China Datang Tasik Menantang

 

ImageBersamaan dengan berubahnya penampilan Pasar Tanah Abang, berubah pulalah trend perdagangan. Kebakaran besar Februari 2003 membuat banyak pelanggan mancanegara Tanah Abang lari ke China. Pengakuan H. Aris (70) menggambarkan hal itu. Pedagang asal Pariaman, Sumbar ini dulu punya 4 kios di Tanah Abang dan 1 kios di Senen, tapi kini tinggal 2 saja yang dipakainya–dua-duanya di Blok A, tiga lagi disewakan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Itu karena pelanggannya orang-orang Nigeria pindah ke Guang Zhao, RRC. China mengisi kekosongan aktivitas di Pusat Grosir Tanah Abang itu dengan baik.

Sementara pedagang lokal, terutama yang berada di Indonesia Timur seperti Bali, Lombok, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasih, Pontianak, Palangkaraya, Makassar, Mataram, Manado, Ambon dan Papua berpaling ke Pasar Turi, Surabaya yang juga merupakan pusat grosir produk tekstil dan garmen di Jawa Timur.  Kekosongan selama 4 tahun itu—2003 – 2007—sangat memukul eksistensi Pusat Grosir Tanah Abang.

Kondisi itu diperburuk oleh agresivitas dan peluang bisnis yang muncul karena regulasi perdagangan regional seperti Asean China Free Trade Agreement (AC FTA) yang meski baru resmi berlaku 1 Januari 2010, tapi sudah dimanfaatkan  China dengan sebaik-baiknya.  Desember 2009 saja, menurut catatan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) produk tekstil dan garmen asing dari China, Korea,  Sri Lanka, Banglades, Makao, Hongkong, Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Singapura sudah merajai 75 persen pangsa pasar di Pusat Grosir Tanah Abang. Dari yang 75 persen itu, 80 persennya adalah produk tekstil dan garmen China.

 Image

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) sebenarnya sudah teriak sejak tahun 2004, ketika mereka menemukan indikasi lonjakan impor produk tekstil dan garmen asal China ke Pusat Grosir Tanah Abang. Liputan Kompas 28 Februari 2006 menyebutkan keluhan APPSI tentang rusaknya jaringan tekstil nasional. Menurut APPSI mata rantai produk tekstil dan garmen nasional dibangun dengan sistem konsinyasi,  mulai dari hulu dan terikat berdasarkan asas kepercayaan sejak puluhan tahun.

 

”Jaringan tekstil nasional sangat istimewa karena pedagang bisa melakukan bisnis tanpa modal, cukup dengan kepercayaan. Semua perdagangan tekstil di hilir dibiayai oleh industri tekstil dengan memberikan konsinyasi selama empat bulan,” ujar Hasan Basri, Ketua Umum APPSI.

 

Ia menambahkan, dahulu pengusaha tekstil memberikan bahan kepada  produsen garmen dengan waktu pembayaran empat bulan. Kemudian, pengusaha garmen menyerahkan barang ke Pasar Tanah Abang dengan jangka waktu pembayaran dua bulan. Barang mengalir ke pasar di daerah dengan pembayaran dalam jangka waktu satu bulan.

 

Jadi, jaringan industri tekstil di Indonesia sangat kuat tanpa memerlukan dana segar. Akan tetapi, begitu tekstil China masuk, mulai berlaku hukum rimba sehingga hanya pedagang bermodal kuat yang bisa bertahan.

 

Menurut Hasan Basri kepada Kompas jaringan bisnis impor dari China dilakukan dengan pola pembayaran tunai. Saat ini pedagang yang tetap bertahan di jalur garmen lokal lebih karena ketiadaan modal. Nilai bisnisnya pun dari tahun ke tahun terus menurun. Sebagai gambaran, pada tahun 2002 Hasan Basri masih mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 50 juta per hari. Saat itu—tahun 2006–omzetnya tinggal Rp 3 juta per hari.

