisi selatan pasar makin ramai, begitu pula Kelenteng Hok Tek Tjengsin atau yang disebut warga Tanah Abang Toapekong Kebon Dalem yang dibangun di sisi utara pasar Tanah Abang sebagai tempat ibadah warga keturunan Tionghoa yang memang banyak di Tanah Abang.

Lima tahun setelah Pasar Tanah Abang berdiri terjadi pembantaian (Chinezenmoord) terhadap etnis Tionghoa. Kisah kelam ini berawal dari masalah memanasnya hubungan antara permintah VOC dengan imigran Tionghoa yang ada di Jakarta waktu itu. Imigran itu sendiri sengaja didatangkan Belanda pada awalnya karena mereka butuh tenaga untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak sudi mereka lakukan.

Kemunduran VOC dalam bidang perdagangan akibat kalah bersaing dengan Maskapai Perdagangan Inggris, The Britisch East India Company yang berpusat di Callcuta, India dalam perebutan hegemoni perdagangan bangsa-bangsa Eropa (1602-1799) menimbulkan tekanan besar terhadap seluruh wilayah jajahan VOC, termasuk Hindia Belanda.

Guna mengatasi hal tersebut Heeren XVII (Kamar dagang VOC) menekan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia saat itu agar dapat memaksimalkan pendapatan dan aliran dana segar ke kas VOC.

Sementara di sisi lain, besarnya pengeluaran angkatan perang VOC akibat pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan kolonial di Nusantara serta terus meningkatnya jumlah imigran Tionghoa yang berhasil dalam bidang perdagangan di Batavia yang jika dibiarkan akan menyebabkan ancaman serius bagi kelangsungan dagang VOC di negeri ini, membuat bingung penguasa VOC di Batavia.

Untuk memecahkan masalah tersebut secara bersamaan, Dewan Hindia Belanda dan Gubernur Jendralnya–saat itu dijabat Valckeneir–sepakat melakukan jalan pintas dengan menggalakkan program tanam paksa bagi warga bumiputera. Sementara bagi para etnis keturunan dan para imigran Tionghoa yang terkenal lebih berhasil, upaya-upaya pemerasan terselubung mulai dilakukan. Pemberlakuan program Surat Ijin Tinggal adalah salah satunya.Image

Seluruh etnis Tionghoa yang ada di dalam tembok maupun di luar tembok Batavia diwajibkan memiliki Surat Ijin Tinggal yang dikeluarkan pemerintah VOC dengan masa berlaku terbatas. Aturan program ini sangat keras. Apabila ditemukan imigran Tionghoa yang tidak memiliki Surat Ijin Tinggal dikenakan hukuman berupa denda atau hukuman penjara. Bahkan yang lebih buruk pengusiran mereka dari seluruh wilayah Hindia Belanda.

Pemerintah VOC beralasan bahwa pemberlakuan program ini adalah agar wilayah Batavia dan sekitarnya bersih dari para pendatang ilegal yang selalu mengganggu ketertiban. Harus diakui bahwa alasan tersebut tidak sepenuhnya salah. Kondisi Batavia yang saat itu dipenuhi para imigran–terutama Tionghoa–menjadi tidak teratur. Tempat perjudian dan hiburan tumbuh bak jamur di musim hujan.

Tercatat sebanyak 7.550 jiwa imigran Tionghoa menetap di Batavia tahun 1719. Angka ini meningkat pesat hingga tahun 1739. Sebanyak 10.574 jiwa imigran Tionghoa ditemukan berada dan tinggal di dalam tembok Batavia dan sekitarnya.

25 Juli 1740, penguasa Batavia semakin mempertegas pemberlakuan program ini dengan dikeluarkannya resolusi yang isinya “penguasa VOC memiliki hak untuk menangkap dan memenjarakan seluruh warga Tionghoa yang tidak memiliki izin tinggal diwilayah Batavia”.

Resolusi sangat memukul etnis Tionghoa yang dijadikan korban. Di sisi lain pemberlakuan resolusi ini menciptakan peluang korupsi baru bagi kalangan petugas pemerintah.

