Pasar Modern yang Tradisional

 

ImagePasar Tanah Abang terus  berkembang. Begitu pun daerah di sekitarnya. Penduduknya bertambah banyak dan aktivitas sosial meningkat. Langgar Al Makmur yang dibangun tahun 1704 di sisi selatan pasar makin ramai, begitu pula Kelenteng Hok Tek Tjengsin atau yang disebut warga Tanah Abang Toapekong Kebon Dalem yang dibangun di sisi utara pasar Tanah Abang sebagai tempat ibadah warga keturunan Tionghoa yang memang banyak di Tanah Abang.

Lima tahun setelah Pasar Tanah Abang berdiri terjadi pembantaian (Chinezenmoord) terhadap etnis Tionghoa. Kisah kelam ini berawal dari masalah memanasnya hubungan antara permintah VOC dengan imigran Tionghoa yang ada di Jakarta waktu itu. Imigran itu sendiri sengaja didatangkan Belanda pada awalnya karena mereka butuh tenaga untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak sudi mereka lakukan.

Kemunduran VOC dalam bidang perdagangan akibat kalah bersaing dengan Maskapai Perdagangan Inggris, The Britisch East India Company yang berpusat di Callcuta, India dalam perebutan hegemoni perdagangan bangsa-bangsa Eropa (1602-1799) menimbulkan tekanan besar terhadap seluruh wilayah jajahan VOC, termasuk Hindia Belanda.

Guna mengatasi hal tersebut Heeren XVII (Kamar dagang VOC) menekan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia saat itu agar dapat memaksimalkan pendapatan dan aliran dana segar ke kas VOC.

Sementara di sisi lain, besarnya pengeluaran angkatan perang VOC akibat pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan kolonial di Nusantara serta terus meningkatnya jumlah imigran Tionghoa yang berhasil dalam bidang perdagangan di Batavia yang jika dibiarkan akan menyebabkan ancaman serius bagi kelangsungan dagang VOC di negeri ini, membuat bingung penguasa VOC di Batavia.

Untuk memecahkan masalah tersebut secara bersamaan, Dewan Hindia Belanda dan Gubernur Jendralnya–saat itu dijabat Valckeneir–sepakat melakukan jalan pintas dengan menggalakkan program tanam paksa bagi warga bumiputera. Sementara bagi para etnis keturunan dan para imigran Tionghoa yang terkenal lebih berhasil, upaya-upaya pemerasan terselubung mulai dilakukan. Pemberlakuan program Surat Ijin Tinggal adalah salah satunya.Image

Seluruh etnis Tionghoa yang ada di dalam tembok maupun di luar tembok Batavia diwajibkan memiliki Surat Ijin Tinggal yang dikeluarkan pemerintah VOC dengan masa berlaku terbatas. Aturan program ini sangat keras. Apabila ditemukan imigran Tionghoa yang tidak memiliki Surat Ijin Tinggal dikenakan hukuman berupa denda atau hukuman penjara. Bahkan yang lebih buruk pengusiran mereka dari seluruh wilayah Hindia Belanda.

Pemerintah VOC beralasan bahwa pemberlakuan program ini adalah agar wilayah Batavia dan sekitarnya bersih dari para pendatang ilegal yang selalu mengganggu ketertiban. Harus diakui bahwa alasan tersebut tidak sepenuhnya salah. Kondisi Batavia yang saat itu dipenuhi para imigran–terutama Tionghoa–menjadi tidak teratur. Tempat perjudian dan hiburan tumbuh bak jamur di musim hujan.

Tercatat sebanyak 7.550 jiwa imigran Tionghoa menetap di Batavia tahun 1719. Angka ini meningkat pesat hingga tahun 1739. Sebanyak 10.574 jiwa imigran Tionghoa ditemukan berada dan tinggal di dalam tembok Batavia dan sekitarnya.

25 Juli 1740, penguasa Batavia semakin mempertegas pemberlakuan program ini dengan dikeluarkannya resolusi yang isinya “penguasa VOC memiliki hak untuk menangkap dan memenjarakan seluruh warga Tionghoa yang tidak memiliki izin tinggal diwilayah Batavia”.

Resolusi sangat memukul etnis Tionghoa yang dijadikan korban. Di sisi lain pemberlakuan resolusi ini menciptakan peluang korupsi baru bagi kalangan petugas pemerintah.

Sementara bagi pemerintahan Batavia dan kalangan Dewan sendiri, pemberlakuan program ini dianggap sangat baik karena selain dapat menambah penghasilan dari sisi pajak, juga dapat dijadikan alat kontrol bagi semua aktivitas perdagangan etnis Tionghoa. Sebaliknya, bagi etnis Tionghoa pemberlakuan Surat Ijin Tinggal dan berbagai macam pungutan liar ini menyebabkan krisis kepuasan. Tingkat kesejahteraan mereka terus merosot dari hari ke hari, bahkan banyak pedagang Tionghoa yang terpaksa beralih profesi menjadi buruh kasar akibat kebangkrutan.

Ketidakpuasan-ketidakpuasan inilah yang kemudian menimbulkan perlawanan etnis Tionghoa terhadap pemerintah Batavia. Tercatat sejak September 1740 berbagai kerusuhan kecil terjadi di luar tembok Batavia. Peristiwa ini mencapai puncaknya pada 7 Oktober 1740. Saat itu, lebih dari 500 orang Tionghoa dari berbagai penjuru berkumpul guna melakukan penyerangan ke dalam tembok Batavia setelah sebelumnya menghancurkan pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang secara bersamaan.

8 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di semua pintu masuk Benteng Batavia. Ratusan etnis Tionghoa yang berusaha masuk dihadang pasukan VOC dibawah pimpinan Van Imhoff.

9 Oktober 1740, dibantu altileri berat pasukan VOC berhasil menguasai keadaan dan menyelamatkan Batavia dari kerusuhan. Pasukan kaveleri VOC kemudian mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Tionghoa yang berada di sekitar Batavia digeledah dan dibakar, penghuninya yang pria langsung dibunuh, yang wanita diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh, harta bendanya dijarah, termasuk rumah Kapiten Tionghoa Nie Hoe Kong yang dianggap sebagai aktor intelektual kerusuhan.Image

Ribuan warga Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu dan dibunuh tanpa perduli terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut, termasuk yang sedang dirawat di rumah sakit. Anak-anak, bayi dan orang tua tidak luput dari pembantaian.  Banyak yang dibiarkan lari ke arah kali sebelum akhirnya dibantai oleh para prajurit yang telah menunggu kedatangan mereka. Beberapa sumber menyatakan bahwa kali yang menjadi lokasi pembantaian adalah Kali Angke, hingga peristiwa pembantaian ini diabadikan dengan nama Tragedi Angke. Namun ada pula yang berpendapat bahwa pembantaian sebenarnya tidak terjadi di Kali Angke melainkan di Kali Besar, karena letaknya lebih dekat ke Tembok Batavia. Kali Angke hanyalah merupakan titik akhir lokasi penemuan ribuan mayat korban pembantaian yang dihanyutkan air.

Malam tanggal 9 Oktober 1740, prajurit VOC kembali melakukan penyisiran guna mencari sisa-sisa etnis Tionghoa yang bersembunyi di rumah atau bangunan lain di seputar Batavia. Pembantaian kali ini lebih sadis karena melibatkan budak dan warga bumiputera yang sengaja dibakar amarahnya. Bahkan menurut cerita Gubernur Jendral Valckeneir sempat menjanjikan hadiah sebesar 2 dukat per kepala etnis Tionghoa yang berhasil dipancung

10 Oktober 1740, setelah peristiwa pemberontakan mereda, Gubernur Jendral Valckeneir kembali memerintahkan prajuritnya guna mengumpulkan seluruh warga Tionghoa yang tersisa termasuk yang terbaring di rumah sakit maupun di penjara. Mereka dikumpulkan di depan Stadhuis/ Gedung Balaikota (sekarang Muesum Fatahillah) untuk menjalani eksekusi hukum gantung. .

Saat Tragedi Angke benar-benar berakhir tercatat etnis Tionghoa yang selamat sebanyak 3.441 jiwa. Terdiri dari 1.442 pedagang, 935 orang petani, 728 orang pekerja perkebunan, dan 336 orang pekerja kasar (Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke, Hembing Wijaya Kusumah 2005).

Tanah Abang yang merupakan salah satu pusat konsentrasi masyarakat Tionghoa di lur tembok kota tidak luput dari pembantaian, penjarahan dan pembakaran. Pasar Tanah Abang porak-poranda, bangunan dan seluruh dagangan di dalamnya luluh-lantak dibakar dan dijarah. Pedagang Tionghoa yang masih hidup bertebaran menyelamatkan diri ke pinggiran Batavia. Sebagian sampai ke Kerajaan Mataram, bergabung dengan Soeltan Agung melawan VOC dan pemerintah kolonial Belanda.

Tak diketahui bagaimana nasib Phoa Beng Gam setelah kerusuhan itu karena tak ada catatan sejarah tentang tokoh yang berjasa bagi perkembangan pembangunan Kota Batavia ini.

Setelah pembantaian, aktivitas Pasar Tanah Abang terhenti dan baru dibuka lagi tahun 1881. Pasar Tanah Abang yang baru itu dibangun dengan kayu, papan, bilik bambu dan atap genteng. Tercatat ada 220 kios dari kayu dan papan dan 139 kios gedeg. Hari pasarpun ditingkatkan menjadi Rabu dan Sabtu.

Tahun 1913 ada renovasi ringan tapi tak signifikan, Baru tahun 1926 dilakukan perbaikan total yakni dengan membangun 3 los memanjang berupa kios semi permanen dengan fondasi semen, dinding papan dan atap genteng. Lantai los dan kios di pesar itu juga diratakan dan dipercantik dengan adukan semen. Pasar ini dilengkapi kantor pengelola yang mengurus segala sesuatu di pasar tersebut, letaknya di lantai dua bangunan pasar.

