Obral Batik di Al Hadi dan Kencana Ungu

English: Batik Lasem is batik originated from ...

English: Batik Lasem is batik originated from Lasem, a northern coastal town in Central Java. It is well known for its typical bright red color called “abang getih pithik” (Javanese: chicken blood red). Lasem Batik is one of the most beautiful batik art in Indonesia and also displaying the inter-marriage of two cultures: Javanese and Chinese. (Photo credit: Wikipedia)

Indonesian batik men shirt Central Javanese Su...

Indonesian batik men shirt Central Javanese Surakarta (Solo) style in earthy sogan (deep yellow and brown) color with lereng motif and cabut tulis technique (combination of copper-block print and hand drawn). Batik Putra Laweyan, from Laweyan distric, traditional Batik production village in Surakarta, Central Java, Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

English: Batik Display at Indonesian National ...

English: Batik Display at Indonesian National Museum, Jakarta. Batik is traditional Indonesian textile artform indigenous to island of Java. (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang–Toko batik Al Hadi dan Kencana Ungu yang menempati Lantai SLG (semi lower ground) Blok B Pusat Grosir Tanah Abang menggelar obral batik besar-besaran sejak awal April lalu. Harga yang ditawarkan kedua toko yang berlokasi di di Los D No. 163 dan Los C No. 001 (Al Hadi),  Los D No. 6-7 dan Lo

Batik cloth (purchased in Yogyakarta) - Gebati...

Batik cloth (purchased in Yogyakarta) – Gebatikte stof (gekocht in Yogyakarta) (Photo credit: Wikipedia)

s E No. 156-157 (Kencana Ungu) tersebut berkisar Rp 10.000 -Rp 20.000 per potong untuk kemeja batik, hem, blus dan daster.

Namun jangan buru-buru memborong, karena harga itu hanya berlaku untuk pembelian minimal 3 pieces. “Kalau beli satu potong harganya Rp 15.000 – Rp 25.000,” ujar karyawan yang melayani pembeli yang saya lupa tanya namanya. “Pilih aja, semua ukuran tersedia kok, dari S sampai XL,” kata dia lagi.

Peminat obral batik ini ternyata cukup banyak, pengamatan saya sejak seminggu terakhir bulan April, kedua toko tersebut selalu ramai dikerubungi pembeli yang sibuk memilih-milih batik kesukaannya. Tapi tak semuanya asyik, ada juga yang terpana saja menatap berbagai pilihan produk batik tersebut. “Bingung, nggak tahu mau milih yang mana, banyak banget sih,” ujar Lilis, calon pembeli dari Bekasi, Jawa Barat.

Toko Batik Al Hadi cukup terkenal di Pusat Grosir Tanah Abang. Rukonya ada di Jl. K.H Mas Mansyur No. 24 Tanah Abang. Kiosnya juga ada di Blok A yakni di Lantai B1 Los C No. 03, sementara di Blok B selain yang telah dituliskan di atas, Toko Batik Al Hadi juga ada di Lantai SLG Los A No. 126, 127, 128; Los A No. 149; Los A No. 117; Los B No. 127, 128 dan Lantai B1 Los G No. 128 . Pusat grosir dan retail batik sutera ini juga bisa diakses di http://www.batikalhadi.co.id dengan email info@batikalhadi.co.id

Toko batik Kencana Ungun tak kurang ngetopnya, karena juga memiliki banyak kios di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang, tapi saya belum sempat nanya-nanya dan mencarinya, habis rame banget sih. Sabaar yaaa…

Omzet Turun, Pedagang Mengeluh

Tanah Abang, Jakarta

Tanah Abang, Jakarta (Photo credit: zulrosle)

Tanah Abang—Omzet perdagangan di Pusat Grosir Tanah  Abang dirasakan merosot oleh sementara pedagang di Blok A, B dan F. Mereka menilai masa keemasan Pusat Grosir Tanah Abang adalah tahun 2007 ke bawah, tahun 2007 ke atas perdagangan dianggap lesu.

