Wajah Baru Tanah Abang

 Image

Mulai Minggu 11 Agustus 2013 Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melakukan aksi penertiban di Pusat Grosir Tanah Abang. Gerakan itu dilakukan untuk menegakkan dan mengimplementasikan amanat Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Perda ini melarang warga berjualan di badan jalan yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Jalan-jalan dan trotoar—milik dan hak publik pembayar pajak– yang telah puluhan tahun dikuasai lapak-lapak PKL melalui kelompok-kelompok yang disebut ‘anak wilayah’ untuk kepentingan dan keuntungan sendiri dibersihkan dari jalanan. Seluruh jalan dan trotoar di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder, Jl. Aiptu K.S Tubun Petamburan, Jl. H. Fachruddin, Jl. K.H Wahid Hasyim, Jl. K.H. Mas Mansyur dibersihkan dari lapak-lapak PKL dan parkir liar tanpa pengecualian.

 

Sekitar 1.000 PKL yang tadinya berjualan di jalan dengan membayar Rp 2,5 juta  – Rp 5 juta sebulan kepada ‘anak wilayah’ dipindah ke Blok G. Blok G yang sebenarnya pernah direhab dan ditempati PKL pada tahun 2004, tapi kemudian ditnggalkan karena kondisinya tidak kondusif, terutama dari segi keamanan dan kenyamaan. Banyak preman dan PSK (Pekerja Seks Komersial) beraktivitas di sana. Akibatnya calon pembeli enggan berbelanja ke Blok G, mereka memilih ke Pasar Tasik di depan Stasiun Tanah Abang, atau ke kios-kios di 15 ruas Jl. Jati Baru yang bercabang-cabang seperti ular dalam wilayah beberapa RW di Kelurahan Kampung Bali, atau tepatnya di sisi barat Blok F, atau ke Blok F 1 dan F2, atau malah ke Blok B dan Blok A sekalian, sehingga para pedagang di Blok G tak kebagian pembeli. Ini membuat mereka turun lagi ke jalan dan difasilitasi sepenuhnya oleh anak-anak wilayah, yang menyediakan space lapak tempat berdagang untuk mereka, sekaligus membuat titik-titik parkir liar di semua tempat lowong yang tersedia.

 

Sebenarnyalah sejak  9 tahun terakhir Blok G telah berubah menjadi sarang penyamun. Para pedagang dan warga Tanah Abang lainnya di empat kelurahan, yakni Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali, dan Petamburan di Pusat Grosir Tanah Abang menyebutnya ‘kampung buronan’. Sebutan ini tak mengada-ada, karena entah bagaimana ceritanya preman yang menjadikan Lantai 4 Blok G sebagai markas atas basecamp mengukuhkan diri mereka sebagai tuan rumah bagi para preman buronan dari mana saja.

 Image

Para pelaku kejahatan dari Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Bali, Lombok, NTT, NTB, Kalbar, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulut, Ambon sampai Papua yang lari dari kejaran aparat yang berwenang di daerah tempat dia melanggar hukum, menjadikan Blok G sebagai tempat persembunyian sementara. Mereka dijamu oleh teman-teman preman di Tanah Abang sebelum menghilang lagi ke tempat persembunyian baru.

 

Preman Tanah Abang yang menguasai Blok G sendiri menurut Bang Uci (70), warga Jl. Lontar, Kebun Melati, kebanyakan berasal dari Kebon Melati dan Rawa Belong.

 

Di Blok G mereka bukan hanya menjadikan kios-kios yang kosong sebagai tempat tidur dan beristirahat, tetapi juga sebagai bilik asmara untuk para PSK Bongkaran yang berada di bawah kekuasaannya dengan uang sewa antara Rp 20.000 – Rp 50.000 sekali pakai. 

 Image

PSK Bongkaran sendiri wilayah operasinya memang di sekitar Blok G, yakni di jembatan penyeberangan arah Jl. K.S. Tubun atau  Jembatan Kembar Kanal Barat yang disebut juga Jembatan Kembar Kali Baru, di trotoar di sisi selatan Blok G atau di seberang Jl. Jati Bunder dekat pangkalan truk,, dan di bawah jembatan kembar Kali Baru di sepanjang rel kereta api jurusna Tanah Abang – Manggarai.

 

Merajalelanya preman dan PSK di Lantai 4 Blok G itu membuat para pedagang dan calon pembeli risih, pembeli enggan ke Blok G dan pedagang tak berjual-beli, belum lagi tingkah polah mereka—preman–yang seenaknya, seperti mengambil rokok atau minuman tanpa bayar, makan minum gratis, minta rokok atau uang tiap sebentar, mencopet atau bahkan menodong, juga para PSK yang mandi dan berdandan di kios-kios kosong tanpa mempedulikan situasi dan kondisi di sekitarnya, akibatnya para pedagang satu-persatu kembali lagi ke jalan. Blok G pun makin lama makin menjadi suram dan kumuh, sampai-sampai digelari blok mati.