 

Mayulis, pedagang garmen lokal lainnya di Blok G, Pasar Tanah Abang, memperkuat fakta itu. Dulu sebelum produk China masuk ke Tanah Abang, omzetnya bisa mencapai Rp 6 juta-Rp 8 juta per hari. Tahun 2006 itu Mayulis hanya meraup omzet Rp 700.000 per hari.

 Image

Contoh lainnya yg tumbang dilindas produk China adalah PT Sarasa Nugraha. Perusahaan ini dahulu adalah produsen garmen lokal. Kini dua pabriknya ditutup dan banting setir ke bisnis agrokimia. Presiden Direktur PT Sarasa Nugraha Budhi Moeljono menngatakan pada Februari 2004 perseroan menghentikan produksi pakaian jadi di pabrik Balaraja, Tangerang, dan sekitar 1.200 karyawannya diberhentikan. Selanjutnya, pada Februari 2005 PT Sarasa menghentikan produksi pabrik di Cibodas, Jawa Barat, dengan merumahkan sekitar 1.700 karyawan. Sejak 4 Oktober 2005 perusahaannya mengubah bisnis intinya setelah merger dengan  PT Indo Acidatama Chemical Industry.

 

Pengusaha konveksi pakaian anak, Chairuddin, mengatakan, selain murah, produk China juga unggul dalam desain. Setelan baju tidur (anak perempuan), misalnya, kalau produk China dijual seharga Rp 350.000 per kodi (20 pasang atau Rp 17.500 per pasang). Produk lokal yg sejenis harganya lebih dari Rp 400.000 per kodi

atau Rp 20.000 per pasang. Setelan pakaian anak-anak yg terdiri dari celana, rompi, dan kaus diperdagangkan hanya Rp 40.000 per pasang. Sementara itu, (hanya) celana anak- anak produk dalam negeri dijual dengan harga Rp 30.000 per potong.

 

”Dari dulu desain mereka unggul, tetapi dulu hanya produk Hongkong yang masuk dan harganya relatif lebih mahal dari produk dalam negeri. Sekarang produk China yang non -Hongkong pun masuk, itu yang dijual sangat murah,” ujar pengusaha konveksi di sentra garmen Buncit Raya Jakarta ini.

 

Murahnya harga produk garmen dari China, lanjut Chairuddin, karena harga bahan bakunya relatif lebih murah daripada tekstil dan perlengkapan konfeksi produk Indonesia. ”Kalau upah tukang jahit, kita sudah sangat murah. Baju tidur, setelan celana dan baju, ongkos jahitnya cuma Rp 400 per potong. Bahan baku nya yang mahal, apalagi setelah kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak),” katanya.

Di China pengusaha tak dibebani segala tetek bengek pungutan oleh negara. Kebijakan Pemerintah China untuk mensupport pengusaha tekstilnya  antara lain: dengan menerapkan bea masuk impor nol persen sesuai dengan tuntutan perdagangan bebas (ACFTA); mematok mata uang China, Yuan,  dengan kurs tetap; menurunkan suku bunga pinjaman bank–kata H. Aris yang pernah beberapa kali ke Guang Zhao, bank-bank pemerintah di China memberlakukan bunga pinjaman yang sangat rendah kepada perusahaan tekstil dan garmen yang memiliki buruh lebih dari 150 orang; Pemerintah China juga memberi pinjaman lunak berbunga rendah kepada importir dari Indonesia atau Nigeria dengan tempo pengembalian yang lebih lama; mereka juga membangun infrastruktur transportasi besar-besaran seperti jalan raya, rel kereta api dan pelabuhan untuk menurunkan biaya angkut logistik. Selain itu birokrasi sangat efektif dan efisien, tidak seperti di Indonesia yang banyak sekali ‘meja’ lengkap dengan pungutan liarnya.