Sementara bagi pemerintahan Batavia dan kalangan Dewan sendiri, pemberlakuan program ini dianggap sangat baik karena selain dapat menambah penghasilan dari sisi pajak, juga dapat dijadikan alat kontrol bagi semua aktivitas perdagangan etnis Tionghoa. Sebaliknya, bagi etnis Tionghoa pemberlakuan Surat Ijin Tinggal dan berbagai macam pungutan liar ini menyebabkan krisis kepuasan. Tingkat kesejahteraan mereka terus merosot dari hari ke hari, bahkan banyak pedagang Tionghoa yang terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar akibat kebangkrutan.

Ketidakpuasan-ketidakpuasan inilah yang kemudian menimbulkan perlawanan etnis Tionghoa terhadap pemerintah Batavia. Tercatat sejak September 1740 berbagai kerusuhan kecil terjadi di luar tembok Batavia. Peristiwa ini mencapai puncaknya pada 7 Oktober 1740. Saat itu, lebih dari 500 orang Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul guna melakukan penyerangan ke dalam tembok Batavia setelah sebelumnya menghancurkan pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang secara bersamaan.

8 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di semua pintu masuk Benteng Batavia. Ratusan etnis Tionghoa yang berusaha masuk dihadang pasukan VOC dibawah pimpinan Van Imhoff.

9 Oktober 1740, dibantu altileri berat pasukan VOC berhasil menguasai keadaan dan menyelamatkan Batavia dari kerusuhan. Pasukan kaveleri VOC kemudian mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Tionghoa yang berada di sekitar Batavia digeledah dan dibakar, penghuninya yang pria langsung dibunuh, yang wanita diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh, harta bendanya dijarah, termasuk rumah Kapiten Tionghoa Nie Hoe Kong yang dianggap sebagai aktor intelektual kerusuhan.Image

Ribuan warga Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu dan dibunuh tanpa perduli terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut, termasuk yang sedang dirawat di rumah sakit. Anak-anak, bayi dan orang tua tidak luput dari pembantaian.  Banyak yang dibiarkan lari ke arah kali sebelum akhirnya dibantai oleh para prajurit yang telah menunggu kedatangan mereka. Beberapa sumber menyatakan bahwa kali yang menjadi lokasi pembantaian adalah Kali Angke, hingga peristiwa pembantaian ini diabadikan dengan nama Tragedi Angke. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pembantaian sebenarnya tidak terjadi di Kali Angke melainkan di Kali Besar, karena letaknya lebih dekat ke Tembok Batavia. Kali Angke hanyalah merupakan titik akhir lokasi penemuan ribuan mayat korban pembantaian yang dihanyutkan air.

Malam tanggal 9 Oktober 1740, prajurit VOC kembali melakukan penyisiran guna mencari sisa-sisa etnis Tionghoa yang bersembunyi di rumah atau bangunan lain di seputar Batavia. Pembantaian kali ini lebih sadis karena melibatkan budak dan warga bumiputera yang sengaja dibakar amarahnya. Bahkan menurut cerita Gubernur Jendral Valckeneir sempat menjanjikan hadiah sebesar 2 dukat per kepala etnis Tionghoa yang berhasil dipancung

10 Oktober 1740, setelah peristiwa pemberontakan mereda, Gubernur Jendral Valckeneir kembali memerintahkan prajuritnya guna mengumpulkan seluruh warga Tionghoa yang tersisa termasuk yang terbaring di rumah sakit maupun di penjara. Mereka dikumpulkan di depan Stadhuis/ Gedung Balaikota (sekarang Muesum Fatahillah) untuk menjalani eksekusi hukum gantung. .

Saat Tragedi Angke benar-benar berakhir tercatat etnis Tionghoa yang selamat sebanyak 3.441 jiwa. Terdiri dari 1.442 pedagang, 935 orang petani, 728 orang pekerja perkebunan, dan 336 orang pekerja kasar (Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke, Hembing Wijaya Kusumah 2005).

Tanah Abang yang merupakan salah satu pusat konsentrasi masyarakat Tionghoa di lur tembok kota tidak luput dari pembantaian, penjarahan dan pembakaran. Pasar Tanah Abang porak-poranda, bangunan dan seluruh dagangan di dalamnya luluh-lantak dibakar dan dijarah. Pedagang Tionghoa yang masih hidup bertebaran menyelamatkan diri ke pinggiran Batavia. Sebagian sampai ke Kerajaan Mataram, bergabung dengan Soeltan Agung melawan VOC dan pemerintah kolonial Belanda.

