Wajah Baru Tanah Abang

 Image

Mulai Minggu 11 Agustus 2013 Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melakukan aksi penertiban di Pusat Grosir Tanah Abang. Gerakan itu dilakukan untuk menegakkan dan mengimplementasikan amanat Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Perda ini melarang warga berjualan di badan jalan yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Jalan-jalan dan trotoar—milik dan hak publik pembayar pajak– yang telah puluhan tahun dikuasai lapak-lapak PKL melalui kelompok-kelompok yang disebut ‘anak wilayah’ untuk kepentingan dan keuntungan sendiri dibersihkan dari jalanan. Seluruh jalan dan trotoar di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder, Jl. Aiptu K.S Tubun Petamburan, Jl. H. Fachruddin, Jl. K.H Wahid Hasyim, Jl. K.H. Mas Mansyur dibersihkan dari lapak-lapak PKL dan parkir liar tanpa pengecualian.

 

Sekitar 1.000 PKL yang tadinya berjualan di jalan dengan membayar Rp 2,5 juta  – Rp 5 juta sebulan kepada ‘anak wilayah’ dipindah ke Blok G. Blok G yang sebenarnya pernah direhab dan ditempati PKL pada tahun 2004, tapi kemudian ditnggalkan karena kondisinya tidak kondusif, terutama dari segi keamanan dan kenyamaan. Banyak preman dan PSK (Pekerja Seks Komersial) beraktivitas di sana. Akibatnya calon pembeli enggan berbelanja ke Blok G, mereka memilih ke Pasar Tasik di depan Stasiun Tanah Abang, atau ke kios-kios di 15 ruas Jl. Jati Baru yang bercabang-cabang seperti ular dalam wilayah beberapa RW di Kelurahan Kampung Bali, atau tepatnya di sisi barat Blok F, atau ke Blok F 1 dan F2, atau malah ke Blok B dan Blok A sekalian, sehingga para pedagang di Blok G tak kebagian pembeli. Ini membuat mereka turun lagi ke jalan dan difasilitasi sepenuhnya oleh anak-anak wilayah, yang menyediakan space lapak tempat berdagang untuk mereka, sekaligus membuat titik-titik parkir liar di semua tempat lowong yang tersedia.

 

Sebenarnyalah sejak  9 tahun terakhir Blok G telah berubah menjadi sarang penyamun. Para pedagang dan warga Tanah Abang lainnya di empat kelurahan, yakni Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali, dan Petamburan di Pusat Grosir Tanah Abang menyebutnya ‘kampung buronan’. Sebutan ini tak mengada-ada, karena entah bagaimana ceritanya preman yang menjadikan Lantai 4 Blok G sebagai markas atas basecamp mengukuhkan diri mereka sebagai tuan rumah bagi para preman buronan dari mana saja.

 Image

Para pelaku kejahatan dari Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Bali, Lombok, NTT, NTB, Kalbar, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulut, Ambon sampai Papua yang lari dari kejaran aparat yang berwenang di daerah tempat dia melanggar hukum, menjadikan Blok G sebagai tempat persembunyian sementara. Mereka dijamu oleh teman-teman preman di Tanah Abang sebelum menghilang lagi ke tempat persembunyian baru.

 

Preman Tanah Abang yang menguasai Blok G sendiri menurut Bang Uci (70), warga Jl. Lontar, Kebun Melati, kebanyakan berasal dari Kebon Melati dan Rawa Belong.

 

Di Blok G mereka bukan hanya menjadikan kios-kios yang kosong sebagai tempat tidur dan beristirahat, tetapi juga sebagai bilik asmara untuk para PSK Bongkaran yang berada di bawah kekuasaannya dengan uang sewa antara Rp 20.000 – Rp 50.000 sekali pakai. 

 Image

PSK Bongkaran sendiri wilayah operasinya memang di sekitar Blok G, yakni di jembatan penyeberangan arah Jl. K.S. Tubun atau  Jembatan Kembar Kanal Barat yang disebut juga Jembatan Kembar Kali Baru, di trotoar di sisi selatan Blok G atau di seberang Jl. Jati Bunder dekat pangkalan truk,, dan di bawah jembatan kembar Kali Baru di sepanjang rel kereta api jurusna Tanah Abang – Manggarai.