Yang lebih hebat adalah layanan  super cepat mereka. Beberapa pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang mengatakan kalau memesan mukena, jilbab atau gamis ke Guang Zhao, datangnya lebih cepat dibanding memesan ke Tasikmalaya. Ini kenyataan yang tak bisa dibantah. Kondisi barang juga dipastikan baik-baik saja, kalau ada yang cacat bisa direject tanpa banyak prosedur.

Fakta ini cukup mendebarkan, apalagi produk tekstil dan garmen China yang menyerbu Pusat grosir Tanah Abang tersebut termasuk batik. Meski cuma batik printing dan bukan batik tangan, kenyataan ini bisa mengguncang sentra batik Indonesia seperti Pekalongan, Solo, Ypgjakarta dan Jepara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2012 tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari China ke Indonesia dengan nilai USD 30 juta atau sekitar Rp 294 miliar. 

Namun segala kelebihan produk tekstil dan garmen asal China ini tak membuat semua produsen lokal patah semangat. Masih banyak produsen lokal yang tetap bertahan meski dengan susah payah. Sebagian pedagang juga masih memperlihatkan optimisme untuk kebangkitan produk tekstil dan garmen Indonesia. “Asal pemerintah mau membantu seperti apa yang dilakukan pemerintah China terhadap pengusaha dan pedagangnya, saya yakin produk tekstildan garmen lokal akan kembali Berjaya, masalahnya kualitasnya jauh lebih bagus menurut saya,” ujar Jidah Nazwa Naiya (50), seorang pedagang di Blok B Lantai B1 Pusat Grosir Tanah Abang.

 

Alasan Jidah sederhana saja, produk China adalah produk massal yang berskala super besar, sementara produk lokal agak terbatas, bahkan banyak yang sengaja membatasi produknya menjadi produk ekslusif. “Orang Indonesia itu suka berbeda dari yang lain, dia bangga kalau pakaiannya tidak sama dengan teman atau tetangganya,” katanya.

 

Indikasi bahwa optimisme itu ada terlihat pada masih maraknya transaksi di Pasar Tasik. Sampai minggu kedua bulan Ramadhan tahun ini, Pusat Grosir Tanah Abang masih dipadati sekitar 150 mobil toko dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Seperti biasa setiap Senin dan Kamis mereka membuka lapak temporer di sepanjang Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder dengan membayar Rp 100.000 per mobil ke ‘anak wilayah’ atau preman setempat. Selain itu mereka juga membuka lapak di lahan parkir Lantai  5 Blok F1 yang telah dikontrak Rp 5 juta – Rp 10 juta per tahun dan dipakai juga pada hari Senin dan Kamis. Mereka juga buka lapak mobil di halaman parkir Yayasan Said Naum Jl. H. Mas Mansyur.

 

Pasar Tasik permanen terdapat di kawasan pertokoan Jl. Jati Baru, depan Stasiun Tanah Abang dan Lantai 5 Thamrin City. Paling tidak ada sekitar 3.000 pengusaha tekstil dan garmen asal Tasik Malaya dan sekitarnya yang tetap mencoba bertahan menghadapi gempuran produk China. Semangat serupa juga muncul dari para penguasaha batik di Pekalongan, Solo, Yogyakarta  dan Jepara. Tapi ya itu tadi, tanpa uluran tangan pemerintah dalam bentuk keringanan pajak, efisiensi regulasi, tarif  listrik, harga BBM dan pemberantasan hantu pungli dalam birokrasi perizinan, serta premanisme,  semangat juang mereka akan padam sia-sia.Image

Omzet Turun, Pedagang Mengeluh

Tanah Abang, Jakarta

Tanah Abang, Jakarta (Photo credit: zulrosle)

Tanah Abang—Omzet perdagangan di Pusat Grosir Tanah  Abang dirasakan merosot oleh sementara pedagang di Blok A, B dan F. Mereka menilai masa keemasan Pusat Grosir Tanah Abang adalah tahun 2007 ke bawah, tahun 2007 ke atas perdagangan dianggap lesu.