Hal ini misalnya diutarakan H. Aris  (70) yang punya kios di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang. “Dulu saya punya 4 kios di Tanah Abang dan satu kios di Senen, kini tinggal 2 saja, yang lainnya saya sewakan atau kontrakkan,” katanya.

Hal itu dilakukan, kata H. Aris, karena jual beli menurun drastis. “Tak seperti tahun 2007 ke bawah, sekarang jauh merosot,” katanya.

“Dulu berapapun banyaknya produksi konveksi saya, selalu habis diborong pedagang dari Nigeria, sekarang tampak pun tidak puncak hidung mereka di Tanah Abang, kalau pun ada cuma satu dua, itupun pemain baru dan belanjanya sedikit, mayoritas sudah pindah ke China,” kata pedagang yang masuk ke Tanah Abang tahun 1976 ini.

Menurut H Aris penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang adalah makin agresifnya produsen tekstil dan garmen di RRC (Republik Rakyat China), banyaknya keringanan yang didapat pengusaha di sana dan makin banyaknya sentra grosir di Jakarta.

Di China, kata H Aris, pengusaha dan pembeli dari luar sangat dimanjakan. Pajak rendah, pungutan ekspor tak banyak, tarif listrik dan upah buruh murah. “Pedagang yang mengekspor ke Nigeria, misalnya, tak dikenai biaya tinggi, bahkan prosedurnya dipermudah, akibatnya mereka bisa menjual lebih murah. Di sini–menurut orang Nigeria mantan pelanggan saya–terlalu banyak meja, terlalu banyak perizinan dan pungutannya,” katanya.

Kalangan pengusaha di China, menurut H Aris,  juga dipermudah. “Bahkan kalau yang punya buruh di atas 150 orang, bunga bank sangat rendah, 0,0 sekian persen, di sini? Apa yang tidak tinggi?” sergahnya.

“Saya bayar listrik di konveksi sampai Rp 6 juta sebulan. Bayar buruh Rp 150 juta sebulan. Sewa kios di Blok A saja Rp 1,4 M per tahun untuk kios seluas 6 meter,” katanya lagi sambil menambahkan bahwa banyak temannya sesama pedagang yang mengeluh. Karyawan juga makin tegas menuntut kesejahteraannya. “Anak jahit saya misalnya, enak saja bergurau Pak Haji nasi di warteg tak bisa lagi dibeli dengan uang Rp 3.000 atau Rp 4.000, rata-rata udah Rp 6.000 – Rp 8.000 Pak Haji, itupun pake telor doang, tampaknya harus naik gaji nii Pak Haji,” paparnya.

Makin banyaknya sentra grosir di luar Tanah Abang juga dikatakan H Aris sebagai salah satu penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang. “Dulu semuanya berpunca di Tanah Abang, sekarang di mana-mana ada, Senen, Mangga Dua, Cempaka Mas, Jatinegara, Cililitan, Pasar Minggu, Depok,  di mana-mana,” ujarnya.

“Dulu pedagang Senen atau Jatinegara mohon-mohon agar kita tak menjual eceran, karena orang pasti ke Tanah Abang semua, kini kita yang terpaksa jual eceran dan mereka tutup mata saja,” tambah pedagang asal Pariaman, Sumatera Barat ini.

Dia juga mengatakan Tanah Abang telah jauh berubah. “Dulu dagangan di sini tekstil dan garmen semua, kini grosir sepatu, sandal, tas, dompet, koper makin banyak masuk,” ungkapnya lebih jauh. Apa artinya itu ya? Apa H. Aris mau bilang bahwa posisi Tanah Abang sebagai pusat grosir mulai tergeser dan fasilitas yang ada sekarang kebanyakan? Dia tak melanjutkan pembicaraan.

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

Minggu, Pusat Grosir Tanah Abang Sepi

Nederlands: negatief. Tuin achter het huis van...

Nederlands: negatief. Tuin achter het huis van J.H. Ritman op Tanah Abang Barat 36 in Djakarta (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de ...