 

Merajalelanya preman dan PSK di Lantai 4 Blok G itu membuat para pedagang dan calon pembeli risih, pembeli enggan ke Blok G dan pedagang tak berjual-beli, belum lagi tingkah polah mereka—preman–yang seenaknya, seperti mengambil rokok atau minuman tanpa bayar, makan minum gratis, minta rokok atau uang tiap sebentar, mencopet atau bahkan menodong, juga para PSK yang mandi dan berdandan di kios-kios kosong tanpa mempedulikan situasi dan kondisi di sekitarnya, akibatnya para pedagang satu-persatu kembali lagi ke jalan. Blok G pun makin lama makin menjadi suram dan kumuh, sampai-sampai digelari blok mati.

 Image

Beberapa gubernur sebelum Joko Widodo (Jokowi) – Basuki Tjahya Purnama (Ahok) terkesan tak berdaya menghadapi mubazirnya asset Pemda DKI ini. Mereka juga sepertinya kewalahan dengan para PKL dan preman yang menjadikan jalanan dan trotoar milik negara sebagai sumber penghasilan, tanpa mempedulikan hak-hak publik,  

 

Adanya upaya memodernkan Pusat Grosir Tanah Abang juga menjadi tumpul gara-gara ulah PKL dan preman ini. Keberadaan Blok A, Blok B, Blok F dan PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) tak membawa pengaruh yang signifikan kepada image negatif Tanah Abang sebagai pusat grosir yang sumpek, kumuh, macet, tidak aman, tidak nyaman dan penuh pungutan liar.

 

Namun di era Jokowi – Ahok Pusat Grosir  Tanah Abang berubah total.  PKL bisa dibujuk masuk  ke Blok G, fungsi jalan dan trotoar dikembalikan lagi sebagaimana mestinya sebagai jalan raya dan tempat berjalan kaki bagi warga, parkir dan lapak liar yang menjadikan jalan raya dan trotoar sebagai sumber penghasilan ilegal dilenyapkan, keamanan dan rasa aman masyarakat dipulihkan. Tidak heran kalau banyak yang mengapresiasi gebrakan Jokowi – Ahok ini, salah satunya tergambar dari ungkapan puas beberapa penumpang mikrolet 09, “Enak ye sekarang, suasananye kembali seperti  tahun 1970-an.” Menurut ibu-ibu yang ngobrol itu tahun 1970-an, ketika Ali Sadikin jadi Gubernur DKI, Pusat Grosir Tanah Abang juga senyaman sekarang.

 Image

Supir mikrolet 09 juga senang, biasanya mereka menghabiskan 1 – 2 jam sendiri untuk melewati Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder. “Bayangkan aja Bang, dari Jembatan Kali Baru yang ini, ke stasiun, Kolong, balik lagi ke Blok G, terus ke Jati Bunder, dan sampai ke Jembatan Kali Baru yang ono yang jaraknya tak sampai 2 kilometer saya bisa ngesot sampai 2 jam, makan trip,” keluhnya. Belum lagi pugutannya. Menurut para supir itu ada 4 titik pungutan di jalur mikrolet M 09,  M 09A, M 11, M  08, M 10 itu. “Jumlahnya bervariasi, ada yang Rp 2.000 ada yang Rp 3.000, pokoknya paling nggak Rp 10.000 harus keluar setiap kali melewati Pasar Tanah Abang, ada aja namanya uang triplah, uang kelancaranlah, jatahlah,” ungkap mereka. Kini mereka senang karena jalanan berubah lancar dan pungutan liar menghilang.

 

Sayangnya kini mereka pula yang menyebabkan kemacetan, karena suka ngetem di pertigaan Jl, Jati Bunder dan di pintu keluar Stasiun Tanah  Abang Jl. Jati Baru atau kawasan yang disebut Kolong. Mikrolet M 09 dan M 11 ngetem di pertigaan Jati Bunder, M 08 mecetkan jalan dengan membuat terminal bayangan di Kolong. Pihak Dishub dan polisi terkesan membiarkan saja ulah mereka itu. Para Satpol P juga lebih suka duduk-duduk, merokok dan ngopi. Mereka baru bergerak jika Jokowi dan para atasan mereka muncul menyidak.