Tak ada catatan tentang kereta api, tapi tahun 1910 dikatakan Tanah Abang sudah memiliki stasiun kereta api. Stasiun itu dibangun di sisi timur saluran Banjir Kanal Barat  sekarang. Saluran itu sendiri dulunya merupakan hasil karya Phoa Beng Gam yang pada tahun 1965 diperlebar dan diperpanjang sampai ke Pintu Air Karet guna keperluan kelistrikan. Walaupun sudah memiliki kereta api yang waktu itu lebih banyak digunakan utuk angkutan kayu, arang, sayuran dan buah-buahan dari kawasan Serpong dan Bogor, transportasi di Pasar Tanah Abang masih didominasi delman dan gerobak yang ditarik kuda. Pengelola pasar menyediakan tempat parkir delman dan gerobak, sekaligus kolam tempat minum kuda di halaman pasar dan membuka toko dedak untuk makanan kuda di seberang pasar. Tak jauh dari toko dedak itu terdapat gang dan sebuah surga untuk para pemadat, di mana para pecandu mengisap candu atau madat dengan bebasnya. Gang itu disebut Gang Madat, tapi di mana pastinya tak ada yang bisa menunjukkan lagi.

Ketika Jepang masuk Batavia, Pasar Tanah Abang kembali lumpuh dan menjadi sarang gelandangan. Menurut J.J. Rizal, sejarawan Jakarta, tekstil tidak laku karena orang hanya mampu membeli pakaian yang terbuat dari karung goni. Tiarap selama 20 tahun lebih, pasar ini baru menggeliat lagi tahun 1970-an ketika Ali Sadikin jadi Gubernur DKI. Tahun 1975 di Pasar Tanah Abang tercatat ada 4.351 kios dengan 3.061 pedagang.

Tahun 1978 dan 1979 Pasar Tanah Abang dilanda kebakaran. Kebakaran 30 Desember menghanguskan Lantai 3 Blok A. sedangkan kebakaran 13 Agustus 1979 menghanguskan Blok B. Tanggal 19 Februari 2003 Pasar Tanah Abang kembali dilalap api. Ini kebakaran terbesar karena menghanguskan 5.700 kios di Blok A, B, C, D dan E dengan total kerugian hampir Rp 3 triliun, berupa bangunan dan jutaan kodi produk tekstil dan garmen dagangan. Api baru bisa dijinakkan sehari kemudian, karena 24 hidran yang ada tak berfungsi sama sekali gara-gara tak pernah dirawat sehingga rusak dimakan karat.

Selanjutnya Pasar Tanah Abang memasuki era baru, era modernisasi.

Jumat 1 Juli 2005 Pusat Grosir Blok A yang memiliki 19  lantai dengan 7.995 kios diresmikan. Peresmian gedung baru Blok A yang dibangun di bekas Blok A, B, C, D dan E pasar lama Tanah Abang tersebut menandai dimulainya era modernisasi di Pasar Tanah Abang.

Blok A ini menghapus semua kesan kusam Pasar Tanah Abang lama yang ditandai dengan kesumpekan, di mana pedagang dan pembeli sama saja tak beraturannya meskipun sudah berinteraksi dalam gedung. Kesumpekan itu ditandai dengan barang dagangan yang luber sampai ke luar kios yang menjadi haknya dan para pembeli yang seenaknya saja tawar-menawar dan memilih-milih busana yang diminatinya tanpa mempedulikan apakah orang yang di belakang atau di depannya bisa lewat atau tidak.

Selain itu kondisi pasar yang bak ruang sauna, saking panasnya karena tak ada AC yang dipasang dalam gedung, membuat para pedagang dan pembeli selalu berkuah keringat. Belum lagi tak tersedianya eskalator atau lift dalam bangunan pasar yang waktu itu memang baru terdiri dari 4 lantai, tapi tetap saja menguras tenaga dan memeras keringat menjelajahinya. Kesumpekan masih ditambah oleh padatnya manusia yang beraktivitas di dalam bangunan pasar, lengkap dengan copet, penodong, jambret, pengemis dan pengamennya.

Semua itu diubah total oleh gedung Blok A baru. Pusat grosir yang dibangun di atas lahan seluas 13.000 meter2 dengan total luas bangunan 168.000 meter2 ini dilengkapi 149 unit eskalator, 4 unit passenger lift capsule, 4 unit lift (elevator) penumpang biasa, 8 unit lift barang (kapasitas 1 – 2 ton), AC sentral, CCTV, areal parkir yang bisa menampung 2.000 mobil dan 2.500 sepeda motor, ratusan tenaga security yang aktif berpatroli, serta sprinkler anti kebakaran yang masih dilengkapi lagi dengan ratusan tabung pemadam api dan akses internet tak terbatas. Untuk pelepas penat, lapar dan dahaga pengelola menyediakan Tenabang Foodcourt di Lantai 8 dengan aneka makanan dan minuman yang lumayan lengkap. Sedangkan untuk ibadah, di Lantai Atap dibangun sebuah masjid yang bisa menampung 2.000 jemaah.

Keseluruhan lantai Blok A terdiri dari Lantai B2, B1, SLG (semi lower ground), LG (lower ground), G (ground) 1, 2, 3, 3A, 4, 5, 7, 5, 9, 10, 11, 12, 12A, Atap.

Semua fasilitas itu membuat pedagang dan pengunjung bisa bertransaksi dengan aman dan nyaman. Tapi semua itu tentu dibarengi harga sewa kios yang juga lumayan, berkisar antara Rp 36 juta per meter persegi – 250 juta per meter persegi per tahun, sehingga tidak heran kalau pedagang di Blok A ini mengaku bisa menghabiskan Rp 1 – Rp 1,5 miliar untuk sewa kios saja.

Kamis 12 Agustus 2010 Blok B menambah lengkap modernisasi Pusat Grosir Tanah Abang. Blok B sebenarnya adalah sayap tambahan Blok A. Karena bangunan sayap, di beberapa lantai Blok B tetap terhubung dengan BlokA, misalnya di Lantai LG, yang sekaligus merupakan atrium intercourt yang menghubungkan Blok B dengan Blok A dan Blok F. Atrium ini berupa selasar selebar 8 meter untuk lalu utama barang dan orang. Karena lebarnya di sini pengelola Blok B sering menyelenggarakan aneka ragam hiburan seperti life music dengan mendatangkan artis-artis penyanyi ternama nasional, bazaar, pameran, bahkan fashion show mini.

Terdiri dari 17 lantai ditambah lantai atap yakni Lantai 11,10, 9, 8, 7, 6, 5, 3A (karena angka 4 dianggap tidak hoki), 3, 2, 1, G, LG,SLG, B1, B2, B3. Lantai 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan B3 digunakan untuk lahan parkir.Lantai 5, 3A, 3, 2, 1, G, LG, SLG, B1, B2 adalah pusat grosir berbagai produk tektil dan aksesoris. Informasi di situs Blok B Tanah Abang, 10 lantai digunakan untuk area perdagangan. Sisanya untuk parkir dan kantor. Blok B dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektare dan dilengkapi dengan 22 lift dan 163 eskalator.

Lahan parkirnya yang 7 lantai  mampu menampung 1.500 mobil dan 2.300 motor. Di beberapa lantai area parkir Blok A dan Blok B saling terhubung sehingga konsumen bisa memilih mau parkir di blok yang mana. Keamanannya ketat, STNK adalah syarat utama untuk bisa parkir di lahan parkir ini, tanpa STNK jangan harap bisa parkir di sini.

Tak diketahui berapa jumlah anggota security keseluruhan,tapi semua tenaga security Blok B terdaftar dan menjadi anggota di Polda DKI Jakarta. Mereka juga bukan sembarang security karena direkrut dari pensiunan aparat kepolisian atau TNI dan mantan preman di kawasan Tanah Abang, jadi mereka sangat terlatih dan berakar di Tanah Abang.

Ada tiga jenis security di Pusat Grosir Tanah Abang yakni security patrol, security guard dan security customer. Mereka bertugas 24jam mengawasi keamanan gedung, pengelola dan konsumen di kawasan Blok B Pusat Grosir Tanah Abang. Dalam pelaksanaan tugasnya mereka dibantu perangkat CCTV dan MATV yang dipasang di sudut-sudut strategis untuk memperpanjang dan memperluas area pengawasan mereka di gedung yang memiliki 3.821 kios atau toko ini.

Untuk kenyamanan konsumen Blok B memiliki koridor  lebar yakni 2.8 meter antar kios atau toko,koridor utama lebarnya malah 3 meter, namun koridor selebar itu tetap saja terasa sempit terutama di Lantai LG, SLG, G dan 1 yang ramai transaksi.

Untuk kemudahan finansial, di samping eskalator di lokasitertentu tersedia ATM Bank Mandiri. Namun gerai bank mini juga ada seperti yang dibuka oleh Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI,  Bank Panin, Bank Danamon, Bank BRI lengkap dengan ATM di depan atau di sampingnya. Tersedia juga Bank Bumi Arta (sekuritas) untuk kemudahan, kemanan dan kenyamanan bertransaksi.

Seperti di Blok A, di Blok B juga tersedia tempat melepas lelah, lapar dan dahaga, tempatnya di Lantai 6 namun ukurannya jauh lebih kecil dibanding Foodcourt Tenabang di Lantai 8 Blok A.

Kedua blok ini menjual berbagai macam produk tekstil dan garmen seperti busana muslim pria dan wanita segala usia dengan segala kelengkapannya; aneka produk fashion wanita dan wanita segala usia lengkap dengan aksesorisnya, bahkan sudah ada pula yang menjual tas, sepatu, sandal, dompet, komoditas yang oleh sementara pedagang di Tanah Abang dianggap menyalahi konsep asli Pusat Grosir Tanah Abang. Selain itu di sini juga bisa ditemukan pedagang seprai dan sarung bantal, bedcover, selimut, gordyn, perlengkapan mandi (handuk dan piama) dan bahan kain.

Pasar Tanah  Abang modern juga terlihat pada penampilan PGMTA (Pusat Grosir Metro Tanah Abang) yang resmi digunakan tahun 2007. Bangunan berlantai 12 ini berlokasi di timur Blok A, sebuah jembatan menghubungkan Blok A dengan Metro di Lantai 1.  Jembatan ini dipenuhi pedagang pakaian anak-anak, dan melintasi Jl. H. Fakhruddin. Metro sendiri berada di tepi Jl. K.H. Wahid Hasyim.  Metro Tanah Abang terkenal dengan produk tekstil dari China dan Korea.