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de vliet van Tanah Abang in Weltevreden, Java (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang—Meski masih banyak orang berkunjung ke Pusat Grosir Tanah Abang Minggu (21/4), tapi untuk ukuran Tanah Abang keramaian tersebut tak ada artinya, karena jumlah pengunjung jauh berkurang.

Di Blok B misalnya, seluruh toko di dari lantai LG ke atas—sampai lantai 11—tutup. Lantai LG yang biasanya ramai sepi mati, pintu penghubung dengan Blok A dari Lantai LG juga ditutup. Hanya Blok A yang tetap buka seluruh lantai, termasuk Tenabang Food Court di Lantai 8, meski toko-toko banyak yang tidak buka.

Blok F, F1 dan F2 tetap buka, tapi banyak juga toko yang tutup dan pengunjungnya tak seramai biasa. Pintu di belakang markas Pemadam Kebakaran Tanah Abang dari sisi Jl. Kebon Jati yang tembus ke Lantai 1 Blok F1, juga tidak dibuka seperti di hari-hari biasa.

Yang makin ramai justru para pengantau (pedagang yang tak punya lapak atau kios), mereka kini bebas berjualan di depan toko-toko yang tutup. “Saya memang tetap jualan hari Minggu Bang, kalau nggak bisa nggak makan saya, berapalah untungnya dagang beginian,” ujar Hendra yang biasa berdagang di depan eskalator Lantai 2 Los DKS Blok F1. Bedanya hari Minggu Hendra, yang kost di Jati Bunder bersama 2 teman lainnya, berjualan di Blok F2.

Hendra mengaku tak bisa ikut berjualan di Blok A. “Nggak berani Bang, belum tahu kiatnya, salah-salah barang jualan saya bisa disita security, mereka tak kenal basa-basi, tegas dan tega, kecuali kita sudah ada komunikasi dengan mereka,” kata Hendra lebih jauh.

Suasana di Blok A memang tidak langsung berubah drastis seperti suasana K-5 di Jl. Kebon Jati, karena walaupun diizinkan berdagang di dekat-dekat elevator tiap lantai, para pengantau itu tetap berdagang dengan tertib. Barang jualannya ditata rapi dan mereka menyapa calon pembeli dengan sopan. “Ayolah Ibuuu, hanya Rp 45.000, muraah….”

Pedagang Libur

Amiruddin, security yang bertugas di Blok F1 mengatakan hari Minggu umumnya pedagang memang memilih libur. “Kalau buka terus kapan lagi hari untuk keluarga Pak, mereka kan juga ingin menikmati suasana bersama anak cucu,” katanya.

Security yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan tokoh masyarakat Tanah Abang Bang H. Ucu Kambing dan juga H. Lulung ini menambahkan, “Yang buka hari Minggu biasanya karyawan toko saja, itupun tidak selalu, karena karyawan kan juga butuh libur.”

Sonya, salah satu pedagang yang buka di Lantai SLG Blok B mengatakan biasanya dia juga tutup hari Minggu, tapi karena ada orderan yang harus dikejarkan terpaksa dia buka juga hari Minggu. “Kalau pengiriman tak bermasalah kemarin, hari ini saya nggak buka tuh,” katanya sambil terus mengecek barang-barang pesanan kliennya dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ada informasi bahwa Lantai LG ke atas di Blok B memang sengaja tidak dibuka hari Minggu untuk penghematan. “Kalaupun pedagang ingin buka hari Minggu tetap saja tidak bisa karena listrik dimatikan pengelola, itu yang saya dengar,” kata Hendra. Saya sudah mencoba konfirmasi ke pengelola gedung, tapi building management PT Prima Kelola Sukses belum menjawab pesan saya  di inbox FB-nya.

Danny, pengunjung dari Jambi mengaku kecele saat datang ke Tanah Abang hari Minggu itu. “Saya kira hari ini tambah ramai, ternyata malah banyak yang libur, besoklah saya ke sini lagi, sekalian melihat-lihat Pasar Tasik,” katanya agak kecewa.