 

Para PKL tak kalah gembira. Walau masih kuatir membayangkan masa depan jual belinya, mereka umumnya senang karena tak berada di bawah bayang-bayang preman lagi. “Dulu saya harus bayar Rp 4 juta sebulan, ada transaksi atau tidak,” ujar Junaedi (36), pedagang busana muslim dan perlengkapan shalat di pertigaan Jl. Jati Bunder, Jl Kebon Jati. “Itupun masih digetok lagi sampai 20 kali sehari, yang rokoklah, yang teh  botollah, atau langsung minta Rp 5.000 – Rp 10.000, pokoknya macam-macamlah, tau-tau hasilnya gini, tetap aja digusur,” katanya.

 

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jokowi dan Ahok memang sudah berkomitmen menertibkan Jakarta. Mengatasi kemacetan lalu-lintas dan banjir memang merupakan janji kampanye mereka dalam pemilihan kepala daerah DII tahun 2012.  Penertiban Pasar Tanah Abang hanyalah bagian dari penertiban ibukota keseluruhan. Pasar Minggu, Jatinegara, Pluit, Kramat Pulo, Pasar Gembrong sudah disentuh gebrakan pasangan pemimpin DKI ini sejak mulai memimpin. Dari rumah susun yang salah urus, sampai pemukiman di bantaran kali mereka urus, juga gorong-gorong dan waduk tertimbun serta sampah di 14 kali yang melewati Jakarta.

 

Namun Jokowi – Ahok tak berhenti sebatas penertiban saja, mereka juga memberikan solusi agar warga tetap mendapatkan penghasilan tanpa melanggar hak-hak publik.  Pasangan pemimpin ibukota ini punya mimpi sendiri di Tanah Abang. “Kita akan ubah Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil dan garmen yang layak dan prestisius di Asia,” kata Jokowi. 

 

Bukan itu saja harapan dan konsep Jokowi tentang Pusat Grosir Tanah Abang ke depan. Dia ingin kawasan tersebut juga menjadi sentra primer usaha kecil menengah serta usaha rumah tangga di semua penjuru daerah Indonesia. “Kita ingin semuanya ada. Busana muslim, batik, handycraft. Pokoknya jadi sentra usaha mikro,” ujarnya pada media.

Menurut Jokowi,  mimpi itu takkan bisa terwujud kalau pengelolaan Pasar Tanah Abang masih terpisah-pisah, karena itu dia berkomitmen akan menyatukan pengelolaan blok-blok di Pasar Tanah Abang, tentunya di bawah Pemerintah Provinsi Jakarta.

Jika pengelolaannya terpadu dan terpimpin, Jokowi yakin Pasar Tanah Abang memiliki prospek pengembangan usaha dari hanya sebagai pusat grosir dan wisata belanja, menjadi komoditas ekspor ke belahan dunia lain. “Segmennya berbeda-beda. Misalnya yang murah kita ekspor ke Afrika. Yang menengah ke Australia. Pasti ada caranya entah gimana,” katanya.

Khusus di Blok G, Jokowi akan menggelar musik rakyat agar pengunjung tertarik membeli di tempat relokasi PKL.  “Intinya usaha kecil, rumah tangga, perlu ruang pamer. Mereka perlu ruang memasarkan produk, perlu adanya fasilitas yang mendukung,” jelasnya, dan Jokowi melihat atraksi meriah dan akrab seperti musik rakyat akan membuat orang mau meringankan langkahnya ke Blok G.

 

Ahok punya mimpi yang hampir sama. “Tanah Abang harus menjadi destinasi wisata belanja yang unik dan mensejahterakan warga di sekitarnya, untuk itu Tanah Abang harus tampil resik, cantik, asri dan aman, “ ujar Ahok yang berencana menghidupkan semacam pasar malam di Tanah Abang, sehingga kawasan yang mati di malam hari ini bias hidup dan bergairah kembali.

 

Sebenarnya rencana modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang sudah termaktub dalam rencana dua pengembang besar di ibukota, yakni Djan Faridz dengan group Priamanayanya dan Tommy Winata dengan group Artha Grahanya.

 

Di mata Djan Faridz yang sekarang menjabat Menteri Perumahan Rakyat Tanah Abang bisa menjadi pusat grosir  yang terbesar, terlengkap  dan termewah di Asia Tenggara, sehingga nilainya akan selalu naik setiap waktu. Tommy Winata memiliki persepsi dan konsep serupa, bahkan taipan ini memiliki bayangan tentang pusat perbelanjaan grosir terpadu di mana Pusat Grosir Tanah Abang dilengkapi dengan keberadaan apartment mewah, hotel berbintang, pusat rekreasi, dan pedestrian yang mengular ke setiap sudutnya.