 Image

Beberapa gubernur sebelum Joko Widodo (Jokowi) – Basuki Tjahya Purnama (Ahok) terkesan tak berdaya menghadapi mubazirnya asset Pemda DKI ini. Mereka juga sepertinya kewalahan dengan para PKL dan preman yang menjadikan jalanan dan trotoar milik negara sebagai sumber penghasilan, tanpa mempedulikan hak-hak publik,  

 

Adanya upaya memodernkan Pusat Grosir Tanah Abang juga menjadi tumpul gara-gara ulah PKL dan preman ini. Keberadaan Blok A, Blok B, Blok F dan PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) tak membawa pengaruh yang signifikan kepada image negatif Tanah Abang sebagai pusat grosir yang sumpek, kumuh, macet, tidak aman, tidak nyaman dan penuh pungutan liar.

 

Namun di era Jokowi – Ahok Pusat Grosir  Tanah Abang berubah total.  PKL bisa dibujuk masuk  ke Blok G, fungsi jalan dan trotoar dikembalikan lagi sebagaimana mestinya sebagai jalan raya dan tempat berjalan kaki bagi warga, parkir dan lapak liar yang menjadikan jalan raya dan trotoar sebagai sumber penghasilan ilegal dilenyapkan, keamanan dan rasa aman masyarakat dipulihkan. Tidak heran kalau banyak yang mengapresiasi gebrakan Jokowi – Ahok ini, salah satunya tergambar dari ungkapan puas beberapa penumpang mikrolet 09, “Enak ye sekarang, suasananye kembali seperti  tahun 1970-an.” Menurut ibu-ibu yang ngobrol itu tahun 1970-an, ketika Ali Sadikin jadi Gubernur DKI, Pusat Grosir Tanah Abang juga senyaman sekarang.

 Image

Supir mikrolet 09 juga senang, biasanya mereka menghabiskan 1 – 2 jam sendiri untuk melewati Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder. “Bayangkan aja Bang, dari Jembatan Kali Baru yang ini, ke stasiun, Kolong, balik lagi ke Blok G, terus ke Jati Bunder, dan sampai ke Jembatan Kali Baru yang ono yang jaraknya tak sampai 2 kilometer saya bisa ngesot sampai 2 jam, makan trip,” keluhnya. Belum lagi pugutannya. Menurut para supir itu ada 4 titik pungutan di jalur mikrolet M 09,  M 09A, M 11, M  08, M 10 itu. “Jumlahnya bervariasi, ada yang Rp 2.000 ada yang Rp 3.000, pokoknya paling nggak Rp 10.000 harus keluar setiap kali melewati Pasar Tanah Abang, ada aja namanya uang triplah, uang kelancaranlah, jatahlah,” ungkap mereka. Kini mereka senang karena jalanan berubah lancar dan pungutan liar menghilang.

 

Sayangnya kini mereka pula yang menyebabkan kemacetan, karena suka ngetem di pertigaan Jl, Jati Bunder dan di pintu keluar Stasiun Tanah  Abang Jl. Jati Baru atau kawasan yang disebut Kolong. Mikrolet M 09 dan M 11 ngetem di pertigaan Jati Bunder, M 08 mecetkan jalan dengan membuat terminal bayangan di Kolong. Pihak Dishub dan polisi terkesan membiarkan saja ulah mereka itu. Para Satpol P juga lebih suka duduk-duduk, merokok dan ngopi. Mereka baru bergerak jika Jokowi dan para atasan mereka muncul menyidak.

 

Para PKL tak kalah gembira. Walau masih kuatir membayangkan masa depan jual belinya, mereka umumnya senang karena tak berada di bawah bayang-bayang preman lagi. “Dulu saya harus bayar Rp 4 juta sebulan, ada transaksi atau tidak,” ujar Junaedi (36), pedagang busana muslim dan perlengkapan shalat di pertigaan Jl. Jati Bunder, Jl Kebon Jati. “Itupun masih digetok lagi sampai 20 kali sehari, yang rokoklah, yang teh  botollah, atau langsung minta Rp 5.000 – Rp 10.000, pokoknya macam-macamlah, tau-tau hasilnya gini, tetap aja digusur,” katanya.

 

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jokowi dan Ahok memang sudah berkomitmen menertibkan Jakarta. Mengatasi kemacetan lalu-lintas dan banjir memang merupakan janji kampanye mereka dalam pemilihan kepala daerah DII tahun 2012.  Penertiban Pasar Tanah Abang hanyalah bagian dari penertiban ibukota keseluruhan. Pasar Minggu, Jatinegara, Pluit, Kramat Pulo, Pasar Gembrong sudah disentuh gebrakan pasangan pemimpin DKI ini sejak mulai memimpin. Dari rumah susun yang salah urus, sampai pemukiman di bantaran kali mereka urus, juga gorong-gorong dan waduk tertimbun serta sampah di 14 kali yang melewati Jakarta.