Namun demikian, sesepi-sepinya Pusat Grosir Tanah Abang, tetap saja akan lebih ramai dari pasar manapun di tanah air, karena Tanah Abang memang punya magnit yang kuat sebagai pusat grosir tekstil dan garmen. “Terutama harganya yang masih saja tetap lebih murah dibanding pusat-pusat grosir lainnya di Jakarta,” ujar Ariadi, pedagang dari Bekasi, Jawa Barat, yang sekali dua minggu pasti ke Tanah Abang berbelanja untuk tokonya di Pondok Timur Indah, Bekasi.

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tana...

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tanah Abang (Photo credit: Wikipedia)

 

Produk Cina Menyerbu, Produk Lokal Tetap Eksis

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang—Meski gencar diserbu masuknya produk-produk tekstil dari China, produk lokal di Pusat Grosir Tanah Abang tetap eksis dan berjaya, terutama di Blok F dan F1.

Yoe Sanusi, pemilik toko Baalego di Blok F1, Lantai 2, Los DKS No.12 mengatakan di Blok F1 tak ada produk China. “Di sini setahu saya lokal semua, kecuali di Blok A dan Blok B, memang banyak produk China, terutama untuk kaos, pakaian remaja dan pakaian anak-anak, seperti yang terlihat di Lantai Ground Blok A atau di Jembatan,” kata pedagang dan pemilik konveksi yang mulai berdagang di Tanah Abang tahun 1998.

Yoe mengakui China juga sudah banyak memproduksi busana muslim, tapi kata dia produk lokal masih lebih disukai kalau untuk busana muslim. “Produk Tasikmalaya dan seputaran Jakarta sendiri masih lebih diminati,” kata pedagang yang sudah memiliki merk sendiri ini.

Produk China gencar menyerbu Pusat  Grosir Tanah Abang sejak 5 tahun terakhir. Pengusaha Sofyan Wanandi pernah menyebut 70 persen produk garmen dan tekstil di Pusat Grosir Tanah Abang diimpor dari China. Yoe Sanusi mengiyakan. “Mungkin begitu, produk mereka memang lebih murah, itu karena diproduksi secara massal, dalam artian benar-benar massal, pabriknya saja bisa sebesar dua kali lapangan bola, belum mesin-mesinnya, rata-rata keluaran terbaru dan super modern,” tambah Yoe yang sudah dua kali meninjau langsung ke Seng Zhen China.

Namun menurut Yoe murah saja tidak cukup. “Pembeli di Indonesia ini sepertinya punya selera sendiri yang tampaknya belum ditemukan oleh produsen di China, yang mungkin terkait selera berpakaian, pola, cuaca dan sensitivitas kulit, tidak tahu juga saya, tapi adalah pokoknya, sehingga produk lokal tetap lebih diminati,” kata pedagang yang produk-produk  bermerknya, Aristya, sering dipopulerkan oleh artis Astri Ivo ini.

Tanah Abang, Jakarta

Tanah Abang, Jakarta (Photo credit: zulrosle)

Bukti bahwa produk lokal masih eksis terlihat dari masih maraknya apa yang disebut Pasar Tasik. Setiap hari Senin dan Kamis ratusan mobil box, innova, avanza, xenia, rush, apv berkonvoi dari Tasikmalaya dan Majalengka, Jawa Barat. “Mereka tiba subuh, shalat sebentar lalu mulai berdagang di mobil, jam 11 udah tutup,” ungkap Jidah Nazwa Nayla, pedagang perlengkapan shalat yang membuka kios di Blok B, Lantai B1, Los D, No.71. Pedagang dengan nomor polisi D ini juga meramaikan Thamrin City, yang masih dekat dengan Tanah Abang. “Bedanya yang di Thamrin City buka tiap hari dan sampai jam 16.00 sore,” ujar Jidah lagi. Selain itu mereka juga ada di area parkir Lantai 5 Blok F, yang setiap Senin dan Kamis sengja dikosongkan PD Pasar Jaya untuk mereka dengan nilai sewa sampai Rp20 juta setahun.