 

Di samping itu semua unsur pendukung lancarnya dinamika sebuah pasar grosir juga tersedia dan siap action, yakni perusahaan-perusahaan ekspedisi, jaringan telepon dan internet, sumber daya listrik tak terbatas dan anti byar pet, lembaga-lembaga keuangan dan perbankan, kantor-kantor pengacara dagang, money changer, sampai bermacam resto, unit pemadam kebakaran, rumah sakit mini, dan peralatan keamanan. Semua sudah jelas dilengkapi pula dengan AC, CCTV, escalator, eskavator, sarana transportasi di dalam dan di luar gedung, para porter berseragam dan ratusan tenaga security.

 Image

Di mata kedua orang ini Pusat Grosir Tanah Abang tampaknya akan mencakup seluruh lahan yang kini menjadi komplek Pasar Tanah Abang keseluruhan yang membentang dari Jl. Jati Baru di barat, Jl. H. Fachruddin atau Tanah Abang Bukit di utara, Jl. Jati Bunder dan Jl, K.H. Mas Mansyur di selatan dan Jl. K.H. Wahid Hasyim di timur. Komplek yang sangat luas karena sudah memasukkan seluruh elemen Pasar Tanah Abang ke dalamnya, dari Tanah Abang Bukit atau Blok AURI di utara, pertokoan Jati Baru, Blok F, F1, F2, F3 di barat, Blok G dan Blok C di selatan. Blok A, Blok B dan PGMTA di timur.

 

Namun ide modernisasi semacam ini mentisakan kegalauan di baliknya, karena konsep pusat grosir seperti itu dikuatirkan justru akan menghilangkan tempat bagi pedagang bermodal menengah ke bawah, karena kemewahan dan kelengkapan yang serba super itu akan berefek ke biaya produksi. Harga sewa dan jual toko pastilah akan membubung naik, begitupun biaya listrik, pajak  dan jasa-jasa lainnya. Ide modernisasi seperti ini dikuatirkan akan membuat para pedagang bermodal tanggung tersingkir dari Pusat Grosir Tanah Abang dan bisa-bisa malah akan mengundang masuknya para pemilik kapital besar dari berbagai belahan dunia seperti China, AS, Eropa, Timur Tengah, Jepang, Korea dan seterusnya, sehingga tak ada tempat lagi untuk pedagang lokal.

 

Selain itu sekelompok pedagang yang telah meraup sukses di Pasar Tanah Abang juga punya ide Pusat Grosir Tanah Abang modern. Mereka menamakan idenya Koperbin (Koperasi Penerus Perjhuangan Bangsa Indonesia),  sepertinya para penggagas Koperbin mendambakan sebuah pasar grosir yang berorientasi kepada kesejahteraan para pedagang. Modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang di mata para penggagas Koperbin adalah pusat grosir yang bisa menampung sebanyak mungkin pedagang bermodal kecil dan sedang, sehingga mereka bisa tetap bertahan dan terus eksis menghadapi gelombang persaingan yang makin sengit di era perdagangan bebas.

 

Kawasan yang mereka impikan untuk dijadikan sentra bisnis adalah 2,1 hektare lahan di depan Stasiun Tanah Abang. Komplek tersebut akan dilengkapi hotel, apartement, pusat grosir dan taman rekreasi juga. Izin prinsip sudah mereka pegang sejak era pemerintahan Gubernur Sutiyoso tahun 2004, namun belum diketahui respon Jokowi selaku Gubernur DKI yang baru.

 

Masa depan lain yang akan mengimbangi dan mendukung  perkembangan pesat Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil dan garmen kelas dunia adalah pembangunan besar-besaran Stasiun Tanah Abang. Dalam master plan yang ada di PT KAI Tanah Abang akan menjadi stasiun utama untuk di Jakarta, yang akan menghubungkan Pusat Grosir Tanah Abang dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Soekarno Hatta dan Pelabuhan Penyeberangan Merak – Bakauheni. Inti idenya adalah menjadi media dan sarana penghubung dan pendistribusian produk tekstil dan garmen dari Pusat Grosir Tanah Abang ke seluruh daerah di Nusantara dan  mancanegara.

 Image

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s