Tak diketahui bagaimana nasib Phoa Beng Gam setelah kerusuhan itu karena tak ada catatan sejarah tentang tokoh yang berjasa bagi perkembangan pembangunan Kota Batavia ini.

Setelah pembantaian, aktivitas Pasar Tanah Abang terhenti dan baru dibuka lagi tahun 1881. Pasar Tanah Abang yang baru itu dibangun dengan kayu, papan, bilik bambu dan atap genteng. Tercatat ada 220 kios dari kayu dan papan dan 139 kios gedeg. Hari pasarpun ditingkatkan menjadi Rabu dan Sabtu.

Tahun 1913 ada renovasi ringan tapi tak signifikan, Baru tahun 1926 dilakukan perbaikan total yakni dengan membangun 3 los memanjang berupa kios semi permanen dengan fondasi semen, dinding papan dan atap genteng. Lantai los dan kios di pesar itu juga diratakan dan dipercantik dengan adukan semen. Pasar ini dilengkapi kantor pengelola yang mengurus segala sesuatu di pasar tersebut, letaknya di lantai dua bangunan pasar.

Tak ada catatan tentang kereta api, tapi tahun 1910 dikatakan Tanah Abang sudah memiliki stasiun kereta api. Stasiun itu dibangun di sisi timur saluran Banjir Kanal Barat  sekarang. Saluran itu sendiri dulunya merupakan hasil karya Phoa Beng Gam yang pada tahun 1965 diperlebar dan diperpanjang sampai ke Pintu Air Karet guna keperluan kelistrikan. Walaupun sudah memiliki kereta api yang waktu itu lebih banyak digunakan utuk angkutan kayu, arang, sayuran dan buah-buahan dari kawasan Serpong dan Bogor, transportasi di Pasar Tanah Abang masih didominasi delman dan gerobak yang ditarik kuda. Pengelola pasar menyediakan tempat parkir delman dan gerobak, sekaligus kolam tempat minum kuda di halaman pasar dan membuka toko dedak untuk makanan kuda di seberang pasar. Tak jauh dari toko dedak itu terdapat gang dan sebuah surga untuk para pemadat, di mana para pecandu mengisap candu atau madat dengan bebasnya. Gang itu disebut Gang Madat, tapi di mana pastinya tak ada yang bisa menunjukkan lagi.

Ketika Jepang masuk Batavia, Pasar Tanah Abang kembali lumpuh dan menjadi sarang gelandangan. Menurut J.J. Rizal, sejarawan Jakarta, tekstil tidak laku karena orang hanya mampu membeli pakaian yang terbuat dari karung goni. Tiarap selama 20 tahun lebih, pasar ini baru menggeliat lagi tahun 1970-an ketika Ali Sadikin jadi Gubernur DKI. Tahun 1975 di Pasar Tanah Abang tercatat ada 4.351 kios dengan 3.061 pedagang.

Tahun 1978 dan 1979 Pasar Tanah Abang dilanda kebakaran. Kebakaran 30 Desember menghanguskan Lantai 3 Blok A. sedangkan kebakaran 13 Agustus 1979 menghanguskan Blok B. Tanggal 19 Februari 2003 Pasar Tanah Abang kembali dilalap api. Ini kebakaran terbesar karena menghanguskan 5.700 kios di Blok A, B, C, D dan E dengan total kerugian hampir Rp 3 triliun, berupa bangunan dan jutaan kodi produk tekstil dan garmen dagangan. Api baru bisa dijinakkan sehari kemudian, karena 24 hidran yang ada tak berfungsi sama sekali gara-gara tak pernah dirawat sehingga rusak dimakan karat.

Selanjutnya Pasar Tanah Abang memasuki era baru, era modernisasi.

Jumat 1 Juli 2005 Pusat Grosir Blok A yang memiliki 19  lantai dengan 7.995 kios diresmikan. Peresmian gedung baru Blok A yang dibangun di bekas Blok A, B, C, D dan E pasar lama Tanah Abang tersebut menandai dimulainya era modernisasi di Pasar Tanah Abang.

Blok A ini menghapus semua kesan kusam Pasar Tanah Abang lama yang ditandai dengan kesumpekan, di mana pedagang dan pembeli sama saja tak beraturannya meskipun sudah berinteraksi dalam gedung. Kesumpekan itu ditandai dengan barang dagangan yang luber sampai ke luar kios yang menjadi haknya dan para pembeli yang seenaknya saja tawar-menawar dan memilih-milih busana yang diminatinya tanpa mempedulikan apakah orang yang di belakang atau di depannya bisa lewat atau tidak.