 

Namun Jokowi – Ahok tak berhenti sebatas penertiban saja, mereka juga memberikan solusi agar warga tetap mendapatkan penghasilan tanpa melanggar hak-hak publik.  Pasangan pemimpin ibukota ini punya mimpi sendiri di Tanah Abang. “Kita akan ubah Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil dan garmen yang layak dan prestisius di Asia,” kata Jokowi. 

 

Bukan itu saja harapan dan konsep Jokowi tentang Pusat Grosir Tanah Abang ke depan. Dia ingin kawasan tersebut juga menjadi sentra primer usaha kecil menengah serta usaha rumah tangga di semua penjuru daerah Indonesia. “Kita ingin semuanya ada. Busana muslim, batik, handycraft. Pokoknya jadi sentra usaha mikro,” ujarnya pada media.

Menurut Jokowi,  mimpi itu takkan bisa terwujud kalau pengelolaan Pasar Tanah Abang masih terpisah-pisah, karena itu dia berkomitmen akan menyatukan pengelolaan blok-blok di Pasar Tanah Abang, tentunya di bawah Pemerintah Provinsi Jakarta.

Jika pengelolaannya terpadu dan terpimpin, Jokowi yakin Pasar Tanah Abang memiliki prospek pengembangan usaha dari hanya sebagai pusat grosir dan wisata belanja, menjadi komoditas ekspor ke belahan dunia lain. “Segmennya berbeda-beda. Misalnya yang murah kita ekspor ke Afrika. Yang menengah ke Australia. Pasti ada caranya entah gimana,” katanya.

Khusus di Blok G, Jokowi akan menggelar musik rakyat agar pengunjung tertarik membeli di tempat relokasi PKL.  “Intinya usaha kecil, rumah tangga, perlu ruang pamer. Mereka perlu ruang memasarkan produk, perlu adanya fasilitas yang mendukung,” jelasnya, dan Jokowi melihat atraksi meriah dan akrab seperti musik rakyat akan membuat orang mau meringankan langkahnya ke Blok G.

 

Ahok punya mimpi yang hampir sama. “Tanah Abang harus menjadi destinasi wisata belanja yang unik dan mensejahterakan warga di sekitarnya, untuk itu Tanah Abang harus tampil resik, cantik, asri dan aman, “ ujar Ahok yang berencana menghidupkan semacam pasar malam di Tanah Abang, sehingga kawasan yang mati di malam hari ini bias hidup dan bergairah kembali.

 

Sebenarnya rencana modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang sudah termaktub dalam rencana dua pengembang besar di ibukota, yakni Djan Faridz dengan group Priamanayanya dan Tommy Winata dengan group Artha Grahanya.

 

Di mata Djan Faridz yang sekarang menjabat Menteri Perumahan Rakyat Tanah Abang bisa menjadi pusat grosir  yang terbesar, terlengkap  dan termewah di Asia Tenggara, sehingga nilainya akan selalu naik setiap waktu. Tommy Winata memiliki persepsi dan konsep serupa, bahkan taipan ini memiliki bayangan tentang pusat perbelanjaan grosir terpadu di mana Pusat Grosir Tanah Abang dilengkapi dengan keberadaan apartment mewah, hotel berbintang, pusat rekreasi, dan pedestrian yang mengular ke setiap sudutnya.

 

Di samping itu semua unsur pendukung lancarnya dinamika sebuah pasar grosir juga tersedia dan siap action, yakni perusahaan-perusahaan ekspedisi, jaringan telepon dan internet, sumber daya listrik tak terbatas dan anti byar pet, lembaga-lembaga keuangan dan perbankan, kantor-kantor pengacara dagang, money changer, sampai bermacam resto, unit pemadam kebakaran, rumah sakit mini, dan peralatan keamanan. Semua sudah jelas dilengkapi pula dengan AC, CCTV, escalator, eskavator, sarana transportasi di dalam dan di luar gedung, para porter berseragam dan ratusan tenaga security.

 Image

Di mata kedua orang ini Pusat Grosir Tanah Abang tampaknya akan mencakup seluruh lahan yang kini menjadi komplek Pasar Tanah Abang keseluruhan yang membentang dari Jl. Jati Baru di barat, Jl. H. Fachruddin atau Tanah Abang Bukit di utara, Jl. Jati Bunder dan Jl, K.H. Mas Mansyur di selatan dan Jl. K.H. Wahid Hasyim di timur. Komplek yang sangat luas karena sudah memasukkan seluruh elemen Pasar Tanah Abang ke dalamnya, dari Tanah Abang Bukit atau Blok AURI di utara, pertokoan Jati Baru, Blok F, F1, F2, F3 di barat, Blok G dan Blok C di selatan. Blok A, Blok B dan PGMTA di timur.