Namun yang teramai memang Pasar Tasik dari depan Stasiun Tanah Abang, kawasan Jati Baru sampai ke Jl.Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder yang jugadisebut Jl. Jembatan Tinggi. Deretan mobil yang sekaligus toko tersebut menambah padat jalan dan meningkatkan kemacetan di depan markas Pemadam Kebakaran Tanah Abang.

Produki lokal juga banyak berdatangan dari Pekalongan, Jawa Tengah, terutama untuk produk batik. “Batik masih didominasi Pekalongan, ada juga sih batik yang katanya buiatan Malaysia, tapi nggak banyak,” tambah Jidah.

Pedagang di Los Sepi Harus Rajin Cari Orderan

Tanah Abang—Pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang yang menempati los-los sepi harus pandai-pandai mencari orderan ke luar, kalau ingin bertahan dan tetap mendapat keuntungan, karena bagi pedagang di los-los sepi pembeli langsung tak bisa diharapkan.

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de ...

Nederlands: Negatief. Mensen vangen vis in de vliet van Tanah Abang in Weltevreden, Java (Photo credit: Wikipedia)

Seperti dituturkan Ramli (45), pedagang di Los C, Lantai B1, Blok B. “Pembeli langsung tak bisa terlalu kita harapkan, karena kios kita terletak di lokasi yang kurang strategis, jadi kita harus pandai dan gesit mencari orderan ke luar,” katanya.

Menurut Ramli, kios strategis yang biasanya ramai didatangi pembeli adalah yang berada di dekat lift (elevator) atau eskalator, karena langsung tertangkap mata calon pembeli, kios-kios yang jauh dari sarana akses per lantai ini biasanya terabaikan, karena calon pembeli malas mencari, apalagi bagi kios-kios yang terletak jauh di lantai sepi.

“Kita yang jauh dari eskalator atau lift ini hanya bisa berharap untung-untungan ditemukan, terutama oleh calon pembeli yang memang hobi belanja atau gigih mencari dan mendapatkan barang yang diinginkannya,” tambah Ramli.

Jidah Nashwa Naiya (50), pedagang yang menyewa kios di Los D, Lantai B1, Blok B membenarkan. “Kalau mengaharapkan jual beli konvensional, atau yang datang langsung ke kios kita ya susah karena lokasi kios kita kurang menguntungkan, saya mencari orderan ke luar, tapi kios tetap perlu untuk pembeli tekun yang lewat sewaktu-waktu,” katanya.

Menurut Jidah yang mengkhususkan diri dalam penjualan mukena dan perlengkapan shallat, dia bekerja sama dengan perusahaan biro perjalanan umroh dan supermarket seperti Giant. “Kalau tidak begitu bisa-bisa saya nggak bisa bayar sewa kios,” katanya. “Karena permintaan saat ini benar-benar sepi, calon pembeli yang lewat bisa dihitung dengan jari, daerah sepertinya juga tidur panjang,” ucapnya lagi.

Blok B Pusat Pasar Grosir Tanah Abang yang baru Juni 2010 dioperasionalisasikan memang masih sepi pembeli dan penyewa kios. Lantai yang ramai dengan kios buka dan transaksi jual beli adalah lantai 2, 1, G (Ground) atau GF (Ground Floor), LG (Lower Ground), dan GLG atau SLG (Semi Lower Ground), lantai 3, 3A, 4 dan 5 sepi, tak banyak kios buka dan sangat minim transaksi. Rolling door Los A sampai I-nya tertutup rapat dan digembok.

Blok B Pusat Pasar Grosir Tanah Abang terdiri dari 17 lantai ditambah lantai atap. Ke-17 lantai itu dari atas adalah Lt. 11, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 3A (karena angka 4 dianggap tidak hoki), 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2, B3. Lantai 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan B3 digunakan untuk lahan parkir. Lantai 5, 3A, 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2 adalah pusat grosir berbagai produk tektil dan aksesoris. Busana muslim merupakan komoditi jualan yang paling dominan di Blok B