Selain itu kondisi pasar yang bak ruang sauna, saking panasnya karena tak ada AC yang dipasang dalam gedung, membuat para pedagang dan pembeli selalu berkuah keringat. Belum lagi tak tersedianya eskalator atau lift dalam bangunan pasar yang waktu itu memang baru terdiri dari 4 lantai, tapi tetap saja menguras tenaga dan memeras keringat menjelajahinya. Kesumpekan masih ditambah oleh padatnya manusia yang beraktivitas di dalam bangunan pasar, lengkap dengan copet, penodong, jambret, pengemis dan pengamennya.

Semua itu diubah total oleh gedung Blok A baru. Pusat grosir yang dibangun di atas lahan seluas 13.000 meter2 dengan total luas bangunan 168.000 meter2 ini dilengkapi 149 unit eskalator, 4 unit passenger lift capsule, 4 unit lift (elevator) penumpang biasa, 8 unit lift barang (kapasitas 1 – 2 ton), AC sentral, CCTV, areal parkir yang bisa menampung 2.000 mobil dan 2.500 sepeda motor, ratusan tenaga security yang aktif berpatroli, serta sprinkler anti kebakaran yang masih dilengkapi lagi dengan ratusan tabung pemadam api dan akses internet tak terbatas. Untuk pelepas penat, lapar dan dahaga pengelola menyediakan Tenabang Foodcourt di Lantai 8 dengan aneka makanan dan minuman yang lumayan lengkap. Sedangkan untuk ibadah, di Lantai Atap dibangun sebuah masjid yang bisa menampung 2.000 jemaah.

Keseluruhan lantai Blok A terdiri dari Lantai B2, B1, SLG (semi lower ground), LG (lower ground), G (ground) 1, 2, 3, 3A, 4, 5, 7, 5, 9, 10, 11, 12, 12A, Atap.

Semua fasilitas itu membuat pedagang dan pengunjung bisa bertransaksi dengan aman dan nyaman. Tapi semua itu tentu dibarengi harga sewa kios yang juga lumayan, berkisar antara Rp 36 juta per meter persegi – 250 juta per meter persegi per tahun, sehingga tidak heran kalau pedagang di Blok A ini mengaku bisa menghabiskan Rp 1 – Rp 1,5 miliar untuk sewa kios saja.

Kamis 12 Agustus 2010 Blok B menambah lengkap modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang. Blok B sebenarnya adalah sayap tambahan Blok A. Karena bangunan sayap, di beberapa lantai Blok B tetap terhubung dengan BlokA, misalnya di Lantai LG, yang sekaligus merupakan atrium intercourt yang menghubungkan Blok B dengan Blok A dan Blok F. Atrium ini berupa selasar selebar 8 meter untuk lalu utama barang dan orang. Karena lebarnya di sini pengelola Blok B sering menyelenggarakan aneka ragam hiburan seperti life music dengan mendatangkan artis-artis penyanyi ternama nasional, bazaar, pameran, bahkan fashion show mini.

Terdiri dari 17 lantai ditambah lantai atap yakni Lantai 11,10, 9, 8, 7, 6, 5, 3A (karena angka 4 dianggap tidak hoki), 3, 2, 1, G, LG,SLG, B1, B2, B3. Lantai 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan B3 digunakan untuk lahan parkir.Lantai 5, 3A, 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2 adalah pusat grosir berbagai produk tektil dan aksesoris. Informasi di situs Blok B Tanah Abang, 10 lantai digunakan untuk area perdagangan. Sisanya untuk parkir dan kantor. Blok B dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektare dan dilengkapi dengan 22 lift dan 163 eskalator.

Lahan parkirnya yang 7 lantai  mampu menampung 1.500 mobil dan 2.300 motor. Di beberapa lantai area parkir Blok A dan Blok B saling terhubung sehingga konsumen bisa memilih mau parkir di blok yang mana. Keamanannya ketat, STNK adalah syarat utama untuk bisa parkir di lahan parkir ini, tanpa STNK jangan harap bisa parkir di sini.