 

Namun ide modernisasi semacam ini mentisakan kegalauan di baliknya, karena konsep pusat grosir seperti itu dikuatirkan justru akan menghilangkan tempat bagi pedagang bermodal menengah ke bawah, karena kemewahan dan kelengkapan yang serba super itu akan berefek ke biaya produksi. Harga sewa dan jual toko pastilah akan membubung naik, begitupun biaya listrik, pajak  dan jasa-jasa lainnya. Ide modernisasi seperti ini dikuatirkan akan membuat para pedagang bermodal tanggung tersingkir dari Pusat Grosir Tanah Abang dan bisa-bisa malah akan mengundang masuknya para pemilik kapital besar dari berbagai belahan dunia seperti China, AS, Eropa, Timur Tengah, Jepang, Korea dan seterusnya, sehingga tak ada tempat lagi untuk pedagang lokal.

 

Selain itu sekelompok pedagang yang telah meraup sukses di Pasar Tanah Abang juga punya ide Pusat Grosir Tanah Abang modern. Mereka menamakan idenya Koperbin (Koperasi Penerus Perjhuangan Bangsa Indonesia),  sepertinya para penggagas Koperbin mendambakan sebuah pasar grosir yang berorientasi kepada kesejahteraan para pedagang. Modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang di mata para penggagas Koperbin adalah pusat grosir yang bisa menampung sebanyak mungkin pedagang bermodal kecil dan sedang, sehingga mereka bisa tetap bertahan dan terus eksis menghadapi gelombang persaingan yang makin sengit di era perdagangan bebas.

 

Kawasan yang mereka impikan untuk dijadikan sentra bisnis adalah 2,1 hektare lahan di depan Stasiun Tanah Abang. Komplek tersebut akan dilengkapi hotel, apartement, pusat grosir dan taman rekreasi juga. Izin prinsip sudah mereka pegang sejak era pemerintahan Gubernur Sutiyoso tahun 2004, namun belum diketahui respon Jokowi selaku Gubernur DKI yang baru.

 

Masa depan lain yang akan mengimbangi dan mendukung  perkembangan pesat Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil dan garmen kelas dunia adalah pembangunan besar-besaran Stasiun Tanah Abang. Dalam master plan yang ada di PT KAI Tanah Abang akan menjadi stasiun utama untuk di Jakarta, yang akan menghubungkan Pusat Grosir Tanah Abang dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Soekarno Hatta dan Pelabuhan Penyeberangan Merak – Bakauheni. Inti idenya adalah menjadi media dan sarana penghubung dan pendistribusian produk tekstil dan garmen dari Pusat Grosir Tanah Abang ke seluruh daerah di Nusantara dan  mancanegara.

 Image

Advertisements

Riwayat Panjang Tanah Abang

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tana...

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tanah Abang (Photo credit: Wikipedia)

ImageSuatu siang di bulan Februari 2013. Udara panas dan kemacetan parah menghambat perjalanan saya di ujung Jembatan Banjir Kanal Barat atau yang oleh warga Tanah Abang disebut Jembatan Kali Baru, tepatnya di pertigaan Jl. Aiptu K.S. Tubun, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder, atau  di sisi barat Blok G yang mulai Agustus 2013 dibenahi Pemda DKI Jakarta.

Belasan Mikrolet 09 (jurusan Kebayoran Lama – Tanah Abang), 09 A (Meruya– Tanah Abang), dan 11 (Kebon Jeruk – Tanah Abang), satu dua bus Mayasari Bhakti  R 507 (rute Pulo Gadung – Tanah Abang), P14 (rute Tanjung Priok – Tanah Abang) beringsut sesenti demi sesenti –nyaris tak bergerak–bersama puluhan mobil pribadi, sepeda motor dari tiga arah jalan dan ratusan pejalan kaki yang rata-rata menjunjung atau menenteng tas belanjaan besar di ujung jembatan Kali Baru tersebut.

“Selamat datang di Tanah Abang,” kata supir M 09 yang saya tumpangi dengan suara pasrah, sambil mengelap lehernya yang berdaki dengan handuk yang tak kalah dekilnya. Sebelum dia menghembuskan asap rokoknya sekali lagi saya buru-buru turun dan membayar Rp 2.000, tarif terendah untuk jarak terdekat yang berlaku di mikrolet pada waktu itu (sekarang setelah harga BBM naik tarif terendah itu menjadi Rp 2.500), maklum saya tadi turun di depan Hotel Kalisma, tempat di mana Koantas Bima 102 (trayek Ciputat – Tanah Abang) berputar dan menambah beban ongkos penumpang yang terpaksa harus naik mikrolet atau ojek lagi kalau ingin masuk Pasar Tanah Abang, padahal trayeknya seharusnya sampai ke dalam Pasar Tanah Abang, tapi karena tidak kuat melawan macetnya supir Koantas Bima itu mengambil jalan aman. Aman untuk dia, beban untuk penumpang.