Hal ini misalnya diutarakan H. Aris  (70) yang punya kios di Blok A dan B Pusat Grosir Tanah Abang. “Dulu saya punya 4 kios di Tanah Abang dan satu kios di Senen, kini tinggal 2 saja, yang lainnya saya sewakan atau kontrakkan,” katanya.

Hal itu dilakukan, kata H. Aris, karena jual beli menurun drastis. “Tak seperti tahun 2007 ke bawah, sekarang jauh merosot,” katanya.

“Dulu berapapun banyaknya produksi konveksi saya, selalu habis diborong pedagang dari Nigeria, sekarang tampak pun tidak puncak hidung mereka di Tanah Abang, kalau pun ada cuma satu dua, itupun pemain baru dan belanjanya sedikit, mayoritas sudah pindah ke China,” kata pedagang yang masuk ke Tanah Abang tahun 1976 ini.

Menurut H Aris penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang adalah makin agresifnya produsen tekstil dan garmen di RRC (Republik Rakyat China), banyaknya keringanan yang didapat pengusaha di sana dan makin banyaknya sentra grosir di Jakarta.

Di China, kata H Aris, pengusaha dan pembeli dari luar sangat dimanjakan. Pajak rendah, pungutan ekspor tak banyak, tarif listrik dan upah buruh murah. “Pedagang yang mengekspor ke Nigeria, misalnya, tak dikenai biaya tinggi, bahkan prosedurnya dipermudah, akibatnya mereka bisa menjual lebih murah. Di sini–menurut orang Nigeria mantan pelanggan saya–terlalu banyak meja, terlalu banyak perizinan dan pungutannya,” katanya.

Kalangan pengusaha di China, menurut H Aris,  juga dipermudah. “Bahkan kalau yang punya buruh di atas 150 orang, bunga bank sangat rendah, 0,0 sekian persen, di sini? Apa yang tidak tinggi?” sergahnya.

“Saya bayar listrik di konveksi sampai Rp 6 juta sebulan. Bayar buruh Rp 150 juta sebulan. Sewa kios di Blok A saja Rp 1,4 M per tahun untuk kios seluas 6 meter,” katanya lagi sambil menambahkan bahwa banyak temannya sesama pedagang yang mengeluh. Karyawan juga makin tegas menuntut kesejahteraannya. “Anak jahit saya misalnya, enak saja bergurau Pak Haji nasi di warteg tak bisa lagi dibeli dengan uang Rp 3.000 atau Rp 4.000, rata-rata udah Rp 6.000 – Rp 8.000 Pak Haji, itupun pake telor doang, tampaknya harus naik gaji nii Pak Haji,” paparnya.

Makin banyaknya sentra grosir di luar Tanah Abang juga dikatakan H Aris sebagai salah satu penyebab menurunnya omzet perdagangan di Tanah Abang. “Dulu semuanya berpunca di Tanah Abang, sekarang di mana-mana ada, Senen, Mangga Dua, Cempaka Mas, Jatinegara, Cililitan, Pasar Minggu, Depok,  di mana-mana,” ujarnya.

“Dulu pedagang Senen atau Jatinegara mohon-mohon agar kita tak menjual eceran, karena orang pasti ke Tanah Abang semua, kini kita yang terpaksa jual eceran dan mereka tutup mata saja,” tambah pedagang asal Pariaman, Sumatera Barat ini.

Dia juga mengatakan Tanah Abang telah jauh berubah. “Dulu dagangan di sini tekstil dan garmen semua, kini grosir sepatu, sandal, tas, dompet, koper makin banyak masuk,” ungkapnya lebih jauh. Apa artinya itu ya? Apa H. Aris mau bilang bahwa posisi Tanah Abang sebagai pusat grosir mulai tergeser dan fasilitas yang ada sekarang kebanyakan? Dia tak melanjutkan pembicaraan.