ImageCiri kemodernan Pusat Grosir Tanah Abang memang cuma diwakili Blok A, Blok B, dan Metro Tanah Abang, tapi meski tak semodern ketiga blok ini, Blok F1 yang terletak di sisi barat Blok A dan Blok B serta beroperasi tahun 2000 sebenarnya juga sudah lebih modern dibanding Blok F lama, karena lantai gedung yang terdiri dari 7 lantai  telah dikeramik semua. Di Blok F1 yang memiliki 563 kios juga tersedia eskalator, lift dan AC, tapi kondisinya tak sebagus kenyataannya, karena menurut pengakuan pedagang di sana AC hanya sempat nyala selama 6 bulan pertama dan tak pernah hidup lagi sampai sekarang, bahkan setelah tarif sewa kios naik drastis menjadi Rp 35 juta – Rp 65 juta per meter persegi per tahun dari Rp 10 juta per meter persegi per tahun, AC itu tetap saja ‘meninggal’.

Menurut H. Yoe Sanusi (50), pemilik Toko Baaligo di Lantai 1 Blok F 1, dulu waktu baru-baru setiap pedagang harus mengenakan jacket tebal karena dinginnya AC, tapi sekarang setiap kios harus ditambah kipas angin agar terasa sejuk,” katanya.

“Dulu merokok juga tak diperkenankan, kini asap rokok was wis wus di tiap sudut,” katanya Yoe lagi.

Eskalator hanya segelintir yang berfungsi, selebihnya mati total mengumpulkan daki debu di anak tangganya, malah ada yang sudah dicopot dari dudukannya dan digeletakkan begitu saja di atas Kali Krukut yang membelah bagian dalam blok ini. Liftnya menakutkan, karena sudah beberapa kali jatuh, meski tak memakan korban jiwa, tetap saja bikin jantungan.

Modernisasi fisik itu ternyata tak mengubah pola interaksi dan transaksi di Pusat Grosir Tanah Abang. Pembeli dan pedagang tetap bisa bertukar cerita, informasi dan tawar-menawar sambil bersenda gurau. Mereka bahkan tidak jarang saling undang ke pernikahan kerabat atau wisuda anak. Kematian apalagi, pembeli dan pedagang saling mengucapkan simpati meski keduanya berada di kota yang berlainan karena kebanyakan pembeli di Pusat Grosir Tanah Abang berasal dari luar Jakarta. SMS, BBM, email, Facebook dan Twitter menjadi sarana yang sudah akrab dengan kedua belah pihak untuk terus menjalin dan menjaga hubungan.

Saking akrabnya kadang-kadang pembeli dan pedagang yang sudah saling kenal lama ini ngobrol sesukanya di selasar di depan toko, sehingga arus lalu-lintas orang dan barang jadi tersendat. Mereka tak peduli pergerakan orang atau porter terhambat karenanya dan bersikap seharusnya orang-orang itulah yang memahami mereka.

Kesan tradisional dan konvensional tersebut  bukan hanya terlihat dalam hal itu, ketika bertransaksi pun mereka seperti saudara atau teman lama. Kepercayaan dan kejujuran menjadi tolok ukur semuanya. Yoe Sanusi (50), pedagang di Blok F1 mengatakan dia masuk Tanah Abang dulu hanya dengan modal Rp 15 juta. Itu modal yang tak masuk akal di Tanah Abang, katanya, karena orang biasanya memulai usaha di Tanah Abang dengan modal ratusan juta rupiah. Yoe bisa eksis sejak 1986 sampai sekarang hanya karena menerapkan filosofi dasar Pusat Grosir Tanah Abang, yakni menjaga kepercayaan dan menjalankan kejujuran. Makanya walau hanya punya modal untuk menyewa kios ukuran 2 X 2 meter, Yoe mendapat kepercayaan untuk menjualkan barang pedagang lain di kiosnya, sampai akhirnya bisa membeli kios sendiri seharga Rp 800 juta dan memiliki konveksi sendiri.

Soal kepercayaan dan kejujuran ini sangat sensitif di Pusat Grosir Tanah Abang. Ada daftar panjang tentang buyers yang sudah tak layak dipercaya karena cacat integritas, atau sebaliknya orang yang pantas direkomendasikan karena kejujurannya yang beredar luas di kalangan pedagang. Ada pula catatan serupa tentang karyawan yang layak dan tidak layak pakai, porter jujur dan porter penipu, ekspedisi culas dan ekspedisi bermutu, dan seterusnya. Istilahnya jangan macam-macam karena antena dan radar terus tegak berdiri dan mengawasi, sementara CCTV merekam track record Anda!

Meminjam atau meminjamkan uang ratusan juta sampai miliaran juga bukan hal yang aneh di Pusat Grosir Tanah Abang, begitu pula mengambil atau menyerahkan barang dengan nilai yang sama pada rekanan, tak peduli orangnya di mana barang dagangan senilai sampai ratusan juta dan miliaran akan dikirim tanpa keraguan, kalau kredibilitas orang tersebut sudah teruji.  Sebaliknya, sekali kepercayaan rusak , sekali pinjaman disalahgunakan, sekali giro dimainkan orang yang melanggar code of conduct itu pun dicoret dari daftar, dia takkan dapat tempat lagi di manapun di Pusat Grosir Tanah Abang. Begitu sebaliknya, orang yang dipercaya akan mendapatkan kejayaan dengan mudah di Tanah Abang.

Selain Blok A, Blok B, Blok F dan PGMTA Pusat Grosir Tanah Abang masih memiliki Blok C, Blok G, Blok F2, Blok F3, Blok AURI Alfa dan Pasar Tasik permanen diJati Baru.

Blok C atau Jembatan Tanah Abang Trade Centre (JTTC)  saat ini lebih menyerupai blok terlantar karena banyaknya kios yang kosong dan digembok karena tak laku dijual atau disewakan. Padahal fasilitasnya cukup baik, berlantai keramik dan full AC, tapi sejak kebakaran 2003 dan selesainya pembangunan Blok A tahun 2005 dan Blok B tahun 2010, Blok C atau JTTC seperti ditinggalkan.

Terdiri dari Lantai Dasar, Lantai 1 dan Lantai 2 JTTC kini lebih banyak digunakan untuk tempat para pedagang dan pengunjung makan siang, karena ada tempat makan yang cukup memadai di Lantai Dasar dan Lantai 1. Sedangkan bangunan utama Blok C terdiri dari 5 lantai, namun kebanyakan diisi kios kosong, meski Lantai Dasar di pintu utamanya yang menghadap ke Pintu Selatan Blok B atau pas di tepi Jl. Kebon Jati  cukup ramai aktivitas jual beli.

Sebagian gedung Blok C terlihat sedang menjalani proses rehabilitasi, tapi progress rehabilitasi blok yang dikelola PD Pasar Jaya ini terlihat sangat lambat, sehingga Blok yang lahannya mencakup komplek Pasar Seng atau komplek kios penjualan kurma dan oleh-oleh haji di Jl, K. H. Mas Mansyur ini lebih tampak seperti bangunan kosong, meski di Lantai Dasar dan dekat pintu masuk utamanya di sisi utara , kios-kios perlengkapan shallat yang menjual aneka sajadah, sarung dan mukena tetap memajang dagangannya, dan kedai-kedai makanan di sebelahnya yang selalu penuh pengunjung.

Blok F 2 terletak di sisi barat Blok F1. Keduanya dipisahkan area parkir dan Kali Krukut yang mengalir membelah dua bangunan blok yang dulu dikenal sebagai Blok F saja itu. Blok F2 juga terdiri dari 7 lantai. Komoditas grosirnya sama juga, yakni busana muslim, celana dan baju berbahan jeans, bermacam kaos dan T shirt, perlengkapan shallat, umroh dan haji, kemeja lelaki dewasa, pakaian anak-anak lelaki perempuan, pakaian remaja, handuk, seprai, sarung bantal, sarung, taplak meja, dan lain-lain.

Blok F3 adalah blok yang baru dibangun. Kondisinya masih 80 persen, saat ini proses pembangunannya tak bisa dilanjutkan karena ada persoalan IMB yang belum diurus pengelola. Blok F3 terletak di sisi barat Blok F2, atau di wilayah Jati Baru.

Blok G Pusat Grosir Tanah Abang sebenarnya sudah berusia  cukup lama yakni sekitar tahun 1996-an, tapi setelah kebakaran besar melanda Blok A, B, C, D, dan E Februari 2003, Blok G ikut direnovasi tahun 2004.  Seribuan PKL kemudian mengisi Lantai 1 sampai 4, sedangkan Lantai Dasar dipenuhi pedagang kambing dan sapi yang sekaligus melakukan aktivitas pemotongan hewan-hewan tersebut di sana. Para pedagang dan jagal kambing ini merupakan pindahan dari Lantai Dasar Blok F.

Karena risih dengan merajalelanya preman dan PSK, yang beroperasi seenaknya di Lantai 4, yang pada gilirannya juga membuat para pembeli enggan berbelanja ke Blok G, sehingga Blok G itu menjadi mati suri, para PKL itupun meninggalkan kios yang telah disewa atau dibelinya dan kembali membuka lapak di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder dan Jl. K.H. Mas Mansyur yang difasilitasi dengan baik oleh komunitas preman lainnya yang menyebut diri mereka anak wilayah, alias para pemuda yang bermukim di seputaran kawasan Pusat Grosir Tanah Abang, terutama dari 4 kelurahan yaitu Kelurahan Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali dan Peramburan.

11 Agustus 2013 pasangan pemimpin Dki Jakarta, Jokowi – Ahok, melakukan penertiban dan penataan di kawasan Tanah Abang. Blok G dibersihkan dari para preman dan PSK, kios-kios berukuran 1,5 meter X 1,5 meter dirapikan, gedungnya dicat dan pedagang kambing serta rumah pemotongan hewan (RPH) mini dipindahkan ke Pasar Kambing Jl. Sabeni, Kebon Melati. Setelah bersih para PKL yang memadati dan menjadi sumber kemacetan di Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder digiring masuk Blok G.

Senin 2 September Blok G diresmikan pemakaiannya.  Sebanyak  941 PKL menempati kios yang tersedia di Lantai 1 sampai Lantai 4. Namun fasilitas di Blok G masih minim. AC dan eskalator tidak ada. Lift juga tak dianggap perlu karena blok ini hanya terdiri dari 5 lantai.