Turun di sisi kiri trotoar di ujung jembatan yang penuh dengan kios PKL  penjual kaos, handuk, celana sport, obat-obatan dan barang-barang loak, saya disambut belasan tukang ojek yang dengan bernafsu menawarkan jasa, saya menggeleng karena melihat ada jembatan penyeberangan yang tampaknya menuju bangunan ruko di seberangnya (Blok G). Jembatan itu tampak rapuh tak terawat–karat mengelupas terlihat di mana-mana—dan di kiri kanan anak tangganya banyak duduk wanita berdandan menor, berbusana minor.  Kebanyakan sudah ‘mak mak’ atau STW (setengah tua), meski ada juga yang kelihatannya masih muda. Beberapa lelaki bertampang sangar duduk mengawasi di samping mereka. Saya masih belum ‘ngeh’ dan permisi saja lewat ke atas.Image

Jembatan itu memang bersambung ke Blok G lantai 3, tapi saat itu pintu penghubungnya yang berupa teralis digembok. “Nggak bisa lewat sekarang Bang, ntar sore bisa,” ujar seorang wanita bercelana panjang coklat terang dengan kaos kuning berbelahan dada rendah. Tumbuhnya gempal dan dandanannya tak kalah menor dengan para wanita yang duduk berjejer di kaki jembatan tadi. Saya mengucapkan terima kasih dan berbalik hendak turun. Eh, tiba-tiba wanita 30 tahunan itu itu merayu. “Ngewek kita Bang?” sambil memamerkan senyum.

Buseeet, baru saya sadar sedang ada di mana. Ini kan masih bagian dari Bongkaran, kawasan prostitusi kelas bawah untuk para hidung belang berkantong tipis di Jakarta Pusat! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sambil balas tersenyum juga. “Waduuh makasi Mbak, lagi buru-buru nih.”

Dia tampak kecewa. “Murah kok Bang,” bujuknya, tapi saya sudah buru-buru turun.  Di kaki tangga para wanita temannya menyapa, “Kok nggak jadi Mas? Ditanggung puas lho.” Sementara teman pria mereka menatap saya garang. Saya tersenyum lagi dan cepat-cepat masuk ke kerumunan.

Hanya dalam hitungan detik saya sudah langsung bertemu dengan 5 aikon Tanah Abang, yakni tak ada peraturan, kemacetan, PKL, prostitusi dan preman.

Bedesakan lagi melawan arus lalu lintas yang tampaknya diatur dengan hukum rimba karena tak ada rambu lalu lintas yang dipatuhi, saya sampai dengan badan penuh keringat di pertigaan Jl Aiptu K.S. Tubun dari arah Petamburan, Jl. Jati Baru yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dan Jl. Kebon Jati yang menuju jantung Pusat Grosir Tanah Abang atau yang oleh warga setempat disebut Bunderan Jati Baru. 

Dari arah Jl. Jati Baru atau Jl Kebon Jati sebenarnya veerboden, kendaraan harus masuk ke Jl. Kebon Jati dulu, lalu belok kanan atau ke selatan ke Jl. Jati Bunder, keluar di Bongkaran dan masuk ke Jembatan Banjir Kanal Barat atau Jembatan Kali Baru bagian selatan yang bersebelahan dengan Jembatan Banjir Kanal atau Jembatan Kali Baru bagian utara. Tapi kebanyakan pengendara sepeda motor lebih suka memotong dan melawan arus—sekaligus melanggar veerboden—dengan memaksa masuk ke Jl. Aiptu K.S. Tubun di Jembatan Kali Baru utara. Akibatnya kemacetan parah terjadi karena arus kendaraan saling bertumbukan. Kondisinya bertambah parah karena terdapat beberapa titik parkir yang sepertinya menempati di mana saja titik jalan yang kosong. Hasilnya, Alhamdulilah: kemacetan luar biasa!

Saya menyempil, memiringkan tubuh sebisanya asal bisa lewat di antara sepeda motor, mikrolet dan arus orang serta barang dari arah berlawanan. Jalan yang seharusnya lebar itu dipadati lapak PKL, ada yang menjual buah-buahan, makanan dan minuman—mereka membuka rumah makan di jalan—dan aneka pakaian, juga mainan anak.  Hanya ada 2 jalur—dari 6 jalur–yang dibatasi pembatas jalan yang dibiarkan koosng agar arus lalu lintas bisa beringsut lewat. Image

Di Jl. Kebon Jati itu kepadatan bertambah dengan mikrolet M 10 (jurusan Jembatan Lima – Tanah Abang) dan M 08 (rute Kota – Tanah Abang), juga ada truk sampah, mobil box milik pedagang, kendaraan pribadi yang mungkin nyasar atau nekad dan para pengemis yang seenaknya berbaring di tengah jalan dengan akting super memelas dan tampilan super joroknya. Tentu saja kepadatan itu masih dilengkapi puluhan sepeda motor, ratusan pejalan kaki seperti saya dan belasan gerobak dorong milik para porter pengangkut barang dengan barang yang besar-besar dan lebar nyaris selebar body mobil yang diangkutnya, di samping bajay dengan asapnya yang sangat menyiksa itu dan lagi-lagi parkir liar!