Tak diketahui berapa jumlah anggota security keseluruhan,tapi semua tenaga security Blok B terdaftar dan menjadi anggota di Polda DKI Jakarta. Mereka juga bukan sembarang security karena direkrut dari pensiunan aparat kepolisian atau TNI dan mantan preman di kawasan Tanah Abang, jadi mereka sangat terlatih dan berakar di Tanah Abang.

Ada tiga jenis security di Pusat Grosir Tanah Abang yakni security patrol, security guard dan security customer. Mereka bertugas 24jam mengawasi keamanan gedung, pengelola dan konsumen di kawasan Blok B Pusat Grosir Tanah Abang. Dalam pelaksanaan tugasnya mereka dibantu perangkat CCTV dan MATV yang dipasang di sudut-sudut strategis untuk memperpanjang dan memperluas area pengawasan mereka di gedung yang memiliki 3.821 kios atau toko ini.

Untuk kenyamanan konsumen Blok B memiliki koridor  lebar yakni 2.8 meter antar kios atau toko,koridor utama lebarnya malah 3 meter, namun koridor selebar itu tetap saja terasa sempit terutama di Lantai LG, SLG, G dan 1 yang ramai transaksi.

Untuk kemudahan finansial, di samping eskalator di lokasitertentu tersedia ATM Bank Mandiri. Namun gerai bank mini juga ada seperti yang dibuka oleh Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI,  Bank Panin, Bank Danamon, Bank BRI lengkap dengan ATM di depan atau di sampingnya. Tersedia juga Bank Bumi Arta (sekuritas) untuk kemudahan, kemanan dan kenyamanan bertransaksi.

Seperti di Blok A, di Blok B juga tersedia tempat melepas lelah, lapar dan dahaga, tempatnya di Lantai 6 namun ukurannya jauh lebih kecil dibanding Foodcourt Tenabang di Lantai 8 Blok A.

Kedua blok ini menjual berbagai macam produk tekstil dan garmen seperti busana muslim pria dan wanita segala usia dengan segala kelengkapannya; aneka produk fashion wanita dan wanita segala usia lengkap dengan aksesorisnya, bahkan sudah ada pula yang menjual tas, sepatu, sandal, dompet, komoditas yang oleh sementara pedagang di Tanah Abang dianggap menyalahi konsep asli Pusat Grosir Tanah Abang. Selain itu di sini juga bisa ditemukan pedagang seprai dan sarung bantal, bedcover, selimut, gordyn, perlengkapan mandi (handuk dan piama) dan bahan kain.

Pasar Tanah  Abang modern juga terlihat pada penampilan PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) yang resmi digunakan tahun 2007. Bangunan berlantai 12 ini berlokasi di timur Blok A, sebuah jembatan menghubungkan Blok A dengan Metro di Lantai 1.  Jembatan ini dipenuhi pedagang pakaian anak-anak, dan melintasi Jl. H. Fakhruddin. Metro sendiri berada di tepi Jl. K.H. Wahid Hasyim.  Metro Tanah Abang terkenal dengan produk tekstil dari China dan Korea.

ImageCiri kemodernan Pusat Grosir Tanah Abang memang cuma diwakili Blok A, Blok B, dan Metro Tanah Abang, tapi meski tak semodern ketiga blok ini, Blok F1 yang terletak di sisi barat Blok A dan Blok B serta beroperasi tahun 2000 sebenarnya juga sudah lebih modern dibanding Blok F lama, karena lantai gedung yang terdiri dari 7 lantai  telah dikeramik semua. Di Blok F1 yang memiliki 563 kios juga tersedia eskalator, lift dan AC, tapi kondisinya tak sebagus kenyataannya, karena menurut pengakuan pedagang di sana AC hanya sempat nyala selama 6 bulan pertama dan tak pernah hidup lagi sampai sekarang, bahkan setelah tarif sewa kios naik drastis menjadi Rp 35 juta – Rp 65 juta per meter persegi per tahun dari Rp 10 juta per meter persegi per tahun, AC itu tetap saja ‘meninggal’.

Menurut H. Yoe Sanusi (50), pemilik Toko Baaligo di Lantai 1 Blok F 1, dulu waktu baru-baru setiap pedagang harus mengenakan jacket tebal karena dinginnya AC, tapi sekarang setiap kios harus ditambah kipas angin agar terasa sejuk,” katanya.