Blok AURI atau juga dikenal dengan sebutan Ruko AURI Alfa adalah komplek pertokoan grosir yang berlokasi di sisi utara Blok A. Ruko AURI berlokasi di pinggir Jl Fakhruddin dan melebar ke Tanah Abang Bukit di utara. Di sebelah barat Blok Ruko Auri berhubungan dengan Blok F2 dan Blok F3.

Produk tekstil dalam bentuk bahan lebih mendominasi di sini seperti bahan kaos, bahan batik, bahan jeans dan sebagainya. Semua dalam skala besar karena berhubungan langsung dengan pabrik. Di Blok ruko AURI toko grosir aksesorisnya juga melayani pesanan dalam partai besar.

Pasar Tasik awalnya memang bermula di Jl. Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang. Dalam perkembangan selanjutnya pasar ini berkembang ke Jl. Kebon Jati dan Jl. Jati Bunder di sisi selatan Blok F dalam bentuk moko (mobil toko).  Dari sini Pasar Tasik berkembang sampai ke Lantai 5 Thamrin City Jl. H. Mas Mansyur dan  lapangan parkir Yayasan Haji Naum di jalan yang sama, serta di lahan parkir Lantai 6 Blok F1.

Namun yang bermula di Jl. Jati Baru berkembang juga ke dalam ke wilayah RW 01 Jati Baru, Kelurahan Kampung Bali. Mereka memilih menyewa kios-kios yang dibangun penduduk setempat Rp 23 juta per meter persegi per tahun. Apa yang dimulai tahun 1990-an itu berkembang terus sampai akhirnya menjadi kumpulan pertokoan yang lumayan banyak, sampai memenuhi 15 ruas jalan yang ada di Jati Baru. Kios-kios di 15 ruas jalan ini mengular ke mana-mana, ada yang keluar di Jl. Jati Baru depan Stasiun Tanah Abang, ada yang di Jl. Kebon Jati depan Blok G, ada pula yang di Blok F dan ke Kolong, bawah jembatan laying ke Kemanggisan, Jakarta Barat.

Sesudah penertiban 11 Agustus 2013, Pasar Tasik Jati baru ikut mengalami perubahan, tapi tidak banyak dan lebih bersifat reaksi saja terhadap penertiban di jalan-jalan protokol Tanah Abang. Mislanya, armada mobil toko (moko) pedagang Tasik dari Tasikmalaya kini juga dibuka di lahan parkir Lantai 5. 6, 7 Blok F1. Mereka buka dari pukul 04.00 sampai pukul 12.00 WIB. 

Di Jl. Jati Baru X misalnya, di depan Gereja Bethel Injil Sepenuhnya (GBSI) semua selokan ditinggikan dan ditutup dengan papan berukuran 7 X 2 meter, 5 X 2 meter atau 3 X 2 meter, lalu disewakan Rp 7 juta per meter persegi  per bulan atau Rp 84 juta setahun untuk menampung para PKL yang tak kebagian kios di Blok G atau memang sengaja membandel karena tak yakin dagangannya laris terjual di Blok G.

Jelang lebaran jangan coba-coba nekad ke sini, karena macetnya gila-gilaan, 15 ruas jalan yang hanya dilewati pejaan kaki itu stag di mana-mana, benar-benar tidak bergerak. Tapi karena namanya Pasar Tasik, calon pembeli sudah tahu kalau harga produk garmen di sana—yang umumnya didominasi busana muslim untuk kelas menengah ke bawah—sangatlah miring, akibatnya pengunjungnya tetap saja membludak. Mereka datang dari mana saja, terutama dari kawasan pinggir Jakarta, termasuk dari kota-kota satelit ibukota seperti Bogor, Bekasi dan Tangerang. Ada juga yang dari Cilegon, Serang dan Merak.Image

Advertisements

Riwayat Panjang Tanah Abang

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tana...

Nederlands: Repronegatief. Batavia, Pasar Tanah Abang (Photo credit: Wikipedia)

ImageSuatu siang di bulan Februari 2013. Udara panas dan kemacetan parah menghambat perjalanan saya di ujung Jembatan Banjir Kanal Barat atau yang oleh warga Tanah Abang disebut Jembatan Kali Baru, tepatnya di pertigaan Jl. Aiptu K.S. Tubun, Jl. Jati Baru dan Jl. Jati Bunder, atau  di sisi barat Blok G yang mulai Agustus 2013 dibenahi Pemda DKI Jakarta.

Belasan Mikrolet 09 (jurusan Kebayoran Lama – Tanah Abang), 09 A (Meruya– Tanah Abang), dan 11 (Kebon Jeruk – Tanah Abang), satu dua bus Mayasari Bhakti  R 507 (rute Pulo Gadung – Tanah Abang), P14 (rute Tanjung Priok – Tanah Abang) beringsut sesenti demi sesenti –nyaris tak bergerak–bersama puluhan mobil pribadi, sepeda motor dari tiga arah jalan dan ratusan pejalan kaki yang rata-rata menjunjung atau menenteng tas belanjaan besar di ujung jembatan Kali Baru tersebut.

“Selamat datang di Tanah Abang,” kata supir M 09 yang saya tumpangi dengan suara pasrah, sambil mengelap lehernya yang berdaki dengan handuk yang tak kalah dekilnya. Sebelum dia menghembuskan asap rokoknya sekali lagi saya buru-buru turun dan membayar Rp 2.000, tarif terendah untuk jarak terdekat yang berlaku di mikrolet pada waktu itu (sekarang setelah harga BBM naik tarif terendah itu menjadi Rp 2.500), maklum saya tadi turun di depan Hotel Kalisma, tempat di mana Koantas Bima 102 (trayek Ciputat – Tanah Abang) berputar dan menambah beban ongkos penumpang yang terpaksa harus naik mikrolet atau ojek lagi kalau ingin masuk Pasar Tanah Abang, padahal trayeknya seharusnya sampai ke dalam Pasar Tanah Abang, tapi karena tidak kuat melawan macetnya supir Koantas Bima itu mengambil jalan aman. Aman untuk dia, beban untuk penumpang.

Turun di sisi kiri trotoar di ujung jembatan yang penuh dengan kios PKL  penjual kaos, handuk, celana sport, obat-obatan dan barang-barang loak, saya disambut belasan tukang ojek yang dengan bernafsu menawarkan jasa, saya menggeleng karena melihat ada jembatan penyeberangan yang tampaknya menuju bangunan ruko di seberangnya (Blok G). Jembatan itu tampak rapuh tak terawat–karat mengelupas terlihat di mana-mana—dan di kiri kanan anak tangganya banyak duduk wanita berdandan menor, berbusana minor.  Kebanyakan sudah ‘mak mak’ atau STW (setengah tua), meski ada juga yang kelihatannya masih muda. Beberapa lelaki bertampang sangar duduk mengawasi di samping mereka. Saya masih belum ‘ngeh’ dan permisi saja lewat ke atas.Image

Jembatan itu memang bersambung ke Blok G lantai 3, tapi saat itu pintu penghubungnya yang berupa teralis digembok. “Nggak bisa lewat sekarang Bang, ntar sore bisa,” ujar seorang wanita bercelana panjang coklat terang dengan kaos kuning berbelahan dada rendah. Tumbuhnya gempal dan dandanannya tak kalah menor dengan para wanita yang duduk berjejer di kaki jembatan tadi. Saya mengucapkan terima kasih dan berbalik hendak turun. Eh, tiba-tiba wanita 30 tahunan itu itu merayu. “Ngewek kita Bang?” sambil memamerkan senyum.

Buseeet, baru saya sadar sedang ada di mana. Ini kan masih bagian dari Bongkaran, kawasan prostitusi kelas bawah untuk para hidung belang berkantong tipis di Jakarta Pusat! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sambil balas tersenyum juga. “Waduuh makasi Mbak, lagi buru-buru nih.”

Dia tampak kecewa. “Murah kok Bang,” bujuknya, tapi saya sudah buru-buru turun.  Di kaki tangga para wanita temannya menyapa, “Kok nggak jadi Mas? Ditanggung puas lho.” Sementara teman pria mereka menatap saya garang. Saya tersenyum lagi dan cepat-cepat masuk ke kerumunan.

Hanya dalam hitungan detik saya sudah langsung bertemu dengan 5 aikon Tanah Abang, yakni tak ada peraturan, kemacetan, PKL, prostitusi dan preman.

Bedesakan lagi melawan arus lalu lintas yang tampaknya diatur dengan hukum rimba karena tak ada rambu lalu lintas yang dipatuhi, saya sampai dengan badan penuh keringat di pertigaan Jl Aiptu K.S. Tubun dari arah Petamburan, Jl. Jati Baru yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dan Jl. Kebon Jati yang menuju jantung Pusat Grosir Tanah Abang atau yang oleh warga setempat disebut Bunderan Jati Baru. 

Dari arah Jl. Jati Baru atau Jl Kebon Jati sebenarnya veerboden, kendaraan harus masuk ke Jl. Kebon Jati dulu, lalu belok kanan atau ke selatan ke Jl. Jati Bunder, keluar di Bongkaran dan masuk ke Jembatan Banjir Kanal Barat atau Jembatan Kali Baru bagian selatan yang bersebelahan dengan Jembatan Banjir Kanal atau Jembatan Kali Baru bagian utara. Tapi kebanyakan pengendara sepeda motor lebih suka memotong dan melawan arus—sekaligus melanggar veerboden—dengan memaksa masuk ke Jl. Aiptu K.S. Tubun di Jembatan Kali Baru utara. Akibatnya kemacetan parah terjadi karena arus kendaraan saling bertumbukan. Kondisinya bertambah parah karena terdapat beberapa titik parkir yang sepertinya menempati di mana saja titik jalan yang kosong. Hasilnya, Alhamdulilah: kemacetan luar biasa!

Saya menyempil, memiringkan tubuh sebisanya asal bisa lewat di antara sepeda motor, mikrolet dan arus orang serta barang dari arah berlawanan. Jalan yang seharusnya lebar itu dipadati lapak PKL, ada yang menjual buah-buahan, makanan dan minuman—mereka membuka rumah makan di jalan—dan aneka pakaian, juga mainan anak.  Hanya ada 2 jalur—dari 6 jalur–yang dibatasi pembatas jalan yang dibiarkan koosng agar arus lalu lintas bisa beringsut lewat. Image

Di Jl. Kebon Jati itu kepadatan bertambah dengan mikrolet M 10 (jurusan Jembatan Lima – Tanah Abang) dan M 08 (rute Kota – Tanah Abang), juga ada truk sampah, mobil box milik pedagang, kendaraan pribadi yang mungkin nyasar atau nekad dan para pengemis yang seenaknya berbaring di tengah jalan dengan akting super memelas dan tampilan super joroknya. Tentu saja kepadatan itu masih dilengkapi puluhan sepeda motor, ratusan pejalan kaki seperti saya dan belasan gerobak dorong milik para porter pengangkut barang dengan barang yang besar-besar dan lebar nyaris selebar body mobil yang diangkutnya, di samping bajay dengan asapnya yang sangat menyiksa itu dan lagi-lagi parkir liar!