Jl. Kebon Jati yang lebih banyak digunakan adalah sisi utara, karena sisi selatannya selalu tergenang air setinggi lutut orang dewasa berwarna hitam penuh lumpur dan aromanya sangat busuk. Supir mikrolet mengaku takut lewat di situ, kuatir kendaraannya mogok dan terperangkap di genangan.

Jejeran lapak PKL juga lapis tiga. Dua di badan jalan, satu di trotoar menutup rapat toko-toko di belakangnya. Jajaran lapak ini tersusun padat sejak dari kawasan Kolong—di bawah Jembatan Layang Jati Baru—di sisi utara Jl. Jati Baru, berbelok ke arah Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. H. Fachruddin di sisi timur Jl. Kebon Jati. Saya mencoba jalan di trotoar, tapi trotoar itu sendiri hanya tinggal 50 sentimeter yang bisa diarungi. Ya diarungi, karena kita seperti berenang dalam kerumunan orang dan barang-barang dagangan. Tak bisa melangkah dengan santai, karena harus waspada dengan tubuh orang yang ada di depan atau datang dari arah depan dan belakang kita, serta barang-barang dagangan yang bergelantungan sesukanya sehingga sering menghantam hidung atau kepala kalau tidak hati-hati.

Saya tak perlu mengingatkan tentang copet, itu aikon Tanah Abang yang sudah sangat dikenal sejak lama. Di kepadatan kaki lima Tanah Abang mereka bisa berupa siapa saja. Salesman berkemeja rapi dengan celana kasual trendy dan tas Echolac terbaru, atau seperti mahasiswa dengan kaos dan kemeja dengan ransel di punggung, atau bapak-bapak yang ramah atau ibu-ibu dan wanita berjilbab. Mereka berkamuflase dengan baik, dengan simbol-simbol kesopanan dan peradaban terbaik, lalu dengan aman memainkan jemari atau siletnya di kantong-kantong, tas atau dompet mangsa yang merasa aman di dekatnya.

Rasanya lama sekali pengarungan di lautan kepadatan itu. Keringat telah membanjir, membasahi punggung, leher dan wajah sebelum akhirnya saya sampai di markas brandweer atau pemadam kebakaran Tanah Abang.  Markas yang terjepit ketat oleh lapak PKL itu tampak tak kalah sengsara. Anggotanya yang terlihat pasrah terpaksa duduk-duduk saja dengan para PKL dan preman yang mangkal di depan markasnya. Kesiagaan mereka sudah tergerus sikap tak peduli dan mau memang sendiri para PKL dan preman yang menguasai akses jalan di depannya. Sampai di situ tiba-tiba bau sengit kambing merebak.

Saya kaget. Kok ada bau kambing yang sangat menyengat di kerumunan pedagang pakaian dan aneka rupa produk kain ini? Ternyata menjelang sampai ke pintu barat dan selatan Blok B—bangunan baru Pusat Grosir Tanah Abang yang berarsitektur modern—ada sebuah lapak pedagang kambing. Baunya, alamaaak! Kok bisa pedagang kambing dibiarkan bercampur dengan pedagang kain dan makanan? Saya tak mau memikirkannya, langsung saja naik tangga di samping markas pemadam kebakaran dan menghilang ke Lantai 1 Blok F1.

Itu sekilas potret Tanah Abang sebelum Jokowi dan Ahok—Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta—menertibkannya mulai 11 Agustus lalu, namun sebenarnya riwayat Tanah Abang sudah berlangsung lama, karena pasar yang kini terkenal sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen terbesar serta termurah di Asia Tenggara ini resminya sudah berusia 278 tahun!Image

PKL Pindah Pedagang Blok Senang

ImageImageKembalinya para PKL ke Blok G disambut baik oleh para pedagang di Blok F, Blok A dan Blok B. Bukan hanya karena akses ke toko-toko dan kios-kios mereka kini lebih lancar dan calon pelanggan baru bermunculan karena tak ada lagi hambatan kemacetan dan perparkiran di kawasan tersebut, tetapi juga karena kini para PKL tidak lagi ‘merebut’ calon pembeli dagangan mereka.

Bukan rahasia lagi, kalau saat ini pedagang grosir di ketiga blok besar itu juga sudah menyerah dan mulai mau berjualan secara eceran, karena menurut mereka suhu perdagangan saat ini lesu, tidak lagi seseksi dulu, sehingga kalau bertahan dengan aturan ketat perdagangan grosir mereka bisa gigit jari dan menghabiskan modal untuk membiayai kios saja.

“Dulu tak ada cerita menjual eceran, yang beli per 3 atau 6 potong pun kita tolak, kita hanya terima pembelian kodian atau lusinan, kini yang beli satu potong pun kita layani,” ujar Kurnia (43), pedagang busana muslim di Blok F2.

Namun selama PKL bebas berjualan di jalan yang mengitari Blok A, Blok B dan Blok F, ‘rezeki’ pedagang di blok-blok ini agak terhambat, karena pembeli malas masuk blok dan lebih suka berbelanja di lapak-lapak PKL saja. “Padahal harga di sana sudah dinaikkan sampai 30 persen, karena mereka belanjanya juga di sini atau di Metro,” tambah Kurnia yang asal Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu lagi.