“Dulu merokok juga tak diperkenankan, kini asap rokok was wis wus di tiap sudut,” katanya Yoe lagi.

Eskalator hanya segelintir yang berfungsi, selebihnya mati total mengumpulkan daki debu di anak tangganya, malah ada yang sudah dicopot dari dudukannya dan digeletakkan begitu saja di atas Kali Krukut yang membelah bagian dalam blok ini. Liftnya menakutkan, karena sudah beberapa kali jatuh, meski tak memakan korban jiwa, tetap saja bikin jantungan.

Modernisasi fisik itu ternyata tak mengubah pola interaksi dan transaksi di Pusat Grosir Tanah Abang. Pembeli dan pedagang tetap bisa bertukar cerita, informasi dan tawar-menawar sambil bersenda gurau. Mereka bahkan tidak jarang saling undang ke pernikahan kerabat atau wisuda anak. Kematian apalagi, pembeli dan pedagang saling mengucapkan simpati meski keduanya berada di kota yang berlainan karena kebanyakan pembeli di Pusat Grosir Tanah Abang berasal dari luar Jakarta. SMS, BBM, email, Facebook dan Twitter menjadi sarana yang sudah akrab dengan kedua belah pihak untuk terus menjalin dan menjaga hubungan.

Saking akrabnya kadang-kadang pembeli dan pedagang yang sudah saling kenal lama ini ngobrol sesukanya di selasar di depan toko, sehingga arus lalu-lintas orang dan barang jadi tersendat. Mereka tak peduli pergerakan orang atau porter terhambat karenanya dan bersikap seharusnya orang-orang itulah yang memahami mereka.

Kesan tradisional dan konvensional tersebut  bukan hanya terlihat dalam hal itu, ketika bertransaksi pun mereka seperti saudara atau teman lama. Kepercayaan dan kejujuran menjadi tolok ukur semuanya. Yoe Sanusi (50), pedagang di Blok F1 mengatakan dia masuk Tanah Abang dulu hanya dengan modal Rp 15 juta. Itu modal yang tak masuk akal di Tanah Abang, katanya, karena orang biasanya memulai usaha di Tanah Abang dengan modal ratusan juta rupiah. Yoe bisa eksis sejak 1986 sampai sekarang hanya karena menerapkan filosofi dasar Pusat Grosir Tanah Abang, yakni menjaga kepercayaan dan menjalankan kejujuran. Makanya walau hanya punya modal untuk menyewa kios ukuran 2 X 2 meter, Yoe mendapat kepercayaan untuk menjualkan barang pedagang lain di kiosnya, sampai akhirnya bisa membeli kios sendiri seharga Rp 800 juta dan memiliki konveksi sendiri.

Soal kepercayaan dan kejujuran ini sangat sensitif di Pusat Grosir Tanah Abang. Ada daftar panjang tentang buyers yang sudah tak layak dipercaya karena cacat integritas, atau sebaliknya orang yang pantas direkomendasikan karena kejujurannya yang beredar luas di kalangan pedagang. Ada pula catatan serupa tentang karyawan yang layak dan tidak layak pakai, porter jujur dan porter penipu, ekspedisi culas dan ekspedisi bermutu, dan seterusnya. Istilahnya jangan macam-macam karena antena dan radar terus tegak berdiri dan mengawasi, sementara CCTV merekam track record Anda!

Meminjam atau meminjamkan uang ratusan juta sampai miliaran juga bukan hal yang aneh di Pusat Grosir Tanah Abang, begitu pula mengambil atau menyerahkan barang dengan nilai yang sama pada rekanan, tak peduli orangnya di mana barang dagangan senilai sampai ratusan juta dan miliaran akan dikirim tanpa keraguan, kalau kredibilitas orang tersebut sudah teruji.  Sebaliknya, sekali kepercayaan rusak , sekali pinjaman disalahgunakan, sekali giro dimainkan orang yang melanggar code of conduct itu pun dicoret dari daftar, dia takkan dapat tempat lagi di manapun di Pusat Grosir Tanah Abang. Begitu sebaliknya, orang yang dipercaya akan mendapatkan kejayaan dengan mudah di Tanah Abang.

Selain Blok A, Blok B, Blok F dan PGMTA Pusat Grosir Tanah Abang masih memiliki Blok C, Blok G, Blok F2, Blok F3, Blok AURI Alfa dan Pasar Tasik permanen diJati Baru.