Jl. Kebon Jati yang lebih banyak digunakan adalah sisi utara, karena sisi selatannya selalu tergenang air setinggi lutut orang dewasa berwarna hitam penuh lumpur dan aromanya sangat busuk. Supir mikrolet mengaku takut lewat di situ, kuatir kendaraannya mogok dan terperangkap di genangan.

Jejeran lapak PKL juga lapis tiga. Dua di badan jalan, satu di trotoar menutup rapat toko-toko di belakangnya. Jajaran lapak ini tersusun padat sejak dari kawasan Kolong—di bawah Jembatan Layang Jati Baru—di sisi utara Jl. Jati Baru, berbelok ke arah Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. H. Fachruddin di sisi timur Jl. Kebon Jati. Saya mencoba jalan di trotoar, tapi trotoar itu sendiri hanya tinggal 50 sentimeter yang bisa diarungi. Ya diarungi, karena kita seperti berenang dalam kerumunan orang dan barang-barang dagangan. Tak bisa melangkah dengan santai, karena harus waspada dengan tubuh orang yang ada di depan atau datang dari arah depan dan belakang kita, serta barang-barang dagangan yang bergelantungan sesukanya sehingga sering menghantam hidung atau kepala kalau tidak hati-hati.

Saya tak perlu mengingatkan tentang copet, itu aikon Tanah Abang yang sudah sangat dikenal sejak lama. Di kepadatan kaki lima Tanah Abang mereka bisa berupa siapa saja. Salesman berkemeja rapi dengan celana kasual trendy dan tas Echolac terbaru, atau seperti mahasiswa dengan kaos dan kemeja dengan ransel di punggung, atau bapak-bapak yang ramah atau ibu-ibu dan wanita berjilbab. Mereka berkamuflase dengan baik, dengan simbol-simbol kesopanan dan peradaban terbaik, lalu dengan aman memainkan jemari atau siletnya di kantong-kantong, tas atau dompet mangsa yang merasa aman di dekatnya.

Rasanya lama sekali pengarungan di lautan kepadatan itu. Keringat telah membanjir, membasahi punggung, leher dan wajah sebelum akhirnya saya sampai di markas brandweer atau pemadam kebakaran Tanah Abang.  Markas yang terjepit ketat oleh lapak PKL itu tampak tak kalah sengsara. Anggotanya yang terlihat pasrah terpaksa duduk-duduk saja dengan para PKL dan preman yang mangkal di depan markasnya. Kesiagaan mereka sudah tergerus sikap tak peduli dan mau memang sendiri para PKL dan preman yang menguasai akses jalan di depannya. Sampai di situ tiba-tiba bau sengit kambing merebak.

Saya kaget. Kok ada bau kambing yang sangat menyengat di kerumunan pedagang pakaian dan aneka rupa produk kain ini? Ternyata menjelang sampai ke pintu barat dan selatan Blok B—bangunan baru Pusat Grosir Tanah Abang yang berarsitektur modern—ada sebuah lapak pedagang kambing. Baunya, alamaaak! Kok bisa pedagang kambing dibiarkan bercampur dengan pedagang kain dan makanan? Saya tak mau memikirkannya, langsung saja naik tangga di samping markas pemadam kebakaran dan menghilang ke Lantai 1 Blok F1.

Itu sekilas potret Tanah Abang sebelum Jokowi dan Ahok—Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta—menertibkannya mulai 11 Agustus lalu, namun sebenarnya riwayat Tanah Abang sudah berlangsung lama, karena pasar yang kini terkenal sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen terbesar serta termurah di Asia Tenggara ini resminya sudah berusia 278 tahun!Image

Melting Pot

 

Tanah Abang

Tanah Abang (Photo credit: irwandy)

ImagePerkembangan dan pertumbuhan pesat Pasar Tanah Abang sebagai pusat grosir produk tekstil dan garmen di Jakarta Pusat telah mendorong arus urbanisasi gila-gilaan. Mereka berdatangan ke Tanah Abang dari seluruh pelosok Nusantara dan mancanegara,  berusaha menanam benih usaha dan berharap bisa menikmati  panen besar di masa mendatang. Mereka datang membawa keahlian dan budaya masing-masing.

Dari Sumatera Utara orang-orang Batak datang, awalnya cuma tambal ban dan berjualan minuman ringan kecil-kecilan, atau menjadi supir dan kenek bis kota, lama-lama spirit of inang-inang-nya menguat, merekapun  terjun ke perdagangan besar produk tekstil dan garmen. Dan karena kesadaran pendidikannya tinggi, orang Batak dengan cepat terserap ke instansi-instansi pemerintahan serta institusi hukum, menjadi pejabat di pemerintahan DKI Jakarta, termasuk di PD Pasar Jaya, BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yang mengelola semua pasar di ibukota dan PPD yang melayani kebutuhan warga ibukota akan bermacam jenis sarana transportasi umum. Mereka juga menjadi lawyer sambil terus  menjaga agar jaringan interaksi antar sesama mereka kuat tetap terjalin kuat melalui berbagai ritual budaya seperti perkawinan dan kematian atau aktivitas keagamaan karena mayoritas etnis Batak di Tanah Abang beragama Kristen Protestan.

Dari Sumatera Barat, para lelaki yang tak punya apa-apa di kampung mencium harumnya uang di Tanah Abang. Mereka yang memang berbakat dagang sejak alam terkembang makin banyak berdatangan ke pusat grosir ini, menyusul para senior yang sudah lebih dulu berada di Tanah Jawa.  Di Tanah Abang mereka bergabung menjadi jaringan PKL (pedagang kaki lima) yang kemudian tumbuh menjadi pemilik kios di blok-blok perdagangan yang ada di Pusat Grosir Tanah Abang, sampai ada yang memiliki kios sampai 100 pintu yang harga satu kiosnya lebih dari Rp 1 miliar.

Yang lain melihat peluang berbeda, mereka tahu para pedagang kain dan pakaian jadi itu juga perlu makan, maka mereka membuka warung makanan dan minuman yang kemudian tumbuh menjadi rumah makan-rumah makan Padang ternama di Tanah Abang dan sekitarnya.

Mereka juga membentuk jaringan, termasuk dengan para kerabat di kampung yang memiliki keahlian menjahit , menyulam, menenun dan membordir. Berbagai produk busana muslim dan perlengkapan ibadah umroh dan haji pun mengalir dari ranah Minang ke Tanah Abang, sampai-sampai ada yang mendirikan pabrik sarung di Silungkang, Sawahlunto.

Tak cukup dengan itu mereka membuka usaha konveksi di berbagai pelosok  daerah pinggiran ibu kota, memperkerjakan dan memberdayakan banyak orang melalui usaha home industry tersebut. Dari busana muslim dan perlengkapan ibadah shallat, umroh dan haji mereka juga mulai memproduksi pakaian seragam sekolah dari SD sampai SMA, jenis komoditi yang selalu menjadi primadona setiap musim tahun ajaran baru tiba.

Yang lain yang tak punya modal cukup atau baru mulai berusaha menerjunkan diri menjadi pengantau, yakni orang-orang yang mendapatkan barang untuk dijual berdasarkan kepercayaan saja. Mereka direkomendasikan oleh pedagang asal kampungnya ke pemilik barang yang umumnya juga berasal dari kampungnya untuk menjualkan barang di kaki lima atau emperan toko. Barang-barang itu bisa dibawa dulu tanpa harus membeli atau menjaminkan agunan.“Jika sudah laku baru kita setor uangnya,” ujar Hendra (35) pengantau asal Surian, Kabupaten Solok, Sumatera Barat yang berjualan di sisi eskalator Lantai 2 Blok F1.

Hal yang sama terjadi di Tasikmalaya, Rangkasbitung (Jawa Barat) dan Pekalongan, Solo (Jawa Tengah). Para pengrajin bordir dan produsen batik  yang tadinya hanya dijadikan mitra pemasok oleh para pedagang lama di Pusat Grosir Tanah Abang tergerak untuk menerjuni bisnis itu sendiri. Mereka pun berdatangan ke Tanah Abang menumbuhkan pasar khas mereka sendiri, sambil tetap memasok mitra mereka yang membuka kios di blok-blok perdagangan yang ada di pasar itu.Para pedagang Tasik ini terkenal dengan Pasar Tasiknya dan memberi warna tersendiri pada pusat grosir produk tekstil dan garmen Tanah Abang.

Dari Pekalongan dan Solo para pengrajin batik yang sudah tumbuh menjadi pengusaha-pengusaha  batik juga memanfaatkan peluang. Sambil tetap menjalin kerjasama dengan mitra-mitra bisnis mereka yang lama, yakni para pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang, mereka juga mulai membuka lapak dan kios sendiri di Tanah Abang, dan seperti produk busana muslim dari Sumatera Barat dan Tasikmalaya batikpun lambat laun menjadi warna yang kuat di Pusat Grosir Tanah Abang. 

Orang-orang Rangkasbitung banyak mengisi ceruk lain yang tersedia di Pusat grosir Tanah Abang. Mereka melihat jasa porter, karyawan toko, pengepakan dan cleaning service sebagai peluang dan gerbong kereta api dari Rangkasbitung makin banyak diisi anak-anak muda yang membawa mimpinya ke Tanah Abang.

Dan seperti tadi telah disinggung melalui kenangan Bang Uci, orang-orang dari Jawa Timur juga sudah banyak datang, mereka memproduksi tempe dan tahu di bantaran Kali Krukut.  Para penyedia jasa makanan dan minuman untuk pendatang dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur inipun tumbuh menjamur melalui berbagai kios makanan dan minuman khas daerah-daerah tersebut.

Kedatangan orang Madura kemudian menambah komplit keberadaan komunitas etnis di Tanah Abang. Mereka mulai sebagai pemulung barang bekas, pedagang besi tua, pedagang sate dan soto Madura.