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

Produk Cina Menyerbu, Produk Lokal Tetap Eksis

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Tanah Abang—Meski gencar diserbu masuknya produk-produk tekstil dari China, produk lokal di Pusat Grosir Tanah Abang tetap eksis dan berjaya, terutama di Blok F dan F1.

Yoe Sanusi, pemilik toko Baalego di Blok F1, Lantai 2, Los DKS No.12 mengatakan di Blok F1 tak ada produk China. “Di sini setahu saya lokal semua, kecuali di Blok A dan Blok B, memang banyak produk China, terutama untuk kaos, pakaian remaja dan pakaian anak-anak, seperti yang terlihat di Lantai Ground Blok A atau di Jembatan,” kata pedagang dan pemilik konveksi yang mulai berdagang di Tanah Abang tahun 1998.

Yoe mengakui China juga sudah banyak memproduksi busana muslim, tapi kata dia produk lokal masih lebih disukai kalau untuk busana muslim. “Produk Tasikmalaya dan seputaran Jakarta sendiri masih lebih diminati,” kata pedagang yang sudah memiliki merk sendiri ini.

Produk China gencar menyerbu Pusat  Grosir Tanah Abang sejak 5 tahun terakhir. Pengusaha Sofyan Wanandi pernah menyebut 70 persen produk garmen dan tekstil di Pusat Grosir Tanah Abang diimpor dari China. Yoe Sanusi mengiyakan. “Mungkin begitu, produk mereka memang lebih murah, itu karena diproduksi secara massal, dalam artian benar-benar massal, pabriknya saja bisa sebesar dua kali lapangan bola, belum mesin-mesinnya, rata-rata keluaran terbaru dan super modern,” tambah Yoe yang sudah dua kali meninjau langsung ke Seng Zhen China.

Namun menurut Yoe murah saja tidak cukup. “Pembeli di Indonesia ini sepertinya punya selera sendiri yang tampaknya belum ditemukan oleh produsen di China, yang mungkin terkait selera berpakaian, pola, cuaca dan sensitivitas kulit, tidak tahu juga saya, tapi adalah pokoknya, sehingga produk lokal tetap lebih diminati,” kata pedagang yang produk-produk  bermerknya, Aristya, sering dipopulerkan oleh artis Astri Ivo ini.

Tanah Abang, Jakarta

Tanah Abang, Jakarta (Photo credit: zulrosle)

Bukti bahwa produk lokal masih eksis terlihat dari masih maraknya apa yang disebut Pasar Tasik. Setiap hari Senin dan Kamis ratusan mobil box, innova, avanza, xenia, rush, apv berkonvoi dari Tasikmalaya dan Majalengka, Jawa Barat. “Mereka tiba subuh, shalat sebentar lalu mulai berdagang di mobil, jam 11 udah tutup,” ungkap Jidah Nazwa Nayla, pedagang perlengkapan shalat yang membuka kios di Blok B, Lantai B1, Los D, No.71. Pedagang dengan nomor polisi D ini juga meramaikan Thamrin City, yang masih dekat dengan Tanah Abang. “Bedanya yang di Thamrin City buka tiap hari dan sampai jam 16.00 sore,” ujar Jidah lagi. Selain itu mereka juga ada di area parkir Lantai 5 Blok F, yang setiap Senin dan Kamis sengja dikosongkan PD Pasar Jaya untuk mereka dengan nilai sewa sampai Rp20 juta setahun.

Namun yang teramai memang Pasar Tasik dari depan Stasiun Tanah Abang, kawasan Jati Baru sampai ke Jl.Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder yang jugadisebut Jl. Jembatan Tinggi. Deretan mobil yang sekaligus toko tersebut menambah padat jalan dan meningkatkan kemacetan di depan markas Pemadam Kebakaran Tanah Abang.

Produki lokal juga banyak berdatangan dari Pekalongan, Jawa Tengah, terutama untuk produk batik. “Batik masih didominasi Pekalongan, ada juga sih batik yang katanya buiatan Malaysia, tapi nggak banyak,” tambah Jidah.