Blok C atau Jembatan Tanah Abang Trade Centre (JTTC)  saat ini lebih menyerupai blok terlantar karena banyaknya kios yang kosong dan digembok karena tak laku dijual atau disewakan. Padahal fasilitasnya cukup baik, berlantai keramik dan full AC, tapi sejak kebakaran 2003 dan selesainya pembangunan Blok A tahun 2005 dan Blok B tahun 2010, Blok C atau JTTC seperti ditinggalkan.

Terdiri dari Lantai Dasar, Lantai 1 dan Lantai 2 JTTC kini lebih banyak digunakan untuk tempat para pedagang dan pengunjung makan siang, karena ada tempat makan yang cukup memadai di Lantai Dasar dan Lantai 1. Sedangkan bangunan utama Blok C terdiri dari 5 lantai, namun kebanyakan diisi kios kosong, meski Lantai Dasar di pintu utamanya yang menghadap ke Pintu Selatan Blok B atau pas di tepi Jl. Kebon Jati  cukup ramai aktivitas jual beli.

Sebagian gedung Blok C terlihat sedang menjalani proses rehabilitasi, tapi progress rehabilitasi blok yang dikelola PD Pasar Jaya ini terlihat sangat lambat, sehingga Blok yang lahannya mencakup komplek Pasar Seng atau komplek kios penjualan kurma dan oleh-oleh haji di Jl, K. H. Mas Mansyur ini lebih tampak seperti bangunan kosong, meski di Lantai Dasar dan dekat pintu masuk utamanya di sisi utara , kios-kios perlengkapan shallat yang menjual aneka sajadah, sarung dan mukena tetap memajang dagangannya, dan kedai-kedai makanan di sebelahnya yang selalu penuh pengunjung.

Blok F 2 terletak di sisi barat Blok F1. Keduanya dipisahkan area parkir dan Kali Krukut yang mengalir membelah dua bangunan blok yang dulu dikenal sebagai Blok F saja itu. Blok F2 juga terdiri dari 7 lantai. Komoditas grosirnya sama juga, yakni busana muslim, celana dan baju berbahan jeans, bermacam kaos dan T shirt, perlengkapan shallat, umroh dan haji, kemeja lelaki dewasa, pakaian anak-anak lelaki perempuan, pakaian remaja, handuk, seprai, sarung bantal, sarung, taplak meja, dan lain-lain.

Blok F3 adalah blok yang baru dibangun. Kondisinya masih 80 persen, saat ini proses pembangunannya tak bisa dilanjutkan karena ada persoalan IMB yang belum diurus pengelola. Blok F3 terletak di sisi barat Blok F2, atau di wilayah Jati Baru.

Blok G Pusat Grosir Tanah Abang sebenarnya sudah berusia  cukup lama yakni sekitar tahun 1996-an, tapi setelah kebakaran besar melanda Blok A, B, C, D, dan E Februari 2003, Blok G ikut direnovasi tahun 2004.  Seribuan PKL kemudian mengisi Lantai 1 sampai 4, sedangkan Lantai Dasar dipenuhi pedagang kambing dan sapi yang sekaligus melakukan aktivitas pemotongan hewan-hewan tersebut di sana. Para pedagang dan jagal kambing ini merupakan pindahan dari Lantai Dasar Blok F.

Karena risih dengan merajalelanya preman dan PSK, yang beroperasi seenaknya di Lantai 4, yang pada gilirannya juga membuat para pembeli enggan berbelanja ke Blok G, sehingga Blok G itu menjadi mati suri, para PKL itupun meninggalkan kios yang telah disewa atau dibelinya dan kembali membuka lapak di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder dan Jl. K.H. Mas Mansyur yang difasilitasi dengan baik oleh komunitas preman lainnya yang menyebut diri mereka anak wilayah, alias para pemuda yang bermukim di seputaran kawasan Pusat Grosir Tanah Abang, terutama dari 4 kelurahan yaitu Kelurahan Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali dan Peramburan.

11 Agustus 2013 pasangan pemimpin Dki Jakarta, Jokowi – Ahok, melakukan penertiban dan penataan di kawasan Tanah Abang. Blok G dibersihkan dari para preman dan PSK, kios-kios berukuran 1,5 meter X 1,5 meter dirapikan, gedungnya dicat dan pedagang kambing serta rumah pemotongan hewan (RPH) mini dipindahkan ke Pasar Kambing Jl. Sabeni, Kebon Melati. Setelah bersih para PKL yang memadati dan menjadi sumber kemacetan di Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder digiring masuk Blok G.