Orang Betawi sendiri, kata Bang Uci, memanfaatkan saja kebutuhan para pendatang tersebut.Maka rumah-rumah pun diubah menjadi kost-kostan. Pedagang soto Betawi dan nasi uduk bermunculan. Pedagang kambing main eksis apalagi setelah orang Arab juga berdatangan ke Tanah Abang pada akhir abad ke-19.Pedagang kurma dan tekstil ini ikut meramaikan aktivitas bisnis di Pusat Grosir Tanah Abang, selain bisnis lainnya di Pasar Baru.Mereka yang sangat suka makan daging kambing menjadi konsumen utama para pedagang kambing di Tanah Abang.

“Saya masih ingat orang-orang Arab itu, mereka melarang wanitanya menikah dengan orang yang bukan Arab, akibatnya banyak yang jadi perawan tua, sangat berbeda dengan orang Cina, mereka bisa kawin campur dan berbaur dengan kita orang Betawi,” ungkap Bang Uci.

Orang Arab datang karena mencium bau uang dari para pedagang Tanah Abang yang naik haji ke Mekkah. Mereka melihat peluang melalui oleh-oleh haji seperti kurma, kacang Arab, coklat Arab, air zam-zam, tasbih, sajadah, permadani, peci dan mukena. Saking berminatnya tahun 1920 jumlah orang Arab di Tanah Abang pernah tercatat sampai 13.000 jiwa.Namun entah mengapa kini mereka menghilang dari Tanah Abang.Perannya digantikan oleh pedagang Betawi, Padang dan Tasik di Pasar Seng, Jl. K.H. Mas Mansyur, Tanah Abang.

Orang  Betawi yang aslinya bukan pedagang mulai terpengaruh, sebagian kecil ikut berdagang tekstil dan garmen di Pusat Grosir Tanah Abang, ketika terjadi kebakaran besar tahun 2003, ratusan kios pedagang Betawi ikut ludes, tapi Djans Faridz, pemilik grup pengembang Priamana International yang membangun dan mengelola Blok A baru bersama PD Pasar Jaya  memprioritaskan mereka untuk mendapatkan kios di Blok A. Namun sayang, kesempatan itu tak dimanfaatkan dengan baik, banyak yang menjual atau menyewakan lagi kios yang mereka dapat. “Kini pedagang Betawi di Blok A dan Blok B bisa dihitung dengan jari atau mungkin udah nggak ada sama sekali,” kata Bang Uci.

Tahun 2003 perputaran uang sehari di Pusat Grosir Tanah Abang sudah mencapai Rp200 miliar. Tahun 2013 menurut data Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta putarannya sudah mencapai Rp 30 triliun setahun atau Rp 700 miliar sehari. Tak heran kalau premanisme pun ikut tumbuh subur, terutama yang menyangkut lahan-lahan basah di titik-titik ilegal.Keinginan para PKL untuk mendapatkan tempat berdagang di jalan dan trotoar–karena tidak sanggup membayar sewa kios dalam blok-blok yang ada–disambut baik oleh ‘anak-anak wilayah’. Anak-anak wilayah adalah sebutan untuk para remaja dan pemuda asli Tanah Abang yang tinggal di 4 kelurahan utama tadi yaitu Kampung Bali, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan.

Menurut penuturan H. Abraham Lunggana atau H. Lulung kepada Tempo.co, para PKL meminta izin mendirikan lapak di jalan-jalan, trotoar atau sudut-sudut yang kosong di emperan toko yang ada di seputaran Pusat Grosir Tanah Abang. Izin dikeluarkan otoritas setempat–yang menurut pengakuan H. Lulung dilakukan atas perintahnya–selanjutnya berdirilah lapak-lapak itu dan  PKL mulai berjualan, agar lapaknya tak terganggu razia pedagang membayar sejumlah uang keamanan kepada otoritas wilayah melalui anak-anak wilayah tadi. Jumlahnya bervariasi dari Rp 250.000 per  bulan sampai Rp 10 juta per bulan, tergantung luas, komoditi yang dijual dan lokasi lapaknya. Uang yang didapat sebagian disetor pada Ketua RW setempat untuk pembangunan kampung, katanya, karena kenyataannya para RW membantah telah menerima uang tersebut.“Habis di tangan anak-anak itu aja kok,” ujar salah seorang RW di Jati Baru, Kampung Bali.

Lapak PKL ini memungkinkan munculnya titik-titik parkir liar. Karena pembeli juga malas memarkir kendaraannya di area parkir dalam gedung, sama seperti malasnya mereka berbelanja ke dalam blok-blok perdagangan yang ada. Mereka tak peduli walaupun tarif parkir di jalan itu dipatok sampai Rp 10.000 sekali parkir.“Biarlah bayar Rp 10.000 asal gampang keluar masuk, soalnya saya harus bolak-balik bawa dagangan ke Condet,” ujar salah seorang pengguna jasa parkir.

Adanya uang mudah ini melahirkan kelompok-kelompok preman yang mengikuti permainan anak-anak wilayah, maka bermunculanlah Kelompok Ambon, Kelompok Palembang, Kelompok Timor , Kelompok Madura, Kelompok Jawa Timur atau Kelompok Arek, Kelompok Makassar dan lain-lain. Masing-masing mengklaim wilayah.Tidak jarang mereka bentrok untuk merebut atau mempertahankan wilayah masing-masing.

Kelompok-kelompok ini membuat kantong-kantong hunian sendiri di kawasan Tanah Abang dan membangun perimeternya masing-masing.Setiap wilayah ‘panas’ untuk kelompok lainnya.Salah-salah masuk bisa dianggap invasi dan dapat menyebabkan tawuran yang tidak jarang menyebabkan jatuhnya korban luka atau meninggal.

“Dulu Bang Midun dan Bang Juki sempat menyatukan kekuasaan di Tanah Abang, Hercules juga, sampai Ucu Kambing mengusirnya,” ungkap Bang Uci pula.Midun adalah preman asal Rawabelong dan Bang Juki asal Gang Lontar, Kebon Melati.Sesudah era hengkangnya Hercules seluruh kelompok preman berlatar belakang etnis dan daerah asal menghilang, perannya kini digantikan oleh anak-anak wilayah.

Orang-orang Palembang sebenarnya lebih terkonsentrasi pada bisnis ekspedisi. Ketika Pusat Grosir Tanah Abang tumbuh pesat di tahun 1990-an orang-orang Palembang di Jakarta yang telah sukses dengan bisnis ekspedisi dan distribusinya tertarik dengan manisnya uang Tanah Abang, Mereka pun mendirikan perusahaan ekspedisi antar pulau di Jl. K.H Mas Mansyur, Jl. H. Fachruddin, Jl. K.H. Wahid Hasyim dan Jl. Jati Baru. Mereka melayani pengiriman barang dari Tanah Abang ke berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, karena pedagang produk tekstil dan garmen di daerah-daerah tersebut juga makin intensif memesan barang dari Tanah Abang.Armada truk pun makin banyak keluar masuk Tanah Abang, sebagian langsung menyeberang ke Sumatera, Bali, Lombok dan NTT, NTB. Sebagian lain ke Tanjung Priok dulu sebelum berlayar dengan kontainer ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua.

Ramainya aktivitas ekspedisi ini membuat para ekspeditor kewalahan, maka rekrutmen dari kampung pun dijalankan, ratusan tenaga segar berdatangan dari pelosok Sumatera Selatan, bergabung dengan para patronnya di Tanah Abang. Jumlahnya semakin banyak ketika perusahaan ekspedisi mulai melayani permintaan dari mancanegara. Seperti Singapore, Malaysia, Brunei Darussalam, India, Nigeria, Dubai dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang kesemsem dengan busana muslim dari Tanah Abang.

Lain lagi ceritanya dengan orang-orang Nigeria.Mereka mulai berdatangan ke Tanah Abang tahun 1996.Negara kaya minyak ini termasuk negara dengan warga yang menyukai produk fashion dari Tanah Abang. Busana muslim Indonesia yang banyak dijual di Tanah Abang sangat disukai oleh warga Nigeria. Ini mendorong sebagian warganya datang ke Tanah Abang untuk memperdagangkan sendiri produk tekstil dan garmen dari Tanah Abang itu ke negaranya, tidak lagi lewat eksportir lokal yang banyak mangkal di Tanah Abang.

Maka makin banyak saja orang-orang Nigeria yang datang ke Tanah Abang. Mereka menyewa rumah dan kamar-kamar hotel di kawasan Petamburan seperti di Jl. Aiptu K.S Tubun dan Jl. Harlan, Jl. Rawa Bambu, Jl. K.H. Mas Mansyur, Jl. K.H. Wahid Hasyim, Jl. Kebon Kacang, Jl, Kampung Bali, Jl. Jaksa, Jl.Kebon Sirih dan lain-lain. Banyak yang menikah dengan wanita setempat.Aktivitas perdagangan mereka bukan hanya sebatas produk tekstil dan garmen, tetapi juga spa, rumah makan, hotel, toko grosir pakaian jadi, ekspor-impor, laundry, obat-obat herbal, money changer dan ekspedisi antar negara.

Sayangnya usaha yang bagus itu dirusak oleh segelintir petualang Nigeria sendiri.Mereka memasok dan mengedarkan narkoba, menyelundupkan produk tekstil dan garmen ke Nigeria dan aneka kejahatan lainnya, akibatnya para penguasa dan pedagang Nigeria tercemar semua dan itu berdampak pada eksistensi mereka di Tanah Abang.Satu per satu mereka kembali ke negaranya, sebagian besar memindahkan aktivitas bisnisnya ke China yang lebih kondusif dalam segalanya.  Padahal kiprah mereka di Tanah Abang sudah cukup mengakar, terbukti dengan dibentuknya Asia Africa Trade Center  (AATC) yang berkantor di Jl. Aiptu K.S Tubun Petamburan.

Orang-orang keturunan Tionghoa juga tak bisa dilepaskan dari Tanah Abang, Merekalah yang membuka kawasan ini pertama kali, mereka juga yang mengolah tanahnya menjadi komersial dan Tanah Abang merupakan kawasan favorit bagi orang-orang Tionghoa untuk berkumpul dan kongkow-kongkow. Ketika VOC dan pemerintah Belanda serta orang-orang lokal yang terhasut agitasi Belanda membantai orang-orang Tionghoa tahun 1740, mereka sempat lumpuh, kehilangan sanak saudara dan harta benda.Namun orang-orang Tionghoa ini terbukti tangguh, mereka bangkit kembali dengan kepala tegak dan membangun lagi keberhasilan demi keberhasilan lewat upaya yang gigih, penuh air mata dan rasa sakit.