Jidah Najwa Naiya (51) , penyewa kios di Lantai B1 Blok B membenarkan sinyalemen Kurnia. Dikatakannya para PKL memang lebih berjual beli dibanding mereka yang berjualan di dalam blok, terutama yang kiosnya terletak di lokasi-lokasi non strategis. “Mereka mengambil peluang dan calon pembeli kita, tanpa harus membayar sewa dan overhead kios yang mahal dalam blok, karena pembeli lebih suka berbelanja ke tempat mereka yang sudah langsung bisa diakses begitu turun dari sepeda motor, mobil atau angkutan umum,” ujar Jidah.

 

Copet Berjilbab di Pasar Tasik

ImageJangan mudah percaya pada penampilan, karena penampilan bisa menipu. Jilbab atau kerudung atau hijab adalah pakaian wanita muslim yang mengindikasikan bahwa pemakainnya adalah seorang muslimah yang tentunya diasumsikan bertabiat dan berakhlak baik, namun di Pusat Grosir Tanah Abang para pencopet menggunakan atribut ini justru untuk leluasa melakukan aksinya.

“Ya, siapa yang akan curiga pada wanita berjilbab,” kata Santi (25), pegawai Toko Baaligo di Blok F1 Lantai 2 Los DKS.  Jadi ketika serombongan wanita berjilbab merubungi tokonya untuk melihat-lihat dan menawar busana muslim yang dijualnya, Santi melayani dengan senang hati. Setelah sekian lama tawar-menawar transaksi tidak terjadi, karena harga gamis fashion di toko itu yang ditawarkan Rp 3,6 juta per kodi atau Rp 180.000 per potong dianggap kemahalan. Mereka pun pergi.Santipun kembali ke Blackberry Bold 9900 Dakota yang baru dibelinya dengan uang gaji pertama, yang tadi diletakkannya di rak bagian dalam.Tapi BB kesayangannya itu sudah raib bersama hilangnya rombongan wanita berjilbab yang cerewet menawar dan menanya ini itu di tokonya tadi.

Pengalaman saya pribadi di Pasar Tasik Jl. Jati Bunder hampir sama. Cuma yang ini tidak berombongan. Setiap Senin, waktu itu, Jl. Jati Bunder, Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. Jati Baru di depan Stasiun Tanah Abang sarat dengan moko (mobil toko) ratusan pedagang busana muslim dari Tasikmalaya dan sekitarnya. Mobil toko itu diparkir berjejer di kanan kiri jalan dan selalu dipenuhi para pembeli sehingga sepenggal ruas jalan yang tersisa sangat parah macetnya. Berjalan pun susah, tidak bergerak maju sama sekali, bahkan mundur juga tak bisa..

Nah, saya mencangklong tas di pundak. Karena tak  menyimpan barang berharga di ransel, hanya HP Nokia Rp 200 .000 dan notes berisi catatan data Tanah Abang,  saya tak menaruh was-was, dompet dan HP Samsung Galaxy saya taruh di kantong depan celana seperti biasa. Saat langkah tersendat dikepung macet, saya menoleh juga ke belakang untuk berjaga-jaga, Cuma ada beberapa wanita berjilbab di belakang saya.Hmm, amanlah. Eh tahu-tahu setelah akhirnya saya sampai di Blok B 30 menit kemudian saya lihat riszleting tas terbuka dan HP serta notes telah lenyap. Setelah hilang baru saya sadar bahwa di Nokia murah itu tersimpan semua nomor kontak saya yang penting dan notes itu sendiri berisi catatan observasi dan wawancara saya selama 2 bulan di Tanah Abang. Artinya, kedua barang tersebut ternyata berharga sekali!  Dasar copet sialan!

Ternyata copet di Pusat Grosir Tanah Abang beragam polahnya, seperti diungkap Hj. Yuliwirda yang sudah sejak tahun 1980-an berdagang di Tanah Abang.  Mereka sering  berpakaian rapi, persis mahasiswa atau pegawai kantoran, atau berbusana muslim, dan beroperasi dalam kelompok. Sebagian mengalihkan perhjatian kita, sebagian merogoh atau menyilet kantong atau tas kita, katanya.

Jadi?“Di Tanah Abang jangan pernah percaya penampilan, penampilan bisa menipu dan menyesatkan,” tegasnya.

Anak Wilayah Tak Dapat Kios

ImageImagePemindahan PKL ke Blok G ternyata tak  memudahkan anak-anak wilayah untuk mendapatkan jatah kios di sana. Beberapa pedagang makanan  dan minuman ringan yang dulunya berjualan di Jl. Jati Bunder mengaku tak mendapat tempat, walaupun sudah bolak-balik mendaftar sambil membawa KTP dan KK.