Senin 2 September Blok G diresmikan pemakaiannya.  Sebanyak  941 PKL menempati kios yang tersedia di Lantai 1 sampai Lantai 4. Namun fasilitas di Blok G masih minim. AC dan eskalator tidak ada. Lift juga tak dianggap perlu karena blok ini hanya terdiri dari 5 lantai.

Blok AURI atau juga dikenal dengan sebutan Ruko AURI Alfa adalah komplek pertokoan grosir yang berlokasi di sisi utara Blok A. Ruko AURI berlokasi di pinggir Jl Fakhruddin dan melebar ke Tanah Abang Bukit di utara. Di sebelah barat Blok Ruko Auri berhubungan dengan Blok F2 dan Blok F3.

Produk tekstil dalam bentuk bahan lebih mendominasi di sini seperti bahan kaos, bahan batik, bahan jeans dan sebagainya. Semua dalam skala besar karena berhubungan langsung dengan pabrik. Di Blok ruko AURI toko grosir aksesorisnya juga melayani pesanan dalam partai besar.

Pasar Tasik awalnya memang bermula di Jl. Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang. Dalam perkembangan selanjutnya pasar ini berkembang ke Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder di sisi selatan Blok F dalam bentuk moko (mobil toko).  Dari sini Pasar Tasik berkembang sampai ke Lantai 5 Thamrin City Jl. H. Mas Mansyur dan  lapangan parkir Yayasan Haji Naum di jalan yang sama, serta di lahan parkir Lantai 6 Blok F1.

Namun yang bermula di Jl. Jati Baru berkembang juga ke dalam ke wilayah RW 01 Jati Baru, Kelurahan Kampung Bali. Mereka memilih menyewa kios-kios yang dibangun penduduk setempat Rp 23 juta per meter persegi per tahun. Apa yang dimulai tahun 1990-an itu berkembang terus sampai akhirnya menjadi kumpulan pertokoan yang lumayan banyak, sampai memenuhi 15 ruas jalan yang ada di Jati Baru. Kios-kios di 15 ruas jalan ini mengular ke mana-mana, ada yang keluar di Jl. Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang, ada yang di Jl. Kebon Jati depan Blok G, ada pula yang di Blok F dan ke Kolong, bawah jembatan laying ke Kemanggisan, Jakarta Barat.

Sesudah penertiban 11 Agustus 2013, Pasar Tasik Jati baru ikut mengalami perubahan, tapi tidak banyak dan lebih bersifat reaksi saja terhadap penertiban di jalan-jalan protokol Tanah Abang. Mislanya, armada mobil toko (moko) pedagang Tasik dari Tasikmalaya kini juga dibuka di lahan parkir Lantai 5. 6, 7 Blok F1. Mereka buka dari pukul 04.00 sampai pukul 12.00 WIB. 

Di Jl. Jati Baru X misalnya, di depan Gereja Bethel Injil Sepenuhnya (GBSI) semua selokan ditinggikan dan ditutup dengan papan berukuran 7 X 2 meter, 5 X 2 meter atau 3 X 2 meter, lalu disewakan Rp 7 juta per meter persegi  per bulan atau Rp 84 juta setahun untuk menampung para PKL yang tak kebagian kios di Blok G atau memang sengaja membandel karena tak yakin dagangannya laris terjual di Blok G.

Jelang lebaran jangan coba-coba nekad ke sini, karena macetnya gila-gilaan, 15 ruas jalan yang hanya dilewati pejaan kaki itu stag di mana-mana, benar-benar tidak bergerak. Tapi karena namanya Pasar Tasik, calon pembeli sudah tahu kalau harga produk garmen di sana—yang umumnya didominasi busana muslim untuk kelas menengah ke bawah—sangatlah miring, akibatnya pengunjungnya tetap saja membludak. Mereka datang dari mana saja, terutama dari kawasan pinggir Jakarta, termasuk dari kota-kota satelit ibukota seperti Bogor, Bekasi dan Tangerang. Ada juga yang dari Cilegon, Serang dan Merak.Image

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s