Satu persatu kembali masuk Pusat Grosir Tanah Abang, lewat pabrik tekstil, toko, jaringan  perbankan, properti, ekspedisi, ritel dan aneka jenis usaha serta jasa. Di Blok Ruko AURI rata-rata mereka pemainnya. Menggelontorkan berbal-bal produk tekstil dan garmen dari pabrik-pabrik mereka yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Setelah Blok A, Blok B, dan PGMTA beroperasi dan produk tekstil serta  garmen membanjiri Pusat Grosir Tanah Abang makin banyak warga keturunan Tionghoa menyewa dan membeli kios di blok-blok tersebut. Sebentar saja mereka sudah memimpin, meski masih bermain di produk pakaian jadi anak dan remaja.Tapi kemajuan bisnis mereka signifikan.

Berbagai komunitas etnik ini berbaur dan berinteraksi di Pusat Grosir Tanah Abang, lengkap dengan budaya asal dan kebiasaan hidup sendiri-sendiri.Mereka juga saling menikah dan berbesanan.Menjadi darah campuran dalam harmoni Tanah Abang. Anak-anak dan remajanya juga tumbuh bersama semua komunitas etnis itu dan menghasilkan bentuk kebudayaan baru: kebudayaan Tanah Abang. Kebudayaan baru ini hidup dan eksis membentuk masyarakat baru meski tidak semuanya bedomisili di Tanah Abang.

Apa ciri-ciri kebudayaan baru Tanah Abang tersebut? Bang Uci menyebutkan beberapa hal antara lain makin kentalnya budaya pedagang. Menurut Bang Uci warga Betawi Tanah Abang dulunya adalah petani, mereka bersawah dan berladang, meskipun tak setelaten dan seintens petani Jawa, tetap saja mereka berkultur petani. Gelombang besar pedagang yang masuk Tanah Abang sejak awal abad ke-17, perlahan-lahan mengubah semua itu.“Mereka kini menjadi masyarakat yang melek dagang, apa aja didagangin,” kata H. Uci.

Mulai dengan berdagang sayuran dan buah-buah dalam skala kecil, sampai berdagang  kain, kelontong, makanan, tanah, kambing dan sebagainya. “Banyak juga yang sempat memiliki kios di Blok A, meski satu persatu kemudian dijual lagi untuk naik haji, kawin lagi atau mengawinkan anak,” katanya lebih jauh.

Budaya dagang ini kemudian—sesuai dengan perkembangan permintaan dan perubahan situasi kondisi di Tanah Abang—meningkat menjadi dagang jasa, seperti jasa kost, kontrakan, laundry, parkir, perantara jual beli mobil, jual beli tanah, jual beli kios, jasa keamanan dan seterusnya. “Mana ada Betawi lain yang seperti di Tanah Abang ini di Jakarta, ada sedikit mungkin di Mangga Dua, tapi nggak sesemarak di sini,” katanya lagi.

Dalam kebudayaan seperti ini uang menjadi penggerak dan pemotivasi segalanya. Nilai-nilai kebersamaan dan  gotong royong memudar. Semua kini dihitung dengan uang, imbalan materi dan semacam itu.“Dulu kalau mau ngawinin anak semua saudara urunan membantu, kini boro-boro. Dulu kalau mau naik haji pasti diramein, sekarang terbatas pada keluarga dekat aja.Dulu mau bangun rumah atau nyari modal usaha gampang, banyak yang bisa dimintai tolong, sekarang semua ngotot mau ngurus keluarga sendiri lebih dulu, kecuali ada imbalannya, uang,” ungkap Bang Uci menggambarkan pergeseran kultural yang dialaminya.

Yang lebih parah menurut tokoh masyarakat Betawi Tanah Abang ini adalah makin tipisnya sentimen kekerabatan dan kekeluargaan.Silaturahmi tak dianggap penting lagi. Sanak saudara tak saling memperkenalkan anak-anak cucu mereka, anak-anak tak kenal lagi ncang dan ncing mereka, anak SD saja tak mau lagi diajak ke rumah sanak saudara ayah ibunya, apalagi yang remaja, dan orang tua tak tega memaksa. Akibatnya kunjungan antar keluarga makin jarang, kerukunan berkurang.Jika hari besar tiba seperti lebaran memang masih ada kumpul-kumpul sebentar di rumah kerabat tertua, namun selanjutnya daya tarik mall dan tempat-tempat rekreasi lebih kuat.Sanak keluarga juga lebih suka berlama-lama dengan relasi bisnis mereka daripada makan ketupat bersama kerabat.

“Ini parah.Saya sering diminta meredam konflik di Tanah Abang sini, sampai mau bunuh-bunuhan segala, tapi usut punya usut tenyata mereka pada bersaudara, cuma tidak saling kenal. Gila nggak tuh?: sergahnya.

Yang lebih gawat konflik karena harta warisan makin sering terjadi, apalagi jika mengingat NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) kawasan seputaran Tanah Abang sudah mencapai Rp 30  juta – Rp 35 juta per meter2. Hal yang sama terjadi dalam konflik bersaudara dalam memperebutkan hak-hak kepengurusan rumah-rumah kost. “Sesuatu yang tak terbayang akan pernah terjadi dulu, sekarang terjadi setiap saat, semua karena uang telah menjadi pegangan segalanya, orang hanya memikirkan dirinya sendiri,  tak lagi peduli sanak saudara dan kerabat,” keluh Bang Uci,

Menguatnya individualisme di kalangan warga Betawi di Tanah Abang  sebenarnya juga mulai terasa di kawasan-kawasan lain yang rata-rata memang sudah tersentuh program-program pembangunan di ibukota, tapi kadarnya belumlah separah yang terjadi di Tanah Abang. Di Jagakarsa atau Kebagusan misalnya masih banyak dijumpai warga Betawi yang menampakkan budaya aslinya sebagai etnis yang terbuka, ramah tamah, apa adanya, memiliki semangat kebersamaan tinggi, sangat menghormati orang yang lebih tua, menempatkan sentimen kekeluargaan di atas segalanya dan nilai-nilai luhur normatif lainnya, tapi di Tanah Abang semua itu tampaknya sudah tergerus dan suatu saat akan hilang selamanya.

Perubahan Budaya di Tanah Abang

English: Tanah Abang Market. One of the city's...

English: Tanah Abang Market. One of the city’s flood canals bisects the old and new buildings of Tanah Abang. On the right is motorcycle parking, right next to the shops. Bahasa Indonesia: Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Photo credit: Wikipedia)

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia

Nederlands: foto. Kali Tanah Abang, Batavia (Photo credit: Wikipedia)

H. Sanusi Saleh (69) tercenung ketika ditanya masa kecilnya di Tanah Abang. Pria berperawakan tinggi dengan hidung mancung mirip warga negara Turki Osmani yang sehari-hari dipanggil Bang Uci oleh sanak kerabatnya di Jl. Lontar Bawah, Kebon Melati itu lalu menceritakan tentang Kali Krukut saat masih berair jernih. “Kami sering mandi-mandi dan bermain getek di kali itu, airnya jernih dan sejuk,” kenangnya.

Kali Krukut? Yang lewat dalam Blok F dan Ruko AURI itu? Masa sih? Itu kali kan butek amat, mana busuknya Allahurabbi dan banyak sampah lagi?

“Hmmm dulu Kali Krukut nggak butek dan bau, airnya jernih dan di pinggirannya berpasir dengan kerang-kerang kecil, persis pantai,” kata ‘ncang’ (paman)-nya Muhammad Yusuf  Muhi atau Bang Ucu Kambing, jawara Tanah Abang itu, kalem saat diwawancara di rumah kerabat istrinya di Gang Lurah, Petamburan.

Lalu berdatanganlah pendatang yang tertarik dengan manisnya gula Pusat Grosir Tanah Abang.“Tahun 1970-an, bermunculanlah pembuat tempe di sepanjang Kali Krukut, mereka membuang limbah ke Kali Krukut dan kali yang cantik itu mulai berubah.Kemudian PLN di Karet Tengsin, dekat pintu air, juga membuang solar bekasnya ke Kali Krukut, kondisi kali makin parah.Terakhir bangunan-bangunan baru bertumbuhan di sepanjang bantaran kali,” paparnya lebih jauh.

Kemudian usaha pembatikan menambah beban Kali Krukut. Batik yang banyak dibuat oleh keluarga-keluarga keturunan Tionghoa di Karet Tengsin, Pejompongan dan Bendungan Hilir itu setelah proses pencantingan dan penjemuran,  direndam lagi dalam Kali Krukut, akibatnya limbah pewarnaannya menyebabkan air Kali Krukut tercemar tambah parah.

“Saya masih ingat usaha pembatikan itu dibuat di rumah-rumah keluarga Tionghoa yang bagian belakangnya mengarah ke Kali Krukut, air kali itu jadi berwarna-warni pekat, tercemar pokoknya, sampai-sampai buaya yang dulu banyak berjemur di pinggir Kali Krukut ikut menghilang entah ke mana, nggak tahan dengan bau zat pewarna batik itu mungkin,” kata Irwan Syafei (80), warga Karet Gusuran, Setiabudi yang mengaku waktu SD-nya pada tahun 1930-an sering dihabiskan dengan teman-teman sekolahnya di pinggiran Kali Krukut. Irwan menambahkan, meski demikian usaha pembatikan di pinggiran Kali Krukut itu baru menghilang tahun 1980-an.

Makin lama makin banyak saja bangunan berdiri di kawasan Tanah Abang. Makin rapat dan makin padat, juga sumpek karena semua berdempetan menyisakan gang senggol yang untuk berpapasan dua orangpun tidak cukup dan Kali Krukut yang mewarnai masa kecil Bang Uci serta Irwan Syafei bersama teman-temannya lenyap sudah, berganti dengan  sepenggal kali berair kelabu, penuh sampah dan sangat bau. Kali Krukut memang mengalir sampai jauh, tapi dia tak cantik lagi. Melihatnya warga hanya ingin meludah dan membuang sampah, tak ada lagi yang ingin merendam tubuh dan bermain dengan airnya seperti dulu.Masa indah itu telah berlalu.

Pertumbuhan pesat komplek pertokongan, pergudangan dan perumahan untuk kost-kostan baru di Tanah Abang pada gilirannya ikut membuat rawa-rawa berisi tanaman kangkung, kebun rambutan, kebun sirih  dan lapangan bola bertanah merah menghilang pula. “Jl. K.H. Mas Mansyur, Thamin City sampai belakang HI itu dulu penuh kangkung,” kata Bang Uci. “Dari Tanah Abang Pinggir dan Petamburan sampai ke Pintu Air di Karet Tengsin sepanjang Banjir Kanal Barat itu kangkung saja sejauh mata memandang,” timpal istri Bang Uci, Mpok Nonon yang asli Petamburan.“Dan setiap halaman rumah warga di sini dulu selalu ada paling tidak dua batang rambutan,” kata Bang Uci lagi.

Tanah Abang sendiri kini menjadi salah satu dari 8 kecamatan yang ada di Jakarta Pusat. Terdiri dari 7 kelurahan yakni Bendungan Hilir, Karet Tengsin, Gelora, Kampung Bali, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan dengan luas 9,30 kilometer2 dan penduduk 31.1465 KK atau sekitar 150.000 jiwa (data Kecamatan Tanah Abang dalam Angka 2010 jumlah penduduk Kecamatan Tanah Abang 120.537 jiwa).

Dari 7 kelurahan yang ada, hanya 4 kelurahan yang langsung bersentuhan dengan Pusat Grosir Tanah Abang yaitu Kelurahan Kebon Kacang, Kampung Bali, Kebon Melati dan Petamburan. Total penduduk di 4 kelurahan ini 82.600 jiwa (Kecamatan Tanah Abang dalam Angka 2010).

PKL Pindah Pedagang Blok Senang

ImageImageKembalinya para PKL ke Blok G disambut baik oleh para pedagang di Blok F, Blok A dan Blok B. Bukan hanya karena akses ke toko-toko dan kios-kios mereka kini lebih lancar dan calon pelanggan baru bermunculan karena tak ada lagi hambatan kemacetan dan perparkiran di kawasan tersebut, tetapi juga karena kini para PKL tidak lagi ‘merebut’ calon pembeli dagangan mereka.

Bukan rahasia lagi, kalau saat ini pedagang grosir di ketiga blok besar itu juga sudah menyerah dan mulai mau berjualan secara eceran, karena menurut mereka suhu perdagangan saat ini lesu, tidak lagi seseksi dulu, sehingga kalau bertahan dengan aturan ketat perdagangan grosir mereka bisa gigit jari dan menghabiskan modal untuk membiayai kios saja.

“Dulu tak ada cerita menjual eceran, yang beli per 3 atau 6 potong pun kita tolak, kita hanya terima pembelian kodian atau lusinan, kini yang beli satu potong pun kita layani,” ujar Kurnia (43), pedagang busana muslim di Blok F2.

Namun selama PKL bebas berjualan di jalan yang mengitari Blok A, Blok B dan Blok F, ‘rezeki’ pedagang di blok-blok ini agak terhambat, karena pembeli malas masuk blok dan lebih suka berbelanja di lapak-lapak PKL saja. “Padahal harga di sana sudah dinaikkan sampai 30 persen, karena mereka belanjanya juga di sini atau di Metro,” tambah Kurnia yang asal Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu lagi.

Jidah Najwa Naiya (51) , penyewa kios di Lantai B1 Blok B membenarkan sinyalemen Kurnia. Dikatakannya para PKL memang lebih berjual beli dibanding mereka yang berjualan di dalam blok, terutama yang kiosnya terletak di lokasi-lokasi non strategis. “Mereka mengambil peluang dan calon pembeli kita, tanpa harus membayar sewa dan overhead kios yang mahal dalam blok, karena pembeli lebih suka berbelanja ke tempat mereka yang sudah langsung bisa diakses begitu turun dari sepeda motor, mobil atau angkutan umum,” ujar Jidah.

 

Copet Berjilbab di Pasar Tasik

ImageJangan mudah percaya pada penampilan, karena penampilan bisa menipu. Jilbab atau kerudung atau hijab adalah pakaian wanita muslim yang mengindikasikan bahwa pemakainnya adalah seorang muslimah yang tentunya diasumsikan bertabiat dan berakhlak baik, namun di Pusat Grosir Tanah Abang para pencopet menggunakan atribut ini justru untuk leluasa melakukan aksinya.

“Ya, siapa yang akan curiga pada wanita berjilbab,” kata Santi (25), pegawai Toko Baaligo di Blok F1 Lantai 2 Los DKS.  Jadi ketika serombongan wanita berjilbab merubungi tokonya untuk melihat-lihat dan menawar busana muslim yang dijualnya, Santi melayani dengan senang hati. Setelah sekian lama tawar-menawar transaksi tidak terjadi, karena harga gamis fashion di toko itu yang ditawarkan Rp 3,6 juta per kodi atau Rp 180.000 per potong dianggap kemahalan. Mereka pun pergi.Santipun kembali ke Blackberry Bold 9900 Dakota yang baru dibelinya dengan uang gaji pertama, yang tadi diletakkannya di rak bagian dalam.Tapi BB kesayangannya itu sudah raib bersama hilangnya rombongan wanita berjilbab yang cerewet menawar dan menanya ini itu di tokonya tadi.

Pengalaman saya pribadi di Pasar Tasik Jl. Jati Bunder hampir sama. Cuma yang ini tidak berombongan. Setiap Senin, waktu itu, Jl. Jati Bunder, Jl. Kebon Jati sampai ke Jl. Jati Baru di depan Stasiun Tanah Abang sarat dengan moko (mobil toko) ratusan pedagang busana muslim dari Tasikmalaya dan sekitarnya. Mobil toko itu diparkir berjejer di kanan kiri jalan dan selalu dipenuhi para pembeli sehingga sepenggal ruas jalan yang tersisa sangat parah macetnya. Berjalan pun susah, tidak bergerak maju sama sekali, bahkan mundur juga tak bisa..

Nah, saya mencangklong tas di pundak. Karena tak  menyimpan barang berharga di ransel, hanya HP Nokia Rp 200 .000 dan notes berisi catatan data Tanah Abang,  saya tak menaruh was-was, dompet dan HP Samsung Galaxy saya taruh di kantong depan celana seperti biasa. Saat langkah tersendat dikepung macet, saya menoleh juga ke belakang untuk berjaga-jaga, Cuma ada beberapa wanita berjilbab di belakang saya.Hmm, amanlah. Eh tahu-tahu setelah akhirnya saya sampai di Blok B 30 menit kemudian saya lihat riszleting tas terbuka dan HP serta notes telah lenyap. Setelah hilang baru saya sadar bahwa di Nokia murah itu tersimpan semua nomor kontak saya yang penting dan notes itu sendiri berisi catatan observasi dan wawancara saya selama 2 bulan di Tanah Abang. Artinya, kedua barang tersebut ternyata berharga sekali!  Dasar copet sialan!

Ternyata copet di Pusat Grosir Tanah Abang beragam polahnya, seperti diungkap Hj. Yuliwirda yang sudah sejak tahun 1980-an berdagang di Tanah Abang.  Mereka sering  berpakaian rapi, persis mahasiswa atau pegawai kantoran, atau berbusana muslim, dan beroperasi dalam kelompok. Sebagian mengalihkan perhjatian kita, sebagian merogoh atau menyilet kantong atau tas kita, katanya.

Jadi?“Di Tanah Abang jangan pernah percaya penampilan, penampilan bisa menipu dan menyesatkan,” tegasnya.

Anak Wilayah Tak Dapat Kios

ImageImagePemindahan PKL ke Blok G ternyata tak  memudahkan anak-anak wilayah untuk mendapatkan jatah kios di sana. Beberapa pedagang makanan  dan minuman ringan yang dulunya berjualan di Jl. Jati Bunder mengaku tak mendapat tempat, walaupun sudah bolak-balik mendaftar sambil membawa KTP dan KK.

“Saya membawa KTP dan KK tapi yang dapat justru pedagang dari Binjai, Padang, Tasikmalaya, saya yang asli Tanah Abang malah nggak kebagian kata Ruslan (37)  yang mengaku tinggal di Jl. Jati Bunder III belakang Pos Polisi Tanah Abang.

Anak wilayah adalah sebutan pemuda Tanah Abang terhadap dirinya.Menurut H. Abraham Lunggana atau H. Lulung, wakil anggota DPRD DKI Jakarta yang juga salah satu tokoh masyarakat di Tanah Abang jumlah mereka sekitar 7.000 jiwa. Selama ini mereka hidup dari jasa parkir dan kutipan uang keamanan atas lapak-lapak PKL  yang memenuhi jalan raya di Tanah Abang seperti Jl. Jati Baru, JL. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder, Jl. K.H. Mas Mansyur, Jl. K.H Wahid Hasyim, dan Jl. H. Fachruddin. Sebagian ada yang membuka lapak makanan dan minuman kemasan seperti Ruslan .

Selain berjualan makanan dan minuman dalam kemasan, Ruslan juga berdagang petasan dan kembang api di bulan Ramadhan. “Tanah Abang terkenal dengan keramaian pasar petasan dan kembang apinya, bahkan boleh dibilang lebih rame dibanding pesta kembang api di Monas,” katanya bangga. Petasan dan kembang api yang dijualnya dibandrol Rp 5.000 – Rp 250.000.

Kini Ruslan tak bisa lagi berjualan di jalanan atau di Blok G seperti PKL lainnya.Dagangannya dipindah ke rumahnya di gang sempit di Jl. Jati Bunder III.“Pusing jadinya,” katanya. Ruslan berharap masih bisa membuka lapak parkir seperti dulu, tapi harapannya itu sepertinya susah terwujud, karena Pemda DKI kini sangat tegas menegakkan peraturan daerah.

Ketika dikatakan bahwa Pemda DKI akan mencarikan solusi untuk anak-anak wilayah, Ruslan merengut. “Jadi security gajinya berapalah Bang? Paling tinggi 2,5 juta, nah penghasilan saya yang biasa jauh di atas itu, lagipula apa semuanya mau dijadikan security, mau ditempatkan di mana?” katanya letih.