“Saya membawa KTP dan KK tapi yang dapat justru pedagang dari Binjai, Padang, Tasikmalaya, saya yang asli Tanah Abang malah nggak kebagian kata Ruslan (37)  yang mengaku tinggal di Jl. Jati Bunder III belakang Pos Polisi Tanah Abang.

Anak wilayah adalah sebutan pemuda Tanah Abang terhadap dirinya.Menurut H. Abraham Lunggana atau H. Lulung, wakil anggota DPRD DKI Jakarta yang juga salah satu tokoh masyarakat di Tanah Abang jumlah mereka sekitar 7.000 jiwa. Selama ini mereka hidup dari jasa parkir dan kutipan uang keamanan atas lapak-lapak PKL  yang memenuhi jalan raya di Tanah Abang seperti Jl. Jati Baru, JL. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder, Jl. K.H. Mas Mansyur, Jl. K.H Wahid Hasyim, dan Jl. H. Fachruddin. Sebagian ada yang membuka lapak makanan dan minuman kemasan seperti Ruslan .

Selain berjualan makanan dan minuman dalam kemasan, Ruslan juga berdagang petasan dan kembang api di bulan Ramadhan. “Tanah Abang terkenal dengan keramaian pasar petasan dan kembang apinya, bahkan boleh dibilang lebih rame dibanding pesta kembang api di Monas,” katanya bangga. Petasan dan kembang api yang dijualnya dibandrol Rp 5.000 – Rp 250.000.

Kini Ruslan tak bisa lagi berjualan di jalanan atau di Blok G seperti PKL lainnya.Dagangannya dipindah ke rumahnya di gang sempit di Jl. Jati Bunder III.“Pusing jadinya,” katanya. Ruslan berharap masih bisa membuka lapak parkir seperti dulu, tapi harapannya itu sepertinya susah terwujud, karena Pemda DKI kini sangat tegas menegakkan peraturan daerah.

Ketika dikatakan bahwa Pemda DKI akan mencarikan solusi untuk anak-anak wilayah, Ruslan merengut. “Jadi security gajinya berapalah Bang? Paling tinggi 2,5 juta, nah penghasilan saya yang biasa jauh di atas itu, lagipula apa semuanya mau dijadikan security, mau ditempatkan di mana?” katanya letih.

Jangan Beli Obat Batuk di Kios Obat

ImageKalau Anda batuk atau flu, sebaiknya jangan belanja obatnya di kios-kios obat yang ada di Tanah Abang. Sebelum penertiban 11 Agustus 2013 kios-kios ini banyak ditemui di pinggir jalan di di bawah jembatan penyeberangan ke Blok G., karena kan sia-sia saja, umumnya mereka tak menjual obat-obat seperti itu di kiosnya.

Hamdi (33) tersenyum ketika ditanya kenapa tak menjual obat flu, demam, sakit kepala, atau obat batuk di kiosnya?“”Rugilah Bang, pembeli obat-obat kaya gitu jarang di sini,” katanya. Lho, memangnya obat apa yang laku? “Ya obat kuat, obat perangsang, obat perkasa pria,” katanya senyam-senyum.

Saya lupa kalau lokasi Hamdi jualan berdekatan dengan lokalisasi tak resmi Bongkaran.Pantas saja obat-obat yang dijualnya lebih banyak obat yang menjurus ke jenis obat-obat perangsang dan kepuasan pria.Mereka, pembelinya, kata Hamdi, lebih banyak yang ‘sakit kepala bawah’, bukan ‘sakit kepala atas’. Jadi mereka tak mencari obat sakit kepala biasa atau obat batuk biasa, karena sakit kepala dan batuknya beda. “Abang ini pura-pura nggak tau aja,” katanya sambil tertawa,

Di kios Hamdi yang berupa gerobak dorong beroda, obat-obat yang banyak ditemui adalah viagra (USA) atau disebutnya pil biru, nangen, africa black ant, vimax, foredi, maximum powerful, black mamba oil dan lain-lain. Ada yang obat oles, herbal, spray atau kapsul dan tablet. “Pokoknya untuk memperbesar, memperpanjang, dan menambah daya tahan seksual,” katanya menjelaskan.Menurut Hamdi setiap item harganya sekitar Rp 150.000 – Rp 200.000.

Kadang-kadang dia juga menjualnya eceran.“Itu yang agak rusak atau cacat kemasannya, saya jual kepada pelanggan yang kepepet dan mukanya udah biru nahan konak ha ha,” ujar Hamdi lagi sambil tertawa. Dia juga menjual beberapa jenis kondom seperti viesta, dua lima, sutra dan mesra.

Selain Hamdi ada beberapa lagi kios yang menjual rupa-rupa obat kuat di lokasi itu, tapi kini setelah Blok G dibenahi untuk ditempati PKL, mereka tak bisa lagi ditemukan siang hari.Kalau Anda perlu obat batuk eh obat kuat, Anda bisa ke jembatan kembar Kali Baru di malam hari, karena di sanalah mereka kini berjualan.

  • Calendar

    • December 2017
      M T W T F S S
      « Nov    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      25262728293031